NovelToon NovelToon
Nona Mafia Yang Menyamar

Nona Mafia Yang Menyamar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.

sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.

namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?

novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembullyan

Dua minggu berlalu sejak pertarungan dengan Aldric dan tiga pembunuh bayaran. Suasana di Alessandra High School perlahan beradaptasi dengan kehadiran Valeria Allegra seorang gadis pindahan misterius dengan Ducati V4, kacamata rantai emas, dan wibawa yang tidak bisa dijelaskan.

Alessandra tidak lagi menjadi bahan bully.

Bukan karena para pengganggu tiba-tiba bermoral. Tapi karena mereka takut. Bukan takut secara fisik karena mereka tidak tahu kekuatan sebenarnya. Tapi ada sesuatu dari aura Alessandra yang membuat bulu kuduk mereka berdiri setiap kali mendekat. Tatapan dingin di balik kacamata itu, cara dia merapikan kacamata sebelum berbicara, keheningannya yang tegang... semua itu mengirim pesan yang jelas:

Jangan coba-coba.

Fiona dan gengnya menjaga jarak. Raka dan Riko, setelah insiden tamparan, memilih untuk menghindar. Bahkan Saskia, yang biasanya pandai memasang wajah polos, tampak berpikir dua kali sebelum mendekat.

Hari itu, jam istirahat kedua.

Alessandra duduk di bangku taman dekat kantin, sebuah novel tebal di tangannya. Bukan buku pelajaran. Novel. "The Art of War" karya Sun Tzu edisi klasik yang dia baca ulang untuk kesekian kalinya. Kadang dia bosan dengan buku sejarah Ateris yang itu-itu saja.

Mutiara dan Laras ada di sampingnya, masing-masing sibuk dengan ponsel dan jajanan.

"Vale, lo gak makan?" tanya Laras sambil mengunyah cilok.

"Tidak lapar."

"Lo udah sarapan?"

"udah."

Percakapan singkat. Alessandra tidak banyak bicara saat membaca. Matanya bergerak cepat di atas halaman, tapi telinganya tetap waspada terhadap suara-suara di sekitarnya.

Dan telinga itu menangkap sesuatu.

Suara cengeng. Suara tertawa mengejek. Suara benda jatuh.

Dari arah kantin.

Alessandra tidak mengangkat wajah dari bukunya. Tapi fokusnya bergeser.

Dia mendengar seorang yang gemetar memohon untuk dihentikan. Dan suara-suara lain, lebih keras, lebih dominan, menikmati ketakutan itu.

"Lo pikir lo bisa duduk di sini, ya?"

"Meja ini punya gue, tau!"

"Awas, nanti gue laporkan lo ke guru."

"Palingan gak ada yang belain. Lo kan cuma kutu buku gak punya teman."

Suara benda jatuh lagi. Mungkin tas. Mungkin buku.

Mutiara mendongak. "Vale, kedengeran ada keributan di kantin."

"Gue dengar."

"Kita lihat, yuk? Kasihan siapa pun itu."

Laras sudah berdiri. "Iya, Vale. Ayo!"

Tapi Alessandra tidak bergerak.

Dia masih membaca. Atau setidaknya, berpura-pura membaca.

"Belum waktunya," ucapnya datar.

"Apa? Lo gak mau bantu orang yang di-bully? Lo kan juga korban bully dulu, Vale. Lo paham rasanya." Mutiara tidak bisa menyembunyikan kekecewaan di suaranya.

Alessandra merapikan kacamatanya.

"Bukan tidak mau membantu. Tapi membantu tanpa bukti hanya akan membuat situasi lebih buruk. gue perlu melihat dulu. Siapa pelakunya. Siapa korban. Polanya. Buktinya."

Laras mengerutkan kening. "Lo bacain The Art of War kebanyakan, deh, Vale. Jadi kayak jenderal segala."

Mutiara menarik lengan Laras. "Udah, Laras. Mungkin Vale punya alasan."

Alessandra tidak menjawab. Dia menutup bukunya pelan, berdiri, dan berjalan menuju kantin.

Dia tidak tergesa-gesa.

Langkahnya tenang, seperti orang yang sedang berjalan-jalan santai.

Tapi matanya... matanya bergerak cepat, merekam setiap detail.

Di kantin, keributan sudah menarik perhatian puluhan siswa.

Seorang gadis dengan kacamata tebal dan rambut keriting acak-acakan berdiri di dekat meja pojok. Wajahnya pucat, bibirnya gemetar. Seragamnya kusut, dan buku-bukunya berserakan di lantai dan beberapa sudah terinjak.

Di hadapannya, tiga siswi dengan postur angkuh berdiri dengan tangan bersilang. Mereka tersenyum. Bukan senyum ramah. Senyum predator yang sedang bermain dengan mangsanya.

