NovelToon NovelToon
Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.

Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.

Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.

Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.

Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?

Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 27 Kedatangan Tamu Baru

Keesokan paginya.

Susana di sekitar dermaga Desa Sekar kembali berjalan ramai dan hangat seperti biasa. Aroma ikan laut dan tanah basah sisa hujan semalam menguar kuat di udara pagi yang cerah. Namun, kehadiran Teri yang bertubuh menjulang tinggi dengan otot tegap langsung menjadi magnet perhatian utama bagi para warga.

"Wah! Ada pendatang baru rupanya di desa kita pagi-pagi begini!" seru Pak Jalil, menghentikan langkahnya sembari memikul jala ikan yang basah.

Pak Sabir yang sedang memperbaiki tali jangkar perahu ikut berjalan mendekat dengan dahi berkerut. "Badanmu besar dan kekar juga ya, Dik. Kau atlet atau bagaimana?"

"Hahaha! Postur tubuhmu ini mengingatkan aku pada Kael waktu pertama kali terdampar di desa ini dulu," timpal Pak Deden terbahak-bahak, menepuk bahu Teri akrab.

Teri yang biasanya terbiasa menghadapi moncong senjata api, kini mendadak terlihat sangat kaku menghadapi keramahan frontal warga desa. Di saat yang bersamaan, Kael tampak melangkah santai mendekati kerumunan.

"Kael! Kebetulan sekali kau lewat! Apa kau kenal dengan anak muda bertubuh raksasa ini?" tanya Pak Jalil lantang, menunjuk ke arah Teri.

Sepasang netra Kael dan Teri saling bertemu sesaat di udara, saling melempar kode rahasia.

"Tidak, Pak. Saya tidak mengenalnya," jawab Kael bohong dengan wajah tanpa dosa, menggelengkan kepalanya pelan.

Teri yang menangkap sinyal itu langsung ikut menggelengkan kepalanya dengan cepat, memasang senyum kaku. "Benar, Pak. Saya juga baru pertama kali bertemu dengan beliau di jalanan semalam saat hujan deras."

Pak Jalil langsung mengangguk-angguk percaya tanpa menaruh curiga. "Oh, jadi begitu ceritanya."

"Saya tidak sengaja menemukannya sedang berjalan kebingungan di pintu masuk perbatasan desa semalam," tambah Kael, menyusun skenario bualan dengan sangat lancar. "Karena cuaca semalam hujan lebat, jadi saya memutuskan untuk membawanya berteduh kemari. Kasihan jika dibiarkan telantar di jalanan yang gelap."

Teri hampir saja tersedak ludahnya sendiri mendengar bualan tingkat tinggi dari mantan komandannya itu. Namun, ia buru-buru mengangguk setuju dengan ekspresi memelas. "Benar apa kata Mas ini, Pak. Saya semalam benar-benar tersesat dan kehilangan arah jalan pulang."

Pak Deden langsung tertawa keras mendengar pengakuan itu, menepuk punggung Teri lagi. "Berarti kau sangat beruntung bisa bertemu dengan Kael semalam! Dia ini pahlawan di desa kami!"

Menjelang siang hari, Kepala Desa sengaja mengajak Teri untuk duduk bersantai di balai desa yang berlantai bambu. Pak Asep, Pak Jalil, Pak Sabir, dan Pak Deden ikut berkumpul melingkar sembari menikmati kopi hitam. Mereka mulai menceritakan sejarah awal kedatangan Kael ke desa ini.

"Kau harus tahu, Teri. Kael itu dulu pertama kali ditemukan warga di tepi pantai dalam kondisi yang hampir mati," buka Kepala Desa, menyulut rokok bakaunya.

Teri langsung menegakkan posisi duduknya, memasang telinga dengan sangat serius. "Hampir mati? Memangnya apa yang terjadi pada beliau, Pak?"

"Badannya dipenuhi oleh luka-luka robek yang sangat mengerikan, seolah habis diserang oleh kawanan binatang buas," sahut Pak Asep dengan raut wajah ngeri mengingat masa lalu.

"Benar! Kondisinya saat itu sudah nyaris tidak tertolong lagi oleh obat-obatan tradisional desa," timpal Pak Sabir sembari mengangguk-angguk. "Untung saja saat itu ada Dokter Hana yang langsung turun tangan merawatnya tanpa kenal lelah."

Pak Jalil tertawa kecil, melirik ke arah luar balai desa. "Betul sekali. Kalau bukan karena keahlian medis dan ketelatenan dari Dokter Hana, si Kael itu mungkin sudah mengembuskan napas terakhirnya di tanah desa ini."

Tak jauh dari balai desa, Hana yang kebetulan sedang berjalan lewat membawa kotak obat putih tampak menghentikan langkah kakinya sesaat. Mendengar namanya digosipkan oleh bapak-bapak, wajah cantiknya seketika merona merah.

