🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.
Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.
"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."
Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.
Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?
Yuk, cari jawabannya di sini 🍀
°°°°°°°°
Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26. Tamu di sore hari (1)
Menjelang magrib, suasana rumah Galang yang ada di daerah Tarogong mulai ramai.
Udara Garut terasa dingin setelah hujan sore tadi. Halaman rumah yang masih sedikit basah memantulkan cahaya lampu teras berwarna kuning hangat. Dari dapur terdengar suara panci dan aroma liwetan mulai memenuhi rumah. Nasi hangat, ayam goreng ketumbar, tumis kangkung dan genjer, sambal dadak, lalapan seperti timun, kemangi dan daun poh-pohan, tumis peda di campur petai, ikan goreng, lalu ada goreng tempe dan tahu yang sejak tadi dimasak Sekar.
Hari itu beberapa rekan sejawat Galang memang berniat datang.
Awalnya hanya ingin melayat almarhumah ibunya yang belum sempat mereka datangi karena jadwal rumah sakit yang padat. Namun entah sejak kapan rencananya berubah jadi makan bersama sederhana di rumah Galang.
[ Dokter anestesi paling susah di ajak nongkrong akhirnya buka rumah juga ]
Kata salah satu dokter di grup mereka tadi siang.
Galang sendiri sebenarnya tidak terlalu suka rumahnya ramai. Tetapi entah kenapa ia tidak keberatan hari ini.
Dari luar terdengar suara mobil-mobilan diseret di lantai teras.
Faiz.
Anak kecil dua tahun kurang dua bulan itu sejak semalam dititipkan di rumah mereka karena Teh Mila sakit dan A Ridwan sedang dinas diluar kota. Sedari siang bocah itu sibuk bermain sendiri di teras rumah.
Galang melirik ke luar jendela.
"Faiz!" serunya. "Jangan lari-lari!"
"Iyaaaa Om Galang!!!"
Lima detik kemudian suara langkah kecil berlari kembali terdengar.
BRUK
Anak itu jatuh tersandung kakinya sendiri. Galang gegas berlari dan menggendong anak itu, Sekar berlari kecil ke ambang pintu-- khawatir.
"Faiz kenapa?" tanya Sekar.
"Jatuh," jawab Galang seraya membawa anak itu dan berjalan ke halaman rumah.
Anak itu berhenti menangis ketika Galang menunjuk ada serangga yang menempel di tanaman hias.
Sekar memperhatikan Galang, anak kecil itu langsung diam. Air matanya masih tertinggal di kedua pipi bakpaonya, Galang menyeka air mata keponakannya dengan penuh kasih sayang.
"Jagoan jangan nangis, liat tuh! Belalangnya terbang ke pohon lengkeng!" seru Galang.
Sekar tersenyum.
Lalu kemudian Sekar kembali ke dapur. Kali ini menyiapkan sop buah yang sudah di bikinnya tadi siang, lalu menyiapkan dua puluh gelas belimbing di karpet yang sudah Galang gelar di teras rumah yang luas. Lalu menyimpan beberapa di dalam, kata Galang ada rekan wanita yang berjumlah enam orang.
Sejak pagi, Galang sudah memindahkan meja dan sofa ruang tamu ke ruang tengah. Jadi ruang tamu di gelar karpet agar tamu perempuan duduk di sana.
Dus air mineral sudah tersedia di pojok, toples camilan sudah di atur Galang barusan. Sekar kembali ke dapur untuk mengangkat ikan goreng terakhir.
Dari dapur, Sekar mengintip sedikit ke arah halaman ketika suara mobil dan kendaraan motor mulai terdengar memasuki halaman rumah luas, satu mobil masuk halaman rumah, satu lagi di luar, sedangkan beberapa motor terlihat di atur masuk oleh Galang.
"Mereka sudah datang?" ucapnya kepada dirinya sendiri.
Lampu mobil menyorot halaman rumah sederhana itu sesaat sebelum satu per satu kendaraan berhenti.
