"Papa tidak setuju!"
Terdengar suara tinggi Dion setelah mendengar keinginan anaknya, yang ingin menikah dengan pria yang berjarak 13 tahun dari sang putri.
"Aku ngga mau nikah, kalau bukan sama Om Alvin!" Sisil bersikeras.
"Tidak bisa!" tegas Dion. "Kamu itu masih muda, cantik, pintar. Jangan rendahkan diri kamu dengan menjadi PELAKOR!!"
***
Ingat, jangan nabung bab!
Follow IG : ichageul9563
Facebook : Khairunnisa (Ichageul)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dualisme
Wajah Anyelir nampak kesal. Sekarang dirinya yang berada dalam keadaan terjepit. Kalau tidak mengijinkan Rian masuk, bisa saja pria itu mengadukannya pada Alvin. Maka rencananya bisa berantakan.
“Masuk!” ketus Anyelir sambil membuka pintu.
Tanpa menunggu lama, Rian langsung memasuki apartemen tipe studio itu. Sebuah ruangan yang bisa dijadikan ruang santai sekaligus ruang tamu dengan sofa three seats lengkap dengan mejanya langsung terpampang di hadapan Rian.
Matanya langsung memandang sekeliling. Selain ruang santai, ada juga dapur yang dilengkapi meja makan kecil dengan dua kursi. Kemudian kamar mandi di dekat kamar. Apartemen studio ini hanya memiliki satu kamar saja.
“Jadi sini tempat Tante bermesraan dengan Pak Sandi,” ujar Rian santai sambil menghempaskan bokongnya di sofa.
Tidak ada jawaban dari Anyelir. Wanita itu langsung duduk di sofa yang sama. Hanya saja posisinya lebih mepet ke sandaran sofa.
“Setelah kupikirkan, aku akan menerima tawaran Tante. Aku memang mencintai Sisil dan menginginkan dia sebagai pendamping hidupku. Aku akan menghapus rekaman video Tante dan Pak Sandi yang terlanjur kukirim ke Sisil.”
“Apa kamu yakin bisa menghapusnya? Bagaimana kalau dia terlanjur memberikannya pada Alvin?”
“Tante tenang saja. Sisil itu anak penurut. Lagi pula aku menjanjikan video lain. Sisil itu sangat mempercayaiku. Tapi kalau Tante tidak percaya padaku, kita batalkan saja kesepakatan ini.
Dengan atau tanpa bantuan Tante, aku akan tetap mendapatkan Sisil. Tapi kalau Tante tidak mau bekerja sama denganku, aku tidak bertanggung jawab lagi soal video di tangan Sisil.”
“Cih … tanpa bantuanmu pun, aku tetap bisa memisahkan mereka. Aku juga bisa meng-upload foto-foto ini ke medsos. Perusahaan ayah Sisil akan terkena guncangan karena ini.”
“Tante pikir Om Dion akan diam saja kalau Tante melakukan itu? Om Dion punya uang, kekuasaan dan orang-orang penting sebagai koleganya. Menghapus berita itu dari medsos hal mudah. Foto-foto itu tidak cukup kuat untuk menggoyang Blue Harmony.”
Rian menghentikan ucapannya sejenak. Dia terus memperhatikan Anyelir yang nampak sedang berpikir keras. “Kalau Tante melakukan itu, justru aku yang diuntungkan,” lanjutnya.
“Kenapa begitu?”
“Aku akan jadi pangeran berkuda putih yang akan menyelamatkan nama baik Sisil. Selain itu, aku juga bisa membocorkan perselingkuhan Tante dan Pak Sandi sekaligus tempat ini pada Om Dion dan Om Alvin. Tante dan Pak Sandi bisa dipecat dan Tante akan tetap diceraikan oleh Om Alvin.”
Wajah Anyelir nampak kesal. Tapi apa yang dilakukan dikatakan Rian sangat masuk akal. Dia jadi kesal, kenapa justru sekarang dirinya yang terpojok?
“Lalu apa maumu?”
“Sebagai sekutu, posisi kita ini harus seimbang alias selevel. Tante bukan atasanku yang bisa seenaknya memerintahku. Permintaanku, jangan coba-coba lempar foto itu ke medsos.
Tapi … Tante bisa mengirimkannya pada Om Dion. Sisil pasti akan langsung dipanggil pulang. Untuk sementara rumah tangga Tante aman. Bagaimana?”
“Lalu bagaimana video di tangan Sisil.”
“Percayakan padaku. Aku akan menghapus video di ponsel Sisil. Aku pastikan Om Alvin ngga akan pernah lihat video itu. Bagaimana?”
“Ya sudah, deal!”
Keduanya langsung berjabat tangan. Lewat perjanjian ini, keduanya yakin bisa mencapai tujuan masing-masing.
“Sekarang, bisa ngga Tante kasih aku minum. Aku haus.”
Dengan terpaksa Anyelir bangun dari duduknya. Wanita itu kembali dengan minuman kemasan botol dingin di tangannya.
“Nih, sana pulang!”
“Saya mau nunggu Pak Sandi dulu.”
“Untuk apa?” tanya Anyelir dengan mata melotot.