"Saya hanya melakukan apa yang sudah menjadi tugas dan kewajiban saya sebagai seorang dokter di desa ini, Pak," seru Hana ketus dari kejauhan, mencoba menutupi rasa salah tingkahnya sebelum kembali berjalan cepat menuju Poskesdes.

Pak Jalil langsung tertawa terbahak-bahak melihat reaksi ketus Hana. "Hahaha! Tetap saja, Hana! Di mata kami, kau adalah penyelamat nyawa pemuda itu!"

Teri terdiam membisu, pandangannya terus terkunci pada sosok Hana yang perlahan menghilang di balik tikungan jalan desa. Di dalam lubuk hatinya, Teri perlahan mulai memahami gambaran besar situasi ini, ia akhirnya mengerti alasan emosional mengapa seorang Kael sang monster Shadow Crown memilih untuk bertahan hidup menetap di desa nelayan yang terpencil ini.

Sore pun menjelang, membawa rona jingga yang indah di langit atas garis pantai. Rani tampak sedang duduk manis di atas tikar pandan beranda rumah bersama Kael.

Jemari mungilnya terlihat sangat sibuk menggoreskan krayon warna-warni di atas selembar kertas gambar, sementara Kael duduk di sebelahnya dengan telaten memperbaiki beberapa halaman buku pelajaran sekolah dasar yang robek menggunakan lem.

Sementara itu, Teri duduk di atas kursi kayu tak jauh dari mereka, matanya tetap waspada memperhatikan sekitar.

Rani diam-diam menghentikan aktivitas menggambarnya, melirik ragu ke arah tubuh besar Teri yang tampak mengintimidasi. Dengan gerakan perlahan, bocah perempuan itu menarik-narik ujung baju kemeja Kael.

"K-Ka... Kak..." panggil Rani dengan suara cicitan yang teramat pelan.

Kael langsung menurunkan buku di tangannya, menundukkan kepala menatap Rani lembut.

"Hm? Ada apa, Rani?" tanya Kael

Rani mengarahkan jari telunjuk mungilnya yang masih ternoda krayon ke arah Teri yang duduk kaku di sudut beranda. "K-Kak..."

"Maksudmu Kak Teri?" tebak Kael membantu meluruskan kalimat.

Rani langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat, matanya berbinar. "I-iya..."

Teri yang menyadari dirinya sedang menjadi topik pembicaraan mendadak mengubah posisi duduknya menjadi sangat tegap dan tegang, merasa gugup dinilai oleh seorang anak kecil.

Rani memandangi guratan wajah tegas Teri dengan intensitas yang cukup lama, membuat atmosfer di beranda terasa canggung.

"K-kak..." panggil Rani lagi, beralih menatap Teri langsung.

"Hm? Iya, ada apa, Adek kecil?" sahut Teri dengan nada suara yang diusahakan selembut mungkin agar tidak terdengar menakutkan.

Rani tampak mengerutkan dahinya, berpikir sangat keras untuk merangkai kata dari mulutnya yang agak terbata-bata. "L-l... t-tem..."

"Maksudmu, apakah Kak Teri ini adalah teman lama dari Kak Kael?" potong Kael, mencoba menerjemahkan maksud Rani lagi.

Rani kembali menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat, senang karena maksudnya tersampaikan. "I-iya... Kak Teri teman Kael?"

Suasana di beranda rumah Bu Ratih mendadak jatuh ke dalam keheningan yang sunyi selama beberapa detik. Kael meletakkan kembali bukunya, menjawab dengan nada suara yang teramat santai.

"Bukan, dia bukan temanku," jawab Kael lempeng.

Rani berkedip beberapa kali dengan ekspresi bingung. "B-bukan?"

"Kami berdua benar-benar baru pertama kali bertemu semalam di jalan," dusta Kael lagi tanpa berkedip.

Teri yang duduk di sudut langsung menganggukkan kepalanya secara ritmis, mendukung kebohongan atasannya.

"Benar apa kata Pak Guru Kael, Dek Rani. Kami baru saja saling mengenal."

"B-baru?" tanya Rani, raut wajahnya terlihat semakin bingung dan tidak puas dengan jawaban itu.

Ia memandangi wajah Kael, lalu beralih memandangi wajah tegap Teri secara bergantian berulang-ulang kali. Keheningan itu berlangsung cukup lama sampai-sampai Bu Ratih dan Pak Jalil yang kebetulan sedang duduk di halaman depan ikut merasa penasaran.

"Ada apa sebenarnya, Rani? Kenapa kau melihat mereka berdua seperti itu?" tanya Bu Ratih dengan senyum keibuan dari arah halaman bawah.

Rani mengarahkan jari telunjuknya ke arah Kael, lalu memindahkannya lagi ke arah Teri dengan cepat.

"S-Sama..."

