Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkemas
Di tengah hancur-leburnya perasaan, Amira tetap harus bertanggung jawab pada adik-adiknya. Sejak awal, mereka hanya bertiga, dan sekarang pun demikian. Amira mengurus administrasi serta beberapa dokumen yang dibutuhkan untuk klaim asuransi kesehatan Amara.
Dadanya terasa sangat sesak menahan beban perasaan. Suami yang telah dinikahinya selama lebih dari satu tahun, bahkan mendekati dua tahun ini, sedang berada di tempat yang sama, namun bukan untuk dirinya, melainkan untuk wanita yang dicintainya.
Setelah selesai, Amira kembali ke ruang rawat inap Amara. Di sana, Ammar sedang menunggu Amara siuman dari pengaruh obat bius yang diberikan saat perawatan.
“Amara belum sadar ya?” tanya Amira dengan nada lesu.
“Belum, Kak. Kata dokter paling lambat satu sampai dua jam lagi. Sudah selesai mengurus administrasinya?” tanya Ammar.
Amira mengangguk, lalu duduk di bangku sebelah Ammar. “Ammar, Kakak mau bicara.”
“Ada apa, Kak?” tanya Ammar dengan rasa penasaran.
“Nanti setelah Amara pulang dari rumah sakit, kita bereskan barang-barang milik kita yang ada di rumah Mas Farhan, ya?” ucap Amira dengan mata berkaca-kaca.
Seolah sudah memahami situasinya, Ammar hanya mengangguk. “Baik, Kak. Apakah kita perlu menyewa mobil?”
“Tidak perlu, Mar. Barang-barang kita tidak banyak. Sebagian barang dan pakaian udah dibawa kemarin, kan? Sekarang sisanya. Jangan ada yang tertinggal satu pun, kecuali barang-barang yang diberikan oleh Mas Farhan.”
“Iya, Kak. Aku mengerti.”
“Kamu tidak bertanya alasannya?” tanya Amira, merasa heran karena Ammar tampak tidak penasaran mengapa ia memutuskan untuk pindah dari rumah itu.
“Ke mana pun Kakak tinggal dan keputusan apa pun yang diambil, aku akan mengikuti dan mendukungnya. Selama Kakak bahagia, itu sudah cukup buat aku,” jawab Ammar dengan bijak.
Amira pun tak sanggup lagi menahan air matanya. Sikap dewasa adiknya itu membuatnya merasa bersalah karena telah membawa mereka ke dalam situasi saat ini.
“Kakak janji, setelah ini hanya ada kita bertiga aja. Kakak akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan kalian,” ucap Amira sambil terisak. Untungnya, ruang rawat itu sedang kosong karena dua pasien sebelumnya sudah dipulangkan.
“Kak, masa kelulusanku tinggal beberapa bulan lagi. Aku udah direkomendasikan oleh pihak sekolah ke sebuah kampus, dan aku yakin akan melanjutkan studi di sana dengan beasiswa jalur prestasi. Nanti aku dan Amara akan tinggal di dekat kampus itu Kakak ikut aja sama aku dan amara. Kita mulai lembaran baru di sana. Kebetulan sahabatku asli daerah itu, dan aku juga berencana membuka usaha bareng dia,” jelas Ammar.
Amira hanya mengangguk perlahan, lalu memeluk erat adik laki-lakinya itu.
“Secepatnya, Kakak akan menyelesaikan urusan rumah dengan Mas Farhan.”
#
Sementara itu, di ruang rawat Clarisa, Farhan baru teringat ponselnya yang masih dalam mode senyap. Saat ia mengangkatnya, matanya terbelalak melihat deretan panggilan tak terjawab lebih dari lima kali nomor Amira muncul di layar. Jantungnya berdegup kencang, rasa cemas tiba-tiba menyelimuti hatinya. Ia segera menghubungi balik, namun nada sambung hanya berbunyi tanpa jawaban.
Ia mencoba lagi, berkali-kali, namun hasilnya tetap sama Amira tidak mengangkatnya. Farhan mulai merasa tidak tenang. Ia mencoba mengirim pesan, bertanya di mana Amira dan apa yang terjadi, namun tak ada balasan yang masuk. Di dalam hatinya timbul rasa bersalah.
