NovelToon NovelToon
Jejak Darah Yang Menghilang

Jejak Darah Yang Menghilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi / Anime
Popularitas:128
Nilai: 5
Nama Author: Caesarius A Enda

Selama 10 tahun, Inspektur REYHAN tidak pernah bisa melupakan kasus pembunuhan berantai yang membuat rekannya mati mengenaskan. Ciri khas pembunuhnya: selalu meninggalkan genangan darah segar, tapi TIDAK ADA JENAZAH, TIDAK ADA JEJAK, DAN TIDAK ADA MAYAT — seolah darah itu mengalir dan lenyap begitu saja ke dalam udara. Kasus itu ditutup sebagai misteri tak terpecahkan, sampai Reyhan menemukan petunjuk yang mengarah ke desa terpencil bernama DESA KELAM — tempat di mana rahasia paling mengerikan disembunyikan selama ratusan tahun. Di sana ia sadar: ini bukan sekadar pembunuhan biasa, tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN YANG TIDAK TERLIHAT

Sudah berbulan-bulan berlalu sejak Damian bergabung bersama mereka. Alam semesta kini damai, penuh warna, penuh rasa dan kehidupan. Mereka berenam menjadi penguasa yang dicintai dan dihormati, setiap hari terasa indah dan sempurna… tapi Zahara mulai merasakan sesuatu yang salah.

Setiap malam, saat semua orang tidur nyenyak, ia selalu terbangun karena merasakan DINGIN YANG ANEH — bukan dinginnya Es milik Elara, melainkan dingin yang kering, mati, dan tak bernyawa. Awalnya ia pikir cuma perasaannya saja, tapi lama-lama Raka, Lira, dan yang lain juga mulai merasakannya.

“Kalian rasakan tidak?” bisik Zahara suatu malam, matanya menyala redup menatap langit yang seharusnya cerah. “Ada sesuatu yang mengawasi kita… sesuatu yang tidak punya rasa, tidak punya keinginan, tidak punya hidup. Ia diam, tak terlihat, tapi ia SELALU ADA.”

Damian mengerutkan kening, aura gelapnya menyebar luas mencari jejak apa pun. Tapi ia menggeleng pelan, wajahnya tampak cemas.

“Aku tidak bisa menemukannya… kekuatannya bukan milik terang atau gelap, bukan panas atau dingin. Ia seperti RUANG KOSONG YANG MENUNGGU UNTUK MENGHISAP SEGALANYA. Aku pernah merasakan ini ribuan tahun lalu… sebelum aku jadi Raja Kegelapan. Tapi aku pikir hal itu sudah musnah selamanya.”

Ketegangan makin terasa saat hal-hal aneh mulai terjadi.

Wilayah-wilayah yang dulu penuh kehidupan perlahan berubah: warna-warnanya makin pudar, suaranya makin pelan, gerakannya makin lambat. Penduduknya tidak sakit atau mati — mereka hanya HILANG RASA. Mereka masih bisa bergerak, bicara, melakukan apa saja… tapi mata mereka kosong, hati mereka kosong, tidak ada lagi gairah, tidak ada lagi keinginan, tidak ada lagi hidup yang dulu begitu kuat bersinar di dalam dada mereka.

Dan yang paling menakutkan: HAL INI MENYEBAR DENGAN CEPAT, mendekat ke arah pusat kekuasaan mereka.

Suatu hari, saat mereka berkumpul di istana utama, tiba-tiba PINTU UTAMA RUNTUH SENDIRI — bukan karena dipukul atau dihancurkan, tapi karena bahan pembuatnya perlahan HILANG KEBERADAANNYA, jadi debu halus yang tak terlihat lalu lenyap begitu saja.

Dari balik debu itu, keluar BAYANGAN YANG TIDAK BERBENTUK — seperti gumpalan udara kosong yang lebih gelap dari kegelapan Damian, lebih dingin dari es Elara, lebih mati dari apa pun yang pernah ada. Ia melayang perlahan, dan setiap tempat yang ia lewati, segalanya langsung jadi kosong dan mati seketika.

