NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Pertemuan Penentuan

Di bawah teriknya sinar mentari, Thalia tiba di kafe tempat Miranda menunggunya. Kafe itu tidak terlalu ramai. Beberapa orang duduk dengan laptop terbuka, suara mesin kopi terdengar samar, dan aroma pahit yang memenuhi udara. Di sudut dekat jendela, Miranda duduk dengan tablet di hadapannya.

Wanita itu tersenyum, segera bangun dari duduknya saat melihat sosok Thalia melewati pintu masuk kafe dan berjalan mendekat ke tempat ia berada.

“Nyonya Thalia." sapanya ramah dengan tangan terulur.

“Maaf membuat Anda menunggu.”

Miranda tersenyum maklum. “Anda tepat waktu.”

Thalia duduk di hadapan Miranda, menyebutkan pesanan saat pelayan datang, lalu mengeluarkan map tipis dari tasnya setelah pelayan pergi. “Ini ringkasan yang Anda minta.”

Miranda menerima map itu, membukanya, lalu membaca tanpa banyak komentar.

Thalia menunggu dengan tenang. Namun pikirannya masih terpusat pada surat kuasa palsu yang ia temukan di ruang kerja Rendra. Tanda tangan palsu itu belum hilang dari kepalanya. Lamunannya terputus saat pelayan kembali datang membawakan pesanannya dan meletakkannya di meja.

Beberapa menit kemudian, Miranda menutup map itu. “Anda menyusunnya sendiri?”

“Ya.”

“Dalam dua hari?” Miranda memastikan.

“Ya.”

Miranda menatap Thalia lebih lama. “Anda tidak hanya menemukan masalah di permukaan. Anda langsung menyentuh bagian yang bocor. Itu luar biasa.”

“Karena dari sana biasanya kerusakan dimulai,” jawab Thalia. “Bukan dari hal besar yang terlihat, tapi dari bagian kecil yang dibiarkan terlalu lama.”

Senyum tipis muncul di bibir Miranda. “Saya suka cara Anda membaca masalah.”

“Terima kasih.”

“Tapi saya tidak bisa memberi Anda proyek besar.”

Thalia mengangguk. “Saya mengerti.”

“Tapi..." Miranda menyatukan kedua tanganya dengan siku bertumpu pada meja. "Saya ingin mulai dari sesuatu yang kecil. Dua minggu. Anda membaca ulang struktur salah satu cabang usaha saya, mencari titik pemborosan, lalu memberi rekomendasi perbaikan. Sanggup?”

“Sebagai karyawan?”

Miranda menggeleng. “Bukan.”

Thalia menatap Miranda lekat, menunggu jawaban.

Miranda meletakkan tablet di atas meja. “Sebagai konsultan luar.”

Untuk sesaat, Thalia tidak menjawab. Dua kata itu sederhana, tetapi terasa seperti pintu yang selama ini tertutup dari dalam.

“Kontraknya resmi?” tanya Thalia.

“Tentu. Ruang kerja, batasan akses data, tenggat, dan bayaran semuanya tertulis.” Miranda tersenyum. "Kemampuan Anda sangat dibutuhkan dalam dunia bisnis, Nyonya."

Kalimat itu membuat dada Thalia menghangat pelan. Tangannya mengepal singkat, kemudian kembali mengendur.

“Saya akan membaca kontraknya dulu,” ucap Thalia.

Miranda tertawa kecil. “Bagus. Saya akan kecewa kalau Anda langsung setuju tanpa membaca.”

Thalia tersenyum tipis.

Miranda menggeser tabletnya ke arah Thalia. “Ini data awal. Aksesnya terbatas. Anda bisa mempelajari gambaran besarnya hari ini. Kalau setelah membaca kontrak Anda setuju, kita mulai besok.”

Thalia melihat layar tablet itu.

Data cabang usaha. Biaya operasional. Masalah distribusi.

Thalia menyentuh layar tablet itu dengan ujung jari, membaca, memahami isi. “Saya akan kerjakan dengan baik.”

“Saya tidak butuh jawaban sopan.” Miranda menyandarkan punggung. “Saya butuh hasil.”

Thalia mengangkat wajah. “Kalau begitu, saya akan beri hasil itu.”

Miranda tersenyum puas. “Itu lebih baik.”

Miranda meraih cangkir kopinya, lalu menyesapnya pelan sebelum meletakkan cangkir itu kembali ke meja.

“Ada satu hal yang harus Anda pahami, Nyonya Thalia,” ucap Miranda lagi.

“Ya?”

“Begitu Anda mengambil pekerjaan ini, orang akan bertanya. Kenapa Anda mulai lagi. Siapa yang membantu Anda. Apakah ini karena suami Anda. Apakah ada orang besar di belakang Anda.”

Thalia diam. Itu adalah fakta yang tidak bisa ia hindari dan pasti akan terjadi.

