Kaelen Voss, pemuda yang dianggap sampah karena tak memiliki kekuatan apa pun seketika mendapatkan kekuatan legendaris Sistem Penguasaan Elemen. Dia mampu mengendalikan segala elemen, dari dasar hingga yang terkuat. Melalui perjalanan dan pertempuran, dia bangkit dari keterpurukan, mengungkap rahasia masa lalu, dan akhirnya mengalahkan penguasa kegelapan untuk menjadi sosok terhebat yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perselisihan Di Kota
Berita menyebar lebih cepat dari pada angin di Kota Aras. Hanya dalam hitungan hari, kisah tentang bagaimana Kaelen, pemuda yang selama tujuh belas tahun hidupnya dicap sebagai sampah dan tidak memiliki bakat apa pun berhasil membalikkan keadaan dan membuat Rian terjatuh karena hembusan angin telah menjadi pembicaraan hangat di setiap sudut kota.
Di pasar, di sebuah kedai minuman hingga di pekarangan rumah warga, nama Kaelen terus disebut-sebut dengan nada penuh rasa ingin tahu, keraguan, dan keterkejutan.
"Kau dengar kabarnya? Si anak buangan Keluarga Voss itu ternyata punya kekuatan!"
"Mana mungkin? Bukankah Kristal Penentu sudah menyatakan dia kosong? Mungkin itu cuma kebetulan saja."
"Entahlah, tapi aku melihatnya sendiri. Angin yang dia keluarkan sangat tajam. Bukan sekadar embusan angin biasa. Sepertinya dia menyembunyikan kekuatannya selama ini."
Bisikan-bisikan itu sampai pula ke telinga Rian, dan bagi pemuda bangsawan yang sombong itu kabar tersebut adalah penghinaan terbesar yang pernah dia terima.
Selama ini, Rian merasa dirinya adalah pemuda paling berbakat di usianya. Sosok yang ditakuti dan dipuji oleh semua orang. Keberadaan Kaelen yang selalu dia injak-injak adalah bukti keunggulannya.
Namun sekarang, bayangan yang selalu dia remehkan itu tiba-tiba bangkit dan mulai disorot orang lain. Hal itu membuat rasa tidak aman dan amarah membara hebat di dada Rian.
Siang itu, di alun-alun pusat kota yang luas tempat yang biasa digunakan untuk pertemuan warga atau ujian bakat, Rian berdiri di tengah lapangan dengan wajah merah padam karena marah. Di sekelilingnya sudah berkumpul puluhan warga yang penasaran, tertarik oleh teriakan keras pemuda itu.
"Kaelen! Keluarlah kau, pengecut!" seru Rian sekeras tenaganya.
Suara Rian menggema ke seluruh penjuru alun-alun. Dia mengenakan jubah merah yang melambangkan elemen Api, dan di tangannya, nyala api kecil terus menyala padam seolah mencerminkan emosinya yang meluap-luap.
"Kau yang berlagak hebat di belakang punggung orang! Katakan pada semua orang, kekuatan apa yang kau punya? Apakah itu sihir semu? Atau sekadar trik murahan?!"
Tidak lama kemudian, celah di antara kerumunan terbuka. Sosok kurus yang sudah dikenal semua orang itu berjalan masuk dengan langkah tenang dan tegap.
Kaelen datang sendirian. Dia masih mengenakan pakaian yang sama, namun penampilannya terlihat berbeda. Matanya yang abu-abu bersinar jernih dan tajam. Tidak lagi tertunduk malu atau penuh ketakutan seperti dulu. Di belakang tatapan itu, tersimpan kekuatan yang telah dia kumpulkan dari Hutan Pinggiran.
Kaelen berhenti tepat sepuluh langkah di hadapan Rian, menatap datar tanpa rasa takut.
"Apa maumu, Rian?" tanya Kaelen dengan suara tenang. "Aku tidak mencari masalah denganmu."
Rian tertawa sinis. Dia menunjuk dada Kaelen dengan jari kasarnya. "Tidak mencari masalah? Kau pikir setelah berani mempermalukanku hari itu, kau bisa hidup tenang? Kau pikir bisikan-bisikan orang di sekitarmu aku tidak dengar? Semua orang bilang kau punya bakat besar. Padahal kau hanyalah sampah yang tidak berharga!"
