NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:31.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

Tristan melangkah lebar membelah keheningan yang mencekam. Matanya berkilat murka, namun bukan tertuju pada Ananda, melainkan lurus menatap Bella. Dengan gerakannya yang protektif dan juga tegas, Tristan merengkuh bahu Ananda yang basah kuyup, menarik tubuh sekretarisnya itu ke dalam perlindungannya sembari melempar tatapan menghunus ke arah Bella.

"Enyahlah kau dari sini! Dan jangan pernah lagi kau berani menginjakkan kakimu di perusahaan Bratadikara!" perintah Tristan mutlak dengan suaranya yang menggelegar, tidak menerima bantahan apa pun.

Nyonya Mutia yang berdiri di samping mereka hanya bisa terdiam dengan wajah pias. Ia tidak bisa berbuat banyak untuk membela Bella, karena ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana rusaknya meja kerja Ananda akibat siraman air dan bagaimana brutalnya tindakan Bella di area kantor.

Tristan menoleh ke arah ibunya dengan senyum sinis yang sarat akan kekecewaan. "Mamah lihat sendiri kan kelakuan calon menantu kesayangan Mamah ini? Dia telah membuat onar di perusahaan ini dan dengan lancang melukai sekretarisku!"

Dengan wajah yang teramat kesal dan menanggung malu, Nyonya Mutia akhirnya berbalik. "Ayo pergi, Bella," ajaknya dingin.

"Tante... tapi aku hanya ingin memberikan wanita penggoda itu pelajaran yang setimpal!" rengek Bella dengan air mata yang mulai berlinang, mencoba mencari pembelaan.

"Sudahlah, Bella! Sebaiknya kita pergi sekarang dan jangan memperpanjang masalah lagi!" potong Nyonya Mutia dengan nada jengkel yang tidak bisa disembunyikan.

Bella pun terpaksa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dadanya sesak oleh rasa dongkol karena sama sekali tidak mendapatkan pembelaan dari ibunya Tristan. Dengan langkah tertatih dan rambut yang masih acak-acakan, ia mengekor di belakang Nyonya Mutia menuju lift VIP.

Begitu kedua wanita itu menghilang di balik pintu lift, Tristan langsung menoleh ke arah asisten pribadinya yang masih syok. "Kevin! Cepat siapkan kotak P3K dan cari pakaian ganti yang layak untuk Ananda sekarang juga!"

"B...baik, Tuan!" Sahut Kevin sigap dan langsung berlari melaksanakannya.

Tristan kemudian menuntun Ananda masuk ke dalam ruangan CEO yang luas. Tubuh Ananda masih sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena sisa adrenalin dan amarah yang meletup-letup akibat pertarungan sengit dengan Bella tadi.

Tristan mendudukkan Ananda di sofa, lalu berlutut di hadapannya dengan raut wajah yang dipenuhi rasa cemas yang teramat sangat. "Kamu tidak apa-apa, Nanda? Ada yang terluka?"

Ananda menggelengkan kepalanya pelan. Jari-jemarinya yang masih sedikit gemetar bergerak merapikan beberapa helai rambutnya yang berantakan dan menempel di wajah akibat basah. "Saya tidak apa-apa, Tuan."

Tristan beranjak sejenak, lalu kembali dengan membawa selembar handuk putih bersih yang tebal dari dalam ruangan istirahat pribadinya. Ia menyodorkannya ke hadapan Ananda. "Ambil ini. Bersihkan dirimu dan ganti pakaianmu di kamar mandi yang ada di dalam ruangan pribadiku."

Ananda menatap handuk itu datar, lalu mendongak menatap Tristan dengan tatapan dingin yang sarat akan penolakan. "Tidak usah, Tuan. Terima kasih. Nanti juga pakaian saya akan kering sendiri dengan AC kantor."

Mendengar penolakan keras yang keluar dari bibir Ananda di saat kondisinya sedang basah kuyup dan memprihatinkan seperti ini, ego dan kemurkaan Tristan seketika tersulut. Ia tidak suka dibantah, apalagi menyangkut keselamatan wanita yang dicintainya.

