"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."
Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.
Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI
Suasana ruang tamu rumah peninggalan almarhum orang tua Arumi masih remang-remang. Hanya seberkas cahaya fajar yang menyelinap masuk melalui ventilasi di atas jendela kayu yang mulai lapuk. Di sudut ruangan, Arumi masih bersimpuh di atas sajadah usangnya. Ia baru saja menyelesaikan salam terakhir dalam sholat subuhnya. Namun, alih-alih langsung melipat mukena, kedua telapak tangannya terangkat tinggi-tinggi. Di sinilah, di hadapan Sang Pencipta, di saat seluruh penghuni rumah masih terlelap, pertahanan yang dibangun Arumi selama sepuluh tahun pernikahan runtuh seketika.
Isak tangis yang sejak kemarin ia tahan mati-matian di pasar dan di depan anak-anak, kini pecah tanpa kendali. Bahunya terguncang hebat, dadanya sesak menahan gemuruh emosi yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
"Ya Allah... capek banget," bisik Arumi di sela-sela tangisnya yang sesegukan. Suaranya lirih, nyaris tak terdengar, takut jika suaranya akan membangunkan raksasa egois yang tidur di kamar sebelah.
Dalam keheningan subuh itu, Arumi mengadu. Ia mengadukan punggung dan jemarinya yang mati rasa karena setiap malam harus begadang mengetik ribuan kata hingga urat matanya memerah. Ia mengadukan hatinya yang perih, setiap kali kalimat pakai uang kamu dulu keluar dari mulut suaminya seolah-olah itu adalah kewajibannya. Ia juga mengadukan harga dirinya yang diinjak-injak oleh ibu mertuanya di pasar kemarin, dicap sebagai istri pelit, padahal dialah yang selama ini membayar tagihan listrik, air, hingga biaya sekolah anak-anak agar rumah tangga ini tidak karam. Di rumah masa kecilnya sendiri, Arumi merasa seperti seorang budak yang dipaksa bekerja tanpa henti, sementara suaminya menikmati seluruh hasil keringatnya tanpa pernah tahu rasa terima kasih.
Setelah beberapa menit menumpahkan air mata, Arumi menghapus sisa basah di pipinya dengan ujung mukena. Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-siga kekuatan yang tersisa. Pagi ini, ada sesuatu yang patah sekaligus mengeras di dalam dadanya. Sebuah tekad baru muncul.
Arumi bangkit, melipat sajadahnya, lalu melangkah ke dapur dengan daster batik lucunya. Ia membuka pintu kulkas yang berbunyi berisik. Di dalam sana, ruang penyimpanannya hampir kosong melompong. Hanya ada beberapa potong tahu sisa kemarin dan seikat kangkung yang ujung daunnya sudah mulai menguning.
Biasanya, jika melihat bahan seadanya begini, Arumi akan memutar otak. Ia akan rela menggunakan sisa uang simpanannya untuk lari ke warung sebelah, membeli telur atau daging ayam demi menyajikan sarapan mewah untuk Pras agar suaminya itu tidak mengeluh.
Namun pagi ini, ego Arumi menolak untuk kembali mengalah. Dengan gerakan dingin, ia mengambil tahu tersebut, memotongnya tipis-tipis, dan menggorengnya tanpa bumbu yang macam-macam hanya taburan garam seadanya. Di wajan sebelah, ia menumis kangkung dengan bawang putih dan sedikit cabai sisa. Tidak ada sambal bajak yang segar yang biasa diminta Pras, tidak ada ayam goreng renyah, dan tidak ada kemewahan yang biasanya ia usahakan dari dompetnya sendiri.
"Cukup," gumam Arumi dengan tatapan kosong ke arah wajan yang mendesis. "Aku bukan mesin yang bisa terus memproduksi kemewahan dari kantongku sendiri, sementara dia bersenang-senang di luar sana."
Pukul enam pagi tepat. Aroma tahu goreng dan tumis kangkung seadanya itu memenuhi ruangan dapur yang sempit. Langkah kaki yang berat terdengar dari arah koridor kamar. Pras keluar dengan penampilan yang sangat kontras dengan kondisi rumah. Rambutnya tersisir rapi dengan minyak rambut wangi, kemeja kerjanya licin tanpa cela hasil setrikaan Arumi semalam, dan wajahnya tampak segar bugar karena tidurnya yang sangat nyenyak.
Pras menarik kursi meja makan dengan sentakan kasar, menciptakan suara berdecit yang memekakkan telinga. Ia langsung meraih cangkir kopi hitamnya, menyeruputnya sedikit, lalu matanya tertuju pada piring-piring yang tersaji di atas meja. Seketika itu juga, dahi Pras berkerut dalam. Alisnya bertaut, dan tatapan matanya berubah menjadi dingin dan menusuk.
"Ini apa, Rum?" tanya Pras. Suaranya datar, namun ada nada intimidasi yang sangat kuat di sana.
Arumi yang sedang merapikan buku pelajaran di dalam tas sekolah si Adik di dekat meja makan, menoleh sekilas tanpa ekspresi. "Tahu goreng sama tumis kangkung, Mas."
