Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.
Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.
Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.
Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.
Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.
Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.
Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27. Maya cemburu
Maya tahu benar, jalan yang akan ia pilih tidak akan disukai oleh kakaknya.
Sejak kecil, Maya selalu mencoba menyenangkan keluarganya. Ia jarang membantah, selalu menurut, dan belajar menjadi anak yang baik. Tapi kali ini, tentang dirinya sendiri. Tentang hatinya.
"Aku nggak mau kehilangan Chris." gumamnya lirih.
Chris mungkin bukan laki-laki sempurna, dan hubungan mereka pun tak pernah lepas dari pertengkaran. Tapi Maya menemukan dirinya yang sebenarnya saat bersama Chris. Ia bisa tertawa, bisa menangis, bisa bicara tanpa takut dihakimi. Chris tidak mencoba mengubahnya, ia menerima Maya apa adanya.
Sekali lagi, Maya tidak ingin berpisah dengan Chris. Apapun yang menjadi pantangan Maya, akhirnya perlahan tapi pasti mulai sedikit terlepas. Bahkan saat Chris dengan sengaja mencium pipinya, Maya berusaha untuk tidak marah.
Selama Chris tidak melewati batas, Maya akan mencoba bertahan dari perilaku mesum pria itu kepadanya. Meski begitu, tidak dapat dipungkiri, Maya merasa sangat malu.
Maya sangat yakin wajahnya saat ini pasti seperti kepiting rebus yang siap disantap panas-panas.
Baru kali ini ia harus berdandan seperti ini. Bahkan saat tadi di dalam taksi, sang supir berkali-kali mencuri pandang lewat kaca spion depan hanya untuk memandangi nya.
"Ayo, masuk dulu, Honey."
Senyum lebar menghiasi garis wajah laki-laki itu. Dan lagi-lagi, Chris sepertinya mulai menikmati perusahaan sikap Maya. Chris semakin menggunakan kesempatannya dengan merangkul pinggang Maya dan membawanya masuk ke dalam kos.
"Kamu udah sarapan?" tanya Chris, dan Maya membalasnya dengan gelengan kepala.
"Oke, aku mandi dulu. Habis ini kita sarapan bareng."
"Setelah itu nanti anterin aku ke rumah Pak Anton ya, Chris? Aku mau ngirim proposal sama beliau, tapi takut. Soalnya.. Pak Anton minta aku datang sendiri dan bimbingan ke rumahnya," ucap Maya merajuk.
"Oke!" Chris tersenyum dan mengangguk. Lalu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda menuju ruang tamu.
Saat itulah langkah Maya sempat terhenti ketika kakinya baru saja melangkah ke dalam rumah. Maya terkejut, matanya membulat saat melihat seorang gadis dengan pakaian terbuka duduk santai di ruang tamu. Tank top ketat yang hanya menutupi separuh tubuh atasnya dan celana pendek yang lebih mirip celana dalam, begitu seksi dan berani, sampai terbesit di pikiran maya. "Jangan-jangan gadis itu..?" Dan membuat Maya ingin langsung berbalik pergi.
Tapi Chris yang masih menggandeng tangannya segera menahan.
“Oh, ini...” Chris membuka suara, sedikit gelagapan, “Maya, kenalin, ini Ami." Chris mengenalkan dengan canggung.
Ami segera beranjak dari kursi, berjalan menghampiri mereka lalu mengulurkan tangannya pada Maya dan bicara sambil tersenyum manis ke arah Maya. “Aku Ami, Kak. Sahabatnya Kak Chris.”
Deg.
Maya menyambut tangan gadis itu dengan senyum kecut.
Maya menoleh pelan ke arah Chris dengan tatapan penuh tanya. Senyum di wajahnya yang sempat tersipu saat tadi dicium di pipi, kini lenyap terganti oleh ekspresi datar. Chris pun langsung menyentuh tengkuknya dan tertawa kering.
“Eh, enggak, enggak... bukan sahabat,” ujar Chris cepat. “Ami ini temennya Alif. Lebih tepatnya temen kencannya semalam. Aku bahkan baru kenal dia pagi ini, sumpah.” Chris mengoreksi ucapan Ami yang sempat membuatnya tersentak kaget.
"Sejak kapan gue berteman dengan nih cewek?"
Maya kembali menatap Chris dan mencoba melihat kejujuran di mata lelaki itu. Maya hanya mengangguk pelan, bibirnya mengerucut, matanya tajam menatap Ami, lalu beralih ke Chris. Jelas terlihat ia tidak suka.
"Aku nggak bohong, May. Suer!"
Sikap Chris membuat Maya tersenyum geli. 'Apa selama ini aku aku begitu sensitif sampai-sampai Chris harus berkata dan bersikap seperti itu agar aku percaya?'
Maya menghela napas panjang. Tapi langkahnya tetap mengikuti Chris., "Iya. Aku percaya kok."
Chris kembali tertegun karena perubahan sikap Maya.
"Ish! Udah sana mandi. Kok diem aja, sih?!"
