Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.
Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.
Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.
Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14.
Di dalam rumah kecil itu, suasana masih terasa hangat... namun kini di penuhi keseriusan.
Zee duduk dengan tenang, sementara Pak Sam dan Bu Yati menatapnya penuh harap. Doni duduk di samping Zee, tenang, tapi matanya terus mengikuti setiap percakapan.
Zee menghela napas pelan. "Pak Sam, saya ingin tahu lebih banyak tentang laut di sini." ucap Zee
Pak Sam mengangguk. "Apa yang ingin kamu tahu, Nak?"
"Di mana biasanya Bapak dan warga melaut? Dan... seberapa jauh kapal-kapal itu masuk ke wilayah sini?" tanya Zee dengan tenang, tapi terarah.
Pak Sam berpikir sejenak, lalu menjawab, "Biasanya kami melaut tidak terlalu jauh... masih di sekitar perairan sini. Tapi kapal-kapal besar itu... Mereka masuk lebih dalam. Kadang sampai ke titik yang seharusnya tidak boleh di sentuh."
Zee mengangguk pelan, menyerap setiap informasi. "Kalau begitu, ini bukan cuman masalah nelayan, Pak. Ini sudah masuk ke masalah wilayah dan aturan."
Pak Sam menatap Zee, sedikit terkejut dengan cara berpikirnya.
Zee lalu menegakkan tubuhnya sedikit. "Kita tidak bisa bergerak sendiri-sendiri Pak. Karena kalau mau memperbaiki ini, semua orang harus tahu, termasuk pemimpin Desa."
Bu Yati mengangguk pelan. "Benar juga, Nak."
Zee lalu menoleh ke Pak Sam. "Pak Sam, kalau boleh tahu, rumah kepala Desa di mana ya? Saya ingin bicara langsung dengan beliau."
Suasana hening sejenak... Pak Sam tidak langsung menjawab. Justru Doni yang tersenyum kecil, seolah menahan sesuatu.
Sedangkan Bu Yati melirik suaminya dengan tersenyum tipis. "Tidak perlu mencarinya Nak." ucap Bu Yati lembut.
Zee sedikit mengernyit. "Maksudnya, Bu?"
Pak Sam menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Saya kepala Desa di sini Nak."
Zee terdiam sejenak, matanya sedikit melebar , lalu perlahan kembali tenang.
"Saya menggantikan Bapak saya, setelah beliau meninggal," lanjut Pak Sam.
Zee menatap Pak Sam beberapa detik, lalu tersenyum kecil. "Kalau begitu, semuanya akan lebih mudah," kata Zee pelan.
Pak Sam mengangguk. "Apa maksudmu, Nak?"
Zee menarik napas dan menghembuskannya pelan. "Kita harus kumpulkan beberapa warga dulu, jangan semuanya... tapi yang penting saja."
"Seperti siapa?" tanya Pak Sam
"Sesepuh Desa, orang-orang yang dituakan. Dan beberapa warga yang sering melaut," jelas Zee
"Kenapa cuman mereka saja, kenapa semua warga saja?" tanya Bu Yati.
"Karena mereka yang paling tahu kondisi laut ini, dan mereka juga yang bisa mempengaruhi warga yang lain," Zee tenang.
Pak Sam terlihat mulai mengerti.
"Karena kalau kita ingin membuat perubahan yang besar, kita butuh persetujuan dan kepercayaan mereka dulu," lanjut Zee
Doni menatap Zee dengan kagum. "Kak Zee pintar sekali."
Zee hanya tersenyum kecil, saat mendengar ucapan Doni.
Pak Sam kemudian berdiri perlahan. "Baik, kalau begitu besok pagi saya akan mulai panggil mereka ke sini."
Namun Zee menggeleng pelan. "Jangan besok, Pak." kata Zee
Pak Sam mengernyit. "Kenapa?"
Zee menatap ke arah luar rumah, ke arah laut yang mulai gelap. "Kejadian seperti ini, tidak bisa menunggu terlalu lama."
Dan belum sempat Pak Sam menjawab.
DUUUUUMMM
Suara berat menggema dari kejauhan, seluruh rumah terasa bergetar halus. Doni langsung memeluk lengan Ibunya. "Itu suara apa Bu?"
