NovelToon NovelToon
Mei Yang Terakhir

Mei Yang Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Gadis Amnesia
Popularitas:870
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.

Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.

Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—

Fero.

Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.

Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang suami yang mencintainya dengan kesabaran menyakitkan.

Apakah cinta yang pernah mereka bangun akan kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arah Yang Hilang

Sore turun perlahan, mewarnai langit dengan gradasi jingga yang lembut. Cahaya matahari sore masuk melalui jendela, berbeda dengan cahaya pagi yang tajam dan menghakimi. Cahaya ini lebih hangat, lebih memaafkan. Namun, bagi Meisyah kehangatan itu tidak cukup untuk menenangkan gejolak di dadanya.

Ia berdiri lagi di dekat jendela tempat yang sama, posisi yang sama seperti kemarin.

Tapi hari ini, rasanya tidak sama, tangannya tidak lagi diam menggantung pasif di sisi tubuh. Jari-jarinya mengetuk pelan kusen jendela. Tak. Tak. Tak. Irama itu berulang, tanpa sadar, seolah jarinya memiliki memori sendiri menunggu sesuatu atau seseorang yang tidak ia pahami.

Meisyah berhenti mendadak mengernyit, menatap jari-jarinya sendiri rasa kebingungan

“…Kenapa aku menunggu?” bisiknya." Siapa yang aku tunggu ?"

Tidak ada jawaban hanya keheningan kamar yang menyergap tubuhnya, namun di balik keheningan itu, ada rasa yang semakin jelas, bukan sekadar kekosongan akibat amnesia atau ada sesuatu yang menariknya keluar dari dalam kamar ini, menuju suatu tempat yang kabur dalam ingatannya, namun nyata dalam instingnya.

Mei menjauh dari jendela. Langkahnya pelan namun pasti, menuju meja disamping tempat tidur.

Kotak kayu itu masih di sana, kemarin, ia hanya menatapnya dengan ragu. Hari ini, keraguan itu mulai retak dan tanpa berpikir panjang langsung meraih kotak itu dan membukanya.

Isinya tetap sama: sebuah kemeja lipat rapi, struk film, foto, kunci apartment dan selembar kertas kecil yang terlipat dua.

Tangannya melayang, berhenti tepat di atas kertas unfolded lipatan tersebut, dan menatap tulisan tangan di dalamnya sekali lagi.

“Jangan lupa makan, ya cantik. Mas udah masakin nasi goreng."

Kalimat itu sederhana sangat biasa bahkan terkesan remeh. Tapi bagi Meisyah tidak terasa ringan, ada bobot di balik tinta yang agak smear itu, urgensi dan kepedulian yang mendesak.

Ia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering.

“…Kenapa kamu menulis ini…?" pertanyaannya keluar pelan, seolah berharap penulisnya bisa mendengar dan menjawab dari udara kosong." Mas...mas Andra ? "

Tentu saja tidak ada jawaban. Tapi untuk pertama kalinya, Meisyah menyadari bahwa ia tidak lagi sekadar bingung, tapi ada perbedaan besar diantara keduanya,m membuatnya diam; keinginan tahu membuatnya bergerak dalam

Pintu diketuk pelan seorang perawat masuk membawa sebuah map tebal. Wajahnya datar, profesional, tanpa banyak ekspresi.

“Mbak Meisyah, maaf mengganggu."

Meisyah menoleh menyembunyikan kertas kecil itu kembali ke dalam genggaman tangannya, meski ia tahu perawat itu mungkin tidak peduli. “Iya?”

“Dokter meminta Mbak mengisi data tambahan untuk kelengkapan administrasi,” katanya mendekat. Ia meletakkan map di atas meja, tepat di sebelah kotak kayu Meisyah. “Silakan diperiksa Mba.”

Beberapa lembar kertas formulir. Gadis duduk duduk, matanya menelusuri baris demi baris.

