Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?
Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.
Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Jeritan Lewat Ikatan Batin
Tuan Baron tidak menyeka sisa ludah di kaca pelindung kursi rodanya sendiri. Dia hanya memberikan satu anggukan kecil—sebuah isyarat mati yang sangat dingin kepada orang kepercayaannya.
Roy menyeringai lebar, seolah-olah ketegangan ini adalah panggung pertunjukan yang sudah lama dia tunggu-tunggu untuk menjatuhkan mentalku.
Langkah sepatu botnya terasa berat saat mendekat, bergaung di lantai semen laboratorium bawah tanah yang steril ini. Bau obat-obatan dan uap kimia beraroma belerang makin menusuk hidung, membuat dadaku sesak, hampir membuatku tersedak sebelum apa pun dimulai.
"Kau pikir kau hebat karena sering main di lumpur dermaga, Lara?" bisik Roy. Suaranya rendah, penuh rasa dengki yang tertahan sejak di depo sortir logistik.
Dia membungkuk, lalu dengan kasar menyambar pergelangan tangan kiriku. Cengkeraman jemarinya seperti tang besi, menekan urat nadiku hingga aliran darahku terasa mandek. Aku mencoba menyentak, memutar lenganku, namun lilitan tali nilon tebal di kursi besi ini mengunci seluruh gerakanku. Tali itu justru makin mengikis kulit pergelangan tanganku, meninggalkan rasa perih yang panas.
Dengan tangan kanannya, Roy mengangkat botol kaca kecil berisi cairan perak pekat yang berkilau aneh di bawah sorotan lampu neon kebiruan. Dia menancapkan ujung jarum suntik besar ke dalam botol, menyedot cairan nitrat perak konsentrasi penuh itu hingga tabung plastik beningnya terisi penuh. Kilatan logam di ujung jarum itu tampak begitu meruncing, mengincar titik di mana tato segel darah kuno peninggalan ayahku terukir melingkar di kulitku.
"Lepaskan bangsat! Jangan sentuh tato ini!" teriakku, mengabaikan rasa takut demi mempertahankan satu-satunya warisan berharga yang mengalir di tubuhku.
"Tuan Baron cuma butuh informasi, dan kau cuma perlu pakai mulutmu untuk bicara, bukan untuk meludah," potong Roy kejam.
Tanpa aba-aba, dia menancapkan ujung jarum itu tepat di atas guratan hitam tatonya.
Plup.
Sensasi pertama yang masuk ke dalam dagingku adalah rasa dingin yang amat pekat, seolah-olah Roy baru saja menyuntikkan balok es hancur langsung ke dalam pembuluh darahku. Namun, rasa dingin itu hanya bertahan kurang dari satu detik. Begitu cairan nitrat perak itu mulai menyebar dan bereaksi dengan segel darah di bawah kulitku, efek kimianya langsung berubah menjadi api yang membakar hebat.
"Aaaaghhh!"
Pekikan pertamaku lolos begitu saja dari tenggorokan, menjebol pertahanan gengsi yang sejak tadi kupasang di depan Tuan Baron.
Rasa sakitnya sama sekali tidak mirip dengan luka sayatan pisau atau hantaman balok kayu di pelabuhan. Ini terasa seperti ada ribuan jarum berapi yang merangkak merusak jaringan dagingku dari dalam, merebus darahku hingga mendidih di sepanjang lengan kiri. Urat-urat di leherku menonjol tebal karena aku menahan napas terlalu kuat, mencoba membagi rasa sakit yang mendera. Mataku melotot lebar, memandang langit-langit beton yang mendadak berputar gila.
"Bicara, Lara! Di mana koordinat naga itu!" seru Roy, menekan plunger suntikan itu lebih dalam.
Cairan perak di dalam tabung menyusut setengahnya.
"Nggak... tahu...!" jeritku, napasku tersedat di dada.
Air mata perih menetes deras melewati pelipisku, bercampur dengan keringat dingin yang membasahi seluruh wajah dan leherku. Aku bukan pahlawan super. Aku cuma anak pelabuhan biasa yang kelaparan karena gajinya sering dipotong, yang kosannya sering bocor saat hujan deras.
Tubuhku bergetar hebat di atas kursi besi. Rasa sakit ini meremukkan seluruh persendianku, memaksaku meronta hingga kursi besi yang tertanam di lantai itu berderit keras. Namun, di tengah siksaan yang membuat kesadaranku hampir hilang, aku melihat wajah Roy dan Tuan Baron lewat pandangan mata yang kabur. Aku benci mereka. Kebencian itu mengkristal di dadaku, menahan lidahku agar tidak membocorkan satu kata pun tentang tempat persembunyian Kala.
