Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.
Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.
Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.
Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"
Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 Panas
Raidan memang hanya menjalankan tugas, terlihat melepas kemeja yang dia gunakan. Air mata Alea sejak tadi tidak berhenti keluar. Betapa hancurnya hatinya mendapat perlakuan seperti ini dari suaminya, ini benar-benar tidak pernah dipikirkannya, pernikahan yang bahagia dalam impiannya berubah menjadi tangis penuh luka.
Pria dengan lengan berotot itu sudah telanjang dada dan kemudian menindih tubuh Alea. Dari ekspresi wajahnya sebenarnya tidak tega melakukan hal seperti itu kepada istri sahabatnya. Apalagi melihat Alea begitu sangat tertekan.
Tetapi apa boleh buat. Raidan juga akan mendapatkan masalah besar jika tidak menuruti permintaan Dharma. Raidan ingin mencium bibir Alea. Namun langsung memalingkan wajahnya.
Raidan kesulitan menelan ludah dan terus memperhatikan wajah Alea. Raidan melanjutkan tugasnya dengan mencium leher jenjang putih mulus milik Alea.
"Hentikan!" Alea tidak siap dan memiringkan tubuhnya membelakangi Raidan.
"Aku tidak siap. Tolong beri aku waktu!" pinta Alea dengan suara hampir tidak terdengar jelas.
Raidan menarik nafas dan kemudian berdiri dari tempat duduknya. Alea menarik selimut untuk menutup tubuhnya yang sedikit terbuka.
Raidan memilih untuk duduk di sofa dan mungkin istri sahabatnya itu benar-benar harus diberi waktu agar siap dan menerima apa yang dia lakukan.
"Kenapa kamu tega melakukan semua ini. Mas, ini seharusnya menjadi malam untuk kita berdua dan kamu justru menyerahkanku pada orang lain," batin Alea benar- benar merasa sakit hati dengan keputusan Dharma.
Dratt- Dratt- Dratt- Dratt-
Suara ponsel terdengar berasal dari ponsel Raidan membuatnya mengangkat telpon tersebut.
"Ingat Raidan, kamu harus membuat istriku hamil dalam waktu cepat! ketika sudah hamil. Kamu baru bisa berhenti menyentuhnya. Jika dalam 2 Minggu kamu tidak berhasil, maka semua resiko yang aku katakan kepadaku akan benar-benar terjadi," Alea sendiri bahkan mendengar perkataan dari suaminya itu yang ternyata benar apa adanya bahwa Raidan juga mendapatkan ancaman.
"Baiklah! Saat ini saya akan melakukannya," jawab Raidan dengan telepon tersebut langsung berakhir.
Raidan kembali melihat kearah Alea. Raidan menarik nafas panjang dan kemudian membuang perlahan ke depan. Raidan kembali berdiri. Alea kembali merasakan langkah kaki tersebut semakin mendekati ranjangnya.
"Kita sama-sama tidak menginginkannya dan anggaplah ini adalah sebuah tugas yang harus dilakukan. Kamu tidak menyukainya dan itu adalah hak kamu. Saya mengerti apa yang kamu rasakan saat ini, tetapi kembali lagi saya melakukan semua ini karena tidak punya pilihan," ucap Raidan.
Alea memejamkan mata dengan meremas dadanya. Air matanya terus berlinang dan bulu kuduknya kembali berdiri, ketika tangan Raidan terasa menyentuh lengan kulitnya.
Raidan harus melakukan berbagai cara untuk membuat pasangannya nyaman agar tidak terus menangis dalam melakukan hubungan seksual dengan terpaksa itu.
Raidan sedikit menundukkan kepalanya dengan mencium lengan tangan tersebut, membuat Alea kesulitan menelan ludah. Sungguh sentuhan pria tersebut membuatnya seperti tersengat listrik.
Raidan perlahan membalikkan kembali tubuh Alea, wajah cantik itu terlihat kembali dengan air mata yang masih keluar.
Alea sungguh tidak berani menatap pria yang berada di atas tubuhnya itu. Tetapi sudah terlihat kepasrahan dari wajahnya dan mungkin tidak punya pilihan lain.
Alea dan pria itu sama-sama mendapat ancaman dan mereka sama-sama harus melakukan apa yang diinginkan Dharma.
Alea terlihat menahan diri saat tangan Raidan mengusap lembut pahanya, Alea merasakan sesuatu hal yang baru dalam hidupnya ketika tangan tersebut mulai nakal membelai pahanya dan bahkan naik ke atas.
Saat ini yang dilakukan Raidan adalah untuk memberi ketenangan kepada pasangannya bercinta.
Raidan juga memberanikan diri untuk mengecam bibir Alea dan tidak ada pemberontakan dari Alea. Raidan melanjutkan tugasnya dengan melumat bibir ranum seperti buah persik.
