Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.
Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WASIAT
Naya akhirnya tiba di rumah Hana bersama Zaki, namun langkah Naya tertahan tepat saat mereka memasuki pelataran. Karangan bunga duka cita masih berjejer apik, menyisakan aroma sedap malam yang menusuk hidung, aroma yang selalu mengingatkan Naya pada kematian.
Namun, bukan bunga itu yang membuat nyalinya menciut. Sebuah mobil sedan hitam mengilap terparkir apik di pelataran rumah yang kini terasa asing. Pintu depan yang terbuka, muncul sosok Tian melangkah keluar. Ia tidak sendirian. Di sisinya, berdiri seorang wanita dengan dress satin berwarna hitam pekat yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Penampilan wanita itu kontras dengan Naya yang masih mengenakan seragam guru, dengan wajah lelah dan sisa air mata yang masih membekas. Naya merasa dunianya seolah menciut, dadanya dihantam sesak yang familiar, luka lama yang baru saja ingin ia kubur, kini menatapnya dengan tajam.
"Kenapa?" bisik Zaki. Suaranya menyadarkan Naya bahwa ia tidak sedang sendirian. Zaki berdiri di sampingnya, menjadi tembok pelindung yang tak kasat mata.
Naya hanya menggeleng bisu, namun tenggorokannya tercekat kuat.
"Eh, Nay," sapa Tian, melangkah mendekat dengan senyum yang dipaksakan ramah. "Aku turut berduka atas meninggalnya Hana dan Reno. Sungguh, ini sangat menyedihkan buat kita semua."
"Iya," jawab Naya singkat, suaranya nyaris seperti bisikan.
"Kita semua berdoa yang terbaik buat mereka, ya," lanjut Tian. Ia kemudian menoleh pada wanita di sampingnya. "Oh iya, kenalkan. Ini Tania. Istri aku."
Glek.
Naya menelan salivanya dengan susah payah. Wanita itu pun mengulurkan tangan ke arahnya. Dan, saat jemari mereka saling bersentuhan, Naya merasakan perbedaan yang telak. Tangan wanita itu begitu lembut, terawat dengan sempurna, sangat jauh berbeda dengan tangannya yang kasar akibat pekerjaan rumah tangga yang ia kerjakan sendiri.
"Tania," ucap wanita itu dengan nada yang sangat lembut, terlalu lembut hingga terasa seperti tusukan bagi Naya.
"Naya," balas Naya datar, berusaha menarik tangannya secepat mungkin.
"Oh ya, Nay. Ini..." Tian tampak bingung ketika matanya memandang ke arah Zaki.
Zaki maju satu langkah, memutus kecanggungan. "Zaki. Zaki Pradipta."
Zaki mengucapkan namanya dengan nada yang dingin dan sorot mata yang tajam, seolah sedang membaca isi kepala Tian. Ia tidak membalas jabatan tangan Tian dengan hangat, justru ada kesan sinis yang tertahan di sana. Tanpa menunggu respon lebih lanjut dari Tian, Zaki dengan luwes merangkul bahu Naya, menarik wanita itu sedikit lebih dekat ke arah tubuhnya.
"Tian Adiputra." Balas Tian berusaha ramah.
"Ayo, Nay, kita masuk ke dalam," ujar Zaki dengan nada memerintah yang halus namun penuh kepemilikan. "Bik Retno dari tadi pasti sudah menunggu kita di dalam."
Naya hanya mengangguk. Sementara, Zaki mulai menuntunnya melewati pasangan itu seolah mereka hanyalah pajangan di teras rumah. Baginya, kehadiran Tian, pria yang pernah membuat Naya hancur adalah ancaman nyata, dan ia tidak akan membiarkan Naya jatuh lagi di depan pria itu.
Naya merasa punggungnya yang disangga lengan Zaki terasa lebih tegar. Meski lukanya masih basah, ia tidak lagi merasa sendirian saat melangkah masuk, meninggalkan Tian dan istrinya yang tampak tertegun di pelataran rumah.
"Zaki," bisik Naya pelan, hampir tak terdengar, saat mereka berhasil menjauh beberapa langkah dari pasangan itu menuju ruang tamu yang sunyi. "Kamu tidak perlu melakukan itu. Kamu tidak perlu terlihat... begitu membencinya."
Zaki menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu sebelum mereka benar-benar masuk ke dalam. Ia menatap Naya, wajahnya yang muda kini terlihat jauh lebih tegas, dengan rahang yang mengeras dan sorot mata yang menyiratkan kedewasaan yang tak biasa. "Aku sudah tahu sejak awal dia Tian yang kamu maksud, kan? Aku tidak membencinya, Naya. Aku hanya tidak suka melihatmu merasa kecil di depan orang yang bahkan tidak pantas berada di masa lalumu." Lugasnya rendah, namun penuh penekanan. "Kamu bukan pajangan yang bisa mereka nilai, dan kamu bukan lagi wanita yang akan hancur hanya karena kehadirannya."
Naya tertegun. Kalimat itu sederhana, namun memukul tepat di ulu hatinya. Zaki, yang seharusnya hanya menjadi murid baginya, kini justru menjadi cermin yang memaksanya melihat betapa berharganya dirinya sendiri. Ya. Sesuatu yang selama bertahun-tahun selalu gagal ia temukan setelah perpisahan yang menyakitkan dengan Randi.
"Non Naya," suara Bik Retno bergetar. Jemarinya yang meremas celemek dengan cemas, segera datang mendekat.
"Bik." Sapa Naya menatap Bik Retno dari atas kepala hingga ujung kaki. "Kikan mana, Bik?"
"Kikan sedang tidur, Non."