"Sama apa maksudmu, Nak?" tanya Pak Jalil yang ikut penasaran, menghentikan aktivitas menganyam jalanya.

Rani menarik napa dalam-dalam, mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya berkata dengan wajah yang teramat serius,

"S-s... serem..."

Hening seketika merayap di beranda. Namun, semenit kemudian

"Hahahaha! Aduh, bocah ini jujur sekali!" Pak Jalil langsung meledakkan tawa kerasnya hingga memegangi perutnya yang kaku.

Pak Sabir yang baru datang ikut tertawa terpingkal-pingkal di bawah pagar, sementara Bu Ratih hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menutup mulutnya karena geli.

Kael menghela napas panjang, mengusap wajahnya pasrah dengan komentar jujur Rani. Sedangkan Teri hanya bisa mematung kaku di kursinya, tampak bingung dan tidak tahu harus merasa tersinggung atau malah tertawa dengan kepolosan bocah itu.

Rani yang melihat respons tertawa orang-orang dewasa di sekitarnya malah mengulas senyuman bangga yang lebar.

"A-aku... b-benar, kan, Kak?"

"Iya, kau seratus persen benar, Rani," jawab Kael pasrah sembari mengusap lembut rambut hitam Rani dengan gemas.

Mendapat validasi dari Kael, senyuman di wajah manis Rani langsung melebar sempurna hingga menampilkan deretan giginya yang rapi.

Malam hari pun tiba, membawa kegelapan yang tenang di langit Desa Sekar. Di dalam rumah kayu sederhana milik Bu Ratih, atmosfer terasa begitu hangat dan intim di bawah pendaran cahaya kuning dari lampu teplok.

Mereka semua tampak duduk melingkar di atas lantai kayu yang beralas tikar pandan untuk menikmati makan malam bersama dengan menu ikan bakar hasil tangkapan nelayan siang tadi. Teri diam-diam menghentikan kunyahannya, memperhatikan interaksi penuh canda tawa di hadapannya dengan tatapan takjub.

Suasana hangat yang penuh ketulusan seperti ini adalah sesuatu yang mustahil pernah ia temukan di dalam markas bawah tanah organisasi Shadow Crown selama bertahun-tahun hidup sebagai pembunuh.

Di tempat ini tidak ada rapat taktis yang menegangkan, tidak ada genangan darah, dan tidak ada misi pembunuhan berencana. Yang ada hanyalah sebuah keluarga kecil yang saling menyayangi berkumpul di satu meja makan.

Setelah sesi makan malam selesai dibersihkan, Bu Ratih menggeser posisi duduknya, menatap lurus ke arah wajah Teri dengan pandangan lembut.

"Teri."

"Iya? Ada apa, Bu? sahut Teri sopan, langsung menaruh perhatian penuh pada wanita tua itu.

"Ibu dengar dari Kael, kamu saat ini belum mendapatkan tempat tinggal tetap atau kerabat di sekitar wilayah desa ini, ya?" tanya Bu Ratih memastikan.

Teri menganggukkan kepalanya perlahan, raut wajahnya berubah agak segan. "Benar, Bu. Untuk sementara waktu saya belum memilikinya."

"Kalau memang kondisinya begitu, bagaimana jika kamu tinggal saja dulu sementara waktu di rumah tua Ibu ini?" tawar Bu Ratih dengan senyuman yang teramat hangat.

Sepasang mata Teri seketika membesar sempurna akibat terkejut dengan kebaikan tanpa pamrih tersebut. "Apakah... apakah benar-benar tidak apa-apa jika saya menumpang di sini, Bu?"

"Tentu saja tidak apa-apa, Teri. Kebetulan area kamar milik Kael di sebelah sana ukurannya masih cukup luas dan senggang untuk ditempati oleh satu orang laki-laki lagi," jawab Bu Ratih meyakinkan dengan nada keibuan.

Rani yang sedang asyik bermain boneka di sudut ruangan tiba-tiba langsung mengangkat tangan mungilnya ke udara dengan semangat. "A-aku j-juga setuju! Biar r-ramai!"

Ledakan tawa riuh kembali pecah memenuhi ruang tengah rumah mendengar celotehan spontan Rani. Kael hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah dengan keputusan sepihak keluarganya, sementara Teri langsung membungkukkan tubuhnya sedalam mungkin ke arah Bu Ratih di atas tikar.

"Terima kasih banyak atas kebaikan dan kemurahan hati Anda, Bu. Saya berjanji tidak akan merepotkan isi rumah ini," ucap Teri dengan nada suara yang bergetar tulus.

Malam itu, Teri resmi menetap bersama mereka di bawah satu atap yang hangat. Suasana desa kembali tenggelam oleh suara riuh ombak.

Bersambung...

1
falea sezi
Rani g punya ortu kah
Keysa_Bom: ada kak 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!