NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Mata Jihan yang kini tampak jauh lebih besar dan berbinar menatap lurus ke arah Deacon.

Rasa sakit akibat patah tulang di kakinya seolah menguap, digantikan oleh kobaran tekad yang membara di dalam dadanya.

Pengkhianatan Andre dan Riko sudah keterlaluan.

"Deacon, bantu aku untuk segera pulih," pinta Jihan dengan nada suara yang bergetar namun sarat akan ketegasan.

"Aku harus segera kembali ke Indonesia."

Sebuah senyuman misterius tersungging di bibir Jihan saat ia melirik kembali ke arah cermin di samping ranjangnya.

"Mereka berdua tidak tahu kalau gajah yang selalu mereka hina sekarang sudah berubah menjadi Cinderella. Jadi, kita akan memberi pelajaran pada mereka dengan cara seperti ini."

Deacon menatap Jihan dengan pandangan kagum.

Mantan polisi itu menyadari bahwa Jihan yang lembut kini telah menemukan taringnya.

Deacon kemudian condong ke depan, mendekatkan wajahnya ke telinga Jihan, lalu membisikkan sebuah strategi taktis yang sangat rapi untuk menjebak Andre dan Riko begitu mereka tiba di Jakarta nanti.

Mendengar bisikan Deacon, sepasang alis Jihan bertaut. Ada kilatan keraguan sekaligus ketakutan yang melintas di wajah cantiknya.

"Kamu yakin dengan rencana ini, Deacon?" tanya Jihan memastikan, napasnya tertahan. "Lalu... bagaimana dengan Mas Darren? Bagaimana kalau dia melihatku dalam kondisi seperti ini?"

Deacon menarik kembali tubuhnya, lalu menepuk pelan bahu Jihan dengan penuh keyakinan.

"Darren urusanku nanti, Jihan. Fokus utamamu sekarang adalah pulih, mengikuti terapi fisik, dan bersiap untuk merebut kembali apa yang menjadi hakmu. Serahkan sisanya kepadaku."

Di gedung pencakar langit Bramantyo Corporation yang megah, suasana ruang rapat utama mendadak riuh dengan kasak-kusuk para pemegang saham.

Di ujung meja oval yang besar, Andre dan Riko berdiri berdampingan dengan setelan jas mewah.

Di hadapan puluhan investor dan jajaran direksi, mereka dengan raut wajah yang dibuat seolah-olah penuh ketegasan mengumumkan kudeta terselubung mereka.

"Dikarenakan kondisi kesehatan Papa kami, Tuan Darren Bramantyo, yang tiba-tiba memburuk secara drastis dan tidak lagi memungkinkan untuk memimpin perusahaan, maka mulai hari ini, saya, Andre Bramantyo, bersama adik saya, Riko Bramantyo, resmi mengambil alih dan mengumumkan diri sebagai pimpinan sementara Bramantyo Corporation," ucap Andre dengan kelicikan yang tersembunyi di balik suara lantangnya.

Para pemegang saham saling berpandangan, lalu terpaksa mengangguk setuju demi menyelamatkan nilai saham perusahaan yang sempat goyang akibat berita hilangnya Jihan.

Andre dan Riko tersenyum puas dalam hati. Takhta yang mereka idam-idamkan kini sudah

berada di dalam genggaman.

Sementara itu, jauh dari kemewahan gedung korporasi, suasana di ruang tamu rumah Jonas terasa begitu menyayat hati.

Televisi tua di ruangan itu sedang menayangkan siaran pers langsung mengenai pergantian kepemimpinan di Bramantyo Corporation.

Angela menatap layar kaca tersebut dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.

Rasa sakit, kecewa, dan amarah bercampur menjadi satu di dalam dadanya.

"Mereka jahat, Pa. Mereka benar-benar iblis," ucap Angela dengan suara parau yang terisak-isak.

Angela berlutut di lantai, memeluk erat tubuh ringkih ayahnya yang sedang duduk di atas sofa.

Darren sama sekali tidak merespons ucapan putrinya.

Tatapan matanya kosong, menerawang menembus dinding ruangan seolah jiwanya sudah mati bersama hilangnya Jihan.

Tangan kekarnya yang dulu kokoh kini bergetar pelan, masih mendekap erat guling besar yang basah ke dadanya, mengira bahwa itu adalah istri tercintanya yang sedang menemani di sisinya.

Jonas yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya bisa mengepalkan tangan menahan geram.

Kebiadaban Andre dan Riko sudah di luar batas kemanusiaan, namun mereka tidak tahu bahwa di belahan bumi lain, "Cinderella" baru saja menyusun rencana besar bersama Deacon untuk meruntuhkan takhta palsu yang baru saja mereka deklarasikan.

