Krystal, reinkarnasi Naga Es yang melupakan 98 kehidupan lamanya, tumbuh menjadi putri terbuang Kekaisaran Aethermoor. Dibuang ke Istana Aquamarine sejak usia tiga tahun oleh ibu yang dimanipulasi sihir, ia ditemani Mira dan dilindungi Eros—Dewa Nafsu yang menjadikannya calon istrinya. Kecantikannya memikat, namun hatinya rapuh akibat trauma penolakan. Ia membangun Proyek LadyBug untuk menghancurkan Ratu Seraphina dari dalam, merekrut para jenius terbuang sebagai senjata rahasia. Ketika Eros menolaknya demi kesucian, egonya hancur; ia nekat memeluk Hyal hingga batuk darah, menyadari racun berkat sang kakaklah yang menyiksanya. Kini di tanah Herkimer, Krystal bangkit—lebih dingin, lebih licik, dan bertekad menggulingkan takhta dengan tangannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
*Kriet... Kriet*...
Langkah kaki kuda-kuda yang tangguh akhirnya menapak di atas jalan utama yang halus milik Ibukota Emeralda-Provinsi Emerald. Krystal yang duduk di dekat jendela gerbong kereta tak bisa menyembunyikan binar kagum di matanya.
Provinsi Emerald benar-benar sebuah anomali yang indah. Jika di Provinsi Ruby atmosfer terasa ganjil dan mencekam, di sini segalanya terasa begitu hidup, bersahabat, dan tertib. Jalan utama yang sangat luas dibagi dengan luar biasa jenius oleh pemimpin wilayah: jalur kereta dua arah yang teratur di bagian tengah, trotoar lebar khusus pejalan kaki, dan lapak-lapak pedagang yang berjejer rapi di pinggir jalan tanpa mengganggu lalu lintas.
"Wah, ramai sekali! Kak Elen, lihat lentera-lentera itu!" seru Laura kecil dengan riang, menempelkan hidungnya ke kaca jendela gerbong.
"Iya, Laura. Kota ini sedang menyambut Festival Purnama," sahut Elenoir dengan senyum lembut yang kini tampak jauh lebih segar.
Festival di ibukota diadakan setiap bulan selama tiga hari penuh—sehari sebelum purnama hingga sehari sesudah purnama berbeda dengan kota lain di provinsi itu yang hanya mengadakan sehari—saat bulan purnama saja. Lentera-lentera dari anyaman bambu berwarna hijau zamrud tergantung cantik di sepanjang jalan, bergoyang pelan ditiup angin sore, siap memancarkan pendar hangat saat matahari terbenam nanti.
Sorento mengarahkan kereta kuda mereka menuju sebuah \**homestay*\* yang telah dipesan sebelumnya. Rumah itu bergaya klasik tiga tingkat dengan fasilitas yang terbilang mewah untuk ukuran pelancong: memiliki kandang kuda yang bersih di bagian belakang, lima kamar tidur yang nyaman, serta sebuah \**rooftop*\* luas yang menyajikan pemandangan seluruh cakrawala kota Emeralda dari ketinggian.
Setelah selesai menata barang-barang mereka ke kamar masing-masing, Krystal langsung meregangkan kedua tangannya dengan penuh semangat. Energi pemurnian dari batuan alami Emerald yang tertanam di fondasi kota ini benar-benar membuat jiwanya terasa ringan.
"Mira, Elenoir, Laura! Ayo kita keluar," ajak Krystal dengan mata berbinar-binar. "Sore hari seperti ini adalah waktu terbaik untuk berburu jajanan festival!"
Mira langsung menyambut ajakan itu dengan kepalan tangan penuh tekad, sementara Elenoir sempat ragu sejenak sebelum akhirnya mengangguk setelah melihat binar memohon dari adiknya, Laura.
Eros yang sejak tadi duduk bersandar di dekat perapian kosong perlahan bangkit. Ia menatap Krystal dengan pandangan lembut, lalu beralih kepada Sorento. "Tempat ini aman dari jaring sihir Ratu, tapi aku masih memiliki beberapa urusan yang harus diselesaikan. Sorento, aku minta tolong padamu untuk menjaga mereka selagi berjalan-jalan."
"Serahkan padaku, Eros," jawab Sorento tegas, menepuk dada kirinya dengan bangga. Sebagai mantan ksatria yang beralih menjadi pelaut, ia merasa ini adalah saatnya memberikan kontribusi nyata setelah merasa tidak berguna saat insiden penculikan di Ruby kemarin.
Krystal mendekati Eros, membenarkan letak kerah jubah pria itu dengan gerakan natural yang sangat manis. "Jangan terlalu lama. Kalau kau telat, aku tidak akan menyisakan kue beras emerald untukmu," bisiknya dengan seringai menggoda yang sukses membuat telinga Eros kembali merona tipis.
"Aku akan kembali sebelum lentera pertama dinyalakan," jawab Eros cepat, buru-buru berbalik dan melangkah pergi demi menyembunyikan wajahnya yang salah tingkah. Sebenarnya, urusan yang dimaksud Eros adalah urusan dewa.
