NovelToon NovelToon
Asmara Setelah Menikah

Asmara Setelah Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Nikah Kontrak / Obsesi / Keluarga / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: yesstory

Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Sudah lima belas menit, Tara dan Devan duduk saling berhadapan yang terpisah dengan meja kecil. Keduanya saling diam setelah menanyakan kabar masing-masing.

“Jadi, kamu mau ngomong apa, Dev?” Tara tak sabar menunggu lagi. Pasalnya dia baru pulang bekerja dan cukup lelah. Namun Devan meminta bertemu setelah Tara pulang bekerja.

“Kenapa harus dia, Ra?” Devan menatap Tara.

Tara mengernyit bingung. “Maksudnya?”

“Kenapa harus David?”

Tara tersentak. Dari mana Devan tahu tentang hubungannya dengan David? Tara merasa tak pernah bertemu Devan saat sedang bersama David. Dia juga tak pernah mengunggah foto David dalam akun media sosialnya ataupun story Whatsappnya.

Tara sengaja melakukannya karena ingin hubungannya dengan David cukup dinikmati oleh mereka berdua. Dia tak ingin memamerkan hubungannya ke semua orang.

“Aku nggak tahu kamu tahu dari mana, tapi kenapa kalau aku sama David?” tanya Tara santai.

Devan tersenyum sinis. “Kamu bercerai denganku, hanya untuk kembali sama mantan kamu yang pernah nyakitin kamu di masa lalu? Dari ribuan pria di dunia ini, kenapa harus David? Apa kamu lupa apa yang udah dia lakukan dulu?”

Tara tersenyum. “Apa yang dilakukan David dulu, itu udah lama berlalu, Dev. Sama seperti kamu. Apa yang terjadi diantara kita, itu juga udah jadi masa lalu. Lalu kenapa kamu masih mencampuri urusanku?”

“Aku peduli sama kamu, Ra. Kamu berhak bahagia dengan orang lain. Tapi bukan dengan David juga.”

“Stop, peduli sama aku. Pedulikan diri kamu sendiri yang semakin jauh tersesat dari jalur semestinya, Dev. Aku bahagia bersama David. Aku nggak lupa dengan semua perbuatan David dulu, tapi dia sudah menebus semua kesalahannya. Aku cuma nggak ingin kita terus-terusan membahas masa lalu. Aku ingin merangkai kembali masa depanku yang sempat hancur karenamu. Dan David adalah pilihanku.”

“Bagaimana kalau kamu terluka lagi, Ra?”

Tara menatap Devan tajam. “Itu bukan urusanmu.”

Devan menggeleng tak percaya. Kenapa Tara jadi sekeras ini? Kemana Tara yang begitu lembut saat berbicara dengannya?

“Kamu berubah, Ra. Aku seperti nggak mengenalmu lagi,” ucap Devan getir.

“Perubahan itu pasti, Dev. Mau nggak mau, kita harus mengikuti perubahan itu untuk bertahan hidup. Dan aku nggak keberatan jika kamu nggak mengenaliku lagi. Toh aku juga nggak ngenalin kamu lagi. Kamu sudah sangat tersesat, Dev.”

Devan tersenyum lirih. “Ternyata perjuanganku untuk selalu membuatmu tersenyum, kembali tertawa setelah David ninggalin kamu, kini hanya sia-sia. Ujung-ujungnya kamu kembali lagi padanya.”

Tara ikut tersenyum. “Perjuanganku juga sia-sia, Dev. Aku berusaha untuk membuatmu kembali normal, tapi lihat sekarang. Semakin kesini, kamu semakin kesana saja. Kita impas. Perjuangan kita satu sama lain berakhir sia-sia.”

Devan terdiam. Tara mengambil gelas minumannya dan meminum perlahan. “Kita masih bisa berteman, Dev. Dan sebagai teman, kamu tahu ada batasan yang tak boleh kamu langgar. Kamu boleh memberi saran atau apapun itu, tapi jangan ikut campur terlalu dalam dengan urusan pribadiku. Begitupun aku. Aku juga nggak akan ikut campur urusan pribadimu. Sampai sini, kamu paham kan?”

Devan terpaksa mengangguk dan menatap Tara lekat. “Apa kamu akan menikah dengan David?”

Tara tersenyum. “Itu rencana kami. Semoga saja takdir Tuhan seirama dengan rencana kami.”

Devan menghela napas berat. “Sorry, Ra. Aku cuma sedikit keberatan jika kamu bersamanya.”

