NovelToon NovelToon
Abang Iparku,..Dosen Killerku

Abang Iparku,..Dosen Killerku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Slice of Life / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Spiritual / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gurania Zee

Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Cahaya lampu menyala begitu terang untuk malam itu yang seharusnya menjadi malam yang tenang, dan dimatikan seperti biasa dan tidur dengan nyenyak, namun tidak untuk saat itu.

Dikediaman Abi Fahrizal Ahmad Ardinio seolah menjadi hari paling menegangkan bagi Feryal kecil, yang selalu menyaksikan keributan yang terjadi oleh kedua orang tuanya.

Brak!

Prank!

Klontang.. klontang,..

Berbagai suara yang pecah, jatuh ataupun menggelinding semua spontan memantul menggema ke seluruh ruangan. Yang terdengar jelas ditelinga Feryal yang berdiri kaku membeku hingga ia menutup matanya. Digelayuti rasa takut dan campur aduk.

Feryal tidak kemana mana ia tetap mendengar semuanya sampai akhir, sesekali airmatanya jatuh tanpa permisi.

"Udah cukup Zal?, cukup!, aku capek tau nggak!"

"Capek?" suara ayahnya menyambar lebih keras dan dingin.

"Kamu denger nggak sih?"

"Kamu pikir cuma kamu yang capek Santi!"

"Jangan bawa bawa agama terus, tiap kita ribut Zal," suara ibunya meninggi dengan getaran campur tangis yang tertahan.

"Ini bukan soal itu San!" bentak abinya tanpa jeda.

"Tapi, soal kamu yang enggak mau berubah Santi!" ucap abinya lagi.

"Dan kamu juga yang memulai semuanya berubah sejak awal dan malah semakin rumit?"

"Hah, Apa!, berubah?" tawa kecil keluar dari bibir mamanya Feryal saat itu. Seperti luka yang dipaksa terdengar seperti hal yang biasa. "Aku dari dulu emang kayak gini"

"Dan itu yang jadi kesalahan terbesarku" pelan tapi menghantam sampai dasar. Feryal menelen ludah dengan susah payah. dadanya yang terasa sempit seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. Dan kata kata itu bukan cuma untuk ibunya melainkan seperti mengena pada dirinya sendiri.

"Kak" Syahira berdiri disana dengan rambut yang sedikit berantakan. Matanya yang setengah mengantuk tapi penuh tanya.

"Kak,..itu suara apa?"Feryal langsung bergerak, dia tarik tangan adiknya dan membawanya ke belakang tubuhnya seolah bia jadi benteng. "Enggak apa apa"

"Kalau kamu mau pergi,..pergi aja sana sekalian!" bentak abinya semakin meledak.

Deg!

"Jangan ancam aku terus mas Zal!" balas mamanya.

"Aku juga punya kehidupan!"

"Ini rumah tangga Santi, bukan untuk tempat kamu seenaknya!"

"Rumah tangga katamu?, tapi menurutku ini bukan rumah Zal, bahkan bagiku ini seperti penjara, seperti neraka!" Feryal menaham napas dan tangisnya. Tangannya semakin erat menggenggam Syahira, sementara adiknya mulai gemetar.

"Kak,..aku takut"

"Ada kakak, kakak sama kamu disini hm" Syahira mengangguk dan memeluk Feryal semakin erat dengan tangis polosnya.

"Kak, kenapa sih bunda sama Abi berantem terus?" mendengar itu Feryal membeku tak bisa menjawabnya.

"Sudah de, itu urusan orang dewasa kakak juga enggak tau, kenapa sampai bunda dan Abi berantem"

"Apa Abi marah lagi ya, liat mama pulang malam terus?" tanya Syahira dengan polosnya. Feryal hanya berusaha menenangkan tanpa menjawab pertanyaannya yang menurutnya ia pun bingung harus berkata apa pada adiknya.

Suara benturan terdengar lagi begitu kerasnya, kursi yang tergeser, dan langkah kaki juga tangisan serta kata kata yang tajam lainnya yang begitu menusuk bahkan hal itu yang tidak sepatutnya anak anak dengar diusianya yang masih sekecil itu.

"Kamu enggak pernah ngerti aku, Mas!"

"Kamu yang enggak pernah mau ngerti!, dan aku sudah berusaha untuk menyesuaikan gaya hidup kamu yang kelewat bebas itu dan aku enggak suka itu Santi!"

