Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Leon hari ini ada janji bertemu dengan dokter yang menangi Zidan, rencananya Leon akan membawa Zidan berobat ke negeri singa,, karena di sana peralatan nya lebih canggih.
"Bagaimana dokter, apakah putra saya sudah bisa terbang ke Singapura sekarang? " tanya Leon dengan antusias.
"Melihat dari hasil pemeriksaan, seperti nya putra anda sudah bisa terbang ke Singapura sore nanti. " jawab dokter Rizky.
"Syukur lah dokter kalau memang putra saya sudah bisa terbang ke Singapura, saya akan secepatnya menyiapkan pesawat jet pribadi untuk standby nanti sore. " ucao Leon dengan semangat.
Setelah urusan nya dengan dokter selesai, Leon segera kembali ke ruang rawat inap Zidan, Leon tidak ingin lama lama meninggalkan putranya sendirian, walaupun sebenarnya Rania berada di sana.
"Apa Zidan sudah bangun? " tanya Leon menghampiri tempat tidur Zidan.
"Sudah, tadi sebentar sebelum kamu datang. " jawab Rania sambil menunduk.
Leon melihat Naila yang sedang bermain boneka di sofa di temani bi Arini. Bibirnya yang terus mengoceh tidak henti. .
Leon datang menghampiri Naila, dirinya merasa rindu dengan gadis kecilnya yang selelu membuat nya tersenyum.
"Princess papah lagi apa sayang? " tanya Leon sambil mencium pipinya yang gemoy.
"ila lagi main barbie papah. " jawab Naila singkat tanpa menoleh papah nya.
"Sayang nya papah sudah makan belum? "
"Belum, mamah sama nenek juga belum makan. " jawab Naila lagi.
"Sayang nya papah mau makan apa?"
"Papah ila boleh nggak makan es krim, ila mau es krim tapi kata mamah nggak boleh. "
"Memang kenapa ila nggak boleh makan es krim? "
"Kata mamah kalau ila makan es krim nanti ila batuk. "
"Benar apa yang di katakan Naila? " tanya Leon pada Rania.
"Benar, saya memang melarang Naila makan eskrim karena Naila kalau makan es krim tidak mau satu, pasti harus banyak. Makannya Naila akan batuk. " jawab Rania
"Pantas saja. mamah melarang kamu makan es krim karena makannya banyak. " Leon gemas dengan putrinya.
"Nak Leon bagaimana dengan rencana berobat ke Singapura jadi? " tanya bu Arini.
"Jadi bu, rencananya nanti sore kita akan berangkat, nanti ibu dan Naila Rania juga tinggal di apartemen saya yang letaknya di tengah kota Singapura." jelas Leon.
"Dan nak Leon sendiri tinggal di mana kalau kami di apartemen.? "
"Saya akan tinggal di rumah sakit sambil bekerja, karena pekerjaan saya tidak bisa di tinggal begitu saja. "
"Tapi kan nak Leon perlu istirahat juga. "
"Mungkin nanti bisa bergantian dengan Rania jika dia ke rumah sakit, maka saya akan pulang ke apartemen untuk istirahat. " jawab Leon.
"Tapi nak Leon. "
"Tapi apa bu? " Leon penasaran.
"Kalau nak Leon pulang ke apartemen, seperti nya nak Leon tidak akan bisa istirahat deh. " ucap bu Arini.
"Loh memangnya kenapa bu? "
"Naila, pasti Naila akan memi ta nak Leon untuk bernain bersama dengan Naila, apalagi dia tahu, bagaimana pesona Singapura. "
Iya ya bu, pasti tidak akan membiarkan papah nya istirahat. " jawab Leon tertawa renyah.
"Kenapa papah tertawa?" Tanya Naila yang bingung melihat papah nya tertawa karena tidak ada yang lucu.
"Nggak apa apa sayang. " jawab Leon.
Rania menghampiri Leon dan ibunya yang sedang berbicara, dirinya sangat penasaran melihat Naila sudah akrab seperti yang sudah saling mengenal.
"Maaf tuan sebelum nya, saya sangat penasaran kenapa Naila sudah sangat akrab sekali dengan anda, padahal Naila dan saya baru saja bertemu dengan anda tuan. "
"Mamah kenapa manggil papah tuan, ini kan ayahnya ila? " tanya Naila.
