Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Marvin sedang fokus menatap seorang gadis yang akhir-akhir ini sering dia dapatkan berada di perpustakaan. Setiap gerak-gerik gadis itu tidak luput dari perhatian batin.
Entahlah,, apa yang membuat gadis itu menjadi sangat berbeda?
Gadis yang dulu setiap hari selalu mengikutinya, bersikap layaknya seperti stalker bahkan gadis itu juga selalu menjadi perbincangan hangat di sekolah karena kasus perundungan.
Kini gadis itu berbeda.
Sarah, gadis yang sudah dari tadi dia perhatikan itu, saat ini sedang menulis sesuatu di sebuah buku jurnal dengan wajah serius. Gadis itu kadang memberenggut, kadang tersenyum cerah dan terkadang memperlihatkan wajah aneh seperti orang bodoh.
Tanpa sadar Marvin mengernyitkan dahinya, bingung melihat tingkah bodoh gadiu itu, Kenapa ekspresi wajahnya cepat sekali berubah?
Entahlah, sejak Sarah jarang membuat kegaduhan. Kini Marvin malah sering melihat tingkah ajaib gadis itu.
Contohnya saja, saat mereka bertemu secara kebetulan di sekolah. Sarah selalu menemukan cara untuk menghindarinya, entah terang-terangan berbalik arah atau berpura-pura berbincang dengan murid lain meskipun sangat kentara bahwa gadis itu tidak punya teman di sekolah. Bahkan gadis itu sampai menabrak guru saking paniknya saat bertemu dengan Marvin dan pada akhirnya gadis itu terkena omel oleh guru yang ditabraknya.
Pada dasarnya Marvin tidak pernah peduli dengan apapun yang dilakukan gadis itu kecuali apabila dia menyakiti Kayla, justru bagus jika gadis itu telah berubah. Tapi,,entahlah, ada perasaan bertanya-tanya kenapa gadis itu tiba-tiba menjauhinya.
Kembali pada Sarah yang sedang fokus menulis, gadis itu mendadak berdiri sambil membuka buku jurnal yang dipakainya menulis tadi. Ia berjalan menyusuri rak buku, sambil sesekali melihat ke arah buku yang dibawanya. Saking fokusnya mencari buku, Sarah sampai tidak sadar telah berdiri membelakangi Marvin.
"Nah, yang ini sama yang..ini!" Seru Sarah dengan semangat lalu mengambil satu persatu buku sesuai list yang telah dibuatnya.
"Eum,,terus buku..aduh!" Pakai Sarah terkejut saat berbalik dan malah menabrak sesuatu." Maaf,maaf," ujarnya sambil memungut bukunya yang jatuh.
"Matematika terapan?"
Suara besar milik seseorang yang sangat dia kenal membuat pergerakan Sarah tiba-tiba terhenti. Dia mendongak untuk memastikan wajah orang itu dan benar saja.
Sarah menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
"Emang otak lo mampu buat ngerti matematika?"kalimat ejekan yang dilontarkan Marvin bersama dengan nada remih itu membuat atensi Sarah teralihkan dari yang awalnya takut menjadi kesal.
"Maksud Lo?" Sarah berdiri lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, namun sedetik kemudian tangannya ia turunkan kembali saat bertatapan langsung dengan mata elang milik Marvin. Meskipun begitu tapi tidak menyurutkan rasa kesal akibat direndahkan oleh laki-laki itu.
"Sesuai dengan apa yang gue katakan tadi, emang otak lo mampu buat mencerna itu?" Ulang Marvin dengan penuh penekanan di setiap katanya, dia lalu berjalan mendekat ke arah gadis itu.
Sarah mundur beberapa langkah, ia mulai panik tapi berusaha untuk tetap tenang. " Mampu, kok!" Jawabnya bersamaan dengan punggungnya yang membentur rak buku.
Tatapan keduanya tidak terlepas, entah apa yang dirasakan Marvin, tapi mental Sarah sudah tidak kuat. Rasanya dia ingin kabur saja apalagi melihat tatapan Marvin yang seperti predator yang menemukan mangsanya.
Marvin menyeringai." Buktikan itu." Ucap laki-laki itu lalu pergi begitu saja.
Sarah meraup udara sebanyak-banyaknya setelah laki-laki itu pergi, Dia memegang dadanya yang sedari tadi berdebar kencang. Ternyata rasa itu masih sama, tidak pernah berubah apalagi hilang.
....
Sarah kesal, marah, tapi tidak berdaya.
Jujur saja, benar yang dikatakan Marvin. Dia yang memiliki kapasitas otak di bawah rata-rata pasti tidak akan mudah menyerap sesuatu hal yang baru. Apa yang dia kerjakan dari satu jam yang lalu saja telah dia lupakan, mana mungkin dia mampu mempelajari matematika sendirian yang kerumitannya bahkan sampai mati pun tidak akan selesai.
"Marvin sialan!" Untuk pertama kalinya Sarah yang notabenenya cinta mati pada Marvin malah menyumpahi laki-laki itu.
"Sar, dipanggil ibu Rara ke ruangannya."ucap seorang murid perempuan yang dia yakini adalah teman kelasnya tapi Sarah tidak mengingat nama temannya itu.