Pintu mobil terbuka.
Beberapa dokter dan perawat turun sambil bawa buah tangan. Suasana langsung ramai oleh suara obrolan dan candaan khas rekan kerja rumah sakit.
"Buset, rumah dokter Galang adem juga."
"Wah view gunung Guntur kelihatan dari sini."
"Tolong ini desa vibes banget," seru salah satu perawat perempuan seraya mengeluarkan ponselnya.
Di antara mereka, Melisa Wulandari turun paling heboh.
Ia langsung menunjuk rumah Galang dramatis.
"AKHIRNYA GUE SAMPAI DI RUMAH CALON SUAMI!"
"HUUUUUUU!!!" seru yang lain.
Galang yang waktu itu mengenakan kaus santai berwarna hijau botol dan sarung langsung berdeham.
"Pulang aja sana!" seru Galang.
Melisa malah tertawa puas.
"Turun..." rengek anak itu seraya menggerakkan kedua kakinya.
Galang menurunkan keponakannya itu seraya mengelus pucuk kepalanya penuh kebapakan membuat semua orang melongo.
"Bilang sama tante suruh ke sini ya," bisik Galang.
Gegas anak itu mengangguk dan berlari ke rumah.
"Jangan lari-lari, nanti jatuh lagi!" seru Galang.
Tak jauh di belakang perawat dan dokter lainnya, Arif Ramdan Nugraha ikut turun dari mobil dengan langkah santai. Kemeja hitam lengannya tergulung rapi sampai siku. Tidak lagi memakai scrub operasi seperti di rumah sakit, tetapi auranya tetap mencolok.
Jujur saja, awalnya Arif tidak berniat ikut.
Namun Melisa memaksanya.
"Kak Arif harus ikut lah! Biar kenal anak-anak IBS juga."
Dan sekarang ia berdiri dihalaman rumah Galang sambil mengamati suasana sekitar yang terasa hangat dan sederhana.
Sementara itu seorang laki-laki berkacamata menghampiri Galang sambil tertawa lebar.
Ardi Pratama.
Sahabat Galang sejak masa koas.
"Anjir akhirnya nongol juga lu," kata Ardi sambil memukul pelan bahu Galang. "Gue kira rumah lu cuma mitos."
"Btw, anak siapa tadi?" lanjut Ardi.
Galang mendengus kecil. "Masuk aja."
Ardi baru hendak membalas ketika langkah pelan terdengar dari arah pintu rumah.
Sekar keluar sembari menggendong Faiz yang memeluk lehernya erat.
"A semuanya udah siap--"
Kalimatnya terpotong.
Karena hampir bersamaan, semua orang di halaman otomatis menoleh ke arahnya.
Galang meraih Faiz dari gendong melihat gadis itu terlihat lelah karena seharian menyiapkan menu.
Sekar mengenakan blouse panjang warna cokelat susu dengan rok senada dan hijab pashmina sederhana yang membuat wajahnya terlihat lembut di bawah cahaya lampu teras.
Dan selama beberapa detik, suasana menjadi hening.
Ardi berkedip, "Lang, ini teteh cantik yang gue ceritain kemarin. Sepupu Lo kan?" tanya Ardi seraya menoleh ke arah Galang yang tengah memangku Faiz, lalu kembali ke Sekar.
"Eh, teteh inget saya kan? Jumat kemarin kita bertemu di lobi?" tanya Ardi seraya menunjuk dirinya sendiri.
Sekar mengangguk sopan seraya tersenyum, Galang melirik gadis itu.
"Ini, Sekar...istri saya." Ucap Galang lugas memperkenalkan Sekar kepada teman sejawatnya.
DEG!
Suasana halaman langsung pecah.
"Hah?"
"Astaga?!"
"DOKTER GALANG UDAH NIKAH?!"
"SEJAK KAPAN?!"