Rian melangkah maju, suaranya meninggi agar didengar seluruh warga yang berkumpul.
"Aku di sini untuk membuktikan pada semua orang bahwa keberuntunganmu hari itu hanyalah kebetulan belaka! Kau tidak memiliki bakat. Kau tidak memiliki kekuatan. Dan kau akan selamanya menjadi makhluk rendahan! Di sini, sekarang juga aku menantangmu bertarung!"
Kerumunan warga berbisik-bisik heboh. Pertarungan antara dua pemuda yang nasibnya bertolak belakang. Satu yang dianggap sampah. Dan satu yang dianggap jenius adalah tontonan yang sangat menarik.
Beberapa tetua kota yang ada di sana sempat berniat melerai, namun melihat keinginan kuat kedua belah pihak, mereka memutuskan untuk diam saja. Bagi penyihir muda, pertarungan semacam ini adalah cara membuktikan harga diri dan kekuatan.
Kaelen menghela napas panjang. Dia sebenarnya belum ingin menampakkan kemampuannya sepenuhnya. Dia ingin tumbuh lebih besar lagi, diam-diam.
Namun Kaelen sadar, jika dia menolak tantangan ini. Ejekan sebagai pengecut akan kembali menimpanya, dan Rian tidak akan pernah berhenti mengganggunya sampai dia hancur.
"Baiklah," batin Kaelen. Matanya menyipit dingin. "Karena kau memaksaku, aku akan gunakan dirimu sebagai bukti pertama kebangkitanku."
"Aku terima tantanganmu," jawab Kaelen pelan namun tegas.
Suara riuh rendah penonton semakin keras. Di tengah lapangan, jarak di antara keduanya melebar. Rian berdiri dengan sikap angkuh, sementara Kaelen tenang dan waspada.
"Dengar baik-baik, sampah!" seru Rian sambil menyeringai. "Aku sudah bukan lagi pemula seperti saat itu. Selama beberapa hari ini, aku berhasil menembus batas dan kini telah mencapai tingkat Elemen Api, Tingkat Menengah! Kekuatanku sekarang sepuluh kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Bersiaplah untuk terbakar habis!"
Seketika itu juga, aura panas yang menyengat meledak dari tubuh Rian. Nyala Api berwarna merah terang kini menyala besar di kedua tangannya. Suhunya begitu tinggi hingga udara di sekitarnya tampak bergetar dan berasap.
Warga yang berdiri agak dekat mundur ketakutan. Tingkat Menengah! Di usia muda seperti mereka, mencapai tingkat itu memang merupakan prestasi yang luar biasa. Rian memang berbakat. Hanya saja bakat itu diselimuti oleh sifat sombong dan kejamnya.
Kaelen merasakan hawa panas itu menyambar wajahnya. Di dalam benaknya, suara sistem langsung aktif. Memindai kekuatan musuhnya secara mendetail.
[DETEKSI MUSUH: RIAN]
[Elemen: API — TINGKAT MENENGAH]
[Kekuatan: Serangan berapi luas, suhu tinggi, daya hancur besar.]
[Kelemahan: Konsumsi energi besar, gerakan kaku saat mengeluarkan serangan besar, rentan terputus alirannya.]
[ANALISIS TAMBAHAN: Elemen Angin yang dikuasai pengguna memiliki hubungan saling melengkapi namun juga bisa saling menekan. Angin dapat menggerakkan dan mengubah arah api.]
Pertarungan pun dimulai. Tanpa aba-aba, Rian melesat maju dengan kecepatan tinggi, Api di tangannya berkobar semakin besar.
"Rasakan ini! Hujan Bara!" teriak Rian.
Rian mengayunkan tangannya ke udara, dan puluhan bola api seukuran kepalan tangan melesat keluar. Menghujani Kaelen dari segala arah. Suara desisan dan bau terbakar langsung tercium. Serangan itu cepat dan sulit dihindari.
seperti biasa kakak selalu putus tengah jalan😩...suasananya seru+ kepo tau..../Scream/