"Maksud aku, mana lauk utamanya? Kamu tahu kan Mas ini mau berangkat kerja? Mas butuh energi, butuh makanan yang layak! Masa kepala keluarga cuma dikasih makan tahu sama sayur sisa begini? Mana sambal bajak yang Mas minta kemarin? Kamu sengaja nguji kesabaran Mas?" suara Pras mulai meninggi, satu oktav lebih keras dari biasanya.
Arumi menghentikan aktivitasnya. Ia membalikkan badan, menatap suaminya dengan pandangan lurus. "Cabai lagi mahal, Mas. Daging ayam di kulkas juga sudah habis. Uang belanja yang Mas kasih awal bulan cuma cukup buat beli beras. Dan uang hasil nulisku... sudah habis kemarin sore buat beli sepatu sekolah Bintang yang sudah jebol bagian depannya."
Mendengar jawaban Arumi yang tidak lagi menunduk ketakutan seperti biasanya, ego Pras sebagai laki-laki langsung merasa tersengat. Ia merasa wibawanya ditantang. Dengan gerakan emosional, Pras membanting sendok stainless steel di tangannya ke atas piring kaca.
PRAKKK!
Suara benturan keras itu menggema ke seluruh sudut rumah yang sepi. Di ruang tengah, Bintang yang sedang memakaikan kaus kaki ke kaki adiknya langsung terlonjak kaget. Kedua bocah itu seketika menghentikan gerakan mereka, tubuh mereka gemetar mendengar suara pecahan dan hantaman yang sangat mereka takuti.
"Alasan terus! Alasan!" Pras berdiri dari kursinya, membuat kursi itu terjungkir ke belakang. Wajahnya yang tampan kini memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol keluar. "Kamu kan penulis! Uang kamu dari internet itu banyak kan?! Sering pamer saldo ke aku! Masa cuma buat beli cabai sama ayam seminggu saja kamu hitung-hitungan?! Kamu sengaja ya mau nyiksa suami sendiri? Mau jadi istri durhaka yang menelantarkan urusan perut suaminya?!"
Arumi mengepalkan tangannya di balik daster. Dadanya kembang kempis menahan rasa sesak yang luar biasa. "Aku tidak pernah hitung-hitungan, Mas! Selama sepuluh tahun ini, siapa yang bayar listrik? Siapa yang bayar air? Siapa yang beli susu dan baju anak-anak saat uang kamu habis buat keluarga kamu di kampung? Aku diam bukan karena aku bodoh, Mas!"
"Oh, jadi sekarang kamu sudah berani mengungkit-ungkit?! Berani kamu menyalahkan bakti aku sama Ibuku sendiri?!" Pras melangkah maju, memutari meja makan hingga jaraknya hanya tinggal selangkah dari Arumi. Jarinya menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah istrinya yang tanpa riasan itu.
Ledakan emosi Pras semakin liar dan tidak terkontrol. Karena tidak bisa mendebat fakta ekonomi yang diucapkan Arumi, ia mulai mencari cara lain untuk menjatuhkan mental istrinya. Ia mulai melempar tuduhan dan fitnah yang sangat keji.
"Atau jangan-jangan... uang kamu itu sebenarnya ada, tapi kamu simpan buat laki-laki lain di internet? Iya kan?! Kamu kan sering chattingan sama pembaca-pembaca kamu yang nggak jelas itu! Jangan-jangan kamu ada main di belakang aku?! Makanya sekarang kamu punya nyali buat ngelawan suami!
Sudah nggak suci lagi pikiran kamu karena kelamaan main HP!"
"MAS! JAGA MULUT KAMU! ITU FITNAH!" jerit Arumi. Air matanya kembali tumpah, bukan karena ia lemah, tapi karena sakit hati yang teramat sangat mendengar kesetiaannya selama sepuluh tahun dinodai dengan tuduhan serendah itu.
Di saat Pras mengangkat tangannya, bersiap untuk menggebrak meja sekali lagi, sebuah bayangan kecil dengan cepat menerobos masuk ke dapur.
Bintang, bocah kelas 6 SD yang biasanya pendiam dan penurut, tiba-tiba berdiri dengan gagah berani di depan ibunya. Tubuhnya yang belum seberapa tinggi itu sengaja ia jadikan tameng hidup. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memblokir jalan antara Pras dan Arumi. Wajah anak sulung itu tampak tegang menahan takut, namun matanya yang menyalang tajam menatap langsung ke bola mata ayahnya sendiri.
"Berhenti marahin Ibu, Yah! Ayah yang salah! Ayah nggak pernah kasih uang buat Ibu!" teriak Bintang dengan suara yang bergetar hebat antara amarah dan tangis yang pecah.
