Bagaimana perasaan mu jika kau terpaksa harus menikah muda? Terutama dengan orang yang usianya jauh lebih tua dari mu? Inilah yang terjadi dengan Clara Adeline Ferguson. Ia adalah putri tunggal keluarga Ferguson yang terkenal kaya. Papa nya juga adalah salah satu donatur terbesar sekolah SMA Citra Kirana di kota X.
Kenapa? Scandal apa yang telah dia lakukan sehingga ia harus menikah begitu dini? Ya. Jawaban nya adalah. Clara itu sangat nakal dan juga tidak pernah mendengarkan kedua orang tuanya,ia bahkan bisa di bilang anak manja dengan perilaku buruk, tidak jarang ia membuat onar di sekolah, ia bahkan selalu mendapat nilai merah di raport nya dan terancam tidak naik ke kelas tiga karena sering bolos sekolah.
Sementara itu Zidan, adalah seorang guru laki-laki termuda di sekolah SMA Citra Kirana yang katanya adalah keponakan kepala sekolah, namun identitas Zidan ini tidak lah akurat seperti sedikit tertutup dan tidak ada yang tau tentang keluarga nya kecuali sang paman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
"non Clara, uang makan nya sudah di bayar sebulan, jadi sebulan ini non Clara bebas makan apa saja tidak bayar lagi," kata pemilik kantin tersebut.
"Hah? Kok bisa?" tanya Clara kaget.
Selama ia sekolah mama dan papa nya tidak pernah ambil tau soal uang makan di kantin karena mereka akan selalu mentransfer sejumlah besar uang jajan ke rekening nya Clara, namun kejadian kali ini membuat Clara dan Nola sedikit tersentak.
"Buk, memang nya siapa yang bayar uang makan Clara?" tanya Nola ikut penasaran.
"Maaf ya non, saya tidak bisa mengatakan nya, nanti non Clara juga bakal tau sendiri," kata ibu kantin tersebut.
"Aneh banget, yaudah kita pergi ya buk," ungkap Clara yang kemudian menarik Nola pergi dari kantin sekolah.
Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah untuk kembali ke kelas.
"Clara Lo beneran gak tau siapa yang bayarin uang makan di kantin? Mana sebulan lagih, lama banget itu Lo harus rutin makan dong," kata Nola sambil tersenyum.
"Hmm, gue gak tau," jawab Clara masih memikirkan nya.
"Apa jangan-jangan ... Suam," ucap Nola terputus ketika Clara segera menutup mulut nya.
"Lo jangan asal ngomong bisa gak sih? Ini sekolah gimna kalau ada ya g dengerin kita? Gue bisa bahaya," kata Clara dengan tangan yang masih menutupi mulut Nola.
"Ah iya-iya, maaf gue lupa," kata Nola segera menyingkirkan tangan Clara dari mulut nya.
"Yaudah deh gak usah di bahas, mungkin mama atau papa gue," ujar Clara karena dia tidak ingin Nola berfikir yang tidak-tidak.
"Ya, oh iya Clara ada yang mau gur omongin nih ke elo," kata Nola dengan mata yang sedikit berbinar-binar.
"Apa?" Clara penasaran dan menoleh ke samping di mana sang sahabat sedang berjalan beriringan dengan nya.
"Menurut Lo gimna kalau gue ngungkapin perasaan gue ke pak Zidan, kira-kira dia bakal nerima gue gak ya?" Nola terlihat gila de dengan ucapan nya barusan.
Seketika Clara terdiam, dia bahkan menghentikan langkah kaki nya, membiarkan Nola berjalan mendahului dirinya.
Menyadari sahabat nya diam dan jauh tingal di belakang, Nola pun menoleh ke arah Clara. Ia kembali mundur beberapa langkah dan kemudian berdiri di hadapan Clara.
"Kenapa Lo kok berhenti sih? Gue kan lagi ngomong, masa gak ada tanggapan sama sekali," Nola menatap wajah sahabat nya dengan tatapan bingung.
"Menurut gue tindakan Lo agak berlebihan deh, mana ada seorang murid nyatain perasaan nya sama gurunya sendiri, Lo masih sehat kan?" ucap Clara sambil meraba-raba jidat Nola untuk merasakan suhu tubuh nya.
"Ishhh, apaan sih Lo, Lo aja yang ketinggalan zaman banyak tau murid nikah sama gurunya Lo doang yang gak tau," kata Nola tidak terima.
"Yaudah sih terserah Lo, tapi untung kalau di terima, kalau di tolak Lo bakal malu secara kan dia wali kelas kita," Clara melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Nola.
Sebenarnya ada perasaan aneh di hatinya setelah mendengar ucapan Nola tadi yang nekat hendak menyatakan perasaannya kepada Zidan. Bagaimana tidak, Zidan adalah suaminya. Namun Clara tidak ingin Nola mengetahui hal ini karena ia khawatir akan merusak persahabatan nya dengan Nola.
