Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.
Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.
Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Setelah berpisah dari Indra di kafe privat, Andre tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Dengan sisa rasa syok yang berubah menjadi gairah kemenangan, ia buru-buru merogoh ponselnya di dalam mobil untuk menghubungi Tristan Bratadikara.
Sementara itu, di penthouse apartemen mewahnya, Tristan sedang duduk termenung di tepi ranjang. Suasana kamarnya temaram, namun pikiran pria itu justru sedang melayang jauh, mengingat kembali momen manis sekaligus mendebarkan bersama Ananda tadi siang. Sepasang netranya menatap kosong ke arah lantai, sementara jemarinya perlahan terangkat meraba bibir bawahnya sendiri. Di sela rasa perih akibat luka gigitan yang mulai mengering, Tristan tersenyum seorang diri. Ia seolah masih bisa merasakan dengan jelas betapa manis dan lembutnya belahan bibir Ananda yang sempat ia lum4t dengan rakus tadi siang.
Drrrt... Drrrt...
Lamunan indahnya seketika buyar saat ponsel di atas nakas bergetar nyaring. Tristan berdecak kesal. Kerutan dalam langsung tercetak di dahinya begitu melihat nama Andre tertera di layar. Sebenarnya ia merasa teramat malas untuk menjawab panggilan dari pria itu. Namun, detik berikutnya, Tristan tersentak saat teringat akan perintah mutlak yang ia berikan pada Andre tempo hari untuk menemukan keberadaan si itik buruk rupa dalam waktu singkat. Ia ingin melihat, apakah pria itu benar-benar mencarinya atau hanya berniat membual.
Tristan menggeser tombol berwarna hijau ke kanan, lalu menempelkan ponselnya ke telinga tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Di seberang telepon, Andre menghembuskan napas lega begitu panggilannya diangkat, walau ia mendadak diserang rasa gugup yang luar biasa akibat keheningan dingin dari sang bos besar. "Halo... Tristan? Aku... aku sudah mendapatkan kabar yang sangat valid mengenai si itik buruk rupa. Aku ingin hari ini juga kita bertemu untuk membahasnya!" ujar Andre dengan nada bicara yang meyakinkan.
Seketika, sebuah senyuman lebar terukir di wajah tampannya Tristan. Ia tentu saja ingin tahu seberapa jauh dan seberapa akurat hasil penemuan Andre soal si itik. Apakah pria ini benar-benar sudah melacak identitas asli Ananda, ataukah ini cuma taktik murahan agar terbebas dari ancaman mematikan yang ia layangkan kemarin?
Tanpa ragu, Tristan menyanggupi. Ia memberikan alamat sebuah restoran mewah dan terkenal di pusat kota Jakarta untuk menjadi tempat pertemuan mereka malam ini juga.
Malam harinya, jam menunjukkan pukul delapan. Andre dan Indra telah tiba lebih dulu di restoran mewah yang dijanjikan. Mereka memesan sebuah meja di sudut ruangan yang cukup privat dengan fasilitas kursi sofa yang empuk. Namun, hingga lima belas menit berlalu, sosok Tristan masih belum menampakkan batang hidungnya.
Indra yang duduk di samping Andre mulai bergerak gelisah, melirik jam tangannya berulang kali. "Dre, lo yakin si Tristan bakalan datang? Kok jam segini belum muncul juga?" bisik Indra cemas.
"Yakinlah, Dra. Tenang aja," sahut Andre mencoba menenangkan diri sendiri, walau keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Ini adalah informasi yang paling dia harapkan selama enam tahun lamanya, mencari keberadaan si itik. Dia gak mungkin ngelewatin malam ini gitu aja."
Keduanya kembali menyandarkan tubuh di kursi sofa dengan perasaan yang campur aduk dan gugup yang kian merayap. Tak lama kemudian, suasana di dalam restoran mewah itu mendadak berubah menjadi sedingin es. Langkah kaki tegap yang berbunyi stabil terdengar mendekat.
