NovelToon NovelToon
Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Komedi
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Mi

Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 27 Sidang Keluarga

Pukul sebelas lewat tiga puluh delapan malam.

Suasana apartemen Gavin Mahendra terasa…

Mencekam.

Sangat mencekam.

Rania berdiri kaku di ruang tengah.

Masih memakai dress dinner.

Masih membawa clutch kecil.

Dan yang lebih parah—

masih mencoba pura-pura baik-baik saja.

Sementara di depannya—

Mama Ratna dan Mama Ambar berdiri seperti dua jaksa negara yang baru menerima bukti perselingkuhan nasional.

Di tangan Mama Ambar—

ponsel.

Masih menyala.

Menampilkan foto yang baru saja masuk dari grup kantor.

Foto Gavin.

Di kantor.

Bersama Clarissa.

Tengah malam.

Mama Ratna menyipit.

Pelan.

Berbahaya.

“…Jadi.”

Nada suaranya terlalu tenang.

“Dia ninggalin kamu sendirian?”

Sunyi.

Rania refleks tersenyum kecil.

Senyum diplomatis.

“Oh— nggak kok, Ma. Tadi memang ada urusan kantor.”

Ratna melipat tangan.

“Jam sebelas malam?”

“Urgent.”

“Dengan Clarissa?”

Ekspresinya kecewa nasional.

“Gavin Mahendra…”

Nada suaranya lirih.

Tapi menyeramkan.

“Meninggalkan istrinya.”

“Di dinner romantis.”

“Untuk perempuan lain.”

Rania langsung panik.

“Bukan gitu—”

“TIDAK ADA PEMBELAAN!”

Oke.

Kalau begini—

bahkan Tuhan pun mungkin menyerah.

Rania duduk di sofa.

Karena di ruang tengah—

sedang berlangsung sesuatu yang sangat menyerupai pengadilan keluarga.

Terdakwa: Gavin Mahendra.

Korban emosional: Rania Azarina.

Hakim: Mama Ambar.

Jaksa penuntut: Mama Ratna.

Dan terdakwa—

bahkan belum pulang.

Mama Ratna mondar-mandir sejak lima belas menit lalu.

Tangan bersedekap.

“Ini nggak benar.”

Mama Ambar mengangguk pelan.

“Tidak etis.”

“Dinner romantis cucu ditinggal lembur sama perempuan lain!”

“Ratna,” tegur Ambar pelan.

“Kita belum tahu situasinya.”

“Tengah malam!”

Ratna menunjuk jam dinding dramatis.

“Jam segini itu bukan meeting!”

“Itu potensi masalah rumah tangga!”

Rania mengembuskan napas kecil.

“…Mama terlalu mikir jauh.”

Mama Ambar ikut duduk.

Lebih tenang.

Lebih diplomatis.

“Kami bukan marah karena Gavin kerja.”

“Tapi…”

Tatapannya melembut.

“Kamu ditinggal sendiri di dinner.”

Sunyi.

Karena—

iya.

Bagian itu memang menyebalkan.

Apalagi tadi—

mereka hampir bicara serius.

Hampir.

Lalu Clarissa menelepon.

Dan semuanya selesai begitu saja.

Klik.

Pintu apartemen terbuka.

Dan Gavin akhirnya masuk.

Masih memakai kemeja navy.

Sedikit kusut sekarang.

Rambut lebih berantakan.

Terlihat capek.

Namun baru satu langkah—

ia berhenti.

Karena suasana…

aneh.

Sangat aneh.

Mama Ratna berdiri di depan sofa.

Melipat tangan.

Mama Ambar duduk tenang.

Namun tatapannya terlalu serius.

Dan—

Rania bahkan tidak menoleh.

Oke.

Ada yang salah.

“Saya pulang,” ujar Gavin pelan.

Tidak ada jawaban.

Sunyi.

Tiga detik.

Lima detik.

Lalu—

Mama Ratna menunjuk sofa tunggal di depan mereka.

“Duduk.”

Nada Ratna tegas.

Gavin terdiam dua detik.

Lalu—

untuk pertama kalinya dalam hidup— Gavin Mahendra benar-benar seperti murid kena panggil BK.

Rania hampir kasihan.

Hampir.

Apa?

Gavin berkedip sekali.

“Mama?”

“Duduk, Gavin Mahendra.”

Nada itu.

Nada ibu Asia ketika anaknya hampir diwariskan ke orang lain.

Dengan sangat perlahan—

Gavin duduk.

Tatapan matanya otomatis ke Rania.

Namun perempuan itu malah sibuk melihat gelas airnya.

Tidak menatap balik.

Dan—

anehnya—

itu langsung membuat sesuatu terasa tidak nyaman.

Mama Ratna membuka sidang.

“Kamu tahu kesalahan kamu?”

Gavin diam dua detik.

“…Terlambat pulang?”

“Salah!”

“Kerjaan mendadak?”

“SALAH!”

Mama Ambar menghela napas kecil.

Lalu berkata lebih diplomatis:

“Kamu meninggalkan istrimu sendirian saat dinner.”

Boom.

Oh.

Jadi ini.

Gavin langsung menoleh ke Rania.

Ekspresinya berubah sedikit.

“Rania—”

“Nggak apa-apa kok.”

Cepat.

Terlalu cepat.

Senyum kecil lagi.

Senyum HR.

Senyum palsu.

Gavin diam.

Karena biasanya— kalau kesal, Rania akan nyindir. Cerewet. Protes.

Bukan begini.

Bukan senyum sopan seperti sedang bicara dengan rekan kerja.

Dan entah kenapa— itu terasa jauh lebih buruk.

Dan anehnya—

Gavin langsung sadar.

Oh tidak.

Dia marah.

Gavin berhenti sebentar.

Karena—

jujur—

situasi kantor tadi memang kacau.

Server perusahaan bermasalah.

Masalah legal.

Theo hampir meledak.

Clarissa panik.

Dan ia benar-benar tidak berpikir panjang.

“Saya ada keadaan darurat kantor.”

Mama Ratna menyilangkan tangan.

“Darurat sampai istri ditinggal sendiri?”

“Rania ngerti.”

"Oh, jadi kamu pikir kalau dia ngerti berarti nggak sakit hati?"

Boom.

Kalimat itu membuat Gavin diam.

Karena—

anehnya—

sepanjang perjalanan pulang—

ia memang kepikiran.

Senyum Rania tadi.

Yang terlalu cepat.

Terlalu sopan.

Terlalu—

palsu.

Mama Ratna mendengus.

“Kamu tahu nggak dia pulang mukanya kayak orang habis kecewa tapi pura-pura nggak kenapa-kenapa?”

“Mama,” tegur Rania pelan.

Gavin mengusap wajah.

“Saya sudah minta maaf.”

“Kapan?” tanya Ratna tajam.

Diam.

Karena—

belum.

Belum sempat.

Belum tahu harus mulai dari mana.

Dan itu—

lebih buruk.

Gavin sadar.

Rania memang terlalu pengertian.

Terlalu cepat bilang “nggak apa-apa.”

Padahal—

mungkin sebenarnya tidak.

Rania terdiam dua detik.

Lalu melirik Gavin.

Pria itu duduk diam.

Tidak defensif.

Tidak membela diri.

Dan untuk alasan yang menyebalkan—

terlihat… sedikit bersalah.

Sial.

Kenapa mukanya malah bikin kasihan?

Padahal harusnya dia kesel.

Mama Ratna berdiri.

Baik.

Karena sidang sudah selesai—

kini waktunya vonis.

“Setelah mempertimbangkan bukti.”

“Dan saksi.”

“Kami memutuskan—”

Gavin langsung curiga.

“…Mama.”

“Kamu dihukum.”

Sunyi.

Rania langsung punya firasat buruk.

Mama Ambar membuka kertas.

Membaca dengan sangat formal.

“Hukuman pertama.”

“Besok malam.”

“Kamu wajib mengganti dinner gagal.”

Mama Ratna mengangguk puas.

“Yang proper.”

“Tanpa telepon kantor.”

“Tanpa Clarissa.”

Gavin menatap kosong.

“Saya lebih pilih sidang direksi.”

“Ditolak,” jawab Ratna cepat.

Rania nyaris ketawa.

Nyaris.

Karena—

untuk pertama kalinya malam itu—

melihat Gavin kena karma sedikit terasa memuaskan.

Dan— ini yang paling mengerikan—

Mama Ratna tersenyum terlalu manis.

“Hukuman kedua.”

“Program percepatan cucu diperpanjang.”

Apa?

“Satu minggu.”

“MA!” pekik Rania.

“Dua minggu kalau membantah.”

Tidak ada yang bicara.

Gavin memijat pelipis.

“Saya rasa ini melanggar HAM.”

“Ini keluarga,” jawab Ratna cepat.

“Lebih kuat dari HAM.”

Tidak masuk akal.

Benar-benar tidak masuk akal.

Namun—

belum selesai.

Mama Ratna mengangkat satu jari.

“Hukuman tambahan.”

“Hah?”

“Besok.”

Ratna tersenyum terlalu manis.

“Terapis hubungan keluarga.”

Membeku.

Sunyi.

Lima detik.

Sepuluh detik.

“…Apa?” suara Gavin akhirnya keluar.

“Konseling pasangan.”

Rania hampir tersedak udara.

Tatapannya mendadak bertemu Gavin.

Dan pria itu—

masih menatap ke arahnya.

Lebih lama dari biasanya.

Lalu—

pelan.

Nada rendah.

Hanya cukup untuk mereka berdua dengar—

“…Saya beneran minta maaf.”

Jeda.

“…Saya nggak niat ninggalin kamu.”

Boom.

Sial.

Kenapa nadanya harus setulus itu?

Karena bagian paling menyebalkan dari Gavin Mahendra adalah—

saat dia serius—

susah sekali untuk tetap marah.

Dan itu—

sangat tidak profesional.

Mama Ratna tersenyum puas.

“Besok jam tujuh pagi.”

Gavin mengernyit.

“…Untuk apa?”

Ratna tersenyum terlalu bahagia.

“Tes kecocokan pasangan.”

Sunyi.

Rania perlahan menoleh.

Gavin memejam mata.

“Saya mendadak mau lembur seumur hidup.”

1
Evi Yolanda
Thor susulan nya jng LM apa Thor dah gak sabar nunggu saling bucin
MayAyunda
keren kak 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kak 👍
total 1 replies
cynth
Ninggalin jejak 👣
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak
total 1 replies
MayAyunda
keren 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
Sahabat Oleng
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😄
Raihan
mampir juga di novel ku kelas arang nanti kita saling support 🙏
Azandis
Lanjut Thor
Azandis
Wkwkwk...
BDaska
Thor, banyakin update episode nya
Fabio
Lanjut thor
Sahabat Oleng: Siap 👍
total 1 replies
Evi Yolanda
ahhh udah lahhh Thor jd ky penagih utang .. bentar bentar intip dah up date blm
Fatan
Bagus ceritanya
Sahabat Oleng: Makasih kak 👍
total 1 replies
T28J
kak, kok tulisan yang ini beda sama yng sebelah ya 🙏
T28J: beda sama novel kakak yang satu lagi gaya tulisannya
total 2 replies
Evi Yolanda
seru dan buat penasaran setiap babnya
Sahabat Oleng: Makasih kakak 😍
total 1 replies
Raihan
halo kakak izin ayok mampir juga di novel ku "kelas arang"
Raihan
bagus cerita
Wawan
Hadir Rania 😍
cinta
Gavin dan Rania sama-sama lucu. 😂
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.
Sahabat Oleng: Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 😘
total 1 replies
Susanti Santi
Cerita nya menarik
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!