Tanpa aba-aba atau peringatan apa pun, Tristan maju mendekat. Ia menyusupkan kedua lengan kekarnya di bawah lutut dan punggung Ananda, lalu dengan gerakan kilat membopong tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.

"Kyaaaa! Apa yang Anda lakukan?! Lepaskan saya, Tuan Tristan!" jerit Ananda histeris, spontan memukul dada bidang Tristan dengan kedua tangan kecilnya. Ia terkejut setengah mati atas tindakan nekat atasannya.

Namun, Tristan sama sekali tidak menghiraukan jeritan maupun dan berontakan dari Ananda. Langkah kakinya tetap kokoh, membawa tubuh basah Ananda dalam dekapan eratnya melangkah lebar masuk ke dalam kamar istirahat pribadinya, menuju sebuah kamar mandi mewah berdinding marmer yang berada di dalam sana.

Begitu Tristan menurunkan kakinya Ananda di atas lantai marmer kamar mandi, Ananda langsung merenggut handuk dari tangan Tristan dan bergegas masuk ke dalam, lalu mengunci pintunya rapat-rapat. Jantungnya bertalu-talu di dalam rongga dadanya.

"Sialan... Sebenarnya ada apa dengan monster itu? Kenapa sikapnya hari ini aneh dan agresif sekali?" bisik Ananda panik, bersandar pada pintu kayu tebal sembari mencoba menenangkan deru napasnya.

Sementara itu di ruang utama, Kevin akhirnya kembali dengan napas tersengal-sengal. Tangan kanannya menenteng kotak P3K, sedangkan tangan kirinya membawa sebuah paper bag berisi pakaian wanita yang buru-buru ia beli di butik lantai dasar mall kantor.

"Tuan, semoga pakaian ini cocok untuk Nanda!" ucap Kevin seraya melangkah masuk ke dalam area kamar tidur pribadinya Tristan, mengikuti arahan tuannya. Namun, Kevin langsung mengedarkan pandangan dengan bingung.

‘Loh, si Nanda kemana? Kok gak ada? Masa lenyap ditelan bumi?’ batinnya heran.

Tristan yang sedang bersedekap dada di dekat ranjang tempat tidur langsung menyambar paper bag dan kotak P3K dari tangan Kevin. "Ya sudah, sekarang kau boleh keluar. Jangan masuk sebelum aku perintahkan dan ingat, aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun!"

"B...baik, Tuan!" Akhirnya Kevin pun berbalik pergi dengan sejuta pertanyaan di kepalanya, merasa aneh karena tidak menemukan keberadaan sang sekretaris.

Setelah memastikan Kevin keluar, Tristan melangkah mantap menuju pintu kamar mandi. Ia mengetuk permukaannya beberapa kali. Ketukan itu sukses membuat Ananda yang di dalam dan kini hanya terlilit handuk putih sebatas dada terkejut setengah mati.

"Nanda, ini pakaian ganti untukmu. Bisa kau buka pintunya?" seru Tristan dari luar.

Ananda menggigit bibir bawahnya, menatap nanar ke arah daun pintu. "Aduh, gawat... Masa iya aku harus keluar dengan hanya memakai handuk saja di hadapan pria mesum itu?" ucapnya gugup setengah mati.

Setelah menimbang beberapa saat, Ananda akhirnya memutar kunci. Ia membuka sedikit celah pintu kamar mandi. Tubuhnya bersembunyi aman di balik pintu, dan hanya tangan kanannya yang terjulur keluar untuk meraih pakaian.

Melihat pemandangan itu, seulas senyum nakal dan penuh arti terbit di wajah tampan Tristan.

‘Aku sudah tahu setiap jengkal lekuk tubuhmu, Itik. Dan momen panas enam tahun yang lalu di hotel Permata tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku,’ batin Tristan bergejolak penuh kerinduan.

