Arhan si tukang panggul harus menelan pahitnya hidup, rumahnya terbakar, ia mengalami luka bakar, anaknya pincang karena tertimpa kayu dan istrinya menceraikannya.
Naasnya ia mati di lindas 3 mobil sekaligus. Tapi siapa sangka jika hidupnya berubah saat ia mendapat sistem.
Sistem mengubah hidupnya dan membuat mantan istrinya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
"Tapi Dokter, sebaiknya Anda fokus dulu untuk mengeluarkan racun itu dari dalam tubuh Anda. Biarkan tenaga saya bekerja memurnikan darah Anda. Sedangkan untuk masalah siapa yang berani meracuni Anda, biarkan aku yang akan mencari buktinya dan menghukum pelakunya," kata Arhan dengan nada tegas dan penuh keyakinan.
Wajah Dokter Richard terlihat sangat lega dan berterima kasih. Ia merasa telah menemukan penyelamat sejati.
"Terima kasih banyak, Arhan. Aku benar-benar berhutang budi padamu. Jika bukan karena kamu, mungkin nyawaku sudah tidak ada saat ini," ucap Dokter Richard tulus.
Arhan hanya mengangguk santai, lalu ia berbalik badan.
Matanya tadi sempat tertuju pada sebuah kotak sepatu bola yang dipajang di sudut ruangan. Itu adalah sepatu bola berkualitas tinggi yang ia incar untuk dibelikan putranya, Arka.
Namun... seketika mata Arhan terbelalak kaget.
Tempat di mana tadi sepatu itu diletakkan kini kosong melompong!
"Ehh?!" Arhan mengerutkan kening. "Sudah diambil orang rupanya... Hm... Padahal itu barang yang terakhir, sisa satu-satunya lagi," gumamnya pelan, wajahnya terlihat sedikit kecewa.
Melihat ekspresi Arhan, Dokter Richard yang kini sudah merasa sangat akrab dan nyaman dengannya pun bertanya.
"Apa yang kau cari, Arhan? Kenapa tampak kecewa begitu?"
Arhan tersenyum tipis berusaha terlihat biasa saja, lalu menjawab, "Oh, tadi aku melihat sepatu bola yang bagus sekali. Kebetulan anakku, Arka, sangat hobi bermain sepak bola. Aku ingin membelikannya sebagai hadiah, tapi sepertinya nasib belum berpihak padaku, sepatunya sudah dibeli orang lain."
Ia memandang sekeliling berharap menemukan model lain yang setara, namun sepertinya tidak ada yang cocok di matanya.
Tiring... Teriring...
Tiring... Teriring...
Tiba-tiba suara dering ponsel Arhan berbunyi nyaring memecah keheningan.
Arhan mengambil ponselnya dari saku, lalu melihat nama yang tertera di layar.
Wajahnya yang tadinya tenang, seketika berubah menjadi serius.
Yang menelepon bukan orang lain, melainkan Wali Kelas Arka.
Hati Arhan sedikit khawatir. Biasanya guru menghubungi orang tua di luar jam sekolah bukan untuk hal yang baik.
"Halo, Assalamualaikum, Bu Guru..." jawab Arhan waspada.
"Waalaikumsalam, Pak Arhan... Maaf mengganggu. Saya ingin melaporkan sesuatu yang penting mengenai Arka," suara guru di seberang sana terdengar cemas dan berat.
"Ada apa, Bu? Apa terjadi sesuatu pada anak saya?" tanya Arhan cepat, nada suaranya mulai meninggi.
"Begini Pak... Tadi saat jam istirahat, Arka terlibat perkelahian dengan beberapa murid senior di sekolah. Mereka bertiga sampai dilarikan ke UKS dan sekarang kepala sekolah meminta Bapak datang secepatnya untuk membicarakan masalah ini," jelas sang guru.
BRAKK!!!
Seperti ada petir yang menyambar di kepala Arhan.
"APA?! Arka berkelahi?!" Arhan terkejut bukan main.
Ia tahu betul karakter anaknya yang pendiam dan penurut. Mustahil Arka memulai perkelahian tanpa alasan yang jelas!
"Baiklah Bu, saya akan segera sampai di sana sekarang juga!"
Arhan menutup telepon dengan cepat. Wajahnya berubah dingin dan tajam.
"Maaf Dokter Richard, sepertinya saya harus pergi sekarang. Ada masalah mendesak yang harus saya selesaikan," kata Arhan singkat.
"Pergilah Arhan, urus anakmu. Terima kasih untuk segalanya!" sahut Dokter Richard.
Tanpa membuang waktu, Arhan melangkah lebar meninggalkan tempat itu.
Siapa yang berani mengganggu anaknya? Dan kenapa Arka sampai harus berkelahi?
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...