Lidahnya mulai bermain di dalam sana dengan mengabsen setiap rata gigi Alea. Alea mulai terbuai dengan memejamkan mata. Tangannya meremas seprai dengan begitu erat saat pertama kali merasakan hal yang aneh pada tubuhnya.
Jika di saat hari pernikahan dia dan suaminya hanya melakukan ciuman secara singkat dan tidak seperti apa yang dilakukan Raidan, menuntun dirinya untuk mendapatkan kenikmatan.
Tangan Raidan juga semakin liar yang sejak tadi mengelus pahanya, bahkan tanpa di sadari Alea dengan refleks membuka kakinya sedikit seolah-olah memberikan akses untuk Raidan.
Raidan mengusap-usap bagian selangkangan yang masih terbungkus itu dengan ciuman yang semakin dalam. Satu tangannya juga bahkan sudah mulai bermain pada gunung kembar yang menonjol itu.
Ciuman pada bibir itu berakhir dan bukan berarti semua sudah selesai, Raidan semakin liar memberikan sensasi penuh kenikmatan di leher jenjang Alea dengan memberikan tanda kemerahan di sana.
"Ahhhhh!"
Suara desahan berhasil lolos dari mulut Alea. Alea benar-benar merasa bahwa dirinya wanita naif, tadi dia menangis dan sungguh suaminya begitu kejam karena menyerahkan dirinya kepada pria lain.
Tetapi siapa sangka semua keluhan itu seketika berubah menjadi keinginan yang lebih untuk didapatkan di malam pertamanya.
Apakah Raidan berhasil membuatnya terangsang sehingga Alea terlihat pasrah dan bahkan menikmati sentuhan yang diberi Raidan.
Raidan saat ini sudah tidak peduli lagi siapa wanita di bawahnya itu, Raidan hanya menjalankan tugasnya untuk menanamkan benihnya pada rahim istri dari sahabatnya.
Lidahnya terus menjalar membuat tubuh Alea semakin terangsang menggeliat seperti cacing kepanasan, jari-jari Raidan bermain di area sensitif itu.
"Ahhhhh!"
"Ahhh!"
Alea sudah merasa begitu basah. Alea saat ini tidak bisa membohongi dirinya jika dia menginginkan yang lebih.
Di tengah-tengah sentuhan yang tidak seberapa itu dengan penuh gairah, Raidan tiba-tiba saja berhenti dan membaringkan tubuhnya di sebelah Alea dengan nafas naik turun.
Sungguh apa yang di lakukan Raidan membuat Alea tersiksa. Matanya terbuka perlahan dengan nafas naik turun dan melihat ke sebelahnya.
Keduanya sama-sama dipenuhi dengan keringat.
"Aku hanya berusaha untuk menjalankan tugasku, jangan mempersulit semuanya," ucap Raidan harus menegaskan kembali sebelum hubungan itu berlanjut.
"Baiklah, aku terima takdirku seperti ini, tetapi anak yang lahir dari rahimku harus benar-benar tampan dan tidak membuatku kecewa," ucap Alea.
"Aku bukan Tuhan menciptakan fisik manusia," sahut Raidan.
"Kalau begitu lakukan dan hanya sekali saja, aku tidak mengerti dengan semua ini dan aku berharap kamu bisa melakukannya tetapi hanya satu kali. Aku merasa sangat sakit untuk semua ini dan aku juga tidak ingin melakukan dengan pria yang bukan suamiku!" tegas Alea.
"Aku melakukannya hanya sesuai perintah, jika kamu hamil maka semua ini akan berakhir," ucap Raidan.
"Kalau begitu lakukan!" ucap Alea akhirnya setuju untuk melanjutkan hubungan seksual yang tertunda itu.
Kepala keduanya bisa sama-sama sakit jika tidak dilanjutkan. Mendapatkan izin dari pasangan bercintanya membuat Raidan kembali menindih tubuh Alea.
Alea kembali pasrah saat bibirnya dilumat, lidah Raidan bermain dengan sangat liar di dalam sana mengabsen setiap rata gigi Alea dengan keduanya saling bertukar saliva.
Tangan Raidan kembali bermain di area sensitif Alea kembali menarik rangsangan membuat wanita di bawahnya semakin menggeliat.
Sentuhan nakal yang dia terima mampu membuat tubuhnya seperti tersengat listrik.
Lupa akan semua kemarahannya pada suaminya dengan kenikmatan yang sudah meloloskan desahan manja keluar dari mulut. Keduanya sama-sama tidak memiliki pilihan selain melakukan hubungan yang diinginkan oleh Dharma agar Alea mendapatkan anak.
Bersambung.....