NovelToon NovelToon
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
​Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
​Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Tatapan Pertama

Pintu kaca setinggi dua setengah meter itu bergeser terbuka dengan desis halus yang hampir tak terdengar. Andra melangkah masuk, membiarkan sepatu pantofelnya tenggelam sedikit di atas karpet beludru abu-abu tebal yang melapisi seluruh lantai ruangan. Aroma ruangan itu langsung menyergap indra penciumannya—perpaduan antara wangi aromaterapi melati yang menenangkan dan keharuman kopi hitam yang pekat dan mahal.

Di seberang ruangan, sebuah meja kerja dari kayu jati solid berukuran masif mendominasi pemandangan. Di balik meja itu, duduk seorang wanita yang sedang menatap layar laptop tipisnya dengan kening sedikit berkerut.

Wanita itu adalah Nadia.

Sebagai *Managing Director* di Apex Media, Nadia adalah definisi nyata dari wanita karier modern yang sukses. Di usianya yang menginjak tiga puluh dua tahun, penampilannya begitu anggun dan matang. Kulitnya putih bersih, kontras dengan blazer formal berwarna *navy blue* potongan pas badan yang ia kenakan. Rambut hitamnya disanggul rapi ke atas, menyisakan beberapa helai halus yang membingkai leher jenjangnya. Ia memancarkan aura otoritas yang begitu kuat, tipe pemimpin yang akan membuat siapapun berpikir dua kali sebelum membantah perintahnya. Namun, jika seseorang jeli melihat di balik maskara dan riasan matanya yang tajam, ada gurat keletihan yang teramat sangat di sana. Keletihan yang bukan hanya berasal dari kurang tidur.

"Silakan duduk," ujar Nadia tanpa mengangkat wajahnya dari layar. Suaranya jernih, bernada bariton rendah yang profesional.

"Terima kasih, Bu," jawab Andra pelan namun tegas. Ia melangkah mendekat dan mengambil tempat di salah satu kursi kulit di depan meja kerja tersebut. Posisi duduknya tegak, kedua tangannya bertumpu dengan sopan di atas lutut, memegang map cokelat kusam miliknya.

Nadia membubuhkan tanda tangan digital di laptopnya, menutup layar tersebut perlahan, lalu mengangkat pandangannya untuk menatap calon asisten administrasi barunya.

Detik itu juga, gerakan Nadia tertahan sejenak.

Di industri periklanan sekalas Apex Media, Nadia sudah terbiasa berhadapan dengan pria-pria berparas rupawan. Setiap minggu ia bertemu dengan model papan atas, aktor iklan berwajah blasteran, hingga eksekutif muda yang wangi parfumnya tercium dari jarak lima meter. Namun, pria-pria itu biasanya memiliki satu kesamaan: tatapan mata mereka selalu dipenuhi intrik, penuh kalkulasi, manipulatif, atau terlalu narsis karena sadar akan ketampanan mereka sendiri.

Tetapi pemuda di hadapannya saat ini berbeda. Andra memiliki ketampanan yang sangat murni dan bersahaja. Garis rahangnya kokoh, kulit sawo matangnya bersih, dan postur tubuhnya yang tegap terbalut kemeja putih murah itu justru memberikan kesan karismatik yang jantan. Yang paling membuat Nadia tertegun adalah sepasang matanya. Mata hitam Andra begitu teduh, jernih, dan memancarkan kejujuran yang murni tanpa kepalsuan—sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Nadia temui di belantara Jakarta.

Nadia berdehem kecil, buru-buru menguasai diri dan kembali ke sikap profesionalnya. Ia menarik map dokumen pelamar yang sudah disiapkan oleh tim HRD.

"Andra, benar?" tanya Nadia, matanya membaca baris demi baris riwayat hidup Andra. "Saya sudah membaca penilaian dari HRD dan catatan dari tim sekuriti. Kamu lulusan SMK Administrasi dari daerah dan punya nilai yang cukup bagus. Tapi, saya harus memperingatkanmu sejak awal. Apex Media adalah agensi besar. Tekanan di sini sangat tinggi, jam kerja tidak menentu, dan kamu harus siap bergerak cepat. Apa kamu sanggup?"

Andra menatap mata Nadia dengan lurus, tidak ada keraguan di sana, melainkan rasa hormat dan kesungguhan yang mendalam. "Saya sanggup, Bu Nadia. Saya datang ke Jakarta memang untuk bekerja keras. Apapun tugas yang Ibu berikan, akan saya kerjakan dengan jujur dan sebaik-baiknya. Saya butuh pekerjaan ini untuk membiayai pengobatan ibu saya dan sekolah adik saya di desa. Saya tidak takut lelah."

Mendengar kata "ibu" dan "adik", sekeping dinding es di hati Nadia rasanya sedikit terkikis. Di kota tempat semua orang saling sikut demi mengejar jabatan, bonus besar, dan gaya hidup mewah, pemuda di hadapannya ini justru menawarkan keringatnya demi alasan yang paling mendasar: keluarga. Ketulusan suara Andra beresonansi dengan rasa hampa yang selama ini terkunci rapat di dada Nadia.