"Oh,oke. Makasih." Ucap Sarah lalu beranjak dari bangkunya.
Ya Tuhan, cobaan apalagi yang kau berikan pada hambamu ini? Fatin Sarah yang mulai lelah.
Setelah mengetuk pintu ruangan, Sarah membuka pintu ruangan setelah dipersilahkan masuk.
"Ibu panggil saya?"tanya Sarah dengan sopan begitu sudah berada di ambang pintu yang terbuka, sehingga dapat langsung dilihat oleh ibu Rara yang sedang membaca beberapa dokumen.
"Sini nak kamu duduk dulu."
Sarah mengangguk kemudian berjalan menuju tempat duduk yang ditunjuk oleh Bu Rara.
"Ada apa ya, Bu?" Tanya Sarah hati-hati.
"Saya lihat nilai matematika kamu sangat rendah!"
"Ah, sialan matematika la-"
"Sarah!"
"Ma-maaf bi, saya gak sengaja keceplosan." Ucap Sarah sambil menunduk malu kemudian memukul-mukul bibirnya yang seenak jidat mengeluarkan isi hatinya.
"Saya kira kamu sudah berubah. Tapi menurut kamu itu tetap saja masih berbicara kasar." Ucap ibu Rara dengan nada tegas.
"Iya Bu maaf, saya nggak akan ulangi lagi."
"Baiklah, hari ini saya maafkan, tapi lain kali kamu akan saya hukum jika ketahuan berbicara kasar di depan saya."
"Baik Bu," Sarah cukup mengiyakan saja supaya permasalahannya cepat selesai.
" Baik, jadi saya lanjutkan yang tadi," ibu Rara menjeda perkataannya lalu mengeluarkan selembar kertas ulangan yang bertulis angka 10 dengan sangat menonjol." Nilai ulangan kamu hanya dapat nilai 10, hanya 10 ,Sarah!"
"Iya bu saya juga lihat, nggak usah diulang dua kali juga kali, Bu." Cicit Sarah dengan suara yang sangat pelan.
"Kamu bilang apa tadi?"
Sarah menggelengkan kepalanya cepat." Engga Bu, silahkan dilanjutkan."
Bu Rara hanya menghela napasnya, berusaha menahan kesal." Nilai kamu cuma 10, itu saja karena saya yang kasih nilai untuk menghargai usaha kamu yang menulis soalnya. Saya rasa kamu benar-benar tidak ada harapan di mata pelajaran matematika."
Cara mendongak dengan mata yang terbuka lebar." Benar-benar gak ada harapan sama sekali, Bu?"
"Ya. Sama sekali tidak ada." Jawab ibu Rara dengan tegas.
Sarah pun mengatupkan bibirnya dengan rapat, dia tidak bisa berkata-kata karena tertampar dengan kenyataan. Apakah dirinya harus menyerah saja dengan matematika? Tapi,,, Jika dia menyerah itu artinya dia tidak akan lulus jika tidak bisa mengerjakan matematika.
"Kamu harus dapat nilai di atas rata-rata di ujian saya nanti, belajarlah dengan baik. Saya punya saran seseorang yang mungkin bisa bantu kamu."
"Siapa Bu?" Tanya Sarah dengan wajah berbinar.
"Marvin, meskipun dia terlihat seperti anak berandalan tapi dia punya nilai yang sempurna di matematika dan fisika.
Sarah membelalakkan matanya." Ibu nggak salah kan? Marvin mana mau ngajarin saya bu. Dia aja nggak mau dengerin guru apalagi dengerin saya." Jawab Sarah menggebuk-gebuk berharap Bu Rara merekomendasikan orang lain selain Marvin.
Bu Rara berdeham lalu memperbaiki posisi duduknya dan kembali menatap Sarah." Ibu sudah mempertimbangkan banyak hal, untuk orang seperti kamu saya rasa Marvin yang paling cocok. Matematika kamu itu sudah sangat tidak tertolong."
"Tapi bu-"
"Saya hanya menyarankan, selanjutnya terserah kamu mau melakukan apa yang jelas saya mau nilai matematika Kamu naik di ujian saya minggu depan. Jika masih tidak ada peningkatan, terpaksa orang tua kamu saya panggil untuk membahas perihal nilai kamu ini."
"Jangan Bu, saya mohon."
"Ya sudah, hanya itu yang mau saya sampaikan. Kamu belajar dengan baik sampai ujian saya minggu depan dan orang yang menurut saya paling tepat untuk mengajari kamu adalah Marvin. Saya sudah melihat kemampuannya, tapi jika kamu tidak mau maka kamu tanggung sendiri konsekuensinya."
"Bu, apa gak ada orang lain yang ibu rekomendasikan buat ajarin saya?"
"Tidak ada Sarah, sekarang lebih baik kamu keluar. Saya masih banyak pekerjaan."
Sarah masih ingin membantah, tapi sepertinya Jika dia lanjutkan, dia akan diusir oleh ibu Rara saat ini. Jadi dia memilih untuk pamit dan keluar dari ruangan itu.
"Kayaknya di kehidupan gua yang kali ini, gue dikutuk deh."