Tristan menyerahkan pakaian itu ke arah tangan Ananda, dan begitu pintu kembali ditutup rapat, ia melangkah mundur lalu duduk menunggu di tepi ranjang king size miliknya.

Tak lama berselang, pintu kamar mandi kembali terbuka. Ananda melangkah keluar. Ia kini telah mengenakan dress polos berwarna hitam selutut yang pas di tubuhnya. Rambutnya yang sedikit lembap dibiarkan tergerai pasrah. Penampilan sederhana itu justru membuat Ananda terlihat begitu cantik, anggun, dan teramat menawan di mata Tristan.

Tristan sempat terpaku selama beberapa detik, mengagumi keindahan ciptaan Tuhan di hadapannya sebelum akhirnya berdehem kecil untuk mengendalikan diri. Ia menepuk sisi kasur kosong di sebelahnya, lalu membuka kotak P3K.

"Duduk di sini."

Entah karena suasana kamar yang begitu mengintimidasi atau karena tubuhnya yang masih lemas, Ananda mendadak patuh. Tanpa banyak bicara, ia melangkah mendekat dan mendudukkan diri di sampingnya Tristan, meski tetap menjaga jarak beberapa senti.

Tristan meraih botol antiseptik dan kapas. Sembari menyiapkan obat, ia melirik Ananda dengan binar geli. "Kau berani juga membalas Bella tadi. Aku suka caramu memperlakukan wanita ular itu, Nanda... Kenapa tadi tidak sekalian kau cekik saja lehernya?"

Ananda langsung melirik Tristan dengan tatapan tajam. ‘Perkataan macam apa ini? Dia ini sedang memujiku atau sengaja menyindirku? Dasar bos monster gila!’ umpat Ananda dalam hati, tetap memilih bungkam.

Namun, begitu kapas beralkohol itu hampir menyentuh kulitnya, Ananda meringis kesakitan. Di leher putihnya terdapat beberapa bekas luka cakar yang memerah, dan hantaman tamparan Bella tadi meninggalkan luka kecil yang sedikit berdarah di sudut bibirnya. Saat Ananda refleks menarik tubuhnya menjauh karena enggan diobati, Tristan langsung memasang wajah tegas. Ia menggunakan kekuasaan mutlaknya untuk menekan wanita di hadapannya.

"Berani menentang perintahku untuk diam, detik ini juga kau akan aku pecat dari perusahaan ini!" ancam Tristan dingin.

Ananda hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar. Ancaman itu selalu berhasil membuatnya mati kutu. Akhirnya, ia membiarkan jemari kokoh Tristan dengan amat perlahan dan telaten mengobati luka cakar di area lehernya.

Setelah selesai dengan urusan leher, atensi Tristan kini beralih sepenuhnya pada wajah Ananda. Ia memajukan tubuhnya, menatap lekat-lekat luka kecil di sudut bibir ranum sang sekretaris. Jantung Tristan berdegup kencang, ia menelan ludah dengan susah payah saat jarak mereka mengikis. Rasa ingin merengkuh dan mencium bibir merah muda yang sedikit terbuka itu membakar jiwanya.

‘Harusnya tadi kau mendapatkan ciuman panas dariku di sofa luar, bukannya luka tamparan sialan seperti ini!’ batin Tristan mengeluh kesal pada gangguan ibunya tadi.

"Sshh..." Ananda meringis perih saat kapas itu menyentuh sudut bibirnya.

Melihat Ananda kesakitan, Tristan secara refleks mendekatkan wajahnya lalu meniup luka tersebut dengan lembut.

Fuuu...

Hembusan napas hangat beraroma maskulin milik Tristan terasa begitu nyata menerpa kulit wajahnya Ananda. Untuk kedua kalinya hari ini, Ananda terpaku total. Jantungnya berdegup luar biasa kencang hingga dadanya naik turun dengan cepat. Tatapan mata Tristan yang berada tepat di depan wajahnya kini mengunci seluruh raganya, tatapan yang begitu tajam, namun sarat akan kehangatan dan damba yang mendalam.