Nama lengkap. Tanggal lahir. Alamat domisili. Kontak darurat.

Semua sudah terisi. Tulisan tangan yang rapi, tegas, dan familiar. Tulisan ibunya atau mungkin admin rumah sakit yang didikte oleh ibunya, semuanya terlihat sempurna terlalu sempurna.

Hingga matanya berhenti di satu bagian bawah halaman: Riwayat Kunjungan & Penanggung Jawab.

Ada daftar nama.

Mama

Papa

Fero.

Dan di bawahnya, terselip satu nama lain tulisannya agak berbeda, miring, sedikit terburu-buru, tintanya lebih tipis seolah pulpen hampir habis saat itu.

“Andra.”

Ia mengernyit bibirnya membentuk kata itu tanpa suara.

“…Andra…”

Dadanya langsung terasa aneh bukan sakit, sesak seperti saat berdebat dengan Fero. Tapi seperti ada loncatan kecil di jantungnya, sensasi déjà vu yang kuat mengenali sesuatu asing, atau melupakan seharusnya sangat dekat.

“…Siapa ini…” gumamnya.

Ia menatap nama itu lebih lama. Jemarinya bergerak tanpa komando otak, mengusap halus tulisan Andra di atas kertas, kasar dan nyata.

Dan lagi-lagi, rasa itu muncul.

Tenang. Hangat. Aman.

Berbeda dengan kehadiran Fero terasa seperti pengawasan, atau ibunya hanya kewajiban, namun nama ini… terasa seperti pulang.

Mei tiba-tiba menarik tangannya, seolah kertas itu panas. Napasnya berubah menjadi pendek.

Perawat itu masih berdiri di sana, sibuk merapikan alat tulisnya, sama sekali tidak menyadari gempa kecil baru saja terjadi di dalam diri pasien.

“Mbak bisa isi bagian yang masih kosong, ya. Kalau sudah, panggil saya,” katanya santai sebelum berbalik keluar. Pintu tertutup kembali, meninggalkan Meisyah sendiri dengan map itu.

Mei mengangguk pelan, meski perawat itu sudah pergi, matanya tidak lepas dari nama Andra.

Nama yang tidak ia ingat tapi tubuhnya mengingatnya.

“…Aku harus tahu…”

Kalimat itu muncul di kepalanya, lebih jelas dan lebih keras dari dorongan-dorongan sebelumnya. Ini bukan sekadar impuls ingin keluar ruangan tapi sebuah keputusan kecil dan titik balik.

Mei menutup map itu perlahan menarik napas dalam mencoba menstabilkan detak jantungnya. Lalu, ia mengangkat kepalanya.

Matanya tidak lagi tertuju pada jendela hanya sebagai simbol kebebasan pasif. Tapi pintu, sebagai akses untuk mencari.

Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya ingin keluar dari kurungan tapi ingin mencari jawabannya walau pun ia sudah tahu, siapa pria itu sebenarnya, laki laki yang mengaku sebagai suaminya, tidak ia kenali tapi meresap di dalam hati.

Ketidaktahuan itu menakutkan tapi kali ini, bercampur dengan adrenalin.

Langkah pertama tidak butuh peta hanya keberanian.

Di luar, langit jingga mulai berganti menjadi ungu tua, hari berganti malam. Dan di dalam kamar nomor 304 itu, Meisyah akhirnya bergerak sedikit halus. Tapi cukup untuk mengubah arah arus cerita selama ini dictated oleh orang lain.

Retakan telah terbentuk. Dan dari retakan itulah, cahaya kebenaran mulai menyusup masuk dan berharap membuka rahasia yang tersimpan selama ini.

1
Wawan
Hadir
Ddie: terimakasih banyak ya mas
total 1 replies
Ddie
Mengapa kamu tidak mengingatku, Mei ? Aku adalah suamimu..bukan orang lain mencintai karena harta benda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!