Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Before The Altar
Ruang fitting di mansion hari itu terasa jauh lebih terang dari biasanya.
Cahaya matahari awal musim gugur jatuh lembut melalui jendela-jendela tinggi, memantul pada cermin besar dan deretan gaun pernikahan yang dipajang rapi di sisi ruangan—putih, ivory, hingga champagne lembut.
Namun sorot mata Lilly justru tampak semakin bingung.
Berulang kali ia memperhatikan setiap gaun dengan saksama, menelusuri detail demi detail yang tampak terlalu ramai di matanya.
Ada yang dipenuhi renda berlapis.
Ada yang kristalnya bertaburan hingga berkilauan berlebihan.
Ada pula yang kainnya bertumpuk begitu berat hingga tampak sulit dikenakan.
Hingga akhirnya—
perhatian Lilly berhenti pada satu gaun yang berdiri sedikit terpisah dari yang lain.
Ivory lembut.
Potongannya bersih dan elegan. Bagian dada gaun itu tertutup satin halus dengan detail lace tipis di sekitar kerah. Lengan panjangnya jatuh anggun tanpa bordir berlebihan, sementara veil transparan menggantung lembut di belakangnya.
Sederhana.
Namun justru terasa jauh lebih ringan dibanding semua gaun lain di ruangan itu.
Lilly memperhatikannya dalam diam selama beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,
“Yang itu.”
Jemarinya menunjuk ke arah gaun tersebut.
Beberapa penata gaun segera bergerak mendekat.
“Lady memiliki selera yang sangat baik.”
Lilly hanya membalas dengan senyum kecil.
Entah mengapa, gaun itu terasa paling tenang di matanya. Tidak berusaha terlalu keras untuk tampak mewah.
Dan mungkin karena itulah ia langsung menyukainya.
Tak lama kemudian, Lilly telah berdiri di balik tirai ruang ganti sementara beberapa penata membantu merapikan lapisan terakhir gaunnya.
Satin ivory jatuh lembut mengikuti siluet tubuhnya. Veil panjang disematkan perlahan di belakang rambutnya dengan hati-hati.
Dan ketika semuanya akhirnya selesai—
ruangan di balik tirai itu mendadak terasa jauh lebih sunyi.
“Lady…”
Salah satu penata gaun bahkan terdengar menahan napas.
Lilly sendiri belum langsung bergerak.
Tatapan hazelnya turun perlahan pada jemari yang menyentuh satin halus di bagian depan gaun.
Lalu perlahan—
tirai fitting itu terbuka.
Di sisi lain ruangan, Noah duduk tenang di sofa panjang dekat jendela sambil membaca beberapa dokumen kerajaan yang sejak tadi dibawanya dari istana.
Mantel hitamnya terlipat rapi di samping. Satu tangannya menopang pelipis dengan santai, sementara netra gelapnya masih tertuju pada halaman dokumen di tangannya.
Untuk sesaat, seluruh perhatian ruangan tertuju padanya.
Pria itu tampak seolah berada di sana hanya karena fitting gaun pernikahan kerajaan merupakan bagian kecil dari jadwal hariannya.
Tatapan Lilly perlahan bergerak ke arah Noah.
Menunggu.
Sedikit gugup.
Ia mulai berharap pria itu mengangkat kepala, sekadar memberi penilaian ringan atau persetujuan kecil.
Karena kini semuanya terasa terlalu nyata.
Gaun ini.
Veil panjang di belakangnya.
Semua ini adalah bukti bahwa beberapa minggu lagi—
ia benar-benar akan berdiri di altar bersama Noah.
Keheningan kecil memenuhi ruang fitting.
Hingga akhirnya Madam Elish, yang sejak tadi berdiri di dekat meja aksesori, berdeham pelan.
Cukup pelan.
Namun berhasil menarik perhatian Noah dari dokumen di tangannya.
Pria itu perlahan mengangkat pandangan.
Dan untuk pertama kalinya sejak fitting dimulai—
perhatiannya benar-benar jatuh sepenuhnya pada Lilly.
Cahaya lembut dari jendela tinggi mengenai sisi wajah gadis itu. Mata hazelnya tampak hangat di tengah dinginnya musim gugur.
Sesaat—
Noah membeku.