Orang yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba. Begitu melihat sosok pria yang melangkah anggun itu, Andre dan Indra seketika menegakkan posisi duduk mereka. Wajah keduanya mendadak pucat pasi dan kompak menelan ludah dengan susah payah. Tristan Bratadikara berjalan ke arah mereka dengan raut wajah yang teramat dingin, datar, dan memancarkan aura menakutkan yang siap mengintimidasi siapa saja.
Tanpa menyapa atau mengumbar senyum, Tristan langsung mendudukkan diri di kursi tunggal restoran, tepat berhadapan langsung dengan Andre dan juga Indra. Mata tajamnya menatap lurus ke arah dua pria di depannya.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk basa-basi," ucap Tristan dengan suaranya yang berat, berusaha bersikap sedingin mungkin.
Sebenarnya, di dalam hati, Tristan sedang bersenang-senang. Karena ia sudah mengetahui identitas asli Ananda, ia sengaja ingin mengerjai dan menguji dua pria di hadapannya saat ini. Rasanya ia belum puas melihat mereka berdua gemetar ketakutan di bawah kuasanya.
"Sekarang cepat kalian katakan informasi apa yang kalian dapatkan soal si itik buruk rupa. Jangan buang waktuku jika itu cuma bualan!"
Andre menarik napas dalam-dalam, lalu menatap mata Tristan dengan berani demi menjamin keselamatannya sendiri.
"Tristan... bersiaplah terkejut. Si itik buruk rupa yang selama ini kau cari ke mana-mana... dia adalah sekretaris pribadimu sendiri di Bratadikara Group! Ananda Ayunindia adalah si itik buruk rupa!"
Deg!
Mendengar penuturan Andre yang sangat lugas dan tepat sasaran, dada Tristan sedikit berdesir karena terkejut. Namun, keterkejutannya bukan karena ia baru mengetahui fakta soal si itik, melainkan karena ia tidak menyangka bahwa Andre dan Indra rupanya benar-benar bergerak cepat melakukan penyelidikan mendalam, hingga berhasil membuktikan ucapan mereka dan menyingkap tabir yang selama enam tahun ini tertutup rapat.
Tristan terdiam sejenak, lalu perlahan menyandarkan punggungnya di kursi. Semburat ketegangan di wajahnya mencair, digantikan oleh senyuman tipis yang penuh kemenangan.
"Aku sudah tahu," ucap Tristan santai, memecah keheningan. "Semalam, orang kepercayaanku sudah memberikan seluruh dokumen dan foto masa kuliah Ananda di Universitas Airlangga. Jadi, informasi kalian itu sudah basi."
Andre dan Indra seketika melotot terkejut, namun sedetik kemudian hembusan napas lega kompak keluar dari mulut mereka. Ternyata tebakan mereka tidak salah, si itik yang dicari Tristan memang benar-benar wanita cantik yang kini menjadi sekretarisnya.
"Sial, ternyata lo udah tahu duluan, Tristan," gumam Andre sambil menggelengkan kepala. Namun, sedetik kemudian raut wajah Andre berubah serius. Ia memajukan badannya ke meja. "Tapi... apakah kau sudah tahu, selain fakta bahwa si itik itu adalah sekretaris pribadimu, dia juga memiliki suatu rahasia besar yang belum kau ketahui?"
Tristan mengernyitkan dahi, menggeleng cepat. "Yang aku tahu hanya itu saja. Rahasia apa lagi?" jawab Tristan. Nada bicaranya kini terdengar jauh lebih melunak, hampir sama seperti saat mereka masih kuliah dulu dan sering berkumpul bersama.
Andre menoleh ke arah Indra, memberi kode lewat tatapan mata. Indra mengangguk pelan, memberikan isyarat agar Andre segera membuka kartu as tersebut.
"Tristan, apakah kau tahu jika si itik saat ini sudah memiliki seorang anak laki-laki?" tanya Indra berhati-hati.
Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Tristan seketika berubah murung. Kilat kecewa terpancar jelas dari sepasang matanya.
