"Suuut" lelaki itu membekap Garima dengan telapak tangan besarnya, mereka saat ini tengah berada gang kecil penuh dengan kupu - kupu malam yang dengan gamblang menjajahkan tubuhnya.
Tubuh Garima bergetar karena ketakutan, matanya menatap lelaki misterius didepannya itu dengan melotot "siapa dia ?, apa dia seorang penjahat ?" gumam Garima dalam hati.
"Tuhan tolong aku" jerit batin Garima kembali, tidak berapa lama terdengar suara langkah kaki yang banyak membuat seluruh gang sempit dan kumuh itu menjadi ramai.
Para wanita yang sedang menjalankan pekerjaannya lari terbirit - birit karena kehadiran beberapa orang yang sedang mencari seseorang.
Lelaki itu mendorong tubuh Garima membuat rumah kecil milik Garima terbuka dan dia dengan sengaja mencium bibir Garima saat salah satu lelaki berambut gondrong memperhatikan mereka.
Garima terkejut dengan aksi lelaki didepanya itu hingga dia tidak bisa berkata apa - apa dan bingung akan melakukan apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sukapena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Bima
"Apa perkataanku menyakitimu ?, aku minta maaf jika perkataanku menyakitimu hatimu" Rima hanya diam masih dalam pelukan Loka, Loka mencium pelan pincak kepala ibu dari anaknya itu.
"Aku tahu bahwa aku dan dia tidak penting bagimu sehingga kau tida mau menanyakan kabar kami sama sekali, jika memang seperti itu lebih baik biarkan aku pergi dari sini dan aku akan membesarkannya sendiri" Loka merasakan sakit didalam hatinya saat mendengar Rima berbicara.
"Aku tidak akan mencarimu untuk bertanggung jawab dan akan ku pastikan dia tidak akan mengetahui siapa ayahnya" Loka menjauhkan tubuh mereka kemudian menatap tajam mata Rima yang basah karena air mata.
Loka mencium bibir Rima agar Rima berhenti untuk berbicara omong kosong pada Loka, Rima melototkan matanya karena terkejut dengan cepat Loka melumat bibir ranum milik gadis itu.
Entah setan darimana yang membuat Rima malah memejamkan mata dan membalas ciuman Loka, didalam hatinya Rima mengatakan bahwa dirinya tidak merindukan lelaki dihadapannya itu.
Tetapi reaksi tubuh Rima sangat berbeda membuat wanita itu kini bingung dengan dirinya sendiri, Loka mengangkat tubuh Rima kemudian menidurkan tubuh rapuh itu keatas ranjang.
Loka terus mencium bibir Rima setelah itu menciumi leher Rima membuat Rima mendongakkan kepala dan menggigit bibir bawahnya "jangan ditahan, keluarkan suaramu" Loka membisikkan kata - kata yang membuat Rima semakin terangsang.
Loka membuka kancing baju Rima satu persatu, bibir Loka mulai menelusuri dada Rima dan dengan cepat Loka berhasil melepas pengait bra milik wanita itu hingga memperlihatkan dua gundukan kenyal yang terlihat sangat besar karena kehamilan.
Loka mencium payudara milik Rima membuat Rima meremas bedcover diagas ranjang, entah keberanian darimana membuat Rima menarik kepala Loka kemudia mereka saling berciuman kembali.
Tanpa mereka sadari gairah sudah mempengaruhi mereka hingga satu persatu pakaian yang mereka pakai tergeletak begitu saja dibawah tempat tidur.
Loka memasuki tubuh Rima membuat wanita itu seketika memekik, Loka merasakan tubuh Rima yang sempit dibawa sana "kenapa sangat sempit ?" Loka bergumam dengan cepat Rima menarik wajah Loka untuk melihat matanya.
Mereka saling tatap "tentu saja, karena aku baru sekali melakukannya yaitu denganmu saja" Loka tersenyum kemudian mencium bibir merah milik Rima.
Mereka terlarut dalam gairah hingga melakukannya berulang kali dalam semalam dengan suasana kamar yang hanya diterangi oleh cahaya rembulan dari balik kaca besar kamar Rima, mereka tertidur bersama karena kelelahan.
Loka mengeryitkan dahi sebelum membuka kedua bola matanya yang masih sangat mengantuk dan lelah karena mendengar bunyi dering ponsel miliknya.
Loka melihat Rima yang masih tidur dengan posisi kepala Rima diatas lengan kekarnya, dengan pelan Loka menggeser kepala wanita itu kemudian mencium kening wanita itu dengan lembut sebelum bangkit dari tidurnya.
Loka berjalan mengambil celana dalam yang berbentuk boxer sebelum mengambil ponselnya yang tergelatak dibawa lantai didekat celana boxer miliknya.
"Halo Bim" Loka menerima panggilan telfon dari Bima sembari berjalan keluar dari kamar Rima, agar wanita itu tidak terganggu dengan obrolannya bersama dengan Bima disebrang telfon.
"As kau sudah kembali ke apartement kah ?, kenapa tidak memberitahuku" Loka menghela nafasnya kemudian memijit keningnya yang sedikit pusing.
"Apa itu penting ?" Bima mendengus kesal "tentu saja bodoh, itu artinya kau masih hidup" Loka membuka lemari es dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat berbagai bahan masakan dari sayur mayur buah serta ikan dan daging tersusun rapih disana.
Loka mengambil sebotol air mineral yang dingin kemudian dia membuka botol itu dan meminumnya "aku akan ke apartementmu sekarang ada hal penting yang akan kuberitahu padamu" setelah Bima mengatakan itu dia memutus panggilan dengan cepat.
Loka mengetukan jari jemarinya diatas pantri menimbang untuk memasak bahan makanan yang ada didalam kulkas atau tidak, dengan tekad yang besar Loka mengambil beberapa sayur serta daging untuk dia masak.
Loka menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Rima, tidak lama terdengar bunyi bel apartement berbunyi dan Loka menghentikan aktifitasnya untuk membuka pintu.
Loka melihat rekaman cctv gang ada didekat pintu apartement miliknya yang saat ini menampilkan seorang lelaki bertubuh tinggi besar seperti Loka yang tidak lain adalah Bima.
"Lama sekali kau membukakan pintu" Bima berdumel sembari mengganti sepatunya dengan sendal rumahan, Bima mengeryitkan dahi melihat ada sepatu wanita diapartement Loka.
"As sepatu siapa ini ?" Loka menghentikan langkahnya dan terkejut mendengar pertanyaan dari Bima, Loka membalikan badan melihat Bima yang masih berada didekat rak sepatu sembari menunjuk sepatu milik Rima.