Alessandra mengenali mereka. Anak-anak baru di geng Fiona. Bukan inti, tapi cukup berani untuk bertindak karena merasa punya dukungan dari balik layar.

"Lo pilih: minta maaf sambil jongkok, atau kita siram air ini ke kepala lo," ucap salah satu, yang tertinggi di antara mereka.

Gadis kacamata itu menunduk, air mata mulai jatuh. "A—aku minta maaf... aku gak sengaja duduk di sini... aku gak tahu ini meja kalian..."

"Gak cuma itu, lo juga ngejek Fiona kemarin, kan?"

"G—gak, aku gak pernah—"

"Bohong!"

Tangan si tertinggi terangkat, siap menampar.

Alessandra melihat.

Dan dia juga melihat sesuatu yang lain.

Di balik kerumunan, sekitar sepuluh meter dari lokasi kejadian, Saskia berdiri dengan dua orang temannya. Wajahnya polos, matanya lebar seperti orang yang sedang menyaksikan tontonan biasa.

Tapi Alessandra tahu.

Saskia selalu ada di dekat pengganggu.

Bukan kebetulan.

Dia melihat lagi. Lebih teliti.

Saskia tidak hanya menyaksikan. Dia mengangguk kecil pada si tertinggi. Isyarat sekecil itu hampir tidak terlihat tapi Alessandra menangkapnya.

Dia yang memerintahkan? Atau dia bagian dari lingkaran?

Tangan si tertinggi turun.

Slap!

Gadis kacamata itu terjatuh. Kacamatanya lepas, melayang di udara, lalu jatuh di lantai dengan suara retakan kecil.

Kerumunan bergemuruh. Ada yang tertawa, ada yang berbisik kasihan, ada yang merekam dengan ponsel.

Tapi tidak ada yang berani melangkah maju.

Alessandra tetap berdiri di pinggir kerumunan. Tangannya memegang buku The Art of War di dada. Wajahnya datar.

Mutiara menarik lengannya. "Vale, kita harus bantu dia!"

"Tunggu."

"TUNGGU APA LAGI? LO LIAT SENDIRI—"

"gue lihat. Tapi kalau gue bertindak sekarang, itu hanya akan mengusir pengganggu. Mereka akan kembali besok, lusa, dan seterusnya. Korban ini akan terus di-bully sampai dia pindah sekolah atau lebih parah."

"Apa maksud lo?"

Alessandra menatap Mutiara. "gue butuh bukti. Bukti yang cukup untuk menghancurkan mereka semua. Bukan cuma hari ini."

Mutiara terdiam.

Di kejauhan, gadis kacamata itu mulai mengumpulkan buku-bukunya yang berserakan. Tangannya gemetar. Air mata mengalir deras.

Si tertinggi dan teman-temannya tertawa, lalu berjalan pergi dengan anggun, meninggalkan gadis itu sendirian di tengah kerumunan yang mulai membubarkan diri.

Tidak ada yang membantu.

Alessandra masih berdiri di tempatnya.

Dia tidak bergerak mendekat. Tidak mengulurkan tangan. Tidak menawarkan bantuan.

Tapi matanya... matanya tidak berhenti mengamati.

Dia mencatat wajah si tertinggi. Nama? Nanti bisa cari tahu. Dia mencatat teman-temannya. Dua orang. Dia mencatat kerumunan yang tertawa dari wajah mereka, posisi mereka.

Dan yang paling penting... dia mencatat Saskia.

Saskia yang tersenyum tipis saat melihat gadis kacamata itu terjatuh.

Senyum yang hilang dalam sekejap, berganti ekspresi iba.

Tapi Alessandra melihat.

Dia selalu melihat.

Saat jam pelajaran berikutnya, di kelas XII MIPA 1, Alessandra menulis di buku catatan hitamnya.

Korban: Gadis kacamata keriting. Kelas? Nama? Belum tahu.

Pelaku: Tiga siswi. Satu tertinggi (170 cm? Sepertinya punya pengaruh).

Polanya: Mengintimidasi korban yang lemah. Tidak ada teman. Tidak berani melawan.

Saskia: Selalu ada di dekat lokasi kejadian. Tidak pernah ikut langsung. Tapi selalu menyaksikan. Tersenyum kecil.

Dia merapikan kacamatanya.

Ada pola. Saskia seperti... dalang kecil. Bukan yang utama. Tapi bidak yang menggerakkan bidak lain.

Tapi kenapa? Apa motifnya?

Dia tidak tahu. Tapi dia akan mencari tahu.

Sepulang sekolah, Alessandra berjalan ke parkiran.

Dia tidak langsung mengambil motornya. Dia berdiri di dekat tiang lampu, pura-pura membaca pesan di ponsel, tapi matanya mengamati.