Jonas berdiri di sudut teras rumahnya yang sepi, menatap ke dalam ruang tamu melalui celah jendela.

Di sana, Angela masih menangis sembari memeluk Darren yang linglung.

Dada Jonas bergemuruh hebat. Konflik ini sudah terlalu jauh dan menjijikkan untuk dibiarkan.

Dengan tangan gemetar, Jonas merogoh ponselnya.

Ia menekan sebuah nomor internasional yang sangat ia hafal—nomor milik pria yang selama ini membiayai kuliah dan hidupnya dari jauh, pria yang merupakan ayah kandungnya sendiri.

Ternyata, Jonas adalah putra kandung Deacon dari pernikahan masa lalunya dengan seorang wanita berkewarganegaraan Indonesia, sebelum sang ibu meninggal dunia beberapa tahun silam. Itulah alasan mengapa Jonas memiliki kewarganegaraan Indonesia dan menetap di Jakarta, sementara sang ayah bergerak di dunia internasional sebagai mantan aparat militer dan kepolisian.

Klik.

Panggilan itu tersambung di Toronto.

"Jonas?" suara bariton Deacon terdengar di seberang telepon, bernada tegas namun terselip kehangatan untuk putranya.

"Papa..." ucap Jonas, suaranya tercekat menahan amarah.

Ia menarik napas dalam-dalam sebelum meledakkan bom informasi yang sama sekali belum diketahui oleh ayahnya di Kanada.

"Angela ada di rumahku sekarang, Pa. Dia dan Om Darren, mereka diusir dari mansion mereka sendiri oleh Andre dan Riko, Pa!"

Di seberang telepon, di koridor rumah sakit Toronto, Deacon seketika menghentikan langkah kakinya.

Matanya membelalak tajam, rahangnya mengeras seketika hingga mengeluarkan bunyi

berderit.

"Apa kamu bilang? Darren dan Angela diusir?" desis Deacon dengan nada suara yang mendadak turun beberapa oktat, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.

"Iya, Pa. Kakak-kakaknya gila harta. Mereka memanfaatkan kondisi Om Darren yang terguncang hebat sampai kehilangan kesadaran jiwanya. Andre dan Riko mengunci gerbang dan membuang mereka ke jalanan saat hujan badai semalam. Aku menemukan mereka menggigil di trotoar," jelas Jonas panjang lebar, melaporkan kekejaman yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.

Deacon mengepalkan tangan kirinya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Laptop di tangan kanannya terasa semakin berat. Ia tidak menyangka bahwa dua bajingan kecil di Jakarta itu akan bertindak sekeji itu kepada ayah kandung dan adik perempuan mereka sendiri.

"Jonas, dengarkan Papa," ucap Deacon dengan nada perintah yang mutlak dan dingin.

"Jaga Angela dan Darren dengan seluruh nyawamu di sana. Jangan biarkan Andre, Riko, atau anak buah mereka menyentuh rumahmu. Papa dan Jihan akan segera pulang ke Indonesia membawa badai yang akan meruntuhkan takhta palsu mereka."

Jonas seketika mematung di teras rumahnya, napasnya tertahan di tenggorokan.

Kata-kata sang ayah di seberang telepon bergaung berulang kali di kepalanya, memicu rasa terkejut yang luar biasa besar.

"Maksud Papa, Jihan siapa?" tanya Jonas dengan suara bergetar, memastikan bahwa indra pendengarannya tidak salah menangkap informasi.

"Tante Jihan istrinya Om Darren? Bukankah Tim SAR sudah menyatakan kalau beliau meninggal dunia di dasar jurang?"

Deacon menghela napas berat dari seberang saluran internasional.

Suara baritonnya terdengar begitu dingin namun penuh kepastian.

"Dia masih hidup, Jonas. Papa yang menyelamatkannya dari tebing malam itu dan langsung membawanya terbang ke Kanada untuk operasi darurat. Kondisinya sempat kritis, tapi dia berhasil bertahan."

Jantung Jonas berdegup kencang, ia melirik ke dalam ruang tamu melalui kaca jendela.

Di sana, Angela masih terisak di samping Darren yang sibuk mengelus guling basahnya.

Jika Angela tahu bahwa ibu tirinya yang selama ini ia benci ternyata masih bernapas, konstelasi kehancuran keluarga ini pasti akan berubah total.

"Jihan yang sekarang bukan lagi Jihan yang kalian kenal dengan tubuh gemuknya, Jonas. Dia sudah berubah," lanjut Deacon, memberikan sedikit bocoran rencana mereka.

"Jangan katakan apa pun pada Angela atau siapa pun di Jakarta untuk saat ini. Biarkan Andre dan Riko menari di atas kemenangan palsu mereka sedikit lebih lama lagi."

