“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”
Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.
Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.
Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Aku harus pergi
Lima tahun telah berlalu sejak Shan Luo pertama kali melangkah masuk ke dalam rimbunnya Federasi Lin sebagai seorang remaja yang rapuh.
Kini, di usianya yang ke-20, ia telah bertransformasi sepenuhnya.
Tubuhnya tinggi tegap dengan garis otot yang keras namun efisien, buah dari ribuan pertarungan melawan monster hutan.
Rambut dua warnanya, hitam legam dan putih murni berkibar tertiup angin hutan, melambangkan Ranah Manifestasi Rohani yang telah ia capai.
Ranah ke-6. Sebuah pencapaian yang mustahil bagi pemuda seusianya, namun Shan Luo bukanlah pemuda biasa. Ia adalah perpaduan antara dendam, kasih sayang, dan kegelapan sabit yang telah ia jinakkan.
Sore itu, cahaya matahari keunguan menembus sela-sela pohon purba, menciptakan suasana melankolis di Paviliun Akar Surgawi.
Shan Luo duduk bersila di samping ibunya, Xue Ling. Berkat perawatan Lin Yue dan energi Federasi Lin, Xue Ling kini tampak jauh lebih muda dan sehat, ibunya juga sudah dapat ber kultivasi kembali.
"Ibu," suara Shan Luo rendah namun mantap. "Aku harus pergi."
Tangan Xue Ling yang sedang menyisir rambut anaknya terhenti. Ia sudah lama menduga hari ini akan datang.
Anaknya bukan lagi seekor burung kecil yang butuh sarang, ia adalah elang yang sayapnya sudah terlalu lebar untuk hutan ini.
"Kau akan mencari dia? Ayahmu ... Shan Feng?" tanya Xue Ling dengan nada getir.
"Aku akan mencari kebenaran, Ibu. Aku tidak bisa membiarkan nama kita tetap terhina di bawah kaki keluarga Shan. Shan Feng harus membayar setiap tetes air mata yang Ibu jatuhkan di penjara itu. Dan aku ... aku ingin melihat dunia yang lebih luas agar aku bisa benar-benar melindungimu selamanya."
Xue Ling memeluk kepala putranya, mencium keningnya dengan penuh kasih. "Pergilah, Nak. Jangan biarkan kebencian menelan hatimu. Ingatlah bahwa kau memiliki rumah untuk kembali."
Di dahan pohon yang tinggi, tersembunyi oleh dedaunan, Lin Yue berdiri mematung. Tatapannya yang setajam belati perak kini tampak rapuh, digenangi oleh kabut kesedihan yang mendalam.
Melihat Shan Luo berpamitan dengan ibunya, sebuah ingatan terkutuk yang sudah ia kunci selama ratusan tahun mendadak meledak di benaknya.
Dahulu, di tempat yang hampir mirip, ia pernah berdiri menatap seorang pemuda berbakat yang juga berpamitan untuk mengejar takdirnya.
Pemuda itu adalah Yan Bingchen. Cinta pertama yang membuatnya mengenal arti detak jantung, namun juga pria yang memberinya luka paling dalam karena memilih wanita lain dan kini telah menjadi penguasa tertinggi Benua Binghuo.
“Kenapa perpisahan ini terasa sama ...?” batin Lin Yue. Jari-jarinya mencengkeram batang pohon hingga kayu purba itu retak. “Tatapan matanya, tekadnya ... kau begitu mirip dengannya, Shan’er. Apakah takdir memang sekejam ini, memaksaku melepas seseorang yang kucintai untuk kedua kalinya?”
Shan Luo berjalan menuju gerbang Federasi Lin, di mana Lin Yue sudah menunggunya.
Gurunya itu tidak mengenakan pakaian latihan, melainkan jubah kebesaran Tetua Agung yang berwarna hijau zamrud gelap.
"Guru," Shan Luo membungkuk hormat, namun Lin Yue segera menahan bahunya.
Lin Yue menatap wajah Shan Luo. Ia tidak bisa menahannya lagi. Ia mengulurkan tangan, memegang kedua pipi Shan Luo dengan lembut. Jemarinya yang biasanya dingin kini terasa gemetar.
"Shan'er ... dunia luar tidak selembut hutan ini," bisik Lin Yue. Suaranya serak oleh emosi yang tertahan. "Di sana, manusia jauh lebih licik daripada monster paling ganas sekalipun. Jika kau merasa terdesak ... jika kau merasa kegelapan itu mulai menang ..."
"Aku akan mengingat suaramu, Guru," potong Shan Luo lembut. Ia menggenggam tangan Lin Yue yang ada di pipinya, tidak membiarkannya lepas. "Ternyata guru juga korban tuan Yan Bingchen ya? aku jadi penasaran dengan dia. Aku juga tidak akan membiarkan siapa pun atau apa pun membuatku melupakan jalan pulang ke sisimu."
Lin Yue tersentak mendengar nama itu disebut, namun ia tidak menarik tangannya. Ia justru mendekatkan wajahnya, menyandarkan keningnya di kening Shan Luo.
Air mata yang selama ratusan tahun tidak pernah jatuh, kini menetes satu per satu mengenai pipi Shan Luo.
"Jangan berani-berani mati," isak Lin Yue pelan. "Jika kau mati di tangan Shan Feng atau siapa pun, aku akan meratakan seluruh benua ini hanya untuk menyeret jiwamu kembali."
"Aku janji, Guru. Aku akan kembali sebagai Pendekar hebat yang bisa berdiri tegak di sampingmu."
Shan Luo berbalik, melangkah keluar dari gerbang Federasi Lin tanpa menoleh lagi, karena ia tahu jika ia menoleh, ia tidak akan sanggup pergi.
"Aku tidak mengerti kenapa guru selalu bersikap seperti ini kepadaku," Batin Shan Luo.
Setiap langkahnya terasa berat, namun tekadnya di ranah Manifestasi Rohani membuat kehadirannya terasa seperti badai yang sedang bergerak menuju kediaman keluarga Shan.
Lin Yue berdiri di gerbang itu hingga sosok Shan Luo menghilang di cakrawala.
Ia memegang dadanya yang terasa sesak, rasa sakit yang sama seperti saat ia melihat Yan Bingchen menikah dengan orang lain ratusan tahun lalu. Namun, kali ini ada satu perbedaan.
Ada sebuah harapan kecil. Bahwa murid yang kini telah tumbuh menjadi pria dewasa itu benar-benar akan kembali.
"Pergilah, Sang Pencabut Nyawa," gumam Lin Yue ke arah angin. "Tunjukkan pada dunia ... siapa sebenarnya putra yang mereka buang."
Di dalam tato di lengannya, roh Mo Huang terbangun, merasakan gairah pertempuran yang akan datang.
Perjalanan balas dendam dan pencarian jati diri Shan Luo telah resmi dimulai.
Benua Tiandi akan segera mengenal nama pria yang membawa sabit dan memiliki hati yang ditempa oleh cinta seorang ibu dan guru abadi.