"Iya juga ya apa yang di bilangin Clara, gak gue gak bisa kayak gini, gue bisa malu anjir, dah lah," batin Nola.
Tanpa Nola menyadari kalau sekarang Clara sudah masuk ke dalam kelas.
"Woee! Clara Lo ningalin gue!" Ia kemudian berlari mengejar Clara dan masuk ke dalam kelas.
Singkat cerita jam pelajaran pun telah berakhir ...
Selama perjalanan kembali ke villa, Zidan terlihat sangat dingin, tak seperti biasanya dia selalu bicara setidaknya satu atau dua patah kata namun kali ini sama sekali tidak, raut wajah nya pun terlihat sangat datar.
"Pak, kalau misalnya ada seorang murid yang suka sama bapak, apa bapak bakal suka balik sama dia?" tanya Clara tiba-tiba memecahkan keheningan dalam mobil.
Zidan terdiam tak mengerti apa yang di maksud oleh Clara.
"Pak," lagi-lagi Clara angkat bicara.
Zidan pun memberhentikan mobilnya di pinggir jalan dan kemudian menatap Clara dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Maksud kamu?" ujar nya dingin.
"Maksud saya, kalau ada anak murid bapak yabg suka sama bapak terus ngutarain perasaan nya ke bapak apa tanggapan bapak ke mereka?" Clara mengulangi pertanyaannya kali ini terdengar lebih detail.
"Itu sudah biasa, dan ada banyak," jawab Zidan.
"Apa? Sudah biasa? Ada banyak?" ungkap Clara kaget.
"Hmm, kenapa kamu menanyakan hal ini?" ungkap Zidan lagi.
"Tidak ada, cuma penasaran aja, bukan nya bapak di sekolah banyak fans nya, jadi saya penasaran," kata Clara sambil memainkan jari-jemarinya dia terlihat gelisah dan gugup karena sudah berani bertanya seperti itu.
"Bukan nya kamu juga sama? Kamu juga punya banyak fans di sekolah, sampai-sampai ada yang menemui saya untuk marah karena saya sudah menghukum kamu kemarin," kata Zidan tanpa sengaja ia mengatakan hal tersebut.
Clara seketika membulat kan matanya, laki-laki mana yang berani menemui Zidan hanya untuk marah-marah dengan nya kerna hal sepele.
"Gak mungkin, memang nya siapa dia?" Clara semakin penasaran dan menatap Zidan dengan tatapan dalam.
"Orang yang tadi pagi meluk kamu," Zidan kembali melajukan mobilnya setelah mengatakan hal tersebut.
Setelah mendengar ucapan Zidan Clara tidak lagi berbicara sepatah kata pun, dia tau kalau orang yang di maksud oleh Zidan adalah Brayen.
"Ngapain sih kak Brayen sampai segitunya, dia gak tau apa siapa pak Zidan?" batin Clara.
Satu jam pun berlalu, kini mereka telah tiba di villa, seperti biasanya mereka langsung masuk ke kamar masing-masing.
"Kenapa aku terus memikirkan nya? Aku bahkan mengatakan hal yang tidak berguna itu," batin Zidan sambil membuka kancing kemeja nya.
Namun tiba-tiba saja perhatian nya teralihkan oleh suara dering ponsel yang ada di saku celana nya.
"Siapa lagi ini?" kata nya sambil kemudian merogoh saku untuk mengambil telpon tersebut.
Mata Zidan membulat setelah melihat nama yang tertera di ponsel itu.
"Papa?" ungkap nya dengan tatapan penuh kekhawatiran.
Dengan cepat Zidan menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan telepon tersebut.
Call on.
"Hallo pa," Zidan menempelkan ponsel tersebut ke kuping nya.
"Zidan, sudah lama kau tidak menghubungi papa, apakah kau di sana baik-baik saja? Apa semuanya berjalan sesuai keinginan papa?" Kata laki-laki dengan suara yang sedikit berat di sebrang telpon.
"Semuanya baik-baik saja, bahkan sudah di mulai, papa jangan terlalu khawatir pikiran saja kesehatan papa," ungkap Zidan sambil memelan kan suaranya.
"Bagus, papa harap kau tidak mengecewakan papa," kata orang tua tersebut yang kemudian langsung menutup panggilan telepon tersebut secara sepihak.
Tut ... Tut ... Tut ...
Call of.
Misteri apakah yang ada di dalam kisah Zidan dan Clara? Ayo jangan skip bab dan baca terus kelanjutan nya.
Next.
"Huh, setiap kali papa menelpon, jantung ku pasti akan selalu berdegup kencang," batin Zidan yang kemudian melemparkan ponselnya ke atas ranjang.
Kruuuuk ... Kruuuuk ...
Namun suara perut nya yang keroncongan membuat Zidan mengalihkan pikiran nya.
Ia segera keluar dari kamar tampa memikirkan kancing kemeja yang sudah terbuka tiga biji, dan segera menghampiri kamar Clara.
Tok ... Tok ... Tok ...
Bersambung....