Chris mengusap tengkuknya dan tidak bisa menyembunyikan senyum lega di wajahnya, begitupun dengan Maya yang ingin merubah segalanya.
...****************...
Chris mandi secepat yang ia bisa. Memakai kaos dengan jaket kulit yang biasa ia pakai. Saat ia tengah mengikat tali sepatu kets-nya, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka begitu saja. Alif masuk tanpa mengetuk. Tanpa salam.
"Chris, gue boleh minta tolong sama lo, nggak?" ujar Alif.
Chris menoleh. Ia mendapati Alif berdiri di ambang pintu dengan rambut acak-acakan, mata merah karena kurang tidur, dan kaus oblong yang bahkan terbalik.
Chris mengernyit. “Kenapa lo kayak abis digulung ombak? Minta tolong apa?"
Alif masuk begitu saja sambil mengusap wajahnya kasar. "Anterin Ami pulang ke kosnya. Bisa kan?"
Chris yang baru saja hendak mengenakan jam tangannya, menghentikan gerakannya. “Lho? Kok gue? Elo kan pacarnya."
Setelah selesai memakai jam tangan mewahnya, Chris berdiri dan merapikan kembali jaketnya. Ia enggan untuk menerima permintaan Alif.
"Ayolah Chris.. Lo kan tahu, motor gue masih di bengkel," keluh Alif sambil duduk di ujung ranjang.
Chris menghela napas dan menatap Alif tak percaya. “Lo yang bawa, lo yang harusnya nganterin pulang. Ada ojek. Minta ojek buat anterin cewek lo." Chris pergi meninggalkan Alif dan Alif mengikutinya dari belakang.
"Mana bisa! Kalau nanti Ami diapa-apain sama tukang ojek nya, gimana?" sahut Alif.
"Gue nggak mau ikut campur. Itu urusan lo sama pacar lo," jawab Chris cuek.
"Yuk, May." Chris berjalan menghampiri Maya yang saat ini tengah duduk berdampingan dengan Ami yang penampilannya telah lebih rapi dari sebelumnya.
"Maya, lo nggak keberatan kan kalau Ami ikut nebeng di mobil Chris?" Alif bertanya kepada Maya, membuat Chris memberikan tatapan membunuhnya pada Alif.
"Ami?" tanya Maya lugu.
"Iya. Kosnya ada di daerah Pesurungan. Gue nggak bisa nganter Ami, soalnya motor gue masih di bengkel," ucap Alif mengabaikan tatapan mata tidak setuju Chris.
"Aku sih nggak keberatan. Terserah Chris aja." Maya mendongakkan kepalanya menatap Chris.
Chris berdecak jengkel. Kalau sudah begini, mau tidak mau Chris pun setuju untuk mengantar Ami pulang.
"Ayo, May. Keburu siang." Chris meraih tangan Maya dan menggandengnya. Lalu di ikuti Ami yang berjalan di belakang mereka.
Maya duduk di kursi depan mobil dengan pandangan mata yang menatap lurus ke jalanan, namun pikirannya berkelana. Sesekali, ia melirik lewat kaca spion samping, mencuri pandang ke arah kursi belakang tempat Ami duduk sambil memainkan ponselnya. Gadis itu tampak begitu santai, seolah-olah keberadaannya di antara Maya dan Chris adalah hal biasa, padahal tidak bagi Maya.
Ia sebenarnya tidak ingin berpikir macam-macam. Tapi sejak pertama kali masuk ke rumah kos Chris pagi tadi, dan mendapati sosok perempuan dengan pakaian terbuka duduk di ruang tamu, dadanya terasa mengeras. Apalagi ketika Ami memperkenalkan diri sebagai sahabat Chris.
Namun, Maya bukan gadis yang mudah percaya begitu saja. Ia mengamati gerak-gerik Chris dengan saksama. Tatapan mata Chris, nada bicaranya saat menjelaskan, bahkan sorot matanya saat mengenalkan Ami, semuanya menyiratkan ketidaksukaan. Maya menangkap itu. Meski Chris berusaha tenang, ia tahu benar ekspresi lelaki itu ketika merasa tak nyaman.
Namun demikian, Maya tak bisa memungkiri ada rasa sesak yang sempat menyergap dadanya. Cemburu. Ya, meskipun ia tahu Chris tidak menyukai Ami, rasa tidak nyaman itu tetap mengendap di hatinya. Cemburu bukan hanya tentang rasa takut kehilangan, tapi tentang ketakutan bahwa mungkin, hanya mungkin, dia bukan satu-satunya perempuan yang mengisi pikiran Chris.
Maya menghela napas pelan, mencoba mengusir kekalutan dalam pikirannya. Tapi suara tawa kecil Ami dari belakang membuatnya kembali gelisah. Ia menggigit bibir, dan tanpa sadar meremas ujung cardigan yang ia kenakan.
Saat itu, Chris menoleh sekilas ke arahnya, seolah menyadari kegelisahan yang mulai tumbuh. Ia tak berkata apa-apa, hanya tersenyum kecil. Senyum yang cukup untuk menenangkan badai dalam dada Maya untuk saat ini.