NovelToon NovelToon
JANJI PERNIKAHAN TUAN AROGAN

JANJI PERNIKAHAN TUAN AROGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.

"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.

Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.

Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.

Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 26

"Kamu gila? Bram itu suaminya Zenna!" teriak Kalila, berang dan tidak terima. "Kamu nggak berhak--"

"DIAM KAMU!"

Bentakan Rendy menggema hingga ujung lorong, membuat beberapa dokter dan perawat yang lewat seketika mematung dan menoleh kaget.

"Kamu juga masuk daftar hitamku--gara-gara kebodohanmu, Zenna hampir kehilangan nyawanya! Kamu tahu Zenna diracun seseorang, tapi kamu meninggalkannya yang sedang kritis begitu saja tanpa ada yang menjaga--"

"Kalila pasti tidak bermaksud begitu, Rendy. Kamu sudah dengar sendiri, dia terpaksa pergi karena pihak rumah sakit butuh persetujuan untuk pemberian obat baru--" Ridwan mencoba menengahi, meski keganjilan itu kembali mengganggu benaknya sendiri.

"Kamu bodoh?! Jelas-jelas itu jebakan!" tuding Rendy geram. "Akan kucari dan kutemukan perawat yang sudah membodohi adikmu itu--dia pasti kaki tangan si pembunuh--dan akan kubuat dia mampus di penjara! Tapi sebelum si pembunuh tertangkap, aku tak akan mengizinkan satu kutu busuk pun merayap masuk ke celah pintu tempat Zenna berada! Aku bersumpah!"

Rendy melangkah pergi sambil menekan ponselnya dengan cepat. Tak lama kemudian, dua orang security muncul dan langsung berjaga di depan pintu ICU.

"Tinggalkan tempat ini, sekarang!" tegas salah satu security dengan tatapan garang.

"Bram, lakukan sesuatu!" pekik Kalila, air matanya lagi-lagi nyaris merebak saat melihat sosok Zenna yang masih terbaring di dalam kamar ICU, begitu rapuh dan jauh.

Bram menatap dua security di depannya laiknya singa hendak menerkam mangsa.

Tetapi kemudian ponsel di sakunya bergetar. Ia mengeceknya sejenak, sudut-sudut rahangnya membatu.

"Tak ada gunanya melawan. Kita pergi sekarang."

Kalila tersentak, ia yakin telah salah dengar.

"Bram!"

Tetapi Bram sudah melangkah pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.

"Kenapa jadi begini...?" Kalila merintih, batinnya teriris perih. "Mas Ridwan, tolong lakukan sesuatu...!"

Ridwan menarik napas dalam, bibirnya melekuk muram.

"Tak ada yang bisa kita lakukan, Kal. Sebaiknya kita pergi sekarang."

"Tapi kita nggak bisa meninggalkan Zenna begitu saja... dia sendirian di dalam sana, Mas!" jerit Kalila, ekspresinya sarat lara.

"Ada dokter dan perawat yang mengurusnya. Dan ada security menjaganya dari gangguan yang tak diinginkan. Sementara ini Zenna aman," kata Ridwan pelan. "Sebaiknya kita pulang saja."

Kalila masih enggan bergerak. "Mas!"

"Kalila, kita pergi bukan berarti kita kalah," tukas Ridwan serius. "Daripada membuang waktu dan tenaga melawan mereka di sini, lebih baik kita segera bergerak untuk menemukan dalang di balik tragedi ini. Semakin cepat, semakin baik. Ini semua juga demi Zenna. Kamu juga setuju itu, kan? Kamu mau membantu, atau tidak?"

Kalila menggertakkan gerahamnya. Batinnya terasa amat getir. Ia sungguh mengkhawatirkan kondisi Zenna, apalagi ia berada dalam kekuasaan Rendy sekarang--tetapi yang dikatakan Ridwan ada benarnya.

"Kurasa memang tidak ada pilihan..."

Sebelum pergi, Kalila menoleh dan menatap sosok sahabatnya dari kejauhan dengan mata basah.

Maafkan kami, Na... kami terpaksa meninggalkanmu di bawah cengkeraman mantan kekasihmu yang keji itu... tapi tolong bertahanlah... apapun yang terjadi, kami pasti akan menyelamatkanmu...! Tunggu kami dan bertahanlah...!

Seiring langkah-langkah terakhir menjauh dari lorong dan ruang ICU, di bawah cahaya putih dan angin dingin yang berhembus lirih, tak ada yang menyadari, ujung jemari Zenna bergerak lemah--seakan ia menyadari mereka yang pergi dan ingin memanggil kembali nama-nama yang paling dia kasihi.

Namun yang kemudian tersisa, hanyalah sunyi.

***

"Akhirnya kamu pulang, Bram."

Seorang wanita tua berahang persegi berjalan tertatih menggunakan tongkat. Mata kecilnya menatap tajam di balik kacamata persegi sebening kristal. Rambut kelabunya disanggul rapi tanpa cela.

"Oma Ratih belum tidur?" Bram berbasa-basi sopan, meski ekspresinya dingin dan datar.

"Kamu tahu Oma hampir selalu sulit tidur--maklum, usia tua," balas Oma Ratih tanpa tedeng aling-aling. "Kondisi istrimu sudah membaik?"

"Ya, karena itu aku bisa pulang. Masa kritisnya sudah lewat. Tak lama lagi, dia akan sembuh total dan aku akan membawanya pulang kemari," jawab Bram lancar.

"Hmm," gumam Oma Ratih. "Syukurlah. Dia sudah keracunan parah seperti itu, tapi untunglah bisa selamat dan sembuh..."

"Ya, Allah benar-benar melindungi Zenna," angguk Bram. "Begitu Zenna pulih dan kembali ke rumah ini, aku akan segera menghubungi Pengacara Haris untuk mengalihkan semua warisan Atmaja atas nama Zenna. Aku juga akan merombak susunan direksi perusahanan--Zenna bilang dia ingin terjun langsung mengurus Atmaja Group. Dia akan menjadi Ketua Dewan Komisaris berikutnya."

"Menggantikan Pamanmu, Darwin?" Kerutan di dahi Oma Ratih melekuk makin dalam.

Bram lagi-lagi mengangguk. "Kurasa ini momen yang tepat. Sudah waktunya Paman Darwin menikmati masa pensiun dengan tenang--tak perlu lagi dihantam banyak tekanan untuk memajukan perusahaan sampai bertahun-tahun ke depan. Oma juga berpikir begitu, kan?"

"Hmm," Oma Ratih sejenak mengerucutkan bibirnya yang sudah keriput. "Pamanmu itu gila kerja. Bagaimana kalau dia menolak?"

"Tak ada pilihan untuk menolak. Zenna pemilik sah kekayaan dan perusahaan Atmaja sekarang. Semua keputusan ada di tangannya. Aku pun hanya menjadi pelaksana putusannya sesuai ketentuan hukum."

Sesaat, Oma Ratih tak berkata apa-apa, tetapi ekspresi tak suka mulai merayapi wajahnya.

"Dia baru saja menemukan identitasnya dan kembali ke rumah ini... tapi bukankah tak elok jika dia langsung menciptakan konflik keluarga? Kamu suaminya, Bram. Sebaiknya kamu nasihati istrimu itu untuk lebih mengutamakan keharmonisan keluarga daripada ambisi pribadi..."

"Kenapa harus ada konflik?" Bram balas memandang Oma Ratih tak gentar. "Paman Darwin tinggal terima saja keputusan ini. Tak akan ada masalah."

"Pamanmu itu sangat mencintai keluarga dan perusahaan. Ia mendedikasikan puluhan tahun hidupnya mengelola dan membesarkan Atmaja Group sampai sekarang. Yang akan kamu dan istrimu lakukan itu seperti memutilasi separuh tubuhnya, lalu membuang potongannya ke jalan seperti sampah tak berguna. Sungguh keji dan tak elok...!"

Bram mengangkat bahu, tak acuh. "Ini keputusan Zenna. Sudah kubilang aku cuma pelaksana. Mau bagaimana lagi?"

Oma Ratih menggeleng jengkel. "Pikirkan saja dulu baik-baik. Kalau sampai gesekan berapi itu muncul, kalian akan menyesal...! Oma ini sudah tua, tidak bisakah kalian yang muda membiarkan Oma menjalani sisa hidup dengan tenang? Sebaiknya Zenna meneladani almarhum papanya--Zahir tak pernah menimbulkan keributan dan perpecahan keluarga sejak lahir hingga wafat! Bilang pada istrimu itu, jangan jadi anak serakah yang memalukan!"

Tongkat kayu itu mengetuk berat permukaan lantai granit seiring Oma Ratih pergi meninggalkan Bram, yang tidak berkata apa-apa, namun memandang punggung wanita renta itu dengan sorot sedingin es.

"Mas Bram...! Syukurlah Mas Bram pulang...!"

Bram menoleh. Sesosok perempuan muda jelita berambut ikal sebahu mendekatinya dengan ekspresi gundah. Kakinya bergerak-gerak gelisah.

"Rita," Bram menatap tajam adiknya itu. "Ada apa?"

"Aku... aku sudah lama menunggu Mas pulang. Aku harus memberitahu Mas sesuatu..."

"Beritahu apa?"

Amrita menelan ludah. Ia kemudian berbisik cepat, raut mukanya kian pucat.

"Aku tahu siapa yang meracuni minuman Kak Zenna malam itu, Mas...!"

***

1
sryharty
akhirnya bran dan zenna menyatu juga
sryharty
untung aja Bram sempet ninu ninu sama Aurel,,
sryharty: ga sempet mksudnya
total 1 replies
Shamira Zee
Yaa kirain bakal langsung gas malam pertama... tahunya ngobrol dulu /Facepalm/ Tapi seperti apa masa lalu Bram? Ikut penasaran /Slight/
Shamira Zee
cieee akhirnya minta ditemenin bobo bareng /Drool/
La Rumi: aseeek ❤️
total 1 replies
sryharty
gasss duo K di persatukan
La Rumi: yuk panggil KUA /Proud/
total 1 replies
Nyonya Billy
cinta bisa memulihkan trauma... niang bijak 👍
sryharty
ayooo zenna bikin Bram panas dingin 🤣🤣
La Rumi: berasa jadi dispenser, langsung hot and cold /Joyful/
total 1 replies
Shamira Zee
Ngeri ya traumanya keluar semua pas melukat gitu... Bram dan Zenna udah langsung gas ngadon aja abis ini, udah sah juga /Scream/
Shamira Zee
Rumahnya Bram kayaknya enak banget buat ditinggalin yaa
Shamira Zee
Kalila sama Dokter jadian ajaa /Joyful/ Kasihan Zenna masih trauma... lekas pulih naa
Shamira Zee
Niang sakti ih... Garba juga asal nyeplos aja, mana tahu Bram dan Zenna mah belum pecah teloor sejak sah /Facepalm/
Shamira Zee
Seru... berasa di Bali beneraaan
Shamira Zee
Bram kenapa sihh bikin meleleh... green flag banget sebagai husband ❤️
Lord Aaron
Berasa di Bali banget, sampai ada melukat segala
La Rumi: Matur suksma ❤️
total 1 replies
Lord Aaron
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Lord Aaron
Ooo Bram orang Bali tohh
La Rumi: yess betul
total 1 replies
Lord Aaron
Hahaha udah sah juga, lanjut ajalahh
La Rumi: Lanjut apa nih? /Grin/
total 1 replies
Lord Aaron
Eh gila... pasang penyadap di ponsel, sampai bisa jadi bukti... keren begini ceritanya
La Rumi: hehe thanks kak ❤️
total 1 replies
sryharty
berdamai Zen pasti bayangan itu akan segera lenyap
La Rumi: badai pasti berlalu 🎶
total 1 replies
sryharty
bagus cerita nya
La Rumi: Terima kasih sudah suka ceritanya Ze-Bra 🦓 kakak ❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!