NovelToon NovelToon
THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

THE LAST SUNRISE

Echoes of Light: Before the Sky Turns Red

Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.

Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.

Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: MISI DIPLOMATIK KE KOTA TERAPUNG

Neo-Solara memiliki dua wajah. Ada wajah bawah yang kasar, berdebu, dan penuh perjuangan—tempat di mana Squadron Aurora biasa beroperasi. Dan ada wajah atas: Aetheria, kota terapung yang melayang di antara awan-awan sintetis, tempat para elit, politisi, dan ilmuwan tinggal dalam kemewahan yang hampir tak tersentuh oleh realitas keras di bawahnya.

Hari ini, Raka dan timnya tidak membawa senjata berat. Tidak ada armor tempur berlapis baja. Mereka mengenakan seragam diplomatik resmi Aurora: jas putih bersih dengan aksen emas di kerah, celana hitam rapi, dan sepatu mengkilap. Bagi Bimo, jas itu terasa seperti baju zirah yang terlalu ketat. Dia terus-terusan menarik-narik kerahnya yang kaku.

"Gila, Rak," bisik Bimo sambil merengut di depan cermin lift gravitasi yang sedang meluncur naik menembus lapisan awan. "Aku merasa seperti penguin yang dipaksa jadi model majalah. Kenapa kita nggak bisa pakai seragam biasa aja? Yang ada saku buat nyimpen bumbu rahasia?"

Kai, yang tampak paling nyaman dengan pakaian formalnya (karena dia jarang keluar dari ruangan server), pengaturan (menyesuaikan) dasinya dengan gerakan presisi. "Ini acara kenegaraan, Bim. Kita diterima sebagai pahlawan karena berhasil menstabilkan sistem keamanan kota setelah insiden virus memori. Kita harus terlihat... profesional."

"Profesional itu membosankan," gerutu Bimo.

Elara tersenyum tipis, merapikan rambut panjangnya yang disanggul elegan. Dia mengenakan gaun malam berwarna biru dongker yang sederhana namun mempesona, dengan detail renda perak di bagian pundak. Dia terlihat anggun, jauh berbeda dari Elara yang biasanya sibuk dengan stetoskop dan peralatan medis.

"Bersyukurlah, Bim. Setidaknya kamu nggak harus pakai hak tinggi," goda Elara.

Raka berdiri diam di sudut lift, menatap pantulan dirinya di dinding logam yang mengkilap. Jas putih itu membuatnya terlihat lebih dewasa, lebih... rapuh. Di balik kain halus itu, tubuhnya terasa aneh. Sejak insiden menyelamatkan Kai di dunia digital, ada sensasi dingin yang menetap di ujung jari-jarinya. Kadang, saat dia bergerak terlalu cepat, penglihatannya sempat glitch—berkedip sebentar menjadi statis abu-abu sebelum kembali normal.

Dia menyembunyikan tangan kanannya di dalam saku, mengepalkannya erat untuk menghentikan getaran halus yang tak terkendali.

Aku baik-baik saja, batinnya, memaksakan senyum saat pintu lift terbuka. Hanya sedikit kelelahan.

Pintu lift geser terbuka, dan cahaya keemasan menyilaukan menyambut mereka.

Mereka telah tiba di Aetheria.

Lantai aula utama terbuat dari marmer putih transparan yang memantulkan langit senja di atas kepala mereka. Langit-langit aula bukanlah beton, melainkan kubah kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan luar biasa: awan-awan tebal berwarna ungu dan jingga, dengan matahari terbenam yang seolah terbakar di cakrawala. Lampu-lampu kristal raksasa bergelantungan dari langit-langit, memancarkan cahaya lembut yang berdenting halus seperti lonceng angin.

Musik orkestra klasik dimainkan secara live oleh robot-robot humanoid bersenar biola di sudut ruangan. Tamu-tamu undangan—para pejabat tinggi, jenderal, dan selebriti kota—berputar dansa dengan anggun, gelas-gelas champagne bersinar di tangan mereka.

"Squadron Aurora!" seru seorang pria bertubuh gemuk dengan medali penuh di dada. Itu adalah Walikota Aetheria. "Selamat datang! Neo-Solara berhutang budi pada kalian!"

Raka, Elara, Kai, dan Bimo berjalan masuk, disambut oleh tepuk tangan yang sopan namun hangat. Mereka menerima medali kehormatan—"Bintang Fajar"—dalam sebuah upacara singkat yang megah. Medali itu berat, dingin, dan indah. Tapi bagi Raka, itu hanyalah logam. Kemenangan sesