NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:613
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 27

Pagi datang tanpa cahaya matahari. Tidak ada jendela besar di tempat itu, hanya ventilasi sempit dan suara pelabuhan jauh di atas yang menjadi penanda bahwa dunia luar masih bergerak seperti biasa. Hanya debur ombak yang terdengar samar samar dari balik dinding bunker.

Han sudah terbangun lebih dulu atau mungkin memang tidak tidur sama sekali. Ia masih duduk di depan komputer lama yang msih menyala, dengan secangkir kopi hitam di tangannya.

Folder PROJECT ORISON masih tetap terbuka. Belum disentuh. Di atas meja di sampingnya, beberapa dokumen Helios berserakan bersama catatan kecil, tulisan tangan Alina.

Nara keluar dari kamar mandi kecil sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia berhenti saat melihat Han masih di posisi yang sama.

“Kamu serius tidak tidur?”

Han tidak menoleh.

“Tidur sebentar”, jawab Han singkat.

“Itu bukan jawaban.”

“Cukup.”

Nara mendesah, dan ia mulai sadar kalau Han punya hubungan buruk dengan istirahat. Dan mungkin dengan banyak hal lainnya juga.

Tak lama kemudian suara gerutuan pelan terdengar dari ranjang lipat.  Arga bangun sambil memegangi kepala.

“…gue mimpi jelek banget.”

Han, sambil menyesap kopinya, “…kamu ngompol?”

Arga langsung duduk dengan tegak.

“Itu rahasia negara.”

Nara tertawa kecil mendengar debat konyol pagi itu. Arga menyipitkan matanya dengan pandangan curiga.

“Kalian ketawa pagi-pagi berarti aku aman.”

“Belum tentu,” jawab Han datar.

Arga turun dari ranjang sambil menyeret kakinya dengan malas. Wajahnya masih terlihat pucat, namun setidaknya warna kehidupannya sudah mulai kembali . Ia melirik ke arah meja tempt dokumen berserakan dan langsung memalingkan wajahnya.

“Nope…nope!”

Han menaikkan alis kecil.

“Trauma?”

“Gue memilih menjaga kesehatan mental gue.”

Ia berjalan ke meja kecil tempat termos kopi berada.

“Mulai sekarang aku cuma ngehack computer, bukan buka catatan amal buruk.”

Nara duduk di kursi dekat meja.

“Masih mual?”

“Sedikit.”

Arga menuang kopi lalu melirik ke layar monitor.

“Jadi… kita buka file itu sekarang?”

Han menatap folder berkedip itu lalu akhirnya mengangguk kecil.

“Ya.”

Arga langsung menarik kursi mendekat. Mood hacker-nya perlahan lahan aktif kembali.

“Oke..,” sambil meremas tangannya, “…sekarang bagian gue yang kerja.”

Ia mengusap tangan seperti teknisi profesional lalu mulai mengetik cepat di keyboard. Monitor berkedip beberapa kali, folder terbuka dengan lambat, sistemnya terlalu tua. Namun justru itu yang membuatnya sulit untuk dilacak.

Beberapa file muncul di layar.

ORISON_A1 SUBJECT LIST TRAINING LOG PHASE EVALUATION STATUS: OBSIDIAN.  Arga membaca nama-nama file itu sambil mengernyit.

“Ini proyek apaan sih…”

Han tidak menjawab dan tatapannya mulai kosong lagi. Nara memperhatikan itu semua. Setiap kali Han melihat kata ORISON, ekspresinya selalu berubah. Lebih dingin dan lebih terasa jauh.

Arga membuka file pertama. Layar monitor langsung dipenuhi oleh data data.

Nama.

Nomor.

Usia.

Tinggi badan.

Riwayat kesehatan.

Evaluasi psikologis.

Dan semuanya… anak-anak.

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Nara membaca salah satu data perlahan.

SUBJECT 021

MALE

AGE 10

RESPONSE LEVEL: STABLE

Tangannya mengepal pelan.

“Ini…”

Han akhirnya bicara. “…program rekrutmen.”

“Sejak kecil?” tanya Arga yang berhenti mengetik.

Han mengangguk.

“Helios mengambil anak-anak tanpa identitas.”

“Anak jalanan.”

“Korban konflik.”

“Anak hilang.”

Nada suaranya datar. Terlalu datar. Seolah semua itu sudah terlalu lama hidup di kepalanya.

Nara menatap layar kembali.

“Dan mereka dilatih jadi pembunuh?”

“Kalau bertahan.”

Kalimat itu membuat Arga perlahan menoleh.

“Apa maksudnya ‘kalau bertahan’?”

Han tidak langsung menjawab. Namun Arga sudah membuka file berikutnya.

TRAINING LOG.

Isi file itu membuat wajahnya langsung berubah.

SUBJECT 014 — deceased

SUBJECT 032 — unstable

SUBJECT 009 — terminated

Dan daftar itu terlalu panjang, hingga membuat Arga menelan ludahnya.

“…gila.”

Han berdiri perlahan lalu berjalan mendekati layar. Jarinya menunjuk salah satu bagian.

“Lihat kode ini.”

Nara mendekat. Di samping beberapa nama terdapat simbol hitam kecil berbentuk lingkaran.

STATUS: OBSIDIAN

“Apa itu?” tanyanya.

Han menatap simbol itu beberapa detik, lalu berkata pelan, “Yang lolos tahap akhir.”

Arga mengernyitkan dahinya sambil bertanya, “Tahap akhir apaan?”

Han tidak menjawab, tatapannya masih menempel di layar. Dan lagi-lagi, potongan memori menyeruak masuk.

Lorong panjang. Bau darah. Anak-anak berdiri gemetar. Suara tembakan terdengar dari ruangan lain.

Seorang instruktur berjalan sambil membawa clipboard.

“Yang gagal dibuang.”

Han kecil berdiri diam dengan tangan penuh luka.

Di depan dadanya tergantung angka:  “21”.

“Han....”

“Han?”

“HAN!”

Suara Nara menariknya kembali. Ia berkedip pelan. Mengatur napasnya yang sedikit tidak stabil.

Nara menatapnya dengan hati-hati.

“Itu… nomor kamu?”

Sunyi.

Lalu Han mengangguk kecil. Arga langsung menatap layar monitor itu lagi. Matanya bergerak cepat mencari nomor itu. Dan….

SUBJECT 021

STATUS: OBSIDIAN

Arga perlahan mundur dari layar. Ekspresinya berubah, bukan takut tapi lebih seperti baru sadar, betapa dalam luka yang dibawa Han selama ini.

“Jadi…” suaranya pelan sekarang, “…mereka buat lu jadi kayak gini sejak kecil.”

Han tidak menjawab, karena jawabannya sudah jelas terpampang di layar. Nara memandang Han cukup lama. Tiba-tiba semua hal tentang dirinya mulai masuk akal. Cara ia bergerak. Cara ia tidur ringan. Cara ia selalu menghadap pintu. Cara emosinya seperti terkunci. Bukan karena ia terlahir dingin. Tapi karena seseorang membentuknya seperti itu.

Arga mengusap wajahnya dengan cepat.

“Bangsat…” Ia menatap layar itu lagi. “Berapa banyak anak yang mereka ambil?”

“Ribuan….,” jawab Han pelan

Kalimat itu menghantam ruangan seperti batu besar. Dan untuk pertama kalinya, Nara benar-benar mengerti. Helios bukan sekedar organisasi kriminal biasa. Mereka hidup, membangun generasi manusia yang rusak. Dan Han, salah satu yang berhasil keluar dari sana hidup-hidup.

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!