"Ya, aku tahu. Ronal juga melaporkan hal itu. Si itik pernah menikah saat pindah ke Palembang, dan anak laki-laki bernama Elvano itu... adalah putranya dengan mendiang suaminya."
Mendengar jawaban Tristan, baik Andre maupun Indra kompak menghela napas panjang. Mereka saling berpandangan dengan tatapan tidak percaya, lalu Andre mendekatkan bibirnya ke telinga Indra untuk berbisik pelan.
"Dra, si Tristan dari dulu bodohnya kaga ilang-ilang, ya? Udah tahu dia sendiri yang dulu menjebol gawangnya si itik malam itu, eh sekarang malah beranggapan kalau anaknya si itik itu anak orang lain!" cibir Andre berbisik gemas.
Indra hanya mengangguk pelan dengan wajah canggung, sambil melirik tidak enak ke arah Tristan. Rupanya, meski berbisik, gerak-gerik mereka tertangkap oleh mata tajamnya Tristan yang kini kembali menatap mereka dengan tatapan sedingin es.
"Heii... kalian berdua berani mengataiku di depanku, hah?!" bentak Tristan, membuat suasana meja kembali mencekam. "Ingat, semua kerumitan ini terjadi gara-gara ulah bajingan seperti kalian berdua, enam tahun lalu! Harusnya gue sudah kirim elo berdua ke neraka!"
Seketika Andre dan Indra kompak menelan ludah dengan susah payah, nyali mereka menciut seketika.
"S... sorry, Tristan... Bukan begitu maksud kami," sahut Andre terbata-bata, mencoba meredakan amarah sang CEO. "Sebenarnya... anak laki-laki itu adalah putramu sendiri dengan si itik!"
Deg!
Kata-kata Andre bagaikan hantaman gada besar yang tepat mengenai dadanya Tristan. Jantungnya berhenti berdetak sesaat. Dengan gerakan refleks, Tristan langsung beranjak berdiri dari tempat duduknya hingga kursi tunggal itu bergeser ke belakang.
"Apa?! Kalian jangan asal bicara! Jangan mengarang cerita untuk mengelabui negosiasi kita!" gertak Tristan dengan napas memburu.
"Kami tidak bohong, Tristan! Ini beneran!" seru Andre panik agar tidak salah paham. "Pacarnya Indra ini adalah sahabat dekatnya si itik dari dulu, dan dialah orang yang sudah merubah si itik menjadi wanita secantik sekarang. Bener kan, Dra? Ayo jelasin!"
Indra mengangguk cepat, memperkuat argumen Andre. "Iya, Tristan, itu benar. Kemarin siang aku bahkan sempat ikut merayakan ulang tahun Elvano di restoran di dalam mall bersama pacarku dan juga si itik. Di sana, Feby pacarku pernah bercerita kalau si itik baru menyadari dirinya hamil pas dia sudah berada di Palembang. Dan saat usia kehamilannya menginjak tujuh bulan, ada seorang pria di sana yang bersedia menikahi dia demi memberikan Elvano identitas hukum dan akta kelahiran yang jelas agar anak itu tidak dicap sebagai anak haram. Tapi suaminya meninggal tidak lama setelah mereka menikah."
Tristan mematung di tempatnya berdiri. Tubuhnya mendadak kaku, dan seluruh pasokan udara di sekitarnya seolah menipis. Pikirannya berputar hebat, mengingat kembali malam terkutuk sekaligus berharga enam tahun yang lalu di Hotel Permata.
"Jadi... jadi peristiwa malam itu... telah membuat si itik hamil?" tanya Tristan dengan suara yang bergetar hebat, menatap kedua temannya dengan pandangan kosong tak percaya. "Dia... dia mengandung dan melahirkan darah dagingku sendiri?"
"Betul sekali, Tristan. Kau sudah menjadi seorang ayah sekarang... dan Elvano, bocah laki-laki itu adalah putra kandungmu," jawab Indra mantap, menginformasikan kebenaran yang paling nyata malam itu.
Bersambung...