Pak Sam langsung keluar dan melihat ke arah laut, dengan wajahnya berubah tegang.
Seluruh warga Desa Pesisir keluar dari rumah masing-masing. Takut kalau ada sesuatu yang terjadi di laut.
"Astaga apa yang terjadi di laut, apakah laut marah karena kita selalu mengambil ikan."
"Iya Pak, apakah laut marah?"
"Bagaimana kalau kita pergi ke rumah kepala Desa, dan menanyakan apa yang terjadi. Kepala Desa kan sering pergi ke laut."
"Betul sekali, ayo semuanya kita ke rumah Pak Kepala Desa."
Sedangkan di sisi Pak Sam, mereka semuanya juga berada di luar rumah, sedang melihat ke laut.
"Itu..."gumam Pak Sam
DUUUUUMMM
Suara itu terdengar lagi, dengan lebih jelas dan dekat.
Langit sudah gelap, namun di kejauhan... terlihat cahaya-cahaya besar bergerak di atas laut.
Lampu kapal yang sangat terang dan terlalu besar untuk ukuran kapal nelayan biasa.
Wajah Pak Sam langsung mengeras. "Mereka, makin mendekat ke bagian wilayah ini." ucap Pak Sam lirih.
Doni menggenggam tangan Ibunya erat. "Ibu.. Apakah itu mereka?"
"Iya itu mungkin mereka Nak." jawab Bu Yati lirih
Tatapan mereka semua terkunci ke arah laut, dan kemudian...
DUUUUUMMM
Ledakan ketiga terdengar lagi, tapi kali ini terdengar lebih keras. Permukaan laut di kejauhan tampak bergetar, seolah ada sesuatu yang di hancurkan di bawah sana.
Bu Yati menutup mulutnya. "Ya Tuhan..."
Suasana berubah drastis, di tambah lagi dengan warga Desa yang berdatangan.
"Pak kepala Desa, sebenarnya apa yang terjadi di laut sana?, perasaan kemarin saat saya pergi melaut tidak ada apa-apa yang terjadi."
"Benar itu Pak Sam, sebenarnya apa yang terjadi?, dan siapa perempuan cantik di samping Bu Yati itu."
"Apakah mungkin karena perempuan itu ya?"
Warga Desa seakan tidak ada yang mau memberikan kesempatan untuk Pak Sam untuk menjelaskan.
"Bapak-bapak, ibu-ibu, semuanya harap tenang. Saya akan menjelaskan semuanya." jawab Pak Sam cepat.
"Dan untuk perempuan di samping Istri saya itu, namanya Zee, beliau adalah seorang yang mungkin bisa membantu kita. Sementara yang terjadi di laut sana itu adalah perbuatan orang-orang dari negeri seberang sana yang membom laut di wilayah kita agar mudah mendapatkan ikan." lanjut Pak Sam cepat.
"Ya ampun, jadi itu perbuatan mereka, dasar orang-orang rakus."
"Pak Kepala Desa, apa betul perempuan itu bisa membantu kita, jangan-jangan Dia juga bagian dari rencana orang-orang negeri seberang." kata seorang ibu-ibu
"Iya, betul juga kata Bu Tini. Pakaiannya juga seperti orang-orang negeri seberang sana." balas warga lain
"Semuanya harap tenang dulu, kita dengar penjelasan Pak Sam dulu, jangan asal ngomong saja." ujar Pak Bondan
"Bapak-bapak, ibu-ibu, semuanya perkenalan nama saya Zee. Saya berasal dari tempat yang jauh, dan yang pasti bukan dari negeri seberang itu." jelas Zee, saat di berikan kesempatan dari Pak Sam untuk memperkenalkan dirinya.
"Saya juga sudah punya solusi untuk membuat orang di negeri seberang itu, agar tidak lagi membom laut dan menganggu warga Desa Pesisir." lanjut Zee
Semua warga pun terdiam, suasana seketika terasa hening. Hanya suara angin malam dan ombak.
Sementara Pak Sam sedang berbicara dengan para sesepuh Desa yang juga ikut datang menghampirinya.
Zee mencoba membuka ponselnya, dan mencari tahu apa yang bisa Dia lakukan agar orang-orang dari negeri seberang tidak membuat kerusakan di wilayah perairan Desa Pesisir lagi.
Tapi, tiba-tiba....