Tepat ketika Nadia membuka mulutnya untuk memberikan keputusan, daun pintu kayu di samping ruangan terbuka dengan sentakan kasar tanpa ada ketukan terlebih dahulu. Langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar masuk, memecah keheningan ruangan intim tersebut.

Seorang pria berbadan tegap dengan setelan jas desainer mahal masuk sambil menempelkan ponsel di telinganya. Wajahnya tampak gusar, alisnya bertaut rapat.

Pria itu adalah suami Nadia.

"Aku tidak mau tahu! Urusan pembebasan lahan di Serpong itu harus selesai minggu ini. Kalau mereka minta naik harga, batalkan saja!" bentak suami Nadia ke arah telepon, mengabaikan keberadaan Andra sepenuhnya seolah pemuda itu hanya dekorasi ruangan yang tak kasat mata.

Pria itu mematikan sambungan teleponnya dengan kasar, lalu berjalan mendekati meja kerja Nadia. Tanpa melihat istrinya, ia melempar sebuah map dokumen tebal ke atas meja hingga menimbulkan suara debukan yang keras.

"Tanda tangani ini sekarang. Aku harus langsung ke bandara, ada penerbangan ke Bali sampai akhir pekan untuk urusan proyek resort baru," ucap suaminya dengan nada memerintah, dingin, dan tanpa kehangatan sedikit pun.

Nadia menatap map tersebut, lalu beralih menatap suaminya dengan pandangan yang perlahan meredup, berubah menjadi dingin dan kaku. "Kamu baru pulang dari Surabaya dua hari lalu, dan sekarang ke Bali lagi? Kita bahkan belum sempat bicara soal urusan rumah kita, Mas."

"Ini bisnis, Nadia! Kamu sendiri yang selalu bilang kita harus profesional dengan karier masing-masing, kan? Sudahlah, jangan kekanak-kanakan. Aku buru-buru," sahut suaminya acuh tak acuh. Setelah Nadia membubuhkan tanda tangan dengan tangan yang sedikit gemetar, pria itu menyambar map tersebut, berbalik badan, dan melangkah keluar begitu saja tanpa mengucapkan satu kata pamit pun yang layak untuk seorang istri.

Pintu tertutup kembali dengan dentuman pelan yang menggema di dalam ruangan.

Suasana seketika membeku. Keheningan yang tercipta kali ini terasa begitu kaku, canggung, dan menyakitkan. Nadia memejamkan matanya rapat-rapat, jemarinya mengepal kuat di atas meja kerja yang dingin. Harga dirinya sebagai seorang wanita dan pimpinan perusahaan rasanya luruh seketika di hadapan calon karyawan barunya sendiri. Ia merasa sangat terhina karena kehidupan pernikahannya yang hancur dipamerkan begitu saja. Air mata rasanya mendesak ingin keluar di sudut kelopak matanya, namun ia tahan dengan sisa-sisa harga diri yang ia miliki.

Di seberang meja, Andra melakukan hal yang membuat Nadia terkesan. Pemuda itu tidak mencuri pandang penuh rasa ingin tahu, tidak juga menunjukkan ekspresi kasihan yang merendahkan. Sejak suami Nadia masuk hingga pergi, Andra dengan sopan langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap ujung sepatunya sendiri. Ia sengaja berpura-pura tidak mendengar dan tidak melihat apa-apa, sebuah sikap santun yang ia lakukan untuk menjaga kehormatan dan harga diri bos wanitanya.

Melihat sikap Andra yang begitu peka dan menjaga batasan diri, Nadia menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan untuk menetralkan gemuruh di dadanya. Rasa hormatnya pada pemuda desa ini langsung melonjak naik.

Nadia merapikan blazernya, mencoba tersenyum tipis meskipun matanya masih menyiratkan luka yang basah. "Maaf atas ketidaknyamanan tadi, Andra."

"Tidak apa-apa, Bu," jawab Andra lembut, tetap menjaga pandangannya agar tidak terlalu lancang menatap wajah rapuh Nadia.

Nadia menutup map dokumen Andra, lalu mengetuknya sekali dengan pulpen mahal miliknya. "Baik, Andra. Kamu diterima kerja di sini sebagai asisten administrasi pribadi untuk divisi saya. Mulai besok pagi jam delapan, kamu sudah harus ada di meja depan ruangan ini. Tolong jaga profesionalisme, dan jangan kecewakan saya."

Andra langsung mengangkat kepalanya, sepasang mata hitamnya berbinar penuh rasa syukur yang tak terhingga. Sebuah senyuman tampan yang sangat tulus terkembang di wajahnya. "Baik, Bu Nadia! Terima kasih banyak atas kesempatan ini. Saya berjanji akan bekerja sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan Ibu."

Saat Andra berdiri, membungkuk hormat, lalu melangkah keluar dari ruangan, Nadia menatap punggung tegap pemuda itu hingga hilang di balik pintu kaca. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam kesepian di tengah gemerlapnya Jakarta, Nadia merasakan ada sebuah ketulusan yang baru saja masuk ke dalam hidupnya—sebuah ketulusan yang tanpa ia sadari, kelak akan menjadi godaan paling berbahaya bagi kedamaian batinnya.

1
Master Haki
terbaik dan bikin penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!