Tristan tidak bisa menahannya lagi. Sisi dominan dan kerinduan selama enam tahun mengalahkan akal sehatnya. Ia memiringkan wajahnya, lalu dengan berani menempelkan bibir tegasnya di atas bibir ranum Ananda.

"Emmph....!"

Ananda yang terkejut setengah mati sempat memberontak. Tangan kecilnya mendorong bahu kokoh Tristan. Namun, Tristan justru mempererat kurungan tangannya di pinggang Ananda, menarik tubuh wanita itu tanpa jarak dan langsung melum4t bibir manis itu tanpa ampun. Tristan menciumnya dengan rakus, meluapkan seluruh rasa dahaga dan siksaan rindu yang ia pendam selama setengah dekade lebih.

Ananda terus memukul dada Tristan, namun dalam hitungan detik berikutnya, ritme ciuman Tristan perlahan berubah. Lumat4n rakus itu berganti menjadi sebuah kecupan yang teramat lembut, dalam, dan penuh perasaan yang memabukkan. Sentuhan lembut itu seolah menghantarkan sengatan listrik yang melumpuhkan akal sehatnya Ananda.

Perlahan, pertahanan Ananda runtuh. Ia seolah tersihir dan terbawa oleh atmosfir panas yang diciptakan Tristan. Pukulan di dada Tristan perlahan mengendur, berubah menjadi remas4n pelan pada kemeja sang bos. Tanpa sadar, Ananda menutup matanya rapat-rapat dan mulai membalas lumat4n lembut Tristan, ikut menikmati pagut4n magis yang menyatukan kembali rasa yang sempat hilang di masa lalu.

Bersambung...

1
Nar Sih
hahaha kasihan kmu vin ,lihat merka ciuman jdi ternoda deh😂😂
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Nar Sih
gak ush dgr kta orang nanda ,anggap aja angin lalu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
kasian Kevin layu sebelum berkembang ya vin, udah sm aku aj ya 🤭🤭🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, blatung nangka... pecicilan ya kak si Kevin 😂😂😂
total 3 replies
Nar Sih
pasti sdh gk sbr ingin ketemu terus dgn putra mu juga pujaan hti mu ya tristan☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak🤭
total 1 replies
Nar Sih
kini satu maaf sdh kau dpt tristan dri ibu mila tinggal langkah selanjut nya💪
Nar Sih
gak usah dgr kata orang nanda ,yg penting diri kita
Nar Sih
alhamdulilah sdh terungkap semua☺️
Lilis Ilham
ahirnya tercapai juga cinta pertama😍😍😍
Lilis Ilham
aku ada disini tuan Tristan😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
tetangga kepo, tukang ngerumpi ga ada kerjaan bgt
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: berarti gk dimana-mana ya kak, malah sekarang sudah trend bapak-bapak ikut jadi tukang gosip juga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Ilfa Yarni
hahahaha terciduk kalian kasian kevin patah hati sebelum berkembang hahaha
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr 😘😘😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lanjut besok ya kak 😉
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh mulai dah pada julid, bilang aj iri sm Nanda ya ibu ibu
Teh Euis Tea
Nanda mirip ayu Ting Ting klu LG meluk Tristan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, kok bisa 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh lagi lagi si Bella biang keroknya, enaknya di gantung x ya biar kapok
Teh Euis Tea
ada rahasia apa si dre? jd penasaran ini
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kak gpp, ikh selow aja sama aku mah 😉😊
total 3 replies
Nar Sih
semoga dgn kejujuran dan terbongkar nya mslh ini nanda bisa memaaf kan semua
Nar Sih
mkin pensaran dgn rahasia yg kau simpan andre
Nar Sih
semoga ini pertemuan yg akan membawa ananda dan putra nya bahagia
Dartihuti
Ciieee...yang udah dapat sama" buka diri aaa ...lega,ttp ti ati cr bukti gimana busuknya si Bello😄🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!