“Kita ini sekarang sekutu. Jadi aku juga harus menjalin hubungan baik dengan Pak Sandi. Dia harus tahu, ada andil aku dibalik kesuksesan hubungan kalian nantinya.”
“Terserah!”
Anyelir segera masuk ke dalam kamar. Sandi akan segera pulang dan dia harus sudah selesai mandi. Tak lama kemudian dia keluar lagi dan langsung masuk ke kamar mandi. Ditinggalkannya Rian begitu saja di ruang santai.
Sambil menunggu Sandi datang, Rian mengambil remote yang tergeletak di meja. Dia segera menyalakan televisi layar datar itu.
Setengah jam kemudian, Sandi pulang ke apartemen. Dia langsung disambut Anyelir yang sudah berganti menggunakan daster rumahan. Wanita itu berperan seperti layaknya istri Sandi saja.
Begitu pintu terbuka, Sandi langsung memeluk pinggang Anyelir sambil mengecup bibir wanita itu. Dia terkejut ketika melihat Rian duduk di sofa sambil memperhatikan keduanya.
“Dia siapa? Kenapa ada di sini?” tanya Sandi terkejut. Dia langsung melepaskan pelukannya di pinggang Anyelir saat mengingat kalau Rian adalah mahasiswa yang sedang melakukan penelitian di Blue Mart.
“Halo, Pak Sandi,” Rian langsung berdiri kemudian menyalami tangan pria itu. Dengan perasaan ragu, dia membalas jabat tangan Rian. Pria itu masih bingung dengan keberadaan Rian di unit apartemennya.
“Dia ini temannya Sisil,” jelas Anyelir.
“Sisil?”
“Iya. Ternyata selama ini Sisil memintanya menjadi mata-mata kita.”
“Apa? La—“
“Tapi kamu tenang saja. Sekarang dia berada di pihak kita,” sambar Anyelir cepat.
“Silakan Tante dan Bapak mengobrol dulu. Yang penting saya sudah memperkenalkan diri. Dan saya harap kerja sama kita ke depannya akan berjalan dengan baik.”
Rian mengambil dulu tasnya yang berada di sofa, kemudian meninggalkan unit apartemen tersebut.
***
Di hari liburnya, Anyelir sengaja diam di rumah. Saat ini dia sedang berada di dapur ditemani Bi Dian yang sudah kembali sejak kemarin.
Anyelir sengaja memasak. Rencananya dia akan mengundang Rian makan siang bersama di rumah. Ini salah satu upayanya membantu Rian dekat dengan Sisil.
“Tumben Tante masak,” ujar Sisil begitu masuk ke dapur.
“Memangnya salah kalau Tante masak? Tante kan mau masak buat suami. Mumpung hari libur.”
Sisil hanya memutar bola matanya saja. Namun dalam hatinya cemburu juga. Dia takut Alvin akan berubah pikiran kalau melihat Anyelir sudah mulai menjalankan tugasnya sebagai istri dengan baik.
“Mau aku bantu, Tan?”
“Ngga usah. Kamu mending bersantai aja di kamar. Kamu ini tamu. Ngga usah repot sama urusan tuan rumah.”
Sisil berdecak sebal. Gadis itu segera meninggalkan dapur karena Anyelir tak membutuhkan bantuannya. Dia kembali masuk ke dalam kamar. Dan di saat bersamaan, ponselnya berdering. Tertera nama Rian di layar ponsel.
“Kamu lagi di mana?” tanya Rian to the point.
“Di rumah.”
“Aku ke rumah ya. Ada yang mau aku diskusiin soal UP nih.”
“Oke.”
Tanpa menaruh curiga, Sisil menyetujui saja permintaan Rian. Gadis itu kemudian merebahkan punggungnya di atas kasur.
***
Sekitar pukul sebelas siang, Rian datang ke kediaman Alvin. Sisil langsung mengajaknya berbincang di halaman belakang. tak butuh waktu lama, Keduanya langsung terlibat diskusi tentang tugas akhir masing-masing.
“Sil … coba kamu WA Bu Utari, tolong tanyain kalau teori yang aku pakai masuk ngga?”
“Kenapa ngga WA sendiri?”
“Sekarang hari libur, aku sungkan kalau WA dia. Pasti ada suaminya di rumah. Takut kalau suaminya cemburu.”
“Hilih … kepedean.”
Namun begitu, Sisil tetap melakukan permintaan Rian. Dia segera mengirimkan pesan pada dosen pembimbingnya. Kebetulan mereka memang memiliki dosen pembimbing yang sama.
“Nih … kamu WA aja sendiri. Aku mau ke kamar mandi dulu, sakit perut.”
Sisil menyerahkan begitu saja ponselnya pada Rian. Setelahnya gadis itu langsung ngacir ke kamar mandi.
Rian pun mengirimkan pesan pada dosen pembimbingnya menggunakan nomor Sisil. Sambil menunggu jawaban, Rian membuka folder galeri. Dia mencari video yang dulu dikirimkan olehnya kemudian menghapusnya.
Bukan hanya menghapus dari perangkat, tapi juga menghapusnya dari clouds juga.
***
Ah Rian ... Kamu mengecewakan🤧
yg penting nti di Ending om Alvin ttp sma sisil🤭