Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Cemburu
Perpustakaan SMA Merah Putih adalah oase di tengah teriknya siang. Lantainya yang putih mengkilap selalu terjaga bersih, dan hembusan AC yang stabil menjadikannya tempat favorit bagi para murid untuk sekadar berteduh.
Di meja besar sisi kanan, kelompok kelas IPA sedang berkumpul. Suasananya cukup sibuk dengan tumpukan buku kalkulus dan laporan praktikum biologi. Di sana ada Bara, yang duduk dengan aura yang entah kenapa terasa lebih gelap dari biasanya. Di sampingnya, Erika—gadis yang merasa dirinya ratu sekolah—tidak berhenti bertingkah. Di belakang Erika, dua "anak buah" setianya, Vee dan Zoey, sesekali berbisik sambil terkikik, memberikan dukungan moral bagi aksi caper sang ketua.
"Bar, ini nomor tujuh maksudnya gimana sih? Aku beneran nggak paham, otakkku mau meledak rasanya," rengek Erika.
Ia sengaja mencondongkan tubuhnya, membuat bahunya bersentuhan langsung dengan lengan Bara.
Bara hanya melirik sekilas ke arah kertas Erika, rahangnya mengeras.
"Rumusnya ada di halaman seratus lima. Baca dulu," jawabnya singkat, dingin, dan tanpa menoleh.
"Ih, kok pelit banget sih? Jelasin dong, masa cuma disuruh baca," Erika semakin menjadi.
Ia memberanikan diri menyentuh punggung tangan Bara yang sedang memegang pena.
"Tangan kamu kok kasar banget? Sini, aku kasih hand cream biar lembutan dikit."
Vee dan Zoey yang melihat itu langsung menimpali.
"Wah, perhatian banget ya Erika. Beruntung banget lho, Bar, ada yang peduli sama kesehatan kulit kamu," celetuk Vee sambil tertawa kecil.
Bara tidak menyahut. Matanya justru terlempar jauh ke sudut perpustakaan yang lain. Ke arah meja kelompok IPS.
Di sana, Laras sedang berusaha keras menstabilkan napasnya. Di sampingnya ada Sekar yang tampak serius mencatat, sementara lima teman lainnya terlibat diskusi sosiologi yang cukup seru. Namun bagi Laras, setiap kata di buku sosiologinya seolah memudar, digantikan oleh pemandangan menyebalkan di meja IPA.
Dari tempat duduknya, Laras bisa melihat jelas bagaimana Erika begitu bebas menyentuh tangan Bara. Ia melihat bagaimana Erika tertawa manja, dan Bara—setidaknya dari sudut pandang Laras yang sedang terbakar cemburu—terlihat tidak menolak dengan tegas.
"Ras, halaman bukunya kebalik," bisik Sekar pelan, menyenggol siku Laras.
Laras tersentak, wajahnya memanas. Ia segera membetulkan posisi bukunya dengan gerakan kasar.
"Eh, iya. Sori, aku... aku cuma lagi mikir keras soal teori ini."
"Mikirin teorinya, atau mikirin gimana caranya narik rambut Erika dari sini?" goda Sekar pelan.
Tiba-tiba, suasana hening menyelimuti meja IPA. Yudhis, yang sejak tadi duduk di ujung meja yang sama dengan Bara, bangkit berdiri. Ia meraih satu kotak susu stroberi dingin yang masih berembun dari tasnya, lalu berjalan dengan langkah mantap menuju meja kelompok IPS.
Langkah kaki Yudhis menarik perhatian hampir seluruh penghuni perpustakaan. Ia berhenti tepat di samping kursi Laras.
"Nih, peningkat fokus buat yang lagi pusing sama Sosiologi," ujar Yudhis lembut. Ia meletakkan susu stroberi itu tepat di samping tangan Laras.
Laras mendongak. Ia melihat senyum Yudhis. Dalam hati, ada rasa sesak yang luar biasa, namun matanya kembali tercuri ke arah meja Bara. Erika sedang tertawa manis sambil membetulkan kerah baju Bara. Sebuah ide nakal sekaligus menyakitkan muncul di kepala Laras. Ia ingin membalas rasa sakit itu.