Melisa yang sejak tadi paling berisik sekarang langsung membeku di tempat, ia melirik perempuan anggun nan cantik itu. Namun entah kenapa, wajah itu terasa familiar.
Sedangkan Ardi sampai melotot tak percaya.
"LU NIKAH?" teriaknya hampir tidak sopan.
"KAPAN?!"
Galang melirik Sekar sekilas lalu menjawab pertanyaan sahabatnya dengan nada seperti biasanya.
"Beberapa Minggu lalu, mungkin udah mau sebulan."
"BEBERAPA MINGGU DAN LU DIEM AJA?!"
"Sorry." Jawab Galang datar.
Faiz tampak mulai bosan.
"YA TAPIKAN!--" Ardi menunjuk tangan Galang panik. "Nggak ada cincin! Nggak ada kabar! Nggak ada undangan! Tahu-tahu punya istri."
Yang lain ikut ribut.
"Gue kira Dok Galang bakal jomblo abadi."
"Pantes tiap di telpon Dok Melisa kabur terus."
Sekar teringat akan nama Melisa di layar ponsel suaminya. Gadis itu melirik perempuan yang sejak tadi diam, terlihat pucat.
"Anjir ini plot twist."
"Terus ini anak siapa? Jangan bilang Lo..."
Galang menggetok jidat sahabatnya, " otak lu mulai gesek ya Di. Ini faiz, anak Teh Mila. masa Lo lupa anak yang di bantuin Lo pas teh Mila lahiran."
"Heh? Seriusan udah segede ini?" tanya Ardi menoleh ke arah faiz.
Sedangkan Sekar yang belum sadar dengan keberadaan Arif sejak tadi tetap tersenyum sopan.
"Kalau begitu, mari masuk. Udah mau gelap, biar enak ngobrolnya di rumah." Ujar Sekar.
"Maaf, rumahnya sederhana." Lanjut Sekar.
"NGGAK SEDERHANA NENG...EH...TEH... KITA YANG KAGET!" sahut Ardi spontan.
Beberapa orang langsung tertawa lagi.
Galang melirik Sekar sekilas.
Tatapan laki-laki itu tanpa sadar sedikit melunak melihat istrinya berdiri di sampingnya seperti itu.
Natural.
Tenang.
Seolah memang tempatnya di sana.
Dan saat itulah--
Sekar akhirnya mengangkat pandangannya lebih jauh.
Matanya bertemu seseorang di barisan belakang.
Tubuhnya langsung membeku.
Arif Ramdan Nugraha berdiri beberapa langkah dari yang lain. Tatapan pria itu terlihat sama terkejutnya.
Untuk beberapa detik dunia di sekitar Sekar seperti mengecil. Suara tawa dokter mendadak terdengar jauh.
Arif memandang Galang, lalu kepada Sekar. Lalu kembali lagi ke Galang. Dan perlahan potongan-potongan kejadian beberapa Minggu lalu mulai tersusun di kepalanya.
Sandwich di hari Jumat yang sempat ia cicipi sangat familiar di lidahnya, potong buah kiwi dan buah naga yang di potong sedemikian rupa sangat familiar di dalam ingatannya.
Sampai akhirnya satu kenyataan menghantam tepat di dada Arif.
Ternyata kecurigaanku selama ini terhadap Galang benar adanya. Batinnya berbisik, matanya tetap terkunci pada wanita yang beberapa tahun lalu menghilang dari Jakarta.
Dan pria selama beberapa hari berada di ruang operasi, dokter anestesi yang tenang itu ternyata suami dari wanita yang selama ini ia cari, suami dari wanita yang mengirimkan cincin pertunangannya beberapa tahun lalu.
Sedangkan di samping Galang, Sekar berdiri diam dengan wajah yang perlahan kehilangan warna.
°°°°°°°°°°°°°°
Wah....
Ternyata dokter Arif kita selama ini nyari-nyari Sekar👈
Tunggu kelanjutannya, jangan lupa komen, like, vote, dan subscribe.
Bersambung...