Satu jam berlalu dengan cepat. Setelah menyelesaikan urusan dewa-nya di titik tertinggi kota, Eros turun kembali ke dunia manusia. Ia melangkah memasuki sebuah gang sepi yang terletak persis di sebelah \**homestay*\* tempat mereka menginap.
Suasana gang itu cukup temaram karena matahari sudah mulai tenggelam di balik cakrawala Barat. Eros menghentikan langkahnya di bawah bayangan sebuah dinding batu, bersiap untuk merapikan sihir penyamarannya yang sempat agak mengendur akibat benturan energi dewa tadi.
Namun, tepat sebelum ia sempat merentangkan jarinya—
\**Puk*!\*
Sebuah tepukan yang tidak terlalu kuat, namun sarat akan kehangatan yang familier, mendarat dengan santai di pundak tegap sang Dewa Nafsu dari arah belakang.
"Kau Eros, kan? Apa kau ke sini karena festival bulan purnama? Apa kabar orang tuamu di Biov?"
Suara itu terdengar parau, tua, namun memiliki wibawa yang teramat besar dan bergaung dengan nada akrab yang kental.
Eros seketika membeku. Instingnya tidak menangkap adanya niat membunuh, namun fakta bahwa ada seorang manusia yang bisa mendekatinya tanpa ia sadari sepenuhnya benar-benar mengejutkan. Dengan gerakan perlahan, Eros membalikkan badannya. Begitu matanya menangkap sosok di hadapannya, mata Eros membelalak sempurna.
"Ka—Kakek?!" desis Eros, suaranya yang biasa terdengar datar kini bergetar karena rasa terkejut yang luar biasa.
Di hadapannya, berdiri seorang kakek tua dengan rambut dan janggut putih yang dipotong rapi. Pakaian yang dikenakannya sangat sederhana—hanya sebuah jubah kain wol tebal berwarna hijau tua tanpa bordiran emas khas bangsawan, persis seperti pakaian warga lokal yang sedang bersiap menikmati festival. Namun, sepasang mata hijau zamrud milik orang tua itu berkilat dengan kecerdasan dan ketajaman yang tak bisa disembunyikan oleh usia.
"Hohoho! Ternyata ingatanmu masih bagus, Anak Muda," kakek itu tertawa renyah, menepuk-nepuk lembut punggung Eros dengan telapak tangannya yang kapalan, mengabaikan fakta bahwa pemuda di depannya ini memiliki tinggi badan yang jauh melampauinya. "Kau datang kemari dengan teman-temanmu, ya? Dan... gadis berambut cokelat madu yang tadi berjalan bersamamu... bukankah dia bocah yang selalu dimanja Xenon?"
Rentetan pertanyaan itu sukses membuat Eros, sang Dewa Agung yang ditakuti di langit dan bumi, mendadak gugup setengah mati. Keringat dingin samar muncul di pelipisnya.
"I-iya, Kakek. Tapi... aku pikir Kakek sedang berada di Kekaisaran Suci untuk menghadiri pertemuan para tetua?" tanya Eros mencoba mengalihkan pembicaraan, berdiri dengan sikap tubuh yang luar biasa sopan—sesuatu yang hanya ia lakukan di hadapan Grand Duke Biov dan pria tua di hadapannya ini.
Kakek tua itu tidak lain dan tidak bukan adalah Grand Duke Emeralda, penguasa seluruh Provinsi Emerald, sekaligus ayah dari sahabat karib Grand Duke Biov. Beliau adalah salah satu pilar tertinggi kekaisaran yang memilih untuk hidup semi-pensiun dan membiarkan putranya mengurus administrasi harian, sementara dirinya lebih suka menyamar sebagai warga biasa untuk mengawasi wilayahnya.
Grand Duke Emeralda mengelus janggut putihnya, menatap Eros dengan senyuman penuh arti yang membuat Eros merasa seolah seluruh rencana rahasianya telah terbongkar di hadapan orang tua ini.
"Pertemuan para tetua itu membosankan, isinya hanya politikus tua yang memperebutkan sisa-sisa kekuasaan," cibir sang Grand Duke tua dengan lambaian tangan meremehkan. "Jadi, aku memilih pulang lebih cepat untuk menikmati festival di rumahku sendiri. Tapi siapa sangka, aku justru menemukan gadis kecil dari Aquamarine sedang berkeliaran di pasarku bersama putra bungsu Biov yang terkenal dingin?"
Mendengar kata-kata itu, Eros tahu bahwa penyamaran Krystal sama sekali tidak berguna di hadapan insting murni sang Grand Duke tua yang telah hidup ratusan tahun di tengah-tengah batuan pemurni sihir.
"Kakek... tolong jangan bicarakan hal ini keras-keras," bisik Eros, matanya melirik waspada ke arah jalan utama gang.
Grand Duke Emeralda kembali tertawa, sebuah tawa rendah yang sarat akan kebijaksanaan. "Tenang saja, Eros. Tanah Emerald ini adalah tanahku. Jaring laba-laba milik Ratu Seraphina tidak akan pernah bisa menyentuh sejengkal pun udara di kota ini selama aku masih bernapas. Sekarang, katakan pada Kakek... rencana besar apa yang sedang kalian bawa dari Aquamarine hingga harus memutar sejauh ini?"