NovelToon NovelToon
Charming The Beast

Charming The Beast

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:307
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jaringan Singa

Cahaya matahari pagi yang menyapu Teluk Jakarta memberikan rasa damai yang semu. Setelah peristiwa di Menara Astra, Jakarta terasa lebih tenang, namun bagi Kenzo dan Aara, ketenangan hanyalah jeda sebelum badai berikutnya menghantam. Data yang mereka temukan di laptop Sang Kurator bukan sekadar peta; itu adalah cetak biru dari sebuah konspirasi yang jauh lebih luas: "The Merlion Protocol".

Singapura, pusat keuangan Asia, kini berada dalam bidikan sisa-sisa faksi The Hive yang telah bermutasi menjadi entitas baru bernama The Syndicate. Mereka tidak lagi menginginkan Adrian sebagai subjek eksperimen, melainkan sebagai "kunci akses" untuk meretas sistem perbankan kuantum yang sedang dikembangkan di sana.

"Kita tidak bisa membiarkan mereka membangun kekuatan di Singapura, Kenzo," ucap Aara sambil mengemasi peralatan taktisnya ke dalam koper kedap sensor. "Jika Singapura jatuh ke tangan The Syndicate, ekonomi Nusantara akan tercekik dalam hitungan hari."

Kenzo berdiri di balkon hotel, menatap pasukannya yang sedang membersihkan sisa-sisa pertempuran semalam. "Kita berangkat malam ini. Tapi kali ini, kita tidak masuk sebagai hantu. Kita masuk sebagai tamu resmi."

Berkat pengaruh Nusantara yang kini berada di bawah kendali penuh keluarga Arkana, Kenzo berhasil mengatur pertemuan tingkat tinggi dengan otoritas keamanan Singapura. Mereka masuk menggunakan paspor diplomatik yang disiapkan oleh sisa-sisa loyalis Jenderal Wiryo.

Adrian, yang sudah pulih dari kelelahannya, tampak antusias. Bagi bocah itu, setiap perjalanan adalah pelajaran baru tentang bagaimana dunia bekerja. Di dalam kabin jet pribadi, ia tidak lagi bermain rubik, melainkan mempelajari arsitektur jaringan saraf yang diberikan oleh Dr. Elina melalui tabletnya.

"Papa, apakah orang-orang di Singapura juga punya frekuensi yang sama?" tanya Adrian.

Kenzo menoleh, menatap putranya dengan bangga sekaligus waspada. "Setiap manusia punya frekuensi, Adrian. Tapi di sana, kau akan bertemu dengan mesin yang jauh lebih pintar dari yang ada di Jakarta. Kau harus tetap tenang."

Aara mendekat, membelai pipi Adrian. "Ingat apa yang Mama bilang? Kekuatanmu adalah rahasia terakhir kita. Jangan gunakan kecuali Mama atau Papa yang meminta."

Adrian mengangguk patuh. "Aku mengerti, Mama."

Singapura menyambut mereka dengan efisiensi yang dingin. Di terminal VIP Bandara Changi, mereka dijemput oleh unit elit berseragam hitam tanpa tanda pengenal. Tidak ada sorak-sorai, hanya ketegangan yang terukur.

Mereka dibawa ke sebuah kompleks rahasia di bawah Marina Bay Sands. Di sana, mereka bertemu dengan Colonel Chen, kepala unit intelijen siber Singapura yang legendaris.

"Tuan Arkana, Nyonya Aara... dan sang Alpha yang fenomenal," Chen menyapa dengan nada datar. "Kami sudah memantau apa yang terjadi di Jakarta. Sejujurnya, kami tidak suka ada kekuatan asing beroperasi di tanah kami, tapi ancaman dari The Syndicate terlalu nyata untuk kami abaikan sendiri."

"Mereka mengincar sistem perbankan kuantum kalian, kan?" tanya Aara langsung ke inti masalah.

Chen mengangguk, lalu menyalakan layar hologram besar. "Mereka menyebutnya *The Singularity*. Sebuah virus berbasis frekuensi biologis yang bisa masuk ke dalam enkripsi kuantum melalui operator manusia. Mereka membutuhkan seseorang dengan kapasitas sinapsis seperti Adrian untuk menjadi 'pemancar' utama."

Kenzo mengeraskan rahangnya. "Mereka ingin menggunakan anakku untuk merampok dunia?"

"Bukan hanya merampok, Tuan Arkana. Mereka ingin mengendalikan seluruh aliran modal di Asia," jawab Chen. "Malam ini, mereka akan melakukan percobaan pertama di fasilitas penyimpanan data bawah laut di Pulau Sentosa."

Malam kembali turun, kali ini di atas langit Singapura yang gemerlap. Strategi telah disusun. Kenzo akan memimpin tim penyerbu darat untuk mengalihkan perhatian pasukan The Syndicate, sementara Aara dan Adrian akan menyusup ke ruang peladen (server) utama yang berada di kedalaman 50 meter di bawah laut Sentosa.

Penyusupan dilakukan menggunakan kapal selam mini. Aara mengenakan pakaian selam taktis yang ramping, sementara Adrian memakai pakaian perlindungan khusus yang tahan tekanan.

"Mama, aku bisa merasakannya lagi," bisik Adrian saat mereka mendekati fasilitas tersebut. "Dengungan itu... rasanya seperti ribuan lebah di dalam kepalaku."

Aara memeriksa detak jantung Adrian melalui monitor di lengannya. "Tetap fokus, Adrian. Gunakan teknik 'pintu terkunci' yang diajarkan Dr. Elina."

Di permukaan, Kenzo memulai serangan. Ledakan-ledakan pengalih perhatian mengguncang dermaga pribadi di Sentosa. Kenzo bergerak dengan kecepatan brutal, melumpuhkan penjaga The Syndicate dengan kombinasi senapan runduk dan pertarungan jarak dekat yang sangat teknis. Ia adalah pengalih perhatian paling mematikan di dunia.

"Area satu bersih! Bergerak ke area dua!" teriak Kenzo melalui radio komunikasi.

Di bawah laut, Aara dan Adrian berhasil menembus ruang peladen utama. Namun, mereka tidak sendirian. Di tengah ruangan yang dipenuhi komputer kuantum yang berdenyut biru, berdiri seorang wanita dengan setelan putih futuristik. Ia adalah The Architect, pemimpin teknis dari The Syndicate.

"Aara... kita bertemu lagi," ucap The Architect. Suaranya terdengar seperti dihasilkan oleh mesin. "Kau membawa kuncinya tepat ke depan pintunya. Terima kasih."

The Architect menekan sebuah tombol, dan tiba-tiba seluruh ruangan bergetar dengan frekuensi tinggi yang sangat menyakitkan. Aara jatuh berlutut, telinganya mulai berdarah.

"Adrian! Sekarang!" teriak Aara dengan sisa tenaganya.

Adrian melangkah maju. Ia tidak lagi ketakutan. Ia melepaskan tas gendongnya dan berdiri tegak di tengah badai frekuensi tersebut. Matanya berkilat perak terang, menyinari kegelapan ruang peladen.

"Kau salah," ucap Adrian kecil dengan suara yang menggema. "Dengungan ini tidak harmonis. Ini merusak."

Adrian merentangkan tangannya. Gelombang energi perak terpancar dari tubuhnya, bertabrakan dengan frekuensi merah milik The Architect. Pertempuran itu tidak terlihat oleh mata telanjang, namun dampaknya nyata. Kabel-kabel di sekeliling mereka mulai terbakar, dan layar-layar komputer meledak satu per satu.

The Architect terbelalak. "Bagaimana bisa... seorang anak kecil bisa menstabilkan Singularity sendirian?!"

"Karena dia bukan senjata buatanmu," suara Kenzo tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk. Ia telah berhasil menembus pertahanan atas dan turun ke bawah tepat waktu.

Kenzo melepaskan tembakan ke arah modul kontrol yang dipegang The Architect. Modul itu hancur, memutus arus frekuensi jahat tersebut.

Dengan hancurnya modul kontrol, Adrian menarik kembali energinya. Ia tampak sangat pucat, namun matanya tetap fokus. The Architect mencoba melarikan diri melalui jalur evakuasi air, namun Aara lebih cepat. Dengan satu tendangan berputar yang presisi, Aara menjatuhkan wanita itu ke lantai logam yang dingin.

"Singapura bukan tempat bermainmu, Architect," ucap Aara sambil memborgolnya.

Kenzo menghampiri Adrian, mengangkat putranya ke dalam pelukannya. "Kau melakukannya, jagoan. Kau menyelamatkan sistem ini."

Adrian menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya. "Papa, aku ingin pulang ke Bandung. Aku rindu taman bunga Mama."

Kenzo tersenyum pahit, menyadari bahwa meskipun mereka menang, dunia tidak akan pernah membiarkan mereka benar-benar tenang. Namun, untuk malam ini, kemenangan adalah milik mereka.

Keesokan harinya, Colonel Chen memberikan penghormatan terakhir di dek kapal pemerintah. "The Syndicate di Singapura sudah habis. Data yang kalian berikan akan membantu kami mengejar sisa-sisa mereka di Tokyo dan Seoul."

Kenzo menjabat tangan Chen. "Pastikan mereka tahu... siapa yang mengawasi Asia sekarang."

Saat jet pribadi mereka lepas landas meninggalkan gemerlap Singapura, Aara duduk di samping Adrian yang sedang tidur pulas. Ia menoleh ke arah Kenzo.

"Jadi, setelah ini ke mana? Tokyo? Seoul?" tanya Aara dengan kerlingan nakalnya.

Kenzo menarik napas dalam, menatap awan yang membentang luas di bawah mereka. "Setelah ini, kita pulang. Kita perlu membangun sekolah untuk Adrian. Sekolah yang hanya memiliki tiga murid: dia, aku, dan kau."

Aara tertawa lembut. "Sekolah para legenda. Aku suka itu."

Di bawah sana, Asia tetap berdenyut, tidak menyadari bahwa garis nasibnya baru saja diubah oleh sebuah keluarga kecil yang hidup di antara cahaya dan bayangan. Perjalanan mereka mungkin belum berakhir, namun untuk pertama kalinya, mereka tahu ke mana arah pulang yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!