Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Duka dan Strategi
Hujan turun di Istana Kristal, bukan sebagai berkah penyegar, melainkan sebagai tirai abu-abu yang menutupi kesedihan. Langit Mobelle tampak menangis, meneteskan air dingin yang membasahi batu-batu marmer halaman istana, seolah mencoba mencuci noda darah yang tak terlihat dari pertempuran di Teluk Merah.
Di ruang audiensi pribadi Floren, keheningan terasa lebih berat daripada timbunan baja. Tidak ada api di perapian. Hanya cahaya redup dari lampu-lampu minyak yang bergetar karena angin yang masuk melalui celah jendela yang terbuka lebar.
Floren berdiri di depan jendela besar, punggungnya menghadap ruangan. Dia tidak bergerak. Jubah sutra hitamnya—bukan jubah kerajaan berwarna cerah, tapi jubah berkabung sederhana—tergantung longgar di bahunya yang kaku. Di tangannya, dia memegang sebuah helm besi yang penyok dan hangus. Helm itu milik Jenderal Mark.
Permukaan logamnya masih menyimpan jejak panas sihir yang membakar kulit pemiliknya. Ada goresan dalam di sisi kiri helm, tanda terakhir dari seorang pria yang telah melindungi Mobelle selama tiga puluh tahun.
Julian duduk di sudut ruangan, kepalanya tertunduk. Wajahnya pucat, matanya cekung karena kelelahan fisik dan mental. Dia belum pulih sepenuhnya dari penggunaan sihir skala besar, dan rasa bersalah menghantui setiap napasnya. 'Jika aku lebih kuat... jika aku bisa menahan perisai lebih lama... Mark tidak perlu melakukan itu.'
Kaelia berdiri di dekat pintu, lengannya dibalut perban putih yang sudah mulai tembus darah. Dia tidak menangis. Air matanya telah kering, digantikan oleh tatapan kosong yang menakutkan. Dia menatap punggung Floren, menunggu. Menunggu reaksi Ratu yang biasanya dingin dan kalkulatif.
Namun, Floren tidak berbicara. Dia hanya menatap helm itu. Jari-jarinya yang ramping menyentuh lekukan logam yang hangus, seolah mencoba merasakan denyut nadi terakhir dari sahabatnya. Meskipun dia seorang transmigrator, dia sudah menganggap orang-orang di mobelle sebagai bagian dari hidupnya yang harus dia lindungi, mungkin juga jiwanya dan jiwa ratu Floren asli telah menyatu.
Kadang-kadang Floren merasa bukan menjadi dirinya sendiri, atau itu sebenarnya dirinya sendiri.
"Mark..." bisik Floren akhirnya. Suaranya hampir tak terdengar, pecah oleh getaran halus yang jarang didengar siapa pun. "Dia membenci politik. Dia membenci intrik istana. Dia hanya ingin menjaga lautnya. Dan sekarang... laut itu telah menelannya."
Floren memejamkan mata. Sebuah air mata tunggal lolos dari kelopak matanya, mengalir perlahan menuruni pipinya yang pucat. Itu bukan tangisan histeris. Itu adalah tetesan duka yang murni, berat, dan menusuk. Bagi Floren, kehilangan Mark bukan sekadar kehilangan seorang jenderal. Itu adalah kehilangan satu-satunya orang yang pernah memanggil namanya tanpa gelar, yang pernah menawarkannya teh hangat di malam-malam paling gelap masa lalunya, yang pernah berkata, "Kau tidak sendirian, Floren. Selama aku masih bernapas, kau tidak akan sendirian kita pasti bisa merubah tatanan dunia ini."
Itulah kata-kata jendral Mark sebelum berangkat perang, senyuman percaya diri orang itu.
Dan sekarang, dia sendirian lagi.
"Yang mulia," panggil Julian pelan, suaranya serak. "Kita harus..."
"Diam," potong Floren tajam, meski tidak ada kemarahan dalam suaranya. Hanya kelelahan yang mendalam. "Biarkan aku sebentar lagi. Biarkan aku mengingatnya sebelum dia menjadi sekadar statistik dalam laporan perang, sebagai pahlawan yang akan ditulis dalam buku sejarah kerajaan mobelle."
Julian menunduk lagi, menghormati permintaan itu. Kaelia mengalihkan pandangannya ke lantai, rahangnya mengeras. Dia tahu rasa sakit itu. Dia juga kehilangan banyak anak buahnya hari ini. Tapi bagi Floren, Mark adalah pilar. Dan ketika pilar runtuh, seluruh bangunan bergoyang.
Kaelia mengingat masa-masa kudeta mereka. Mark, Kaelia, Floren melakukan tos sebelum memulai kudeta berdarah.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti abadi, Floren membuka matanya. Dia meletakkan helm Mark dengan lembut di atas meja kayu di sampingnya, tepat di sebelah peta strategi yang masih tergulung sebagian.
Dia berbalik. Wajahnya masih basah, tapi ekspresinya telah berubah. Kesedihan itu tidak hilang, tetapi dikubur dalam-dalam, dipadatkan menjadi sesuatu yang keras, dingin, dan tajam seperti berlian. Matanya, yang sebelumnya abu-abu seperti kabut, kini berwarna abu-abu gelap seperti badai yang akan datang. Tatapan itu tidak lagi menunjukkan keraguan. Itu menunjukkan tekad yang mematikan.
