NovelToon NovelToon
Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
​Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
​Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28.Peta Permainan di Balik Bayangan

Lampu-lampu jalan di area asrama Akademi Kuoh berpendar redup, memberikan nuansa kuning temaram yang menenangkan di atas aspal yang mulai dingin. Ren dan Bibi Dong melangkah masuk ke dalam lobi asrama yang sepi. Hanya ada suara detak jam dinding besar di sudut ruangan dan desau angin yang menyelinap melalui celah pintu. Penjaga asrama sudah lama tertidur di posnya, tidak menyadari kehadiran dua entitas yang keberadaannya sanggup menggetarkan fondasi dunia supranatural.

Ren menempelkan kartu aksesnya pada sensor pintu lift. Bunyi klik halus terdengar, diikuti oleh pintu lift yang terbuka perlahan. Di dalam kotak besi yang sempit itu, aroma melati dari tubuh Bibi Dong terasa semakin intens, mengisi ruang hampa di antara mereka.

Bibi Dong berdiri menyandar pada dinding lift yang dingin, matanya yang tadi tajam dan penuh otoritas kini tampak sayu karena relaksasi yang dalam. Ia memperhatikan pantulan dirinya dan Ren di dinding lift yang mengkilap. "Tempat ini... sangat kecil jika dibandingkan dengan Istana Agung, Ren. Tapi kenapa aku merasa jauh lebih tenang di sini?"

Ren menoleh, senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, memperpendek jarak yang sudah sangat tipis. "Karena di istana, kau adalah milik rakyatmu, Dong'er. Di sini, di dalam ruangan kecil ini, kau hanya milikku. Dan aku tidak butuh ribuan pengawal untuk memastikan kau tetap aman."

Pintu lift terbuka di lantai mereka. Mereka berjalan menyusuri koridor sunyi menuju unit apartemen yang telah dimodifikasi oleh sistem agar memiliki kenyamanan maksimal. Begitu pintu apartemen tertutup dan terkunci, Ren melepaskan jas seragamnya, melemparkannya ke atas sofa dengan gerakan yang luwes.

"Duduklah. Aku akan menepati janjiku," ucap Ren sambil menyingsingkan lengan kemeja putihnya hingga ke siku, memperlihatkan lengan yang kokoh namun elegan.

Bibi Dong duduk di kursi bar tinggi yang menghadap langsung ke arah dapur terbuka. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan, memperhatikan setiap gerakan Ren di dapur. Baginya, melihat seorang Kaisar Ruang dan Waktu memegang pisau dapur dan memotong sayuran dengan presisi yang sama saat ia membelah dimensi adalah sebuah pemandangan yang sangat eksotis sekaligus menyentuh hati.

[SISTEM: Aktivitas domestik terdeteksi. Mood Bibi Dong: Sangat Puas.]

[SISTEM: Analisis bahan makanan—Kualitas bahan organik kelas tinggi. Resep: Sup Iga Teratai dan Tumis Daging Saus Rahasia.]

[REN: Matikan semua notifikasi yang tidak bersifat darurat. Aku ingin malam ini berlalu tanpa gangguan data.]

Suara minyak yang memercik di atas wajan dan aroma gurih daging yang mulai matang memenuhi ruangan. Ren memasak dengan ketenangan yang luar biasa. Tidak ada gerakan yang terbuang sia-sia. Ia sesekali mencicipi kuah supnya, lalu menambahkan sedikit bumbu dengan takaran yang hanya diketahui oleh indera perasanya yang tajam.

"Selesai," ucap Ren setelah beberapa saat. Ia menyajikan makanan itu di atas piring porselen putih yang cantik dan meletakkannya di depan Bibi Dong.

Bibi Dong menghirup aroma masakan itu, matanya berbinar kecil. Ia mengambil sumpit, mencicipi sepotong daging dengan sangat perlahan. Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik, hanya suara kunyahan halus yang terdengar.

"Bagaimana?" tanya Ren sambil duduk di sampingnya, matanya menatap Bibi Dong dengan penuh antisipasi—sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.

Bibi Dong menelan makanannya, lalu meletakkan sumpitnya perlahan. Ia menatap Ren dengan tatapan yang sangat dalam, seolah-olah sedang mencari kata-kata yang tepat. "Jika kau memasak seperti ini setiap hari, aku khawatir aku akan benar-benar menjadi wanita yang malas, Ren. Ini... jauh lebih baik daripada jamuan mana pun yang pernah ada di Benua Douluo."

Ren terkekeh, merasa sangat puas dengan pujian tulus itu. "Malaslah sesukamu. Aku akan tetap di sini untuk melayanimu."

Setelah makan malam yang tenang itu, mereka berdua berdiri di balkon apartemen, menatap pemandangan Kota Kuoh dari ketinggian. Di kejauhan, lampu-lampu kota tampak seperti hamparan bintang yang jatuh ke bumi. Angin malam yang kencang membuat rambut mereka berkibar, namun Ren menciptakan perisai transparan tipis agar Bibi Dong tidak merasa kedinginan.

"Besok akan menjadi hari yang sibuk, bukan?" tanya Bibi Dong sambil menyandarkan tubuhnya pada dekapan Ren dari belakang.

"Ya. Iblis-iblis itu akan mulai bergerak lebih agresif setelah kejadian semalam. Dan aku merasakan ada getaran energi lain yang mendekat ke kota ini... energi yang berbau 'Suci', namun penuh dengan kemunafikan," jawab Ren, matanya menyipit menatap kegelapan di ufuk timur.

Bibi Dong menghela napas, menutup matanya dan menikmati kehangatan tubuh Ren. "Biarkan mereka datang. Selama mereka tidak mengganggu malam ini, aku tidak peduli."

Ren mencium puncak kepala Bibi Dong, menghirup aroma rambutnya yang menenangkan. "Tidurlah, Permaisuriku. Hari ini kau sudah bekerja keras menjadi 'siswi pindahan' yang menakutkan."

Bibi Dong tertawa kecil, suara tawa yang jarang didengar orang lain, terdengar sangat lepas dan bahagia. Mereka berdua meninggalkan balkon, masuk ke dalam kehangatan kamar yang tenang, meninggalkan dunia luar yang mulai bergolak di bawah bayang-bayang faksi yang saling mengintai.

1
Chandra
lanjut lagi lebih banyak lagi
Chandra
lanjut mana sih
Chandra
lanjut mana
Chandra
lanjut lagi
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut lagi seru ini
Chandra
lanjut lagi
Chandra
lanjut
Chandra
mana lanjutnya 😭
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!