Tidak lama.
Namun cukup untuk membuat seluruh ruangan perlahan ikut jatuh sunyi.
Tatapan gelapnya bertahan pada Lilly tanpa benar-benar bergerak. Ekspresinya tetap tenang dan sulit dibaca seperti biasa.
Namun kali ini ia benar-benar memperhatikan.
Detail lace tipis di kerah gaun ivory itu.
Lengan panjang yang jatuh anggun tanpa bordir berlebihan.
Veil lembut yang membingkai Lilly di bawah cahaya.
Dan Lilly sendiri—
yang kini berdiri diam menunggunya dengan kegugupan kecil yang tak mampu disembunyikan.
Pandangan Noah bergerak perlahan sekali lagi.
Dari veil panjang di belakangnya, turun ke satin ivory yang mengikuti siluet tubuh Lilly, lalu kembali naik pada wajahnya.
Keheningan itu terasa terlalu panjang.
Hingga beberapa penata gaun mulai menahan napas tanpa sadar.
Madam Elish akhirnya tersenyum kecil sebelum bertanya sopan,
“Apakah Yang Mulia ingin melihat gaun lainnya juga?”
Noah melirik sekilas ke arah beberapa manekin di sisi ruangan.
Gaun-gaun megah dengan bordir berat, kristal, dan lapisan renda yang rumit.
Namun hanya sesaat.
Karena beberapa detik kemudian—
perhatiannya kembali jatuh pada Lilly.
Pada gaun ivory sederhana yang dikenakannya.
Tanpa bordir berlebihan.
Tanpa kristal yang memenuhi seluruh kain.
Dengan potongan yang menutup pundak dan dadanya anggun.
Namun justru karena itulah—
Lilly terlihat jauh lebih bersinar mengenakannya.
Tatapan mereka bertemu sesaat.
Dan Lilly segera menundukkan kepala kecil saat menyadari betapa intensnya Noah memperhatikannya.
“Yang ini.”
Akhirnya Noah memberikan jawaban.
Suaranya tetap rendah.
Tenang.
Namun kali ini terasa jauh lebih hangat.
Ia memperhatikan Lilly beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya melanjutkan,
“Ini jauh lebih cocok untuk pendampingku.”
Ruangan mendadak membisu.
Beberapa pelayan, penata gaun, bahkan Madam Elish langsung menundukkan kepala.
Sementara rona merah perlahan memenuhi wajah Lilly.
Gadis itu benar-benar tidak tahu harus mengalihkan pandangannya ke mana.
Noah akhirnya berdiri dari sofa perlahan. Dokumen kerajaan di tangannya diletakkan begitu saja di atas meja kecil di dekatnya.
Fokusnya tetap tertuju pada Lilly saat ia berjalan mendekat.
Hal sederhana yang justru membuat jantung Lilly kembali berdetak lebih cepat.
Langkah Noah akhirnya berhenti tepat di hadapannya.
Jarak mereka kini begitu dekat hingga Lilly bisa melihat pantulan cahaya samar di mata gelap pria itu.
Bahkan aroma musk wood khas Noah terasa begitu jelas.
Netra gelap Noah bergerak perlahan pada veil panjang yang jatuh lembut di belakang rambut Lilly.
Lalu pria itu mengangkat tangannya perlahan.
Jemarinya membenahi satu sisi veil yang sedikit kusut di dekat bahu Lilly.
Gerakannya tenang.
Hati-hati.
Dan entah mengapa, hal sederhana itu justru terasa jauh lebih intim dibanding apa pun hari itu.
Seluruh orang di ruangan menyaksikannya dalam diam.
Beberapa bahkan saling melirik samar.
“Kau menyukainya?”
Suara Noah terdengar rendah dan pelan.
Lilly menahan napas sesaat sebelum mengangguk kecil.
Sedikit malu dengan jarak mereka yang terlalu dekat.
“Tentu.”
Sudut bibir Noah terangkat tipis.
Begitu samar hingga nyaris tidak terlihat.
Madam Elish yang sejak tadi memperhatikan keduanya akhirnya tersenyum profesional sebelum berkata lembut,
“Kalau begitu…”
Tatapannya bergerak pada beberapa kotak beludru yang telah disusun rapi di atas meja panjang dekat cermin.
