Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.
Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Rapat dewan direksi yang baru saja usai terasa sangat melelahkan, namun langkahnya terhenti saat ia mendorong pintu ruang kerjanya. Aroma parfum menyengat yang sangat ia kenal seketika menusuk indra penciumannya.
Di sana, duduk di kursi kebesarannya dengan kaki bersilang, adalah Clarissa.
"Aksaaa..." suara manja itu terdengar, membuat Aksa ingin segera berbalik pergi. Clarissa berdiri dan menghampirinya dengan raut wajah merajuk.
"Tadi aku ke apartemen kamu, tapi kok sandinya nggak bisa lagi? Kamu ganti sandinya ya? Aku sampai nunggu lama di depan lobi tahu!"
"Ngapain kamu ke sana?" tanya Aksa datar.
Clarissa mengerucutkan bibirnya, seolah pertanyaan itu adalah hal yang aneh.
"Loh, nggak boleh emang? Kan bentar lagi kita nikah, Aksa."
"Saya nggak akan pernah nikah sama kamu," potong Aksa.
Wajah Clarissa seketika memucat, senyum plastiknya luntur. "Loh, kok gitu sih? Mami kamu sendiri yang bilang kalau bentar lagi kita bakal tunangan, Aksa! Persiapannya sudah hampir lima puluh persen!"
Aksa terkekeh sinis, sebuah tawa hambar yang membuat bulu kuduk meremang. Ia melonggarkan dasinya dengan kasar, seolah oksigen di ruangan itu baru saja habis karena kehadiran wanita di depannya.
"Mimpi. Itu nggak akan pernah terjadi, Clarissa. Sampai kapan pun," ucap Aksa.
"Jadi... jadi aku ini kamu anggap apa selama ini, Aksa?!" pekik Clarissa dengan suara melengking, matanya mulai berkaca-kaca.
"Bukannya kamu yang selalu cari perhatian ke keluarga saya? Kamu yang memaksakan diri masuk ke hidup saya lewat Mami," desis Aksa penuh kebencian.
"Jangan pernah bermimpi jadi nyonya di rumah saya, karena tempat itu... sudah ada pemiliknya."
Clarissa menggelengkan kepalanya kuat-kuat, air mata yang tadi hanya menggenang kini mulai luruh membasahi pipinya yang dipoles makeup tebal. Ia melangkah mundur, menatap Aksa dengan tatapan tidak percaya.
"Bohong... kamu pasti bohong kan, Aksa? Ngga mungkin!" pekik Clarissa dengan suara parau. "Kita sudah sering jalan bareng, semua kolega kamu tahu siapa aku! Kamu cuma lagi capek, kan?"
Aksa menyandarkan panggulnya di pinggiran meja kerja, melipat tangan di dada. Tidak ada gairah, tidak ada rasa bersalah. Hanya ada kebosanan yang nyata.
"Nyatanya, apa yang saya katakan itu benar, Clarissa. Saya tidak pernah menganggapmu lebih dari sekadar urusan bisnis Mami," jawab Aksa tajam.
"Aksa, aku mohon... jangan begini," isak Clarissa, kini ia benar-benar memohon dengan suara yang gemetar hebat.
"Aku cinta sama kamu. Aku bisa jadi apa pun yang kamu mau. Kalau kamu nggak suka aku sering ke apartemen, aku nggak akan ke sana lagi tanpa izin kamu. Tapi tolong, jangan batalin pertunangan kita."
Clarissa berlutut di depan Aksa, memegang tangan pria itu dengan sisa-sisa harapannya.
"Mami kamu sudah setuju, Aksa. Pikirkan reputasi keluarga kita. Aku mohon... kasih aku kesempatan satu kali lagi untuk buktiin kalau aku pantas buat kamu."
Aksa menatap kepala Clarissa yang tertunduk di depannya dengan tatapan datar. Alih-alih luluh, ia justru menarik tangannya dengan kasar, membuat Clarissa hampir tersungkur di lantai.
"Kesempatan itu sudah habis, bahkan sebelum kamu memintanya," desis Aksa tanpa perasaan.
"Keluar dari sini sekarang, sebelum saya panggil keamanan untuk menyeretmu."
