Taqi Bassami, hanya karena ia seorang anak angkat, pria itu harus mengorbankan hidup selamanya. Taqi menukar kebebasannya demi membayar balas budi. Berkat sang ayah angkat, hidupnya yang terpuruk di jalan, kini menjadi sukses.
Bila balas budi bisa dibayar dengan uang, Taqi pasti melakukan hal itu. Tapi bagaimana, jika Taqi harus menikahi wanita pilihan keluarga angkatnya itu untuk membalas jasa. Belum lagi latar belakang Taqi yang perlahan mencuat ke permukaan. Siapa sebenarnya Taqi? Ketika banyak pihak mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan
The Lost Mafia Boy Bagian 25
Oleh Sept
Satu bulan kemudian
Sekawanan burung-burung liar bermigrasi kala senja menyapa. Di atas langit jingga, mereka semua mengepakkan sayap, menyusuri lembah-lembah. Mengitari pantai yang luas.
Di sebuah balkon, terdapat sosok pria yang menatap ke laut lepas yang airnya terlihat biru meneduhkan. Pria itu menatap kosong, terlihat sekali terlalu banyak yang ia pikirkan.
"Tinggalkan keluarga itu, jika kau tidak ingin mereka semua celaka!" ujar sosok pria dengan cerutu di tangannya.
Ia menyesap benda tersebut, kemudian menyemburkan banyak kepulan asap di sekitar pria yang berdiri mematung tersebut.
Ya, dia adalah Taqi Bassami. Pria itu kini dilema untuk kembali lagi pada keluarganya. Keluarga baru yang bahkan baru ia rajut beberapa hari saja.
"Aku tidak ada urusan dengan kalian!" cetus Taqi sinis.
Padahal, Taqi dari semenjak ikut abah Yusuf, pribadinya sangat lembut. Pria itu sopan dan ramah. Tapi tidak untuk saat ini. Sebulan tinggal bersama orang-orang asing, membuatnya seperti sekarang. Apalagi sekarang badannya sering mengiggil tiba-tiba. Panas, terbakar, tapi juga kedinginan secara bersamaan. Taqi merasa ada yang salah dengan tubuhnya.
Saat Taqi memilih tidak mau tahu dan tidak mau ikut campur, pria dengan ciri khas cerutunya itu, menepuk bahu Taqi.
"Kau tidak punya pilihan."
Benci dengan keadaan ini, di mana hidupnya yang tenang mulai diusik. Taqi mengepalkan tangan. Ingin rasanya ia menghajar sosok laki-laki yang berdiri dengan keangkuhan itu.
"Jangan mengantur hidupku!" bentak Taqi dengan suara tertahan. Sebab bukan gaya Taqi, jika marah harus dengan nada tinggi. Paling kalau ia kecewa pada sesuatu. Ia hanya akan diam. Memilih menahan emosinya. Tapi, kali ini ia kelihatan sudah kehabisan kesabaran.
Atau mungkin juga karena stresse. Taqi selama ini terpenjara dalam hunian tersebut. Meski tidak dibiarkan kelaparan atau sakit, tetap saja. Tempat itu persis seperti sebuah penjara.
***
Jakarta, Indonesia. Kediaman abah Yusuf. Masih terlihat sama, suasana rumah itu sama sekali tidak berubah. Sama seperti sebelumnya.
Sudah sebulan berlalu, sebulan lebih pula Taqi menghilang. Suami Nada tersebut sampai sekarang belum diketahui ada di mana. Keluarga sudah lapor polisi, tapi hasilnya nihil. Tidak ada kabar ataupun petunjuk keberadaan Taqi.
Ummi sekarang juga nampak murung, belum sembuh luka kehilangan Zain. Kini Taqi harus menghilang tanpa kabar.
"Abah, tolong sewa detective swasta," pinta ummi.
Abah hanya menghela napas panjang. Tanpa istrinya minta, abah pun sudah melakukan hal itu. Entah sudah berapa utusan abah yang terbang ke sana. Untuk mencari jejak Taqi yang menghilang seperti ditelan bumi.
Sementara itu, Nada yang biasanya cuek, karena mungkin Taqi kemarin-kemarin sedang sibuk-sibuknya atau tidak ingin diganggu. Bahkan sempat merasa jangan-jangan lari bersama kekasihnya, jadi Nada tidak ambil pusing.
Akan tetapi, melihat sang mertua yang tidak bersemangat setiap hari. Kelihatan gunda gulana, Nada mulai ikut prihatin. Suaminya itu pergi bersama pacarnya atau sesuatu yang buruk sedang menimpa pria itu? Dilema, Nada memilih fokus pada Naqiyyah saja.
***
Malam hari, Nada sudah tertidur pulas. Lelah mengurus bayi kecil, ia akhirnya tidur lebih awal. Namun, di tengah-tengah tidurnya, ponselnya malah berdering. Butuh tiga kali deringan, hingga Nada mulai merespon suara yang lirih tapi jelas tersebut.
"Siapa malam-malam begini?" Nada mengerutkan dahi. Ia kemudian turun dari ranjang, menjauhkan ponselnya. Sambil berjalan, Nada mengangkat telpon dari nomor yang tidak dikenal.
"Hallo? Assalamu'alaikum ... maaf siapa?"
Nada mengusap matanya, kemudian melirik dinding. Dilihatnya jam yang sudah menunjukkan waktu yang sangat malam. Siapa malam-malam telpon.
Ingin ia tutup saja, mendadak suara familiar menyapa Nada.
"Nad!" suara orang di seberang telpon memanggil nama Nada.
Nada yang semula dikuasai rasa kantuk yang berat, mendadak langsung terjaga. Matanya seketika jernih, pendengaran pun semakin tajam.
"Mas Taqi?"
Suasana hening sesaat.
"Mas? Mas ada di mana? Semua orang sedang mencari Mas Taqi!"
"Hallo? Mas?"
Nada terus berbicara, tapi tidak ada sahutan.
***
Malam itu langit mendung gelap, seperti hujan akan turun dengan deras. Ditambah suara keras ombak yang menerjang.
Taqi mengengam sebuah ponsel. Kemudian matanya menatap sosok tubuh yang tergeletak karena pingsan. Pecahan lampu tidur juga berserakan di dalam ruangan itu.
Taqi semakin waspada tak kala terdengar suara orang yang berjalan mendekat. Derap langkah terdengar banyak, lebih dari satu orang. Ketika suara semakin dekat, Taqi langsung masuk ke belakang pintu. Ia bersembunyi ketika pintu mulai terbuka.
"Siallll! Cari dia!" seru pria berjaket kulit dengan gelang rantai di tangannya.
Taqi menahan napas, dan saat salah satu dari mereka memeriksa pintu, reflect Taqi menendang perut orang tersebut.
BUGH ...
"Ish!" Pria itu mendesis. Ia hendak memberikan bogem pada Taqi, tapi tiba-tiba muncul sosok pria dengan cerutu khasnya.
"Berani kau menyentuhnya! Aku patahkan tanganmu!"
BERSAMBUNG
jawab iya salah jawab tidak juga berat
😭😭😭