“…kita bisa mulai memilih set perhiasan dan tiaranya, Yang Mulia.”
Beberapa pelayan segera membawa baki-baki beludru berisi perhiasan kerajaan.
Berlian.
Safir.
Mutiara.
Kilauan permata memantul lembut di bawah cahaya hangat ruang fitting.
Di sisi lain meja panjang, beberapa tiara kerajaan telah disusun rapi di atas bantalan putih.
Sebagian tampak terlalu megah.
Terlalu tinggi.
Terlalu penuh detail.
Tatapan hazel Lilly bergerak perlahan menelusuri semuanya.
Hingga akhirnya berhenti pada satu set sederhana.
Sepasang anting berlian kecil dengan bentuk menjuntai lembut.
Elegan.
Namun tidak mencolok.
Dan tepat di sebelahnya—
sebuah tiara kecil berlapis kristal tipis yang berkilauan lembut di bawah cahaya.
Tidak besar.
Tidak berat.
Nyaris terlihat ringan.
Tatapan Lilly bertahan cukup lama di sana.
“Aku…”
Ia tampak ragu sesaat sebelum melirik kecil ke arah Noah.
Pria itu berdiri tidak jauh darinya sambil memperhatikan pilihan-pilihan di atas meja dengan tenang sebelum akhirnya menoleh padanya.
“Buatlah pilihanmu.”
Nada suaranya rendah dan sederhana.
Namun cukup untuk membuat kegugupan kecil di wajah Lilly perlahan mereda.
Gadis itu kembali menatap set perhiasan pilihannya sebelum menunjuk pelan.
“Aku memilih ini…”
Jemarinya bergerak kecil pada anting berlian tersebut.
“…tapi hanya antingnya.”
Lilly menundukkan pandangan sebelum melanjutkan lebih pelan,
“Karena itu sudah cukup.”
Beberapa penata gaun saling bertukar pandang kecil.
Karena di antara seluruh pilihan paling mewah di ruangan itu—
Lilly justru memilih sesuatu yang paling sederhana.
Namun Noah sendiri tidak terlihat terkejut.
Perhatian pria itu justru jatuh pada tiara kecil di samping anting tersebut.
Tanpa banyak bicara, Noah mengambil tiara itu dari atas bantalan beludru sebelum berjalan mendekat ke arah Lilly.
Dan seketika—
seluruh ruang fitting kembali jatuh sunyi.
Bukan karena tekanan.
Melainkan karena keintiman kecil yang tengah mereka saksikan.
Lilly menahan napas pelan saat Noah mengangkat tiara kristal itu perlahan.
Kilau tipis permatanya memantul lembut di bawah cahaya jendela.
Dengan gerakan hati-hati, Noah menyematkannya di atas rambut Lilly.
Tidak canggung sedikit pun.
Seolah itu sesuatu yang biasa ia lakukan.
Bahkan pria itu tampak benar-benar memperhatikan setiap detail kecilnya.
Mata hazel Lilly perlahan terangkat menatap Noah.
Sementara Noah sendiri masih membenahi posisi tiara itu beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya menarik tangannya perlahan.
Tak seorang pun di ruangan itu berbicara.
Mereka terlalu sibuk menahan napas.
Noah kemudian mengambil kotak kecil berisi anting berlian tadi.
Sorot matanya turun singkat pada Lilly.
“Boleh?”
Nada suaranya rendah.
Lilly membeku sesaat. Wajahnya terasa memanas seketika.
Ia bahkan tidak langsung mampu menjawab.
Hanya anggukan kecil yang akhirnya diberikan.
Noah membuka pengait anting itu perlahan sebelum menyematkannya dengan hati-hati di telinga Lilly.
Satu sisi.
Lalu sisi lainnya.
Jemarinya sesekali menyentuh rambut lembut Lilly saat membenahi posisi anting tersebut.
Dan rona merah di wajah Lilly justru semakin jelas terlihat.
Sementara di belakang mereka, para pelayan dan penata gaun hanya mampu menundukkan kepala lebih dalam.
Bukan karena takut.
Namun karena mereka tahu—
momen itu terasa terlalu pribadi untuk dipandangi terlalu lama.
*****