Di seberang parkiran, dia melihat si tertinggi dari tadi sedang berbicara dengan seseorang di dalam mobil mewah.

Warna hitam. Kaca film gelap.

Mobil itu melaju pergi. Tapi sebelum benar-benar hilang, jendela belakang terbuka sedikit.

Wajah Saskia.

Sekilas. Tapi cukup.

Ternyata, pikir Alessandra. Si tertinggi itu mendapat perintah dari Saskia. Bukan dari Fiona.

Fiona mungkin hanya tameng. Tapi Saskia adalah otak di balik sebagian besar kekacauan di sekolah ini.

Mengapa? Apa yang dia cari? Popularitas? Kekuasaan? Atau... ada yang lebih gelap?

Alessandra memasang helm, menghidupkan mesin Ducatinya, dan melesat meninggalkan sekolah.

Tapi pikirannya tetap di sekolah itu.

Saskia.

Keluarga Sunjaya.

Tanda mawar di dahi.

Semua terhubung.

Dan aku akan menemukan benang merahnya, satu per satu.

Sore itu, di rumah Sunjaya.

Alessandra masuk melalui pintu depan seperti biasa. Tidak ada yang menyapa. Tidak ada yang peduli. Keluarga Sunjaya sedang sibuk dengan urusan masing-masing.

Saat dia berjalan menuju tangga menuju kamarnya, dia berpapasan dengan Raka di lorong.

Pria itu menatapnya sekilas. Wajahnya tegang. Tanda mawar di dahinya bercahaya merah samar, hanya sepersekian detik sebelum menghilang.

Raka mengalihkan pandangan, lalu berjalan cepat meninggalkan Alessandra.

Bercahaya lagi, pikir Alessandra. Seperti ada yang mengaktifkannya.

Apakah setiap kali mereka melihatku, tanda itu menyala? Apakah dalang di balik tanda itu memerintahkan mereka untuk menjauhiku?

Atau sebaliknya, mereka diperintahkan untuk mendekatiku?

Tapi kenapa sekarang mereka menjauh?

Apakah karena aku terlalu berbahaya?

Atau karena dalang itu sedang menyusun rencana lain?

Dia melanjutkan langkah ke kamar Allegra.

Di kamar sempit itu, dia melepas seragamnya, mengganti dengan kaus hitam dan celana olahraga abu-abu. Pita merah tetap di rambut. Kacamata tetap di hidung.

Duduk di ranjang, dia menekan cincin di jari kelingkingnya.

"Kinan."

"Nona. Ada perkembangan?"

"Ada. Cari tahu tentang seorang siswi di sekolahku. Tinggi, rambut hitam panjang, teman dekat Saskia. Dia memimpin bully di kantin hari ini."

"Nama?"

"Aku tidak tahu. Tapi dia dipanggil... Vega? Atau Vania? Cari saja."

"Baik, Nona. Lainnya?"

"Cari juga hubungan antara Saskia dan keluarga Sunjaya. Lebih dalam. Apakah dia benar-benar yatim piatu? Atau ada cerita lain?"

"Nona menduga Saskia bukan sekadar anak angkat biasa?"

"Aku tidak menduga. Aku tahu. Perasaanku tidak pernah salah. Saskia adalah kunci."

"Baik, Nona. Saya akan selidiki."

Hubungan terputus.

Alessandra merebahkan tubuhnya di ranjang. Matanya menatap langit-langit retak di kamar Allegra.

Pembullyan di kantin hari ini adalah contoh kecil dari sistem yang lebih besar, pikirnya. Saskia mengendalikan para pengganggu. Para pengganggu mengintimidasi yang lemah. Dan korban tidak punya tempat berlindung.

Tapi kenapa?

Apa yang Saskia dapatkan dari semua ini?

Popularitas? Tidak cukup.

Kekuasaan? Mungkin.

Atau...

Apakah ini bagian dari rencana yang lebih besar?

Rencana yang berhubungan dengan Valeria Allegra yang asli?

Dengan keluarga Suradikara?

Dengan dalang di balik tanda mawar?

Alessandra menutup mata.

Biarlah, pikirnya. Aku akan membiarkan Saskia dan gengnya bermain-main sebentar. Aku akan mengumpulkan bukti. Aku akan merekam setiap gerakan mereka.

Dan saat saatnya tiba...

Saat semua bukti terkumpul...

Aku akan menghancurkan mereka.

Bukan dengan kekuatan.

Tapi dengan keadilan yang sempurna.

Dan tidak akan ada yang bisa menyelamatkan mereka.

1
azka aldric Pratama
kenapa gk nyari belangnya si anak pungut aja ...dr pada kelamaan berdebat 🙄🙄🙄
azka aldric Pratama
ini mc cewenya seorang kultivator / apa Thor 🤔🤔🤔
Elda Elda
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
shinobu
aku suka sekali ceritanya min😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!