“Tapi dia memberiku kebahagiaan, Dev. Kamu bilang aku berhak bahagia kan? Dan bersama David, aku bahagia.”

Percuma. Devan tak bisa memengaruhi Tara. Devan bisa melihat jika Tara mencintai David. Dan itu membuat hatinya.. entahlah.

Tara berdiri. “Aku harus pulang. Aku rasa cuma itu kan yang mau kamu omongin?”

Devan mendongak menatap Tara. Dia ikut berdiri. ”Mau aku antar pulang?”

Tara menggeleng cepat. “No. Aku tak ingin David berpikir macam-macam kalau kamu mengantarku pulang. Bagaimanapun, kamu mantan suamiku. David pasti cemburu.”

“David nggak akan tahu. Aku juga bisa jelaskan. Aku yang mengajakmu kesini dan ijinkan aku untuk mengantarmu.”

Tara menggeleng lagi. “Dia tahu, Dev. Aku ijin kok sama dia buat ketemu sama kamu. Dan ya, kamu kan yang bayarin ini semua?” Tara melirik makanan dan minuman di atas meja cafe.

Devan mengangguk. Tara tersenyum dan melambaikan tangan. “Bye, Dev.”

Menghela napas panjang, Devan mengangguk lagi. ”Bye, Ra.”

Pembicaraan itu berakhir. Devan sekarang tahu bahwa lelaki yang selama ini mendekati Tara adalah mantan kekasih Tara yang pernah menyakiti perempuan itu di masa lalu.

***

Haris mondar mandir di teras rumah. Pasalnya sudah jam delapan malam, tapi Tara tak kunjung pulang juga. Dia sudah menelepon Tara, mengirim pesan, tapi ada respon apapun. Haris akhirnya menelepon David dan terkejut saat David mengatakan Tara sedang bertemu dengan Devan.

Haris khawatir. Untuk apa lagi mereka bertemu? Bukankah semuanya sudah berakhir?

Sebuah mobil berhenti di depan pagar rumah. Tara keluar dari sana dan berjalan memasuki pagar.

“Tara.”

Tara menatap ke depan dan mengernyit melihat raut wajah khawatir sang kakak. “Abang?”

Haris mengamati wajah Tara, memegang lengannya, bahkan memutar tubuhnya. Tara mengernyit bingung. “Abang kenapa sih?”

“Kamu nggak diapa-apain sama si brengsek itu kan?” Haris menatap wajah Tara khawatir.

“Si brengsek?” Beo Tara tak paham.

“Kata David, kamu ketemuan sama dia, Dek. Iya?”

Tara mengangguk. Paham kenapa Haris begitu khawatir padanya. “Iya. Tapi aman kok, Bang,” ucap Tara duduk di kursi teras.

Haris ikut duduk di kursi depan Tara. “Kenapa nggak bilang kalau mau ketemu si brengsek itu? Abang kan bisa nemenin.”

“Aku bukan anak balita lagi, Bang. Aku udah gede. Janda pula. Lagipula aku ketemu sama mantan suamiku sendiri. Dia nggak bakal bisa ngapa-ngapain aku,” ucap Tara mengerti kekhawatiran sang kakak.

“Tetap saja, Dek. Apa kalian sering ketemuan tanpa bilang ke Abang?” tanya Haris menyelidik.

Tara menggeleng. “Baru sekarang kami ketemuan berdua setelah cerai, Bang.”

Haris bernapas lega. “Bukan maksud Abang buat ngatur kamu, Dek. Hanya saja… Abang takut,” ucap Haris lirih.

Tara mengangguk. “Nggak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, Bang. Aku udah menerima David dalam hidupku. Dan aku yakin dengan pilihanku. Devan ngajakin aku ketemu karena dia tahu hal itu. Dia nggak terima. Itu saja.”

Haris mengernyit. “Kenapa dia nggak terima?”

“Karena dia merasa usahanya sia-sia saat dulu mengembalikan senyumku setelah ditinggal David. Dan sekarang aku malah kembali lagi sama David.”

“Lalu apa masalahnya? Hidup kamu, kamu yang jalani. Kamu yang tahu apa yang bisa membuatmu bahagia. Kenapa dia harus nggak terima dengan keputusanmu ini? Dia bukan siapa-siapa lagi.”