Jonas menelan ludah, mencoba mencerna semua informasi gila ini.

"Baik, Pa. Aku mengerti. Aku akan menjaga Om Darren dan Angela di sini sesuai perintah Papa."

Setelah menutup sambungan telepon, Jonas menyandarkan tubuhnya ke dinding teras, menatap langit Jakarta yang perlahan mulai cerah.

Di dalam hatinya, ia merasa tidak sabar menunggu kedatangan sang ayah dan Jihan, yang dipastikan akan membawa kehancuran mutlak bagi keserakahan Andre dan Riko.

Jonas menarik napas dalam-dalam, mengembuskan udara dingin dari paru-parunya untuk menetralkan debaran jantung yang masih berpacu cepat.

Ia merapikan pakaiannya, memasukkan ponsel ke saku, lalu melangkah kembali masuk ke dalam ruang tamu dengan ekspresi wajah yang sengaja dibuat setenang mungkin.

"Angela," panggil Jonas lembut. Ia berjalan mendekat membawa segelas susu hangat dan meletakkannya di atas meja.

"Minumlah dulu. Kamu harus menjaga kesehatanmu agar bisa merawat Om Darren."

Angela mendongak dengan mata sembap yang memerah.

"Terima kasih, Jonas. Aku, tidak tahu harus membalas kebaikanmu dengan apa," bisiknya parau, sama sekali tidak menyadari rahasia besar tentang Jihan yang baru saja disimpan rapat-rabu oleh lelaki di hadapannya.

Sementara itu, di belahan bumi lain di Toronto, atmosfer di dalam kamar rawat Jihan mendadak berubah mencekam.

Deacon baru saja melangkah masuk setelah menyelesaikan panggilan telepon dengan putranya.

Wajah bulenya yang tegas tampak mengeras. Melihat perubahan raut wajah Deacon, perasaan Jihan langsung tidak enak.

"Ada apa, Deacon? Apa ada kabar terbaru dari Jakarta?" tanya Jihan cemas, mencoba menegakkan posisi duduknya di ranjang.

Deacon berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang Jihan.

Ia menggenggam jemari ramping Jihan dengan sangat erat.

"Jihan, aku baru saja mendapat telepon dari Jonas. Ini tentang Darren... dan Angela."

"Mas Darren? Kenapa dengan suamiku, Deacon?!"

"Andre dan Riko sudah bertindak terlalu jauh," ucap Deacon dengan nada suara yang berat dan dingin.

"Mereka memanfaatkan kondisi Darren yang syok berat hingga kehilangan kewarasannya. Darren menjadi linglung, Jihan. Dan semalam, Andre dan Riko mengusir Darren yang sedang sakit bersama Angela ke jalanan di tengah badai hujan deras demi menguasai perusahaan."

Deg!

Kebenaran yang teramat kejam itu menghantam dada Jihan bagai di hujam ribuan belati.

Bayangan suaminya yang gagah kini harus luntang-lantung di jalanan dalam kondisi tidak waras bersama putri bungsunya seketika berputar di benaknya.

"Nggak... Nggak mungkin! Mas Darren... Angela..."

Tangisan Jihan pecah seketika. Pertahanan dirinya runtuh total.

Rasa sakit, hancur, dan bersalah bergemuruh hebat di dalam dadanya hingga ia merasa sesak napas.

Dengan emosi yang meluap-luap, Jihan maju dan menyembunyikan wajah cantiknya di dada bidang Deacon.

Buk!

Buk!

Buk!

Sambil menangis sesenggukan dengan bahu yang terguncang hebat, tangan lentik Jihan memukul-mukul dada bidang Deacon berulang kali.

Ia meluapkan seluruh rasa frustrasi, kemarahan, dan rasa sakit yang tak tertahankan atas nasib malang yang menimpa suaminya.

"Kenapa mereka sekejam itu, Deacon?! Kenapa?! Mas Darren tidak salah apa-apa! Ini semua salahku, andai aku tidak egois, andai aku tidak masuk ke dalam kehidupan mereka!" jerit Jihan di sela tangis histerisnya.

Deacon tidak menghindar sedikit pun. Ia membiarkan Jihan memukuli dadanya, menyerap semua rasa sakit wanita itu, lalu melingkarkan lengan kekarnya untuk memeluk Jihan dengan sangat erat dan protektif.

"Tenang, Jihan. Menangislah sepuasmu sekarang," bisik Deacon di dekat telinga Jihan, matanya berkilat penuh dendam yang membara.

"Tapi berjanjilah setelah ini, kita akan buat Andre dan Riko membayar setiap tetes air mata dan penderitaan yang telah mereka timbulkan."

Jihan menganggukkan kepalanya dan masih menangis di pelukan Deacon.

1
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!