"Berapa korban kita?" tanya Floren. Suaranya datar, tanpa emosi, kembali menjadi Ratu yang tak tersentuh.
Kaelia melangkah maju, melaporkan dengan suara monoton. "Seratus dua puluh prajurit tewas. Tiga ratus empat puluh luka-luka, setengah di antaranya kritis. Dinding timur benteng hancur total. Meriam sihir sektor 1 hingga 4 rusak parah. Jenderal Mark... gugur."
Floren mengangguk perlahan. "Dan musuh?"
"Armada mereka mundur. Kapal induk The Iron Sovereign hancur. Estimasi kerugian mereka: lima belas kapal perang tenggelam, tiga puluh lainnya rusak berat. Ribuan prajurit tewas atau hilang di laut. Moral mereka hancur."
"Bagus," kata Floren singkat. Kata itu terdengar pahit di lidahnya. "Kemenangan yang dibeli dengan darah sahabat sendiri bukanlah kemenangan. Itu adalah transaksi. Dan harganya terlalu mahal."
Dia berjalan menuju meja peta, mengambil pena bulu, dan menandai posisi Teluk Merah dengan tinta merah pekat.
"Valerius," kata Floren tiba-tiba, menatap Julian. "Apakah dia sudah bangun?"
Julian mengangkat kepala. "Ya. Laporan dari mata-mata di perbatasan mengatakan bahwa Valerius bangun empat jam setelah operasi penyusupan. Dia marah besar. Dia mengeksekusi tiga ajudannya karena 'kelalaian'. Tapi dia bingung. Tanpa armada pendukung, pasukannya di darat terjebak. Mereka tidak bisa maju tanpa suplai logistik dari jembatan Sungai Beku, dan jembatan itu... masih utuh, tapi dijaga ketat oleh pasukan kita."
"Jadi dia terjepit," gumam Floren. "Di utara, dia menghadapi Kaelia dan sisa pasukan elit kita. Di belakang, jalur suplainya terancam. Dan di laut, armadanya hancur."
Floren menatap peta, jarinya menelusuri garis perbatasan utara.
"Dia akan mencoba menerobos paksa," prediksi Floren. "Valerius adalah pria yang arogan. Dia tidak akan menerima kekalahan. Dia akan menganggap kematian Mark sebagai kelemahan kita, bukan kekuatan. Dia akan menyerang dengan segala sisa kekuatannya, berharap bisa menghancurkan kita sebelum kita sempat pulih."
Kaelia menyipitkan mata. "Jika dia menyerang sekarang, saat kita masih berduka dan lelah... kita mungkin kalah."
"Tidak," kata Floren tegas. Dia menatap Kaelia lurus-lurus. Tatapannya tajam, menembus jiwa sang jenderal. "Kita tidak akan bertahan. Kita akan menjebaknya."
Floren menunjuk sebuah lembah sempit di peta, tepat di jalur menuju ibu kota. Lembah Naga.
"Kaelia, tarik semua pasukan dari garis depan. Mundur sepuluh kilometer. Buatlah seolah-olah kita ketakutan. Buatlah seolah-olah kematian Mark telah mematahkan semangat kita. Biarkan Valerius mengejar."
Kaelia mengerti rencana itu, dan darahnya mendesis. "Perang gerilya? Di Lembah Naga?"
"Tepat," kata Floren. "Lembah Naga memiliki dinding tebing curam di kedua sisi. Jika kita memancing pasukan utamanya masuk ke sana, Julian bisa memicu longsoran batu dari atas. Kita akan mengubur mereka hidup-hidup."
Julian mengerutkan kening. "Itu membutuhkan presisi waktu yang sempurna. Dan itu akan membunuh ribuan orang sekaligus. Tawanan, prajurit biasa... bahkan mungkin warga sipil yang terseret."
Floren diam sejenak. Wajah Mark yang hangus terbayang di benaknya. Rasa sakit itu masih segar, masih berdenyut di dadanya.
"Aku tahu," kata Floren pelan. "Itu kejam. Itu tidak adil. Tapi Mark mati agar kita punya kesempatan. Jika kita membiarkan Valerius mencapai ibu kota, ribuan warga sipil akan mati. Kota akan dibakar. Sekolah-sekolah akan dihancurkan. Reformasi kita akan berakhir."
Dia menatap Julian dan Kaelia, satu per satu.
"Aku tidak meminta kalian untuk menyukai rencana ini. Aku meminta kalian untuk melaksanakannya. Karena itulah harga perdamaian. Kadang-kadang, untuk menyelamatkan nyawa, kita harus menjadi monster."
Hening kembali menyelimuti ruangan. Hujan di luar semakin deras, mengetuk-ngetuk kaca jendela seperti jari-jari hantu yang menuntut keadilan.
Kaelia menundukkan kepalanya dalam hormat. "Seperti perintah Anda, Yang Mulia."
Julian menghela napas panjang, lalu mengangguk. "Saya akan menyiapkan rune-nya yang mulia."