Aku memejamkan mata erat-erat, lalu melepaskan seluruh sisa udara di paru-paruku dalam satu teriakan histeris yang sangat panjang hingga suaraku serak dan habis.
"KAAAAAALAAAAAA!!!"
Lima kilometer dari pusat pelabuhan, di kedalaman labirin rawa bakau yang sunyi dan berkabut tebal.
Di bawah naungan atap daun rumbia yang rapuh dari gubuk tua yang ditinggalkan, sesosok cowok bermata emas mendadak terhentak dari tidurnya.
Tubuh besarnya yang semula terbaring lemah di atas lantai bilah bambu langsung terduduk tegak dengan sentakan kasar.
Dug!
Kala mencengkeram dadanya sendiri. Jantungnya berdetak dalam ritme yang tidak beraturan, melompat liar seolah-olah ada gada besi tak kasat mata yang baru saja menghantam rusuknya hingga patah. Napasnya memburu, tersengal-sengal di dalam kegelapan gubuk yang pengap oleh bau lumut basah.
Di pergelangan tangan kirinya—di titik yang sama persis dengan posisi tato segel darah milik Lara—kulit Kala mendadak mengeluarkan uap dingin tipis. Rasa sakit yang membakar menjalar hebat di sana, melepuhkan permukaan kulit manusianya hingga mengeluarkan cairan keperakan yang berkilau.
Hubungan jangkar darah itu tidak pernah berbohong. Ikatan batin yang mengikat jiwa mereka sejak malam purnama di gang sempit kini mengalirkan jeritan kesakitan Lara langsung ke dalam pusat kesadaran Kala. Dia tidak hanya mendengar suara teriakan Lara yang menggema di dalam kepalanya; dia merasakan setiap jengkal rasa sakit dari cairan nitrat perak yang sedang merusak urat nadi gadis kurir itu.
Lara-nya sedang disiksa. Gadis pelabuhan yang keras kepala, yang mengobati lukanya dengan alkohol murahan dan menyelimutinya dengan kain sarung kotak-kotak, sekarang sedang menjerit meminta tolong di bawah tanah pelabuhan.
Grrrr...
Sebuah geraman rendah, berat, dan purba lolos dari celah bibir Kala. Suara itu bukan lagi suara manusia. Itu adalah suara dari dasar sungai kuno yang penuh dengan amarah yang mendidih.
Rasa cemas dan kepedihan yang luar biasa meledak di dalam dada Kala, memicu insting liarnya yang paling gelap untuk bangkit secara paksa. Dia tidak memedulikan lagi kondisi tubuhnya yang masih lemas atau sisa luka tembak di pundaknya. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah satu: menghancurkan apa pun yang berani menyentuh jangkarnya.
Krrrk... Krrk...
Suara retakan kecil terdengar mengerikan di dalam gubuk sunyi itu. Di sepanjang lengan kekar Kala, kulit manusianya mulai terbelah perlahan.
Dari balik pori-porinya, sisik-sisik perak yang tajam dan berkilau mencuat keluar satu demi satu dengan paksa, memotong udara malam yang dingin. Kuku-kuku jarinya memanjang, meruncing menjadi cakar besi yang siap merobek daging musuh.
Kala mengangkat kepalanya. Rambut hitamnya berantakan, dan ketika kelopak matanya terbuka, tidak ada lagi ruang untuk warna hitam di sana.
Sepasang matanya telah berubah total menjadi warna emas murni yang menyala-nyala penuh murka, bersinar terang di tengah kegelapan hutan bakau.
Kemarahan sang penunggu hulu sungai Asahan telah bangun seutuhnya.
Di luar gubuk rumbia, alam rawa seolah ikut merespons badai amarah yang sedang bergejolak di dalam dada Kala. Air muara Tanjungbalai yang biasanya mengalir tenang perlahan-lahan mulai bergolak liar, menciptakan pusaran-pusaran air kecil yang hitam di antara akar pohon nipah.
Udara subuh yang hangat mendadak turun drastis ke titik beku. Lapisan es tipis mulai merambat cepat, membekukan permukaan rawa, mengubah dedaunan hijau menjadi kristal-kristal es yang retak akibat gelombang energi yang memancar dari tubuh Kala.
Kala melangkah keluar, menghancurkan pintu gubuk lapuk itu hingga menjadi serpihan kayu dengan satu hentakan tangan kirinya yang telah bersisik penuh. Dia menatap ke arah timur—ke arah dermaga kargo tempat laboratorium bawah tanah Baron berada—lalu mulai berlari kencang membelah hutan, siap meruntuhkan barikade apa pun yang menghalangi jalannya pulang menuju Lara.