“Akhirnya kalian sadar…” suaranya bukan suara, melainkan KEHENINGAN YANG BERBICARA — masuk langsung ke dalam otak tanpa melewati telinga, bikin seluruh tubuh kaku dan bulu kuduk berdiri tegak. “Kalian pikir dengan membuat segalanya hidup, punya rasa dan keinginan, dunia jadi sempurna? Kalian cuma membuat BAHAN BAKU YANG LEBIH ENAK. Aku NIHIL — PENGUASA KETIADAAN, datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.”

Zahara melangkah maju, api di tubuhnya menyala sekuat mungkin, tapi kali ini APINYA TIDAK MEMBAKAR APA PUN — ia cuma lenyap masuk ke dalam bayangan itu seolah tidak pernah ada.

“APA KAU LAKUKAN PADA APINKU?!” teriak Zahara kaget dan marah.

“Panas, dingin, terang, gelap, rasa, keinginan… semuanya adalah SESUTU. Dan aku adalah TIDAK ADA APA-APA. Segala sesuatu yang ada di depanku akan kembali ke keadaan asalnya: KOSONG, HILANG, TIADA. Tidak ada rasa sakit, tidak ada kenikmatan, tidak ada ingatan, tidak ada apa-apa — sempurna selamanya.”

Elara segera melepaskan badai es terkuatnya, tapi sama saja — es itu lenyap tanpa bekas saat menyentuh tubuh Nihil.

Raka bergerak secepat kilat menyerang dari segala arah, tapi tangannya menembus begitu saja seolah yang ia pukul adalah udara kosong.

Lira menyebarkan gelombang rasa yang paling kuat, tapi rasanya seperti bicara pada tembok yang tidak punya telinga atau hati.

Sang Pembeda mencoba melihat kebenaran di baliknya, tapi matanya sakit dan berdarah karena mencoba melihat sesuatu yang TIDAK ADA UNTUK DILIHAT.

Damian melepaskan seluruh kegelapan terkuatnya, berusaha menelan makhluk itu — tapi kegelapannya sendiri malah makin lama makin menipis, seolah dihisap masuk ke dalam lubang tak berdasar.

“Jangan buang tenaga…” bisik Nihil dengan keheningan yang makin menekan dada. “Kalian adalah BENDA PALING BERHARGA yang pernah ada. Kalian punya segalanya: panas, dingin, terang, gelap, rasa, keinginan, kebenaran… saat aku menghisap semuanya dari kalian, aku akan jadi SATU-SATUNYA YANG ADA DI SELURUH ALAM SEMESTA. Dan semua akan jadi sempurna — TANPA APA-APA.”

Bayangan itu makin mendekat, dan mereka berenam mulai merasakan hal yang paling menakutkan dalam hidup mereka:

RASA MEREKA MULAI HILANG.

Zahara mulai tidak bisa merasakan panas di tubuhnya — ia tahu apinya masih ada, tapi ia tidak MERASAKAN panasnya lagi.

Elara tidak bisa merasakan kesejukan dan ketenangan yang dulu selalu ia miliki.

Raka tidak bisa merasakan keinginan dan semangat yang selalu mendorongnya bergerak.

Lira tidak bisa merasakan cinta atau sedih atau apa pun lagi.

Sang Pembeda mulai tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Damian… Damian mulai merasa dirinya sendiri perlahan jadi kosong, jadi tidak ada, jadi hilang.

“INI YANG KUATIRKAN…” bisik Damian lemah, keringat dingin mengalir di dahinya. “Dia tidak mau menghancurkan kita… dia mau MENGHAPUS KITA DARI KEBERADAAN. Sampai nama kita, cerita kita, kenangan kita — SEMUANYA TIDAK PERNAH ADA.”

Ketegangan makin memuncak saat Nihil makin dekat, jaraknya tinggal beberapa langkah saja. Wajah mereka semua pucat, napas mereka makin pelan, mata mereka makin kosong — perlahan tapi pasti, mereka mulai jadi sama seperti penduduk wilayah yang sudah terkena serangan itu: HIDUP TAPI TIDAK ADA.

“Kalian hebat sekali…” bisik Nihil makin dekat, bayangannya makin besar dan menutupi seluruh ruangan. “Kalian berhasil membuat segalanya jadi begitu penuh, begitu hidup, begitu BERARTI… jadi saat aku mengambil semuanya, kenikmatannya akan berkali-kali lipat. Bersiaplah… dalam hitungan detik, kalian tidak akan pernah ADA lagi.”