"Kamu selalu merasa paling benar, mas"

"Karena aku enggak mau hidup sembarangan dan tanpa arah kayak kamu!" perdebatan sengit terus terjadi dihampir setiap waktu setiap harinya.

Feryal menggigit bibirnya dia tidak menutup telinganya sama sekali mendengar semuanya dengan jelas dan ia tetap tenang meski dadanya merasakan seolah di hantam palu godam yang mengena sampai dasar jiwanya.

Setiap nada suara yang terucap begitu saja, dan jeda yang penuh emosi. Ucapan sarkas tajam yang sudah terlontar telak tidak akan pernah bisa ditarik kembali.

Airmatanya kembali terjatuh dan ia langsung menyeka dengan punggung tangannya dengan begitu cepatnya. Dia tidak boleh terlihat lemah apalagi didepan adiknya.

Feryal selalu menjadikan dirinya sebagai pelindung untuk adiknya meskipun dia sendiri tidak ada tempat untuk berlindung.

Diruang tamu yang sudah seperti kapal terbelah, begitu berantakan. Pintu dibanting dengan begitu kerasnya hingga terdengar sampai ke luar. Meskipun tak lama suasananya kembali sunyi seolah tidak terjadi apa apa, meskipun kesunyian itu bukanlah sunyi yang terlihat baik baik saja pada malam itu.

Feryal mengangkat wajahnya perlahan, kedua netranya yang masih sembab oleh air mata. Dia mengintip dibalik dinding kamarnya, melihat Abinya masih dengan rahang yang mengeras dsn nafas yang berat sambil mengepalkan satu tangannya kuat kuat masih berdiri di dekat sofa ruang tamu.

Mamanya berdiri tidak jauh dari situ, dengan matanya yang memerah dan bibir yang bergetar. Hanya beberapa detik lamanya mereka hanya saling menatap seolah tidak pernah saling mencintai sebelumnya, hanya tatapan yang seperti orang asing yang seolah belum mengenal satu sama lain.

Santai ibunya Feryal dan Syahira langsung masuk kedalam kamarnya dan mulai mengemasi baju bajunya yang berada di lemari pada koper berukuran sedang.

Fahrizal melangkah ke kamar masuk dan melihat itu semua, ia hanya diam membeku. Setelah selesai Santi langsung melewatinya begitu saja tanpa ada kata kata.

Akan tetapi setelah berdiri ambang pintu ruang tamu, ia menoleh pada Fahrizal dan menatap kedua anaknya yang baru saja keluar dari kamar mereka dan melihat semuanya sambil matanya tak bisa menahan tangis.

Santai hanya diam tanpa mengeluarkan kata kata apapun pada kedua anaknya. Kembali ia menoleh pada Fahrizal ayah mereka. "Aku pergi" ucapnya.

Namun Fahrizal tidak menjawab apapun ia hanya menatapnya dengan dingin dan datar, tanpa emosi hal itulah yang membuat dada Feryal maupun Santi ibunya merasakan sesak luar biasa.

"Pergi" lirih Syahira ia mendongak pada Feryal meminta penjelasan.

"Kak, Bunda mau pergi, bawa koper besar itu kak?" namun feryal hanya menatap adiknya dan kembali menatap kepergian ibunya yang semakin menjauh dan kembali tangannya ia lebih mengeratkan pelukannya pad adiknya.

"Kakak disini Sya, jangan sedih,..Bunda mungkin pergi sebentar enggak akan lama" Syahira menyeka airmatanya dan memeluk kakaknya lebih erat.

Fahrizal menoleh ke arah kedua anaknya, menatap sendu pada anak-anaknya. "Sini, peluk Abi" ucapnya lembut dan melebarkan kedua tangannya. Reflek Feryal dan Syahira memeluk abinya dengan tangis yang pecah.

"Enggak apa apa, jangan sedih ya,..Abi enggak akan tinggalin kalian hmm"

Dan sejak saat itu Feryal merasa, hidupnya tidak akan seindah sebelumnya. Dan waktu tidak akan bisa diputar ulang, dan dirinya yang masih kecil namun dipaksa menjadi dirinya yang berubah menjadi dewasa sebelum waktunya.

1
Sri Jumiati
Nikah beda agamanya
Sri Jumiati
Bagus ceritanya.semangat Thor
Gurania Zee: terimakasih ya😊 support nya 💪jangan lupa baca cerita ku lainnya ya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!