“Kenapa tidak diangkat?” gumamnya cemas, langkahnya mulai gelisah berjalan mondar-mandir di depan ruangan.
Di sisi lain, Amira mendengar nada dering ponselnya berulang kali, melihat nama Farhan tertera di layar. Namun ia hanya memandangnya dengan tatapan kosong, lalu membalikkan ponsel itu menghadap ke bawah di atas meja. Ia tidak ingin mengangkatnya, tidak ingin mendengar suara suaminya saat ini rasa sakit yang baru saja ia rasakan masih terlalu perih untuk dilupakan begitu saja.
Setelah beberapa kali mencoba menghubungi tanpa hasil, Farhan akhirnya memutuskan untuk berpamitan sebentar pada sahabatnya dan keluarga Clarisa. Ia segera melangkah cepat keluar rumah sakit, berniat pulang ke rumah terlebih dahulu atau langsung mencarinya, tanpa sadar bahwa ia dan Amira berada di tempat yang sama, hanya terpisah ruangan.
Saat Farhan berjalan tergesa, Amira tetap duduk tenang di samping ranjang Amara, menahan diri agar tidak menangis lagi. Ia tahu Farhan pasti mulai bertanya-tanya dan mencarinya, namun hatinya sudah mengunci diri untuk tidak membuka diri lagi sebelum semuanya benar-benar selesai. Baginya, mengabaikan panggilan itu adalah cara terbaik untuk menenangkan hati dan memperteguh keputusan yang sudah ia ambil.
#
Farhan mendatangi rumah Amira, namun hasilnya nihil istrinya tidak ada di sana. Akhirnya, ia memutuskan pulang ke rumah miliknya sendiri, tetapi Amira pun tidak ada di sana. Rumah itu terasa kosong persis seperti saat terakhir ia tinggalkan.
Farhan menarik napas panjang. Ia benar-benar merasa bimbang menghadapi situasi ini. Apa yang harus ia katakan pada Clarisa? Haruskah ia terus terang bahwa dirinya sudah beristri? Lalu bagaimana dengan Amira? Apakah ia juga harus jujur bahwa wanita yang selama ini dicintainya telah kembali ? Farhan merasa dirinya adalah laki-laki yang buruk karena terjebak dalam keadaan sekarang.
Tanpa ia sadari, Amira adalah korban yang sebenarnya dan wanita itu yang akan memilih untuk mengalah. Farhan sama sekali tidak menyadari bahwa Amira sudah mengetahui semuanya, kenyataan yang perlahan-lahan merusak batin istrinya tanpa ampun.
Empat hari berlalu, Amira masih tetap mengabaikan Farhan. Laki-laki itu sudah berkali-kali berusaha menghubunginya, namun tidak pernah mendapatkan tanggapan. Bahkan Amira dan Ammar berusaha berhati-hati agar tidak bertemu langsung dengan Farhan selama berada di rumah sakit. Setiap hari mereka melihat sosok Farhan di sana, namun laki-laki itu tidak menyadari kehadiran mereka.
Pada hari kepulangan Amara, Amira dan kedua adiknya melihat Ayumi dan Farhana ibu serta saudara iparnya berada di area parkir rumah sakit. Amira sudah menduga kalau ibu mertuanya itu datang untuk menjenguk wanita yang dicintai Farhan. Pemandangan itu terasa seperti pukulan paling telak baginya. Amira sadar sepenuhnya ia benar-benar telah kalah.
“Mar, setelah mengantarkan Amara, kita langsung pulang ke rumah Mas Farhan untuk berkemas. Mumpung mereka sedang sibuk di sini, jadi kita tidak perlu bertemu mereka.”
“Iya, Kak.”
“Kak, itu ibunya Mas Farhan dan adiknya. Mungkin mereka mau menjengukku. Kasih tahu aja kalau kita udah pulang,” ucap Amara tanpa mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
“Mereka datang bukan untuk melihatmu. Bahkan, mereka nggak tahu kalau kamu dirawat di sini. Amara, nanti Kakak dan Abangmu akan membereskan barang-barang di rumah Mas Farhan kamu istirahat aja di rumah.”
Meskipun belum sepenuhnya memahami situasi yang dihadapi Amira, Amara hanya mengangguk patuh.
*