Tangan bayangan itu perlahan menjulur ke arah Zahara — yang paling penuh rasa, paling penuh hidup, paling berarti dari semuanya. Zahara mau bergerak, mau berteriak, mau melawan… tapi tubuhnya tidak mau menurut, mulutnya terkunci rapat, hatinya sudah hampir tidak berdetak lagi.

Saat tangan itu hampir menyentuh dahinya, tiba-tiba SESUTU YANG TIDAK TERDUGA TERJADI.

Di dalam dada mereka berenam, di tempat paling dalam dan tersembunyi — tempat yang tidak bisa dijangkau oleh apa pun, bahkan oleh Nihil sendiri — mulai menyala CAHAYA KECIL YANG TIDAK BERWARNA, TIDAK BERBENTUK, TIDAK BERASA APA PUN.

Tapi cahaya kecil itu TIDAK BISA DIHISAP, TIDAK BISA DIHANCURKAN, TIDAK BISA DIHILANGKAN.

Karena itu adalah KEINGINAN UNTUK ADA, KEMAUAN UNTUK BERARTI, KEKUATAN UNTUK TETAP MENJADI DIRI SENDIRI — hal yang paling dasar, paling dalam, paling mutlak yang ada di dalam setiap makhluk yang pernah hidup. Hal yang tidak bisa dibuat, tidak bisa diambil, tidak bisa diubah oleh siapa pun atau apa pun.

“KAMU SALAH…” tiba-tiba Zahara bisa berbicara lagi, suaranya pelan tapi begitu kuat sampai mengguncang seluruh ruangan, matanya yang tadinya kosong kini terbuka lebar, menyala dengan cahaya yang baru. “Kamu pikir kamu bisa mengambil SEGALANYA? Kamu pikir kamu bisa membuat kita jadi TIDAK ADA? KITA ADALAH KITA — DAN ITU HAL YANG TIDAK BISA DIHILANGKAN, TIDAK BISA DIUBAH, TIDAK BISA DIAMBIL OLEH SIAPA PUN. Panas bisa hilang, dingin bisa lenyap, rasa bisa mati… tapi KEADAAN BAHWA KITA PERNAH ADA, PERNAH MERASA, PERNAH BERARTI — ITU AKAN TETAP ADA SELAMANYA, BAHKAN SETELAH SEMUANYA HANCUR SEKALIPUN.”

Seketika itu, cahaya kecil di dada mereka makin besar, makin terang, makin kuat — menolak segala hisapan, segala kekosongan, segala ketiadaan yang ditawarkan Nihil.

“TIDAK MUNGKIN!!! TIDAK ADA YANG TIDAK BISA DIHILANGKAN!!!” teriak Nihil, keheningannya kini bercampur rasa marah dan takut yang pertama kalinya ia rasakan. “AKU ADALAH KETIADAAN — AKU ADALAH AKHIR DARI SEGALANYA!!!”

“BUKAN…” jawab Damian, Elara, Raka, Lira, dan Sang Pembeda serempak, suara mereka menyatu jadi satu kekuatan yang tak tergoyahkan. “AKHIR DARI SEGALANYA ADALAH KENYATAAN BAHWA IA PERNAH ADA. Dan itu adalah hal yang TIDAK BISA KAU SENTUH SELAMANYA.”

Mereka berenam melangkah maju bersamaan, cahaya di dada mereka makin menyebar, makin terang, makin tak terbendung — menolak kekosongan, mendorong bayangan itu mundur perlahan.

Nihil makin marah, makin kuat, makin besar — ia melepaskan seluruh kekuatan ketiadaannya yang paling ekstrem, berusaha menghisap dan menghapus mereka sampai ke akar terdalam. Tapi semakin ia mencoba, semakin ia merasakan bahwa ADA SESUTU DI DEPANNYA YANG TIDAK BISA IA KALAHKAN, TIDAK BISA IA UBAH, TIDAK BISA IA MILIKI.

Ketegangan makin memuncak, udara makin berat, langit makin gelap dan terang bercampur jadi satu — pertarungan bukan lagi antara kekuatan atau rasa, tapi antara ADA DAN TIDAK ADA, antara BERARTI DAN KOSONG, antara KENYATAAN DAN KHAYALAN.

Dan akhirnya…

 

1
Awan
mantap
Awan
wow
Awan
bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!