Kevin Argantara, pewaris tunggal Argantara group. Namanya terkenal di dunia bisnis sebagai pengusaha muda ternama
Pertemuannya dengan seorang gadis cantik bernama Alanna Kalila, seorang pelayan disebuah Night Club membuatnya jatuh dalam pesona gadis tangguh itu
Keluarga besar jelas menolak seorang gadis dengan latar belakang yang jauh dibawah keluarga Argantara
Pernikahan Kevin dan seorang penulis cantik bernama Raina Soesatyo, putri keluarga Soesatyo akhirnya ditetapkan dan Kevin tak bisa lari dari perjodohan dua keluarga besar itu
Lalu akan seperti apa kisah cinta Kevin dan Alanna? Akankah pernikahan bersama gadis berhijab itu membawanya pada kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rujak
"Kamu beneran mau pulang?" Sebenarnya Alanna tidak ingin ditinggal oleh suaminya, rasanya ia ingin terus bermanja dengan ayah dari bayinya itu
"Maaf ya sayang! Aku izinnya sama Raina itu cuma seminggu. Kalau aku gak pulang dia pasti curiga" Kevin mencoba menjelaskan, berharap saja wanita didepannya ini mengerti
"Kenapa kamu gak bilang aja sama istri kamu kalau kita udah nikah!"
Kevin berhenti setelah menurunkan koper miliknya dari atas tempat tidur "Kamu ngerti kan gimana keadaan kita? Kita hanya bersabar sampai satu tahun kedepan"
Alanna menghela napasnya, harusnya ia tidak bersikap manja seperti ini. Kevin mencintainya dan itu lebih dari cukup
"Maaf"
Kevin mendekat, membubuhkan satu kecupan di kening "Setelah ini aku janji, kita akan selalu bersama"
Alanna mengangguk, setelahnya menemani sang suami didepan pintu
Empat puluh menit berulang kendaraan roda empat itu tiba dirumah besar keluarga Argantara. Saat masuk, ia merasa jika rumahnya terasa sepi
Seorang wanita berseragam pelayan membuka pintu lalu menyambut sang majikan "Dimana Papa dan Mama?"
"Tuan dan Nyonya sedang berada di rumah sakit"
Mendengar itu membuat Kevin merasa khawatir "Siapa yang sakit?"
"Nyonya Raina"
Semakin terkejut saja Kevin dibuatnya, pria tampan itu langsung keluar rumah dan menuju mobil
Rasa bersalah bersarang dihatinya, beberapa kali sang Mama menelepon tapi Kevin mengabaikannya, bahkan Rendra juga
Teka lama mobil yang dikendarai oleh suami Raina itu tiba disebuah gedung rumah sakit
Setelah bertanya pada resepsionis, Kevin melangkah cepat menuju ruangan dimana sang istri tengah dirawat
Pintu didorong, Kevin melihat ayah serta ibunya yang tengah menemani Raina. Cynthia tampak baru selesai menyuapi makan bagi menantunya
"Kamu kenapa? Kok bisa sakit? Ini pasti karena kamu banyak kerja! Lagian suami udah kaya ngapain pake kerja segala!" Cerocos Kevin
Cynthia bangkit dari duduknya disisi ranjang pasien. Kevin meringis ketika sang Mama menepuk lengannya
"Kamu dari mana aja?"
"Aku kerja Mah"
"Kerja apa sampe seminggu di luar kota? Kamu itu punya istri" Kesal Cynthia
"Aku minta maaf, emang Raina sakit apa? Selama ini dia gak pernah sakit"
Bukannya menjawab, Cynthia malah memeluk putranya. Hak itu jelas membuat Kevin heran
"Selamat nak"
"Selamat?"
"Iya selamat, sebentar lagi kamu akan jadi ayah"
Kevin membeku, kekhawatiran tergambar jelas diwajahnya. Apa ibunya mengetahui tentang kehamilan Alanna?
"Jadi Ayah?"
Cynthia mengangguk "Raina hamil! Akhirnya!"
Kevin menatap sang istri yang duduk bersandar diatas ranjang. Ia tak tahu jika kejadian malam itu menghadirkan benih di rahim istrinya
"Hamil?"
"Iya, syukurlah. Akhirnya kalian bisa saling menerima"
Kevin masih diam, entah kenapa pikirannya penuh saat ini. Jika mereka memiliki anak, bagaimana ia bisa menceraikan Raina
Setelah kepergian kedua orang tuanya, kini tinggal Kevin yang menemani Raina yang memang masih harus dirawat
Keduanya diam, baik Raina dan Kevin tidak tahu harus mengatakan apa. Pikiran mereka penuh akan masa depan pernikahan ini
"Aku ingin anak ini"
Kevin menatap sang istri, ia tak mengerti apa maksud dari ucapan Raina. Dirinya juga menginginkan anaknya
"Aku juga menginginkan dia, Rain"
"Setelah kita berpisah, aku akan membawa anak aku pergi!" Ucapan itu melukai Kevin, ia seorang ayah, walaupun anak ini hadir dari ketidaksengajaan, tetap saja ia menyayangi nya
"Kamu masih menginginkan perpisahan?"
