Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lingkaran yang tak terjelaskan
Rasa penasaran Elfesya seperti duri yang terus menusuk benaknya. Meskipun Ravion bersikap sangat sopan dan menjaga jarak, segala kemewahan dan perhatian ini terasa terlalu berlebihan untuk sekadar "kompensasi perusahaan".
Sore itu, saat Ravion belum pulang dari kantor dan Elric sedang berada di sekolah, Elfesya memberanikan diri untuk menggeledah laci meja kecil di samping tempat tidurnya. Ia merasa ada sesuatu yang janggal dengan kamar ini. Kamar ini terlalu siap untuk kehadirannya.
Tangannya meraba ke bagian dalam laci yang gelap, dan jarinya menyentuh sebuah benda kecil yang keras. Ia menariknya keluar.
Sebuah cincin.
Cincin emas putih dengan desain minimalis namun elegan, bertahtakan satu butir berlian kecil yang berkilau jernih. Elfesya terpaku. Ia merasa denyut di kepalanya semakin kuat. Ingatannya yang samar mencoba menarik sebuah bayangan tentang jari seseorang yang menyematkan cincin itu, namun bayangan itu selalu pecah sebelum ia bisa melihat wajahnya.
Ia segera keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang kerja Ravion yang pintunya sedikit terbuka. Di atas meja kerja, ia melihat sebuah kotak perhiasan terbuka yang isinya kosong—mungkin tempat asal cincin yang ia pegang. Namun, perhatiannya teralih pada tangan Ravion yang tertangkap dalam sebuah foto di meja kerja itu.
Di jari manis pria itu, melingkar sebuah cincin yang sangat mirip. Sebuah cincin pria dengan desain yang serasi dengan yang ia temukan.
"Kenapa Bapak punya cincin yang sama dengan yang ada di laci saya?" gumam Elfesya, suaranya bergetar.
Tepat saat itu, suara pintu depan terbuka. Ravion masuk dengan wajah lelah, namun matanya langsung mencari keberadaan Elfesya. Saat ia melihat istrinya berdiri di depan meja kerjanya sambil memegang cincin itu, langkah Ravion terhenti. Jantungnya berdegup kencang.
"Elfesya... apa yang kamu lakukan di situ?" tanya Ravion, suaranya terdengar sangat hati-hati.
Elfesya berbalik, menunjukkan cincin itu di telapak tangannya. "Pak Ravion, tolong jujur pada saya. Kenapa benda ini ada di kamar saya? Dan kenapa Bapak memakai cincin yang hampir sama?"
Ravion terdiam cukup lama. Ia melihat tangan Elfesya yang gemetar. Ia tahu jika ia berbohong terlalu jauh, kepercayaan Elfesya akan hilang selamanya jika suatu saat ingatannya kembali. Namun, ia juga ingat peringatan dokter.
"Itu... itu milik mendiang ibuku," dusta Ravion, namun kali ini suaranya tidak selugas biasanya. "Aku menyimpannya di sana karena kamar itu dulu adalah kamar pribadiku yang paling berharga. Dan cincin yang kupakai ini... hanya sekadar aksesoris untuk menenangkan diriku."
Elfesya menggelengkan kepala, matanya mulai berkaca-kaca karena frustrasi. "Bapak bohong. Bapak yang saya kenal dulu tidak pernah menatap saya selembut ini. Bapak yang saya ingat adalah pria yang sering menghina saya, menyebut saya tidak kompeten, bahkan memarahi saya hanya karena masalah sepele di kantor. Mana mungkin pria yang sama sekarang membawa saya ke apartemen mewahnya, membayar sekolah adik saya, dan menyimpan cincin di kamar saya?"
Ravion melangkah mendekat, perlahan namun pasti. "Orang bisa berubah, Elfesya. Terutama setelah mereka menyadari bahwa mereka hampir kehilangan hal paling berharga dalam hidup mereka."
"Tapi saya bukan siapa-siapa bagi Bapak! Saya hanya sekretaris!" seru Elfesya. "Kenapa Bapak terlihat begitu hancur setiap kali menatap saya? Kenapa seolah-olah ada beban berat di pundak Bapak saat saya memanggil Bapak dengan sebutan 'Pak'?"
Ravion berdiri tepat di depan Elfesya. Ia ingin sekali mengambil cincin itu, memasangkannya kembali ke jari manis Elfesya, dan mencium keningnya sambil berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, ia hanya sanggup menatap mata Elfesya yang penuh kebingungan.
"Mungkin karena aku sedang mencoba menebus dosa-dosa masa laluku, Elfesya," ucap Ravion lirih. "Termasuk dosa-dosa saat aku menghinamu dulu. Aku tidak butuh kamu mengingat semuanya sekarang. Aku hanya butuh kamu percaya bahwa di rumah ini, kamu aman. Tidak akan ada lagi yang berani menyentuh atau menghinamu."
Elfesya menatap cincin di tangannya, lalu menatap Ravion. Logikanya menolak, namun hatinya merasakan getaran yang sangat kuat—sebuah rasa rindu yang ia sendiri tidak tahu berasal dari mana. Ia meletakkan kembali cincin itu di atas meja kerja Ravion dengan gerakan kaku.
"Saya akan mencoba percaya, Pak. Tapi tolong... jangan buat saya merasa seperti orang asing di hidup saya sendiri," ucap Elfesya sebelum ia berjalan melewati Ravion masuk kembali ke kamarnya.
Ravion menatap cincin itu, lalu menatap punggung Elfesya yang menjauh. Ia mengepalkan tangannya di jari manisnya yang dilingkari cincin pernikahan mereka. Siksaan ini terasa jauh lebih berat daripada bekerja di bawah terik matahari pesisir. Ia memiliki Elfesya di hadapannya, namun jiwanya terasa ribuan mil jauhnya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...