Miranda melanjutkan, “Jangan buang tenaga untuk menjawab semuanya. Biarkan pekerjaan Anda yang menjawab, dan pengakuan mereka akan datang di belakangnya.”

Thalia menatap cangkir di depannya. “Apakah itu sulit?”

“Sangat,” jawab Miranda tanpa jeda.

“Tapi bisa dilakukan?” tanya Thalia lagi.

“Bisa,” jawab Miranda. “Selama Anda tidak mudah terpancing.”

Senyum Thalia tipis. Ia sudah memasang topeng wanita penurut yang menunduk di depan Rendra dan ibu mertuanya. Menahan amarah, memasang wajah lembut, membiarkan mereka merasa menang. Tidak mudah terpancing bukan hal baru baginya.

“Saya bisa,” ucap Thalia.

Miranda memperhatikan wajah Thalia beberapa detik. “Saya percaya Anda bisa. Tapi saya juga harus jujur.”

“Apa?”

“Nama Anda menarik perhatian. Latar belakang keluarga Anda masih memiliki nilai di beberapa lingkaran bisnis. Dan status Anda sebagai istri Rendra Pratama mungkin akan membuat sebagian orang menilai Anda dari hubungan itu.”

Gerakan tangan Thalia saat akan mengangkat cangkir terhenti. Netranya mengunci wajah Miranda.

“Tapi saya tidak ingin memakai nama itu.”

“Bagus.” Miranda menatap manik Thalia lekat. “Maka, bangun nama yang cukup kuat sampai orang berhenti mencari nama siapa di belakang Anda.”

Kalimat itu masuk lebih dalam dari yang Thalia kira.

“Saya akan melakukannya.”

“Saya tunggu buktinya.” Miranda tersenyum puas.

Miranda mengambil satu amplop dari tasnya, lalu meletakkannya di meja. “Draf kontrak awal. Anda bisa membacanya di rumah. Kalau ada bagian yang ingin dinegosiasikan, katakan saja.”

Thalia menerima amplop itu. “Baik.”

Ponsel Thalia tiba-tiba bergetar di dalam tas. Ia menarik keluar ponselnya dan melihat nama 'Rendra' di layar. Satu detik kemudian, ia menurunkan kembali ponsel itu ke dalam tas.

“Gangguan?” tanya Miranda yang menyadari gerakan Thalia.

“Bukan sesuatu yang harus dijawab sekarang," jawab Thalia.

Miranda mengangguk pelan. “Kalau begitu, kita lanjut.”

Thalia kembali menatap tablet.

Selama hampir satu jam berikutnya, mereka membahas data awal. Miranda bertanya cepat. Thalia menjawab dengan hati-hati, tetapi tidak ragu. Beberapa kali Miranda menguji pendapatnya, dan beberapa kali pula Thalia mempertahankan analisanya tanpa meninggikan suara.

Saat pertemuan itu berakhir, Miranda menutup tabletnya. “Saya akan menunggu keputusan Anda malam ini.”

“Anda akan mendapatkannya.”

“Dan Nyonya Thalia?”

Thalia berhenti memasukkan map ke dalam tas.

“Ya?”

“Jangan mulai karier baru dengan membawa rasa takut lama.”

Thalia terdiam.

Miranda berdiri, merapikan tasnya.

“Rasa takut membuat kita hati-hati. Tapi kalau terlalu lama dibawa, itu membuat kita lupa cara berjalan.”

Setelah mengatakan itu, Miranda meninggalkan meja.

Thalia tetap duduk selama beberapa saat dengan pandangan tertuju pada amplop kontrak di samping cangkir kopinya. Sesaat kemudian, ponselnya kembali bergetar, ia segera mengeluarkan ponselnya lagi dan melihat pesan dari sahabatnya.

Maya: "Besok pagi jangan lupa. Jam sepuluh jadwal pengacara. Bawa semua bukti yang sudah kamu punya."

Thalia membaca pesan itu dengan senyum tipis tersungging di bibirnya, kemudian mengetik balasan dengan cepat.

"Aku akan datang."

Ia mengunci ponselnya, mengambil amplop kontrak dari meja, lalu berdiri meninggalkan kafe.

.

.

.

Rendra membawa langkahnya menuju ruang kerja begitu ia tiba di rumah saat hari berganti sore.

Langkahnya tergesa, rahangnya mengeras, dan gerakan tangannya saat membuka pintu terasa lebih kasar dari biasanya.

Ia tidak langsung memeriksa laci untuk memeriksa surat kuasa. Ia berjalan menuju komputer, menyalakannya, lalu membuka akses rekaman CCTV rumah.

. .. .

. .. .

To be continued...

1
Dewi Payang
Langsung tersindir😄
Dewi Payang
Mulai gombal🤭🤭
Dewi Payang
Sama Arkana bisa ngomong gitu, tapi sama Rendra kalah terus🤭
Zenun
juga ada obat penenang nya, yaitu Arkana
Zenun
daku kejar kak
Zenun
jan lupa kasih obat mencret
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!