Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Terlalu mencolok
Gerbang Kota Linyi berdiri kokoh menyambut ribuan pendatang yang membanjiri acara besar tahun ini.
Suasana riuh rendah; denting senjata, derap kaki kuda, dan teriakan para pedagang bersatu menjadi simfoni keramaian yang memekakkan telinga.
Namun, atmosfer itu mendadak berubah ketika dua sosok dan seekor binatang buas melangkah melewati ambang gerbang.
Yan Bingchen berjalan dengan langkah yang sangat ringan, seolah kakinya tidak benar-benar menyentuh tanah.
Aura dari Tahap Pembentukan Fondasi yang baru saja ia capai meluap secara halus, menciptakan tekanan tak kasat mata yang membuat kerumunan orang di depannya menyingkir secara otomatis tanpa ia perlu meminta.
Di sampingnya, Mo Ran berjalan dengan dada membusung, meski sesekali ia gemetar saat melihat kerumunan pendekar dengan senjata besar.
Sementara itu, Si Hitam, serigala arwah itu, berjalan dengan kepala tertunduk patuh di belakang Yan Bingchen, taringnya yang sesekali berkilat membuat nyali orang-orang yang berniat menggoda mereka ciut seketika.
Langkah mereka terhenti di depan meja pendaftaran ulang yang dijaga oleh para pendekar dari Kekaisaran Shan.
Di sana, antrean panjang langsung membeku. Kesunyian merambat cepat dari depan hingga ke belakang barisan.
Mata semua orang terpaku pada satu titik: sosok Yan Bingchen.
Penampilannya adalah sebuah anomali yang indah sekaligus mengerikan.
Rambutnya yang panjang berkibar tertiup angin kota, memperlihatkan gradasi warna yang mustahil; merah membara bagai lava di satu sisi, dan putih kebiruan sedingin es di sisi lainnya.
Namun yang paling membuat orang-orang terkesiap adalah matanya.
Sepasang mata yang berbeda warna itu menatap dunia dengan ketenangan yang mematikan, memancarkan wibawa yang melampaui usianya yang baru tujuh belas tahun.
"Siapa dia? Apakah dia seorang pangeran atau pendekar?" bisik seorang gadis dari klan bangsawan setempat, pipinya merona merah.
"Lihat rambut dan matanya ... Aku belum pernah melihat Pendekar dengan ciri fisik seperti itu di seluruh Benua Tiandi," sahut seorang pendekar pengelana dengan wajah penuh keheranan.
Mo Ran menyenggol lengan Yan Bingchen sambil berbisik bangga. "Kak Bingchen, lihat itu. Mereka semua menatapmu seolah kau adalah harta karun tingkat emas yang baru ditemukan. Jangan-jangan nanti ada yang minta tanda tangan!"
Yan Bingchen tidak menjawab. Wajahnya tetap datar, sedingin es yang mengalir di nadinya. Ia melangkah maju menuju meja pendaftaran dan meletakkan sebuah benda di atas meja kayu tersebut.
Tuk.
Sebuah kartu kayu kusam dengan ukiran nomor pendaftaran yang sudah agak pudar. Itu adalah kartu yang diberikan pengawas tiga bulan lalu—saat ia masih terlihat seperti pengembara yang kelaparan.
Petugas pendaftaran, seorang pria paruh baya dengan kumis tebal, awalnya tampak bosan.
Namun, saat ia melihat kartu kayu itu dan kemudian mendongak menatap wajah Yan Bingchen, matanya membelalak. Ia segera memeriksa buku besar pendaftaran.
"Nomor urut 742 ... Atas nama Bingchen?" suara petugas itu sedikit bergetar. Ia ingat tiga bulan lalu ada seorang pemuda lusuh yang mendaftar, tapi sosok di depannya ini sekarang terasa seperti orang yang berbeda. "Kau ... kau benar-benar pengembara yang mendaftar waktu itu?"
"Ya," jawab Yan Bingchen singkat. Suaranya berat dan bergema, mengandung otoritas yang membuat petugas itu tanpa sadar menegakkan posisi duduknya.
"Luar biasa ..." gumam sang petugas sambil membubuhkan stempel energi pada kartu tersebut. "Dalam dua bulan, auramu berubah total. Aku tidak bisa merasakan batas kekuatanmu sekarang."
Kartu kayu itu kini bersinar keemasan setelah divalidasi. Sang petugas menyerahkannya kembali dengan kedua tangan—sebuah tanda hormat yang biasanya hanya diberikan kepada pendekar dari sekte besar.
"Selamat datang kembali, Tuan Bingchen. Namamu telah terdaftar di blokade utama. Turnamen akan dimulai besok pagi di Arena Cakrawala," ujar petugas itu dengan nada sopan.
Yan Bingchen menerima kartu itu, lalu berbalik. Di belakangnya, ratusan mata masih mengikutinya.
Ada yang menatap dengan kagum, ada yang iri, dan ada pula yang menatap dengan penuh selidik—terutama para peserta lain yang mulai merasa terancam dengan kehadiran "kuda hitam" yang sangat mencolok ini.
"Ayo, Mo Ran. Kita cari penginapan," ajak Yan Bingchen.
"Siap, Bos! Minggir, minggir! Juara masa depan mau lewat!" teriak Mo Ran dengan lantang, membuat beberapa orang mendengus kesal namun tetap memberi jalan.
Saat mereka menjauh dari kerumunan, Yan Bingchen bisa merasakan tatapan tajam dari menara tinggi di pusat kota.
Ia tahu, mulai saat ini, persembunyiannya telah berakhir. Benua Tiandi kini telah menyadari keberadaannya, dan ia tidak akan berhenti sampai puncak tertinggi.