Di saat yang sama, si Adik yang baru kelas 2 SD berlari sambil menangis ketakutan. Namun, ia tidak lari untuk bersembunyi di kamar. Bocah kecil itu justru merosot di lantai dan memeluk kedua kaki Arumi dengan sangat erat dari belakang. Ia menyembunyikan wajahnya di daster ibunya, berusaha memberikan perlindungan dengan cara kecilnya sendiri. "Jangan sakiti Ibu, Yah... Ibu capek... Ibu setiap malam nangis sendirian di depan laptop... Jangan marahin Ibu lagi," isak si Adik dengan suara sengau.
Pras tertegun selama beberapa detik. Ia melihat kedua anak kandungnya kini berdiri di pihak yang berlawanan dengannya. Alih-alih sadar akan kesalahannya, ego dan rasa malu Pras justru membuat kemarahannya naik ke ubun-ubun. Ia merasa dikhianati di dalam rumahnya sendiri.
"Oho... hebat ya kamu, Rum!" Pras tertawa getir yang terdengar sangat sinis. "Lihat ini! Kamu sudah berhasil meracuni pikiran anak-anakku! Kamu hasut mereka setiap hari supaya benci sama ayahnya sendiri, iya kan?! Kamu ajarkan mereka buat jadi anak durhaka yang berani teriak di depan muka orang tuanya sendiri! Benar-benar keterlaluan kamu, Arumi!"
"Aku tidak pernah menghasut mereka, Pras! Mereka punya mata! Mereka punya telinga!" Arumi menarik Bintang dan si Adik ke dalam pelukannya, mendekap kedua malaikat kecilnya itu dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki. Ia menatap Pras dengan tatapan yang tidak lagi penuh kesopanan, melainkan tatapan penuh rasa jijik. "Mereka melihat sendiri siapa yang setiap hari memeras keringat di rumah ini, dan mereka tahu siapa laki-laki yang pakaiannya rapi tapi cuma numpang hidup di atas penderitaan anak dan istrinya!"
"Kurang ajar!" Pras mengepalkan tinjunya, napasnya memburu seperti banteng yang terluka.
Namun, melihat tatapan Bintang yang begitu tajam dan pelukan erat si Adik pada ibunya, Pras kehilangan kata-kata. Ia tahu jika ia bertindak lebih jauh, ia akan benar-benar kehilangan muka di depan anak-anaknya. Dengan sentakan kasar, Pras menyambar kunci motor dan tas kerjanya yang berada di atas kursi.
Ia melangkah pergi dari dapur tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, melangkah dengan hentakan sepatu yang keras menuruni teras rumah.
Beberapa detik kemudian, suara raungan mesin motor Pras terdengar sangat bising saat ia menggas kendaraannya dengan brutal, meninggalkan pekarangan rumah seolah ingin menunjukkan pada seluruh dunia betapa besarnya amarah yang ia bawa pagi itu.
Begitu suara motor Pras menghilang di kejauhan, keheningan yang mencekam kembali melingkupi rumah tua itu. Kaki Arumi mendadak lemas, tak mampu lagi menopang berat badannya. Ia jatuh terduduk di lantai dapur yang dingin, masih dengan posisi memeluk erat kedua putranya.
Tangis mereka bertiga pecah bersamaan di lantai dapur yang berantakan dengan pecahan sendok dan tumpahan kangkung. Arumi menciumi puncak kepala Bintang dan adiknya berulang kali, air matanya membasahi seragam sekolah mereka yang masih bersih.
"Maafin Ibu, Nak... Maafin Ibu karena nggak bisa kasih kehidupan yang tenang buat kalian... Maafin Ibu," bisik Arumi di tengah isak tangisnya yang memilukan.
Bintang melepaskan pelukannya sebentar, lalu dengan jemari kecilnya yang hangat, ia mengusap air mata yang mengalir di pipi kusam ibunya. "Ibu nggak salah. Kakak lihat sendiri semuanya. Nanti... kalau Kakak sudah besar, kalau Kakak sudah kerja, Kakak nggak akan jadi seperti Ayah. Kakak akan belikan Ibu rumah yang besar, belikan Ibu makanan yang enak, dan Ibu nggak usah ngetik sampai malam lagi. Biar Kakak yang jaga Ibu dan Adik."
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut anak seusia Bintang, jantung Arumi berdesir hebat. Rasa sakit akibat makian dan fitnah Pras perlahan-lahan tergantikan oleh rasa haru yang luar biasa. Selama ini, ia mengira ia bertarung sendirian di dalam kamar gelapnya demi mempertahankan kewarasan. Ternyata, dua pasang mata kecil inilah yang selama ini menjadi saksi paling jujur atas setiap tetes keringatnya.
Hari ini, di lantai dapur yang dingin itu, Arumi bersumpah di dalam hatinya. Hubungan pernikahannya dengan Pras sudah benar-benar berada di titik nadir yang paling bawah. Dan demi kedua anaknya yang berhati emas ini, Arumi bertekad tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak lagi. Ia akan berdiri tegak, bukan lagi sebagai istri yang selalu mengalah, melainkan sebagai seorang Ibu yang siap melakukan apa saja demi melindungi masa depan dan kebahagiaan anak-anaknya.
kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