Pertanyaan itu membuat Raina menatap lekat wajah tampan suaminya. Bukannya Kevin yang mengatakan bahwa mereka akan berpisah setelah satu tahun
"Bukannya itu kesepakatan kita?"
"Itu memang kesepakatan kita di awal pernikahan, tapi setelah kehamilan kamu aku memikirkan lagi tentang perpisahan kita"
Jantung Raina berdetak lebih cepat, entah kenapa ucapan itu membuat hatinya menghangat, apa suaminya mau memulai pernikahan mereka lagi
"Maksud kamu kita akan terus bersama?"
Kevin mengangguk, ia genggam tangan wanitanya itu "Aku tidak bisa menjanjikan apapun pada kamu! Tapi aku akan berusaha menjaga kamu dan anak kita"
"Lalu Alanna?"
Sial, pertanyaan itu yang paling dihindari oleh Kevin, tapi Raina ada benarnya. Bagaimana dengan Alanna, jika dirinya terus bersama Raina, lalu apa jadinya pernikahannya bersama Alanna
"Kita bisa memulai semuanya dari awal, soal Alanna. Aku akan membuat dia mengerti"
"Kamu mencintai dia kan?" Kevin diam, jelas ia mencintai Alanna, tapi entah sejak kapan perasaan tidak ingin kehilangan Raina muncul di hatinya
"Aku mengerti, aku tidak memaksa kamu untuk melupakan dia. Tapi aku harap kamu tidak mengkhianati pernikahan kita" Ucap Raina
"Selama kita menikah, maka selama itu juga kamu tidak bisa bersama wanita yang kamu cintai!" Sambungnya "Apa kamu sanggup?"
"Sebaiknya kamu istirahat! Kalau kamu butuh sesuatu kamu tinggal bilang sama aku"
Kevin membantu istrinya itu untuk berbaring, Raina pun tidak lagi membahas tentang wanita yang suaminya cintai. Biarlah waktu yang menjawab apakah mereka berpisah atau melanjutkan pernikahan ini
Kevin sendiri tidak mengerti, ia menginginkan Alanna juga Raina untuk berada disisinya
Keesokkan harinya Raina diperbolehkan pulang, Kevin membantu sang istri untuk membereskan barang
"Ayo!" Kevin menggenggam tangan kekasihnya lalu keduanya meninggalkan rumah sakit
Setibanya dirumah, Cynthia menyambut menantunya dengan bahagia "Kamu langsung istirahat! Jangan kebanyakan gerak, karena kata dokter kehamilan kamu itu sedikit beresiko"
Kevin membawa istrinya ke kamar, setibanya disana Raina menolak untuk berbaring
"Aku bosen tiduran terus!" Keluhnya
"Ya udah kamu mau apa?"
"Gak mau apa-apa"
"Kamu harus ngomong Rain, suami kamu ini bukan cenayang yang bisa baca pikiran!" Ujar Kevin
"Aku mau rujak"
Kevin mengangguk "Aku minta Karto beliin!"
"Emmm" Raina tampak ragu, Kevin menyadari itu dan bertanya
"Ada apa?" Tanya Kevin "Kamu ngomong aja! Jangan sampe anak aku ileran!"
"Aku mau kamu yang beliin!"
Kevin pasrah, wanita hamil memang harus dituruti kan! "Ya udah kamu tunggu sebentar!"
Raina mengangguk lalu meraih bukunya dan mulai membaca, sementara Kevin keluar untuk mencari rujak buah untuk istrinya
Tengah mencari penjual rujak, ponsel miliknya berbunyi dan nama Alanna tertera disana
"Halo Alanna"
"Kamu dimana?" Terdengar suara Alanna dari seberang sana "Aku ngidam!"
Kevin mengusap wajahnya, urusan ngidam Raina saja belum selesai dan sekarang Alanna ikut-ikutan
"Kamu mau apa?"
"Aku mau rujak buah!"
"Ya udah, kamu tunggu disana! Aku akan minta Evan untuk bawa rujaknya ke penthouse!"
"Apa gak bisa kamu aja? Aku kangen, anak kita pengen dipeluk sama papanya!" Alanna terdengar merengek, sekarang Kevin dibuat pusing karena kedua istrinya tengah hamil dan jelas butuh perhatian
"Aku udah pergi seminggu dari rumah, kalau aku pergi lagi mereka pasti curiga!"
"Tapi aku juga istri kamu, apalagi aku lagi hamil" menurut Alanna, ia lebih butuh waktu suaminya, mengingat dirinya tengah mengandung