"Eh, Yudhis? Makasih ya. Kok tahu banget kalau aku lagi haus?" suara Laras sengaja dikeraskan, nada bicaranya dibuat seceria mungkin—sesuatu yang sangat jarang ia lakukan di tempat umum.
"Tadi aku liat kamu di kantin cuma minum air putih. Aku pikir kamu butuh asupan stroberi kesukaan kamu," jawab Yudhis santai.
Ia tidak langsung pergi, justru menyandarkan punggungnya di pinggir meja Laras, menciptakan kesan bahwa mereka sedang dalam percakapan yang sangat akrab. Laras meraih susu itu, menusukkan sedotannya, dan menyesapnya dengan perlahan sambil terus menatap ke arah meja IPA. Matanya bertemu dengan mata Bara.
Tak!
Suara patahnya mata pensil Bara terdengar cukup nyaring di meja IPA. Bara melempar pensilnya ke atas meja, napasnya menderu pendek-pendek. Amarahnya meledak di dalam dadanya. Ia tidak peduli lagi dengan soal Fisika di depannya. Melihat Yudhis berdiri sedekat itu dengan Laras, apalagi sampai tahu minuman favorit gadis itu, membuat darah Bara mendidih.
"Bar? Kamu kenapa?" tanya Erika kaget melihat perubahan ekspresi Bara yang mendadak menyeramkan.
Bara tidak menjawab. Ia bangkit berdiri dengan gerakan yang sangat kasar hingga kursi kayunya berderit panjang di atas lantai putih. Ia menyambar jaketnya yang tersampir di kursi.
"Aku ke toilet bentar," suara Bara rendah, nyaris seperti geraman.
Saat sosok jangkungnya melintas di belakang kursi Laras, Bara sengaja melambatkan langkahnya seolah ingin memastikan kehadirannya benar-benar dirasakan. Ia bisa mencium aroma stroberi dari kotak susu itu dan aroma parfum bunga yang biasa Laras pakai. Ia sama sekali tidak melirik Yudhis. Baginya, pria di samping Laras itu hanyalah objek yang tak kasat mata.
Tepat saat berada sejajar dengan kursi Laras, Ia menatap tajam ke arah Laras. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Tidak ada bisikan, tidak ada umpatan. Hanya sebuah tatapan. Mata Bara yang biasanya teduh saat mereka berdua di rooftop, kini berubah menjadi sedingin es dan setajam silet. Dalam tatapan itu, yang ada hanya kecemburuan yang meledak-ledak. Ia menatap Laras tepat di manik matanya, mengunci pandangan gadis itu hingga Laras merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang.
Laras yang tadi sempat ingin bersikap acuh sambil menyesap susu stroberinya, mendadak membeku. Kotak susu di tangannya terasa berat. Ia bisa melihat bayangan dirinya sendiri di mata hitam Bara. Tatapan Bara hanya lima detik, namun bagi Laras rasanya seperti berjam-jam. Bara kemudian memutuskan kontak mata itu secara sepihak. Ia memalingkan wajah, kembali menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengeras kuat, lalu melanjutkan langkahnya menuju pintu kaca perpustakaan. Ia mendorong pintu itu dengan tenaga yang sedikit berlebihan hingga menimbulkan suara dentum yang menggema.
Laras terpaku, napasnya tertahan di kerongkongan. Ia menunduk, menatap kotak susu stroberi pemberian Yudhis yang kini permukaannya sudah basah oleh embun. Rasa puas karena berhasil membuat Bara cemburu seketika menguap, digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit ulu hati.
"Kenapa sih tuh anak? Auranya penuh amarah melulu" tanya Yudhis heran.
Laras tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap pintu kaca yang masih bergetar setelah ditinggalkan Bara. Di meja seberang, Erika mendengus kesal, menyadari bahwa perhatian Bara sepenuhnya tercurah pada meja IPS, meski tanpa satu patah kata pun. Sore itu, perpustakaan yang dingin menjadi saksi bisu dari sebuah perang tanpa suara, di mana sebuah tatapan lebih menyakitkan daripada seribu kata makian.
Ijin mampir🙏