“Itulah yang coba aku jelaskan tadi, Bang. Diantara aku sama dia, udah nggak ada yang tersisa. Aku memintanya untuk nggak ikut campur dalam urusan pribadiku. Tapi sebenarnya aku juga bingung. Di satu sisi, aku melihat dia kayak yang cemburu saat aku bersama David, tapi disisi lain, dia juga kadang cuek banget sama aku. Aku bingung dengan sikapnya itu.”

“Kamu nggak usah peduliin dia lagi, Dek. Abang tahu kok, kalau dia tuh sampai sekarang nggak berubah. Dan dia itu nggak akan pernah berubah. Justru dengan bercerai sama kamu, dia akan semakin bebas.”

Tara mengangguk setuju. “Di sudut hatiku yang terdalam, sebenarnya aku menyayanginya, Bang. Sayang seperti aku sayang sama Abang. Aku ingin dia taubat. Tapi jika dia sendiri tak ingin mengubahnya, ya percuma saja.”

“Ya sudahlah. Yang terpenting sekarang kamu bahagia dengan pilihan kamu. Jadi, kapan David akan melamar?”

Tara merona, salah tingkah. Haris melihatnya dengan jelas dan membuatnya tersenyum. “David serius sama kamu kan, Dek?” tanya Haris lagi.

Tara mengangguk. “Tunggu saja kabar dari kami, Bang.”

Haris tersenyum dan mengangguk. Sekarang dia lega. Dia berharap tak ada masalah ke depannya untuk hubungan Tara dan David. Haris juga yakin jika David pasti bisa membahagiakan Tara.

***

“Aku tadi sebenarnya pingin banget nyusulin kamu ke cafe itu. Aku nggak tenang mikirin kamu yang lagi ketemuan sama mantan suamimu.”

Tara tersenyum. Begitu sampai di kamarnya, Tara langsung mengirim pesan pada David jika dia sudah pulang. Dan David langsung meneleponnya.

“Takut banget sih.” Tara mencibir.

“Ya iyalah. Gimana kalau kamu kegoda lagi sama mantan suami kamu yang kaya raya itu?”

Tara tertawa. Dia senang David cemburu seperti ini. Karena itu artinya David mencintainya dan takut kehilangan dia. Tentu saja hati Tara berbunga-bunga, walau dia sudah membayangkan bagaimana raut wajah David saat ini. Pasti David cemberut dengan muka ditekuk. Tara jadi gemas sendiri.

“Nggak boleh terlalu possesive. Nggak baik.”

Terdengar helaan napas panjang di ujung sambungan. “Ya gimana. Akunya cinta. Kita nikah aja yuk sekarang. Biar aku nggak terlalu khawatir lagi kalau kamu lagi di luar sana tanpa aku.”

“Ayo. Tapi nggak sekarang juga. Ini sudah malam. Petugasnya lagi bercengkrama sama keluarga mereka. Kita nggak bisa ganggu.” Tara terkikik sendiri.

“Besok libur kan? Aku mau ngajak kamu ke rumah orang tuaku. Kita harus mempercepat pernikahan kita, Sayang.”

“Kenapa dipercepat ? Aku kan nggak hamil.”

“Justru harus dipercepat karena aku pingin buru-buru hamilin kamu.”

Tara tersenyum malu walau tak ada yang melihat. Jantungnya deg-deg an sekali membayangkan dia dan David di dalam satu kamar, dan satu kasur, lalu mereka…. Ah, baru membayangkan saja sudah membuat badan panas dingin. Dia juga menginginkan hal itu. Hal yang tak pernah Devan berikan selama tiga tahun pernikahan mereka.

“Iya udah iya. Abang juga udah nanyain kapan kamu melamarku.”

“Makanya itu. Lebih cepat lebih baik. Aku jadi nggak sabar.”

“Nggak sabar apa?”

“Bikin anak yang banyak sama kamu.”

Bersambung …

Halo guys. Aku yesstory. Boleh dong komen-komen. Aku mau kenal sama semua pembaca karya keduaku ini. Kritik dan saran juga boleh banget dikasih. Aku terima secara terbuka kok. Semoga suka ya. Kasih penilaian juga biar aku tahu seberapa nilai karya ini bagi kalian yang sudah baca.

Sebagai informasi yang baru gabung, pembaruan bab aku upload setiap hari di jam 08.00 dan 17.00. Satu hari dua bab. Jadi, komen ya. Kutunggu.

Salam, yesstory.

1
Atik R@hma
ok ka yes,salam kenal🤣🤣
yesstory: Terima kasih banyak kak Atik yang setia baca karyaku. Semoga suka ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!