Rania hanya diam saja, tidak dapat menjawab pertanyaan dari Naila, untung saja dokter masuk untuk memeriksa kembali Zidan karena sekitar dua jam lagi mereka akan terbang ke Singapura.
Dengan teliti, dokter memeriksa Zidan agar tidak ada yang terlihat, sehingga hasil rekam medic nya lengkap jika sudah berada di rumah sakit Singapura.
"Bagaimana kondisi putra saya dokter, apakah sudah stabil untuk perjalanan ke Singapura nanti sore.? "
"Pemeriksaan ulang yang sudah saya lakukan sudah bagus hasilnya, dan sya sudah mengecek keseluruhan putra anda. Seperti sudah siap semua nya. Tinggal menunggu surat jalannya saja tuan. "
'Baiklah dokter, kalau begitu saya ucapkan terima kasih atas semua banting anda selama putra saya di rawat di rumah sakit ini."
"Itu semua sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai dokter yang menangani putra anda tuan. Kalau begitu saya permisi dulu. "
"Silakan dokter. "
Leon kembali duduk di sebelah Naila yang masih sibuk dengan mainannya.
"Tuan bagaimana dengan pertanyaan saya tadi? " Tanya Rania setelah dokter tersebut keliar dari ruangan.
"Oh yang tadi. " jawab Leon.
"Iya tuan. "
"Bagaimana kalau saya jawabnya nanti saja kalau kita sudah di Singapura, saya akan jelaskan semua ya dari awal pertemuan saya dengan Naila. " jawab Leon
Rania merasa tidak puas dengan jawaban Leon, namun Rania tidak bisa berbuat apa apa lagi karena Leon sudah berkata seperti itu. Akhirnya Rania hanya bisa pasrah saja.
"Oh ya, pakaian Naila dan ibu sudah siap? "
"Sudah, kami sudah menyiapkan semua pakaian kami. Jadi kita tinggal berangkat saja. " Jawab bu Arini.
"Jangan terlalu banyak membawa pakaian, nanti kita bisa beli di Singapura. " ucap Leon.
"Bukannya itu sangat pemborosan tuan. " ujar Rania yang tidak suka karena menurut nya Leon sombong.
"Untuk kalian rasanya tidak ada yang namanya pemborosan yang penting anak saya sembuh, Naila senang. "
Rania hanya mendengus saja,mendengar Leon berbicara.
"Oh ya, tuan Aditama dan nyonya Erlina apa mereka sudah tahu dengan kondisi Zidan sekarang? "
"Sudah, kemarin saya sudah telpon papah dan mamah, mereka sangat shock mendengar kabar ini, mereka akan menyusul kita ke Singapura jika urusan mereka sudah selesai. " Jelas Leon.
" Papah kalau nenek sama kakek mau ikut kesana, ila minta boneka barbie yang bagus. " ucap Naila sambil berkedip.
"Naila jangan begitu sayang, boneka punya ila kan masih bagus, jadi tidak usah minta di belikan lagi ya sayang. " Rania berucap dengan sangat lembut.
"Tapi mah..... " Naila tampak seperti akan menangis.
"Jangan menangis sayang, nanti papah akan beli boneka barbie yang bagus, kita beli yang banyak kalau perlu papah beli sama toko nya. " ucap Leon mencium puncak kepala putri nya.
"Jangan terlalu memanjakan nya tuan nanti Naila jadi kebiasaan. "
"Tidak apa apa, anggap saja semua ini pengganti waktu yang hilang, karena mereka lahir, saya tidak ada di sana untuk menyambut mereka. " jawab Leon dengan mata yang berkaca kaca mengingat kelahiran kembar tanpa di dampingi.
Rania tidak bisa berkata apa apa lagi karena memang kenyataan seperti itu, hanya saja Rania tidak begitu suka jika Leon sangat memanjakan Naila karena akan berdampak tidak bagus untuk perkembangan Naila.
Akhir, waktu yang di tunggu sampai juga, sebentar lagi Zidan akan dipindahkan ke rumah sakit Singapura, Rania dan Naila serta bu Arini sudah bersiap siap akan berangkat ke Singapura, karena tim dokter sudah mulai memindahkan Zidan ke atas brangkar untuk fi nawa dengan mobil ambulance menuju bandara internasional Soekarno - Hatta
...****************...