NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Saudara yang Hilang

"Berhenti!" bentak Bintang sambil berlari di sepanjang dermaga yang diguyur hujan deras.

"Sampai di sini saja!" balas Ezra sambil melompat ke atas speedboat.

"Aku belum mendapatkan jawabanku!" teriak Bintang sambil terus mengejar.

"Kau bahkan belum siap mendengarnya!" sahut Ezra sambil tertawa.

Mesin speedboat meraung keras sebelum melesat membelah gelombang. Bintang berhenti di ujung dermaga dengan napas memburu. Air hujan membasahi seluruh tubuhnya, tetapi kemarahannya jauh lebih panas daripada cuaca malam itu.

"Sial!" umpat Bintang sambil menendang tiang kayu di dekatnya.

"Bintang!" panggil Viktor sambil berlari menghampiri.

"Aku hampir menangkapnya." Bintang mengepalkan tangannya.

"Tapi kau tidak berhasil." Viktor mengembuskan napas panjang. "Sekarang kita harus kembali."

"Dia tahu semuanya."

"Aku tahu."

"Dan dia sengaja mempermainkan kita."

"Itu memang tujuannya."

Bintang memalingkan wajah. Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai, ia merasa benar-benar berada di belakang lawannya.

"Raka sudah bebas!" seru Rangga sambil keluar dari gudang bersama Rania.

"Bagaimana dengan Arsen?" tanya Bintang sambil menoleh cepat.

"Dia juga." jawab Raka sambil mengusap pergelangan tangannya yang memerah akibat ikatan tali.

"Syukurlah." gumam Rania sambil mengembuskan napas lega.

Hujan mulai mereda ketika mereka kembali berkumpul di depan gudang. Beberapa anak buah Viktor yang terluka sedang mendapat pertolongan, sedangkan yang lain berjaga di sekitar pelabuhan.

"Arsen mana?" tanya Leonard sambil memperhatikan sekitar.

"Di sini." jawab sebuah suara dari belakang.

Semua orang menoleh, Arsen berjalan keluar dari gudang sambil memegang bahunya yang terluka. Meski wajahnya masih penuh memar, tatapannya tetap tenang.

"Kau baik-baik saja?" tanya Rania sambil mengernyit.

"Aku pernah mengalami yang lebih buruk." jawab Arsen sambil tersenyum tipis.

Bintang memperhatikan pria itu tanpa berkedip. Semakin lama ia melihatnya, semakin sulit baginya untuk menerima kenyataan bahwa mereka mungkin memiliki hubungan darah.

"Apa?" tanya Arsen sambil mengangkat alis.

"Aku masih mencoba memahami semua ini." jawab Bintang sambil menggeleng pelan.

"Kalau itu membuatmu lebih tenang, aku juga."

"Kita tidak bisa tinggal di sini." ujar Septian sambil memperhatikan area pelabuhan. "Ezra sudah mendapatkan apa yang dia inginkan."

"Apa maksudmu?" tanya Rania sambil menatapnya.

"Dia ingin kita bertemu." jawab Septian sambil menunjuk ke arah Arsen dan Raka. "Dan sekarang itu sudah terjadi."

Suasana langsung berubah lebih serius.

"Kenapa dia melakukan itu?" tanya Bintang sambil menyilangkan tangan di dada.

"Karena dia sedang mendorong sesuatu."

"Sesuatu apa?"

Septian tidak langsung menjawab, tatapannya beralih kepada Viktor sebelum kembali kepada yang lain.

"Perang."

Kalimat itu membuat semua orang terdiam.

"Kita kembali ke rumah persembunyian." ujar Viktor sambil memberi isyarat kepada anak buahnya. "Semua orang masuk mobil sekarang."

"Tunggu." sela Arsen sambil melangkah maju.

"Ada apa?" tanya Damar sambil mengernyit.

"Aku tidak ikut."

Semua orang langsung menoleh.

"Kau bercanda?" tanya Rangga sambil mengangkat alis.

"Aku serius." jawab Arsen sambil mengangguk.

"Kau baru saja lolos dari penculikan." ujar Viktor sambil menggeleng pelan. "Ini bukan waktu yang tepat untuk bertindak sendiri."

"Aku sudah bertindak sendiri selama dua puluh lima tahun."

"Dan lihat hasilnya." balas Leonard sambil mendengus.

Arsen tersenyum tipis.

"Setidaknya aku masih hidup."

"Kau keras kepala." ujar Damar sambil mengusap wajahnya.

"Katanya sifat itu menurun."

Kalimat itu membuat Rania hampir tertawa, sedangkan Bintang hanya memutar mata..

"Kalau kau tidak ikut, lalu ke mana?" tanya Rania sambil melangkah mendekat.

"Aku harus memastikan sesuatu." jawab Arsen sambil menatapnya.

"Apa?"

"Tentang ibumu."

Jantung Rania langsung berdegup lebih cepat.

"Kau tahu sesuatu?" tanyanya cepat.

"Aku tahu cukup banyak."

"Katakan sekarang."

Arsen menggeleng pelan.

"Aku belum punya bukti."

"Arsen..." ujar Rania dengan nada kesal.

"Aku tidak ingin memberimu harapan palsu." jawab Arsen sambil menatapnya serius.

Rania akhirnya terdiam, ia bisa melihat bahwa pria itu tidak sedang bercanda.

"Kita lanjutkan pembicaraan ini di rumah." ujar Viktor sambil membuka pintu mobil.

"Tidak." sahut sebuah suara dari belakang.

Semua orang langsung menoleh. Salah satu anak buah Viktor berdiri beberapa meter dari mereka, wajah pria itu pucat dan napasnya memburu seperti habis berlari.

"Ada apa?" tanya Viktor sambil mengernyit.

"Kita punya masalah."

"Masalah apa?"

Pria itu menelan ludah sebelum menyerahkan sebuah ponsel.

"Ini baru saja dikirim ke semua perangkat kami."

Viktor langsung mengambilnya dan wajahnya berubah dalam hitungan detik.

"Apa sekarang?" tanya Leonard sambil mendekat.

Viktor memutar layar ponsel itu ke arah mereka. Sebuah foto memenuhi layar, tidak ada seorang pun yang berbicara selama beberapa saat karena foto itu menampilkan seorang wanita muda yang sedang menggendong tiga bayi dan wanita itu... adalah ibu Rania.

"Aku mengenali foto itu." gumam Damar sambil kehilangan warna di wajahnya.

"Mustahil." ujar Septian sambil menggeleng cepat.

"Itu foto yang hilang." balas Leonard sambil menyipitkan mata.

Rania menatap foto tersebut tanpa berkedip. Tiga bayi, bukan dua.

"Kenapa ada tiga bayi?" tanyanya sambil mengangkat kepala perlahan.

Tidak ada yang menjawab.

"Kenapa ada tiga?" ulangnya dengan suara lebih keras.

Jantung Bintang mulai berdegup semakin cepat karena untuk pertama kalinya... ia mulai takut pada jawaban yang akan keluar.

"Karena malam itu memang ada tiga bayi." jawab Leonard sambil mengembuskan napas panjang.

"Tiga?" tanya Raka sambil mengernyit.

"Ya."

"Kalau begitu..." Rania menelan ludah.

Tatapannya perlahan beralih kepada Arsen lalu kepada Bintang dan akhirnya kembali ke foto itu.

"Siapa bayi ketiga?" tanyanya pelan.

Tidak ada seorang pun yang langsung menjawab, namun ekspresi Viktor sudah cukup membuat jantung semua orang terasa membeku karena pria itu tahu jawabannya dan jawaban itu akan mengubah segalanya.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!