"Apa? Ma-maksudku... Bibik panggil aku kemari karena Kikan nangis, bukan?"
Bik Retno menggeleng pelan, wajahnya yang keriput mulai memasang raut serius. "Bukan, Non. Ada sesuatu yang jauh lebih penting... sesuatu yang ingin Bibik ceritakan pada Non."
Naya tertegun. Ia menatap Bik Retno, lalu melirik Zaki yang secara naluriah menggeser duduknya agar lebih dekat, jemarinya refleks tak lepas dari punggung tangan Naya.
Naya pun tak protes, sentuhan itu seakan memberikan kehangatan yang sangat ia butuhkan saat ini.
"Mari, Non. Duduk di sini," ajak Bik Retno, suaranya parau. Ia menunjuk ke arah sofa beludru biru tua di ruang tamu yang mungkin telah Tian dan Tania duduki tadi.
Zaki dan Naya mulai duduk berdampingan, sementara Bik Retno duduk di hadapan mereka. Keheningan pun mulai terjadi beberapa detik sebelum akhirnya wanita tua itu memberikan sebuah map pada Naya.
"Tadi... ada pengacara Bapak kemari, Non," ucap Bik Retno akhirnya, memecah keheningan dengan kalimat yang membuat napas Naya tertahan. "Beliau menitipkan ini untuk Non Naya," katanya sambil menyerahkan map biru itu dengan penuh kehati-hatian. "Katanya, ini adalah wasiat terakhir Bapak dan Ibu yang perlu Non Naya tahu."
Naya menatap map itu seolah-olah benda itu adalah sesuatu yang begitu berharga. Tangannya yang dingin meraih map itu. Begitu jemarinya menyentuh permukaan kertas yang tebal dan bertekstur.
Sebelum memberanikan diri untuk membukanya, Naya menoleh ke arah Zaki. Dan, tatapan mereka bertemu, di mata pemuda itu, Naya tidak menemukan rasa penasaran yang mengusik, melainkan sebuah ketenangan yang menghanyutkan, sebuah jangkar di tengah badai.
Zaki tidak bertanya, ia pun tidak mendesak. Ia hanya mengangguk pelan, tanpa suara, sebuah isyarat yang seolah berbisik, aku di sini.
Naya menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berpacu liar. Dengan perlahan, ia mulai membuka lipatan kertas itu dan mendapati deretan kalimat yang tertulis dengan tinta hitam yang tegas. Itu adalah tulisan tangan Hana, ia tahu itu.
Nay, setelah kamu baca tulisanku ini, berarti aku memang sudah benar-benar pergi meninggalkanmu sendirian. Dan, ada hal yang harus kamu tahu, dan aku harap kamu bisa mengerti kenapa aku merahasiakannya selama ini.
Mata Naya mulai memanas. Setiap goresan pena di kertas itu terasa seperti bisikan Hana yang nyata di telinganya.
Aku akan menyerahkan Kikan pada Bik Retno untuk kamu jaga, sampai Kikan cukup dewasa untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Aku tidak ingin membebankan Kikan padamu saat kamu akhirnya menemukan kebahagiaanmu sendiri. Aku tahu kamu sudah terlalu banyak berkorban, Nay. Aku tidak mau masa depanmu terhambat oleh tanggung jawab yang seharusnya menjadi milikku. Tapi, tolong... angkat Kikan, rawat dia seperti anakmu sendiri setelah kamu telah berhasil menemukan kebahagiaanmu sendiri. Dia adalah satu-satunya peninggalan paling berharga yang aku miliki. Dia adalah putriku, dan sekarang, dia adalah bagian dari jiwamu..
Setetes air mata jatuh, tepat mengenai kertas itu, membuat tinta di atasnya tampak sedikit memudar. Naya pun menutupi mulutnya, berusaha meredam isak tangis yang mulai meledak dari dadanya.
Rumah ini, dan seluruh aset yang Reno dan aku miliki, akan jatuh sepenuhnya pada Kikan. Tapi ada sebagian kecil yang aku titipkan untukmu, sebagai tanda terima kasihku yang tak terhingga karena kamu sudah mau menjadi orang tua bagi Kikan saat aku tidak lagi ada. Maafkan aku, karena telah membuat hidupmu serumit ini di akhir perjalananku.
"Hana..." isak Naya pecah. Bahunya terguncang hebat. Surat itu bukan sekadar wasiat, itu adalah sebuah pengakuan dosa sekaligus bukti cinta sahabatnya yang begitu besar hingga melampaui kematian. Hana tahu betapa rapuhnya Naya, namun ia tetap menitipkan nyawa paling berharga dalam hidupnya kepada Naya.
Zaki, yang sejak tadi duduk mematung di sampingnya, segera menarik Naya ke dalam pelukannya. Ia mengusap bahu Naya dengan lembut, memberikan kehangatan yang kontras dengan dinginnya surat di tangan wanita itu. Ia membiarkan Naya menumpahkan seluruh rasa sesak di dadanya, membiarkan isak tangis itu menjadi lagu pengiring di rumah yang kini terasa sangat sunyi.
Di saat yang sama, Naya pun membenamkan wajahnya di bahu Zaki, mencengkeram kemeja pemuda itu seolah itu adalah satu-satunya sandaran yang ia miliki di dunia ini. Dengan adanya surat ini, ia sadar bahwa hidupnya yang tenang kini telah berakhir. Ia bukan lagi sekadar guru yang mencoba melupakan masa lalu, ia kini adalah pelindung bagi Kikan, wanita yang di tengah segala kehancurannya harus belajar untuk kembali berani demi mereka yang ia cintai.
****
Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri