"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Rahasia
Setelah konferensi pers yang menguras seluruh energi dan ketahanan mentalnya, Elena resmi memindahkan seluruh hidupnya ke dalam wilayah kekuasaan Adrian. Mansion megah bergaya modern kontemporer milik pria itu berdiri terisolasi di atas lahan seluas beberapa hektar, dikelilingi oleh dinding beton tinggi dan sistem keamanan biometrik berlapis. Dari luar, tempat itu tampak seperti istana mewah seorang miliarder industri pangan; namun bagi Elena, bangunan bertingkat dengan dominasi kaca gelap dan baja hitam ini terasa lebih mirip seperti sebuah sangkar emas yang dirancang untuk mengurung sekaligus melindunginya.
Kehidupan barunya sebagai Nyonya Arsa di balik pintu tertutup sama sekali tidak seindah apa yang digambarkan oleh headline media. Sesuai dengan syarat ketat di dalam dokumen kontrak mereka, tidak ada pernikahan yang sesungguhnya di sini. Kamar mereka dipisahkan oleh sebuah koridor panjang berlantai marmer di lantai dua. Adrian adalah pria yang teramat sibuk. Kalau Adrian tidak berada di pabrik pengolahan atau memimpin rapat integrasi pasokan bahan pokok, pria itu akan mengurung diri hingga larut malam di dalam ruang kerja pribadinya yang terletak di ujung sayap barat mansion.
Pintu ruangan itu selalu tertutup rapat, terkunci dengan pemindai sidik jari, dan menjadi satu-satunya area yang dinyatakan terlarang bagi Elena oleh Hendra sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di sana.
Rasa penasaran Elena memuncak pada suatu malam di minggu kedua pernikahan mereka. Jarum jam telah melewati angka satu dini hari, dan seluruh mansion diselimuti oleh keheningan yang mencekam. Elena yang tidak bisa tidur karena bayangan laporan keuangan Luminous Beauty yang semakin janggal, memutuskan untuk turun ke lantai bawah guna mengambil segelas air hangat.
Namun, saat langkah kakinya melewati koridor sayap barat, seberkas cahaya putih yang tipis dari arah ruang kerja Adrian menarik perhatiannya.
Pintu yang biasanya tertutup rapat itu, malam ini sedikit terbuka, menyisakan celah selebar beberapa sentimeter. Suara ketikan jari di atas papan ketik yang biasanya terdengar, kali ini digantikan oleh keheningan yang janggal.
Didorong oleh rasa ingin tahu yang besar dan insting yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan suaminya, Elena melangkah mendekat dengan sangat perlahan, menahan napas agar suara gesekan kain gaun tidurnya tidak memicu sensor di koridor.
Elena mendorong pintu itu tanpa suara, menyelinap masuk ke dalam ruang kerja Adrian yang luas. Ruangan itu sangat gelap; gorden-gorden beludru hitam ditutup rapat, dan satu-satunya sumber cahaya berasal dari tiga layar monitor komputer besar yang menampilkan grafik bursa saham yang terus bergerak secara real-time (langsung). Di tengah ruangan, aroma kopi hitam yang pekat dan tembakau mahal mengapung di udara, menegaskan kehadiran sang pemilik yang tampaknya baru saja meninggalkan ruangan sejenak.
Mata Elena melihat sekeliling ruangan, hingga akhirnya pandangannya terfokus pada dinding bagian belakang yang biasanya tertutup oleh panel kayu geser. Malam ini, panel tersebut terbuka, menampilkan sebuah papan interaktif raksasa berukuran tiga meter yang dipenuhi oleh ratusan dokumen, potongan artikel berita lama, skema aliran dana internasional, dan foto-foto orang penting. Di bagian paling atas papan tersebut, sebuah nama ditulis dengan tinta merah tebal yang menyala di bawah lampu UV: Syndicate.
Elena melangkah mendekat, jantungnya mendadak berdegup dengan ritme yang sangat cepat saat sepasang mata indahnya meneliti foto-foto yang terpajang di sana. Di tengah papan, tepat di pusat pusaran garis-garis merah yang rumit, terdapat sebuah foto lama yang sangat ia kenal.
Foto ayahnya, Alexander.
Tangan Elena bergetar hebat saat ia melangkah satu senti lebih dekat. Foto ayahnya terhubung langsung dengan garis putus-putus dengan dokumen audit Luminous Beauty sepuluh tahun lalu, dan yang lebih mengejutkan lagi, ada garis tebal yang ditarik lurus dari nama Alexander menuju foto seorang pria paruh baya dengan senyuman kepalsuan yang sangat familier.
Bramantyo. Pamannya sendiri.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini, Elena?" Sebuah suara bariton yang dingin, tajam, dan sarat akan ancaman tiba-tiba memotong keheningan ruangan dari arah pintu yang terbuka.
Elena tersentak hebat, tubuhnya berputar dengan cepat karena terkejut. Di ambang pintu, Adrian berdiri tegak dengan tatapan mata yang sangat murka. Kemeja hitam yang dikenakannya tampak kusut dengan dua kancing teratas yang terbuka, dan aura predator yang mematikan seketika keluar dari tubuh tegap pria itu, memenuhi seluruh sudut ruangan hingga membuat Elena merasa sesak seolah-olah pasokan oksigen di sekitarnya baru saja disedot habis.
Adrian melangkah masuk, setiap ketukan langkah kakinya terdengar seperti detak lonceng kematian. Ekspresi wajah tampannya begitu kaku, sepasang mata gelapnya mengunci Elena dengan intensitas yang sanggup mencabik keberanian apa pun.
"Aku sudah memberikan aturan yang sangat jelas sejak hari pertama kamu menginjakkan kaki di mansion ini, Nyonya Arsa," ucap Adrian, suaranya merendah menjadi sebuah desisan yang mengerikan saat ia memperkecil jarak di antara mereka.
"Ruangan ini adalah wilayah terlarang bagimu. Dan kamu... baru saja melanggar peraturan dari kontrak kita dengan mencoba mencampuri urusan pribadiku."
Elena mundur satu langkah hingga punggungnya membentur tepian meja kerja kaca milik Adrian, merasa terdesak oleh tubuh tinggi tegap suaminya yang kini berdiri menjulang tepat di depannya, mengurung pergerakannya sepenuhnya. Namun, rasa takut di dalam dada Elena dengan cepat digantikan oleh kilatan amarah dan tuntutan akan kebenaran setelah melihat foto ayahnya di papan misterius tersebut.
"Urusan pribadi?" balas Elena, suaranya bergetar menahan badai emosi yang meluap-luap, matanya menatap tajam langsung ke dalam manik mata gelap Adrian tanpa rasa takut sedikit pun. "Bagaimana bisa kamu menyebut ini urusan pribadimu, Adrian? Lihat ke belakangmu! Itu foto ayahku!
Alexander berada di tengah-tengah papan kegilaan ini, terhubung dengan organisasi bernama Syndicate dan pamanku sendiri! Kamu tahu sesuatu tentang kematian ayahku, dan kamu sengaja menyembunyikannya dariku selama ini!"
Adrian mencengkeram kedua sisi meja kaca di belakang tubuh Elena, mencondongkan wajahnya hingga jarak di antara mereka nyaris tak bersisa, memaksa Elena untuk merasakan deru napasnya yang memburu karena amarah yang tertahan. "Aku menyembunyikannya darimu karena kamu terlalu lemah untuk menghadapi kenyataan ini, Elena! Ada rahasia di dunia ini yang sengaja kusegel rapat karena begitu kamu mengetahui polanya, kamu tidak akan pernah bisa kembali ke kehidupanmu yang tenang, dan nyawamu akan menjadi taruhannya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam!"
......BERSAMBUNG......