Clarissa berdiri dengan sentakan kasar, menghapus air matanya dengan punggung tangan hingga maskaranya sedikit luntur. Wajahnya yang tadi penuh permohonan kini berubah total. Sorot matanya yang sayu seketika berkilat tajam dan penuh kebencian. Ia merapikan pakaiannya dengan kasar, lalu melangkah menuju pintu dengan langkah yang menghentak keras.
Begitu pintu ruang kerja Aksa terbuka lebar, ia nyaris bertabrakan dengan Bara yang baru saja hendak masuk membawa beberapa dokumen penting.
"Awas!" bentak Clarissa dengan suara melengking yang memekakkan telinga.
Bara tertegun, langkahnya terhenti di ambang pintu. "Santai, Clarissa. Ada apa...."
"Diam kamu, Bara! Jangan sok akrab sama saya!" potong Clarissa ketus. Ia menunjuk wajah Bara dengan telunjuknya yang gemetar karena amarah.
"Kalian semua sama saja! Kamu juga pasti ikut-ikutan menyembunyikan sesuatu dari saya, kan? Dasar asisten tidak berguna!"
Bara hanya menaikkan sebelah alisnya, tetap tenang meski baru saja disemprot habis-habisan. Ia sudah terbiasa melihat topeng Clarissa lepas jika keinginannya tidak dituruti.
"Liat saja nanti, saya akan pastikan kalian semua menyesal sudah mempermainkan saya!" Clarissa mendesis tajam, lalu berjalan pergi meninggalkan koridor kantor dengan langkah angkuh, mengabaikan tatapan heran para karyawan yang berlalu-lalang.
Aksa memijat pelipisnya yang berdenyut kencang setelah pintu ruangannya tertutup. Kepergian Clarissa yang penuh amarah meninggalkan firasat buruk yang merayap di tengkuknya. Ia tahu wanita itu tidak akan tinggal diam.
Aksa merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel dan menatap layar itu lama. Jarinya ragu sejenak di atas kontak Jasmine. Apakah ini saat yang tepat? Setelah ketegangan semalam, apakah Jasmine mau mengangkat telepon darinya?
Namun, rasa cemas lebih besar daripada gengsinya. Dengan napas berat, ia menekan tombol panggil.
Tuuuut... Tuuuut...
Di seberang sana, Jasmine yang sedang membersihkan dapur tersentak mendengar ponsel yang ditinggalkan Aksa di meja makan berdering nyaring. Ia ragu, namun akhirnya mengangkatnya.
"Halo..."
Aksa terdiam sejenak, memejamkan mata hanya untuk meresapi suara yang sangat ia rindukan itu.
"Ini saya," ucap Aksa.
"Tuan? Ada apa?" tanya Jasmine.
"Kamu... apa kamu baik-baik saja di sana?" Aksa bertanya, jemarinya mengetuk-ngetuk meja kerja dengan gelisah.
"Apa ada orang yang mencoba masuk."
"Tadi ada yang mencoba memasukkan kode sandi di pintu depan," ucap Jasmine pelan.
"Tapi hanya sebentar, lalu orang itu pergi karena kodenya salah. Apa jika dia datang lagi, saya harus membukakan pintu?"
"Jangan!" potong Aksa cepat, suaranya naik satu oktav.
"Maksud saya... oh, tidak perlu. Sesuai dengan ucapan saya yang semalam saja, Jasmine. Jangan buka pintu untuk siapa pun tanpa terkecuali. Mengerti?"
"Oh... baik, Tuan," jawab Jasmine patuh
"Siapa pun yang datang, biarkan saja. Jangan bersuara seolah-olah tidak ada orang di dalam. Saya akan segera menyelesaikan urusan saya di sini," sambung Aksa dengan nada yang sedikit lebih melembut namun tetap tegas.
"Baik, saya mengerti. Hati-hati di jalan, Tuan," ucap Jasmine sebelum mengakhiri sambungan.
"Khawatir, ya?" sindir Bara.
Aksa tidak menyahut. Ia meraih kunci mobilnya di atas meja. "Bar, batalkan semua jadwal saya sore ini. Saya harus memastikan sesuatu sebelum Mami atau Clarissa bertindak lebih jauh."
"Iya, iya... Sayang banget lo sama dia," sindir Bara lagi.
"Baru ditinggal berapa jam aja udah panik gitu."
tuh singanya muaraaah😄😄😄
Suka Ceritax Seruuuuu....