NovelToon NovelToon
Seragam Biru Di Balik Rahasia

Seragam Biru Di Balik Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Pelakor jahat / Hamil di luar nikah
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Auvy

"Aku memegang jadwal harian istri sahnya, tapi aku jugalah yang mengisi waktu malam suaminya."

Bagi publik, Mayor Pnb Raka Aditya adalah perwira tanpa celah. Pilot kebanggaan Angkatan Udara, tangan kanan Kolonel Surya, dan suami dari Melani yakni sosok socialite sekaligus pengusaha FnB sukses pemilik jaringan restoran mewah. Namun, di balik seragam dan kemewahan itu, ada rahasia yang tak boleh terdeteksi radar.

Bela, sang Asisten Pribadi kepercayaan Melani, terjebak dalam pengkhianatan paling berbahaya.

Setiap hari, Bela menemani pertemuan bisnis Melani bahkan menjadi saksi diam saat bosnya itu menjalin cinta terlarang di sela-sela kesibukan mengelola gurita bisnisnya. Bela bungkam bukan karena setia, melainkan karena ia menyimpan dosa yang sama besarnya: Bela adalah kekasih gelap Raka, suami bosnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 : Rahim yang Salah Alamat

Bela memilih kursi di sudut cafe yang bersisian langsung dengan kaca besar setinggi langit-langit. Dari sana, hiruk-pikuk Bandung terlihat seperti diorama yang sibuk namun tenang. Ia duduk sendirian setelah memesan makanan. Sementara Melani masih tertinggal di area dalam, mungkin masih berbincang dengan Chef ikonik tadi, atau sekadar melakukan inspeksi mendadak di area atraksi?

Bela memang diminta untuk mencari tempat duduk terlebih dahulu, sebuah instruksi yang ia terima dengan napas lega karena ia butuh waktu untuk menenangkan debar jantungnya yang tak karuan sejak melihat interaksi intim Melani dan pria asing tadi.

Di antara pemandangan jalanan yang ia saksikan, mata Bela terpaku pada sebuah bangunan dengan fasad bangunan yang didominasi warna pastel dan simbol yang sangat ia kenali. Sebuah Rumah Sakit Ibu dan Anak. Jaraknya tidak jauh dari cafe ini, hanya terhalang beberapa bangunan komersial.

Seketika, senyum yang tadinya sempat tersungging tipis di bibir Bela memudar, digantikan oleh gurat kemurungan yang dalam. Secara refleks, tangannya bergerak di bawah meja, menyentuh perutnya yang masih nampak rata namun menyimpan rahasia besar yang berdenyut. Melihat RSIA itu membuat nyali Bela menciut sekaligus rindu. Ia membayangkan para calon ibu di dalam sana yang datang dengan penuh senyum, menggandeng suami mereka, membicarakan nama bayi, atau sekadar mengeluh tentang mual pagi hari dengan wajah bahagia.

Pesan tantenya semalam kembali berdenging di telinganya seperti alarm yang tak bisa dimatikan.

'Kontrol, Bela. Kamu harus tahu kondisinya.' Bela merasa seperti ibu yang sangat lalai. Bagaimana mungkin ia membiarkan nyawa ini tumbuh tanpa tahu sudah seberapa kuat detak jantungnya? Ia mulai menimbang-nimbang sebuah rencana nekat.

Mungkinkah nanti sore, saat Melani beristirahat atau bertemu rekan bisnisnya, ia bisa mencuri waktu satu jam untuk pergi ke sana? Keinginan untuk melihat layar USG dan mengetahui usia kehamilannya mulai membuncah, mengalahkan rasa takutnya akan ketahuan.

"Kamu suka anak kecil?"

Suara Melani yang tiba-tiba muncul membuat Bela tersentak hebat, hampir saja ia menjatuhkan sendok di tangannya. Ia menatap Melani sekilas dengan mata membelalak karena kaget, lalu buru-buru mengikuti arah pandang bosnya itu ke luar jendela. Benar saja, di trotoar seberang, ada seorang anak kecil yang tengah melompat-lompat riang sambil menggandeng tangan ibunya. Bela bahkan tidak menyadari keberadaan mereka karena terlalu larut dalam lamunan gelapnya sendiri tentang rumah sakit itu.

Bela hanya bisa tertawa renyah, sebuah tawa pertahanan diri agar Melani tidak curiga. "Iya, Bu. Lucu ya, dunianya kelihatan simpel banget," jawabnya pendek, mencoba menormalkan suaranya.

"Saya tuh suka banget sama anak kecil. Masih pada gemas, dunianya cuma main dan ketawa," ujar Melani lagi. Matanya berbinar tulus saat menatap sosok kecil di luar sana, seolah ada kerinduan yang ia simpan rapat-rapat di balik tembok karakternya yang keras.

"Semoga Ibu cepat dapat momongan ya, biar makin lengkap rumahnya. Pasti anaknya cantik atau ganteng kalau keturunannya dari Ibu dan Pak Raka," ucap Bela, sekadar basa-basi untuk mencairkan suasana.

Mendengar kalimat itu, binar di mata Melani langsung padam, tergantikan oleh tatapan dingin yang menusuk. Ia mengalihkan pandangannya dari jendela, menatap Bela dengan wajah yang mendadak serius.

"Oh, kalau itu sih belum kepikiran, Bel. Jujur saja, saya malah lagi KB," jawab Melani terus terang, membuat Bela hampir tersedak air minumnya sendiri.

Bela tertegun. "Kenapa emangnya, Bu? Bukannya biasanya pasangan baru justru ingin cepat-cepat?" tanya Bela penasaran. Namun sedetik kemudian, ia merutuki kelancangan pertanyaannya.

Mendengar pertanyaan itu Melani justru menarik napas panjang, seolah ia memang butuh tempat untuk mengeluarkan beban pikirannya. "Pernikahan saya baru seumur jagung, Bel. Apalagi... kami berdua itu dijodohkan. Kami belum terlalu mengenal satu sama lain secara mendalam. Kalau cinta, ya, mungkin muncul seiring waktu karena kami tinggal bersama, tapi untuk punya momongan? Saya belum siap menyerahkan kebebasan saya untuk pria yang bahkan belum sepenuhnya saya pahami hatinya. Saya belum mendiskusikannya sama Raka, dan dia sepertinya juga terlalu sibuk dengan egonya sendiri."

Bela mengangguk paham, merasa sedikit sesak mendengar kejujuran itu. Ia baru saja diberi bocoran besar, pernikahan megah yang disaksikan banyak pasang mata ternyata hanyalah kontrak perjodohan.

Ironi yang menyakitkan adalah disaat sang istri sah memilih menunda kehamilan dengan KB, sang asisten justru membawa benih suaminya karena sebuah kecelakaan tragis.

 

Setelah makan siang yang penuh informasi itu, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, suasana yang tadinya kaku mulai mencair. Melani nampak lebih rileks setelah bercerita banyak hal di cafe tadi.

"Kamu punya pacar, Bel?" tanya Melani, memecah kesunyian kabin yang hanya diisi lagu radio pelan.

Pertanyaan itu terasa menggelitik sekaligus pahit di telinga Bela. "Gak ada, Ibu. Sayang banget ya? Padahal umur sudah dua puluh lima," canda Bela sambil tetap fokus pada kemudi.

"Tapi pernah pacaran, kan? Atau kamu tipe yang susah jatuh cinta?"

Bela menimbang-nimbang jawabannya. "Hmm... kalau cinta monyet zaman sekolah sih pernah, Bu. Tapi kalau yang serius saat sudah dewasa begini, belum sempat. Saya terlalu sibuk bertahan hidup dan... ya, mencari jati diri."

"Oh, gitu. Eh, tapi saya kagum lho sama selera pakaian kamu. Sejak pertama kamu wawancara, cara kamu bawa diri itu beda. Jujur ya, tebakan saya, kamu ini sebenarnya bukan dari keluarga biasa. Kamu datang dari kalangan atas juga, kan? Cara bicara kamu berkelas," tebak Melani dengan nada menyelidik.

'Cittt!'

Bela menginjak rem sedikit terlalu keras karena kaget dengan ketajaman insting Melani, membuat tubuh mereka sedikit terdorong ke depan.

"Eh! Maaf, Ibu! Maaf... ada kucing lewat kayaknya, eh bukan... saya salah injak, hehehe," ucap Bela spontan dengan wajah yang memerah padam.

"Kamu gugup ya ngobrol santai kayak gini sama saya?" tanya Melani dengan nada mengejek yang ringan, merasa menang bisa membuat asistennya yang tenang itu salah tingkah.

"Enggak kok, Bu. Malah saya senang. Karena saya anak tunggal, jadi kadang saya kesepian dan susah cari teman ngobrol yang pas," jawab Bela jujur, mencoba mengalihkan topik dari latar belakang keluarganya.

"Mungkin karena usia kita cuma beda setahun dua tahun, jadi saya merasa nyaman saja ngobrol begini. Terasa seperti punya kakak."

"Orang tuamu masih ada, Bel?" tanya Melani, suaranya melembut.

"Iya, masih. Tapi sudah cerai," jawab Bela pendek. Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa saringan.

Melani nampak terkejut kecil, tangannya yang tadi sibuk membenahi tas kini terhenti. "Oh... saya minta maaf ya, Bel. Saya benar-benar nggak tahu."

"Nggak apa-apa, Ibu. Hal wajar itu mah. Makin dewasa, saya makin sadar kalau ada hal-hal yang memang tidak bisa dipaksakan untuk terus beriringan. Kalau dipaksa, ujung-ujungnya malah saling menyakiti karena cara pandang yang sudah tidak sejalan. Lebih baik pisah dan mencari bahagia masing-masing daripada satu atap tapi batin tersiksa setiap hari melihat wajah orang yang sudah tidak kita inginkan."

Bela mengucapkan itu dengan nada yang sangat emosional. Sementara melani terdiam seribu bahasa mendengar penuturan Bela. Kalimat asistennya itu seolah baru saja menelanjangi kenyataan dalam rumah tangganya yang ia tutup-tutupi selama ini. Ia hanya bisa mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat dan mengangguk lemah, mengakui dalam diam bahwa apa yang dikatakan Bela adalah kebenaran yang paling ia takuti.

Bela melirik Melani dari sudut matanya, menyadari bahwa meskipun mereka berada di kasta sosial yang berbeda, mereka sedang berdiri di atas retakan tanah yang sama. Yakni ketidakpastian dalam cinta dan keluarga.

1
Anonim
Mampus gaa sih 🤣
Fhahira
bela gampangn bngt deh
Siti Amalia
mending bela sama putra
Suciyay
bela terlalu naif
Suciyay
anehhh...
Margareth Anastasia
hahahahahaha😭
Margareth Anastasia
merinding 🥶😵🤣
Fiola
saya suka cerita nya semangat Yaa author,☺
Fiola
sempat2nyaa 😭
Fiola
lbh suka putra plissss lbh sopnnnn
Fiola
ganteng😍
Fhahira
nexttt👍
Fhahira
novel terrr🥵🥵🥵
Nayla Atika
semangat thorr....🤗
Nayla Atika
the real badjingan 😤🙄
Nayla Atika
itu lu tau
Nayla Atika
cegillll😭
Lusiana Dewi
siapa yg GK luluh liat visual raka... saya suka visualnya 😁
Lusiana Dewi
visual Raka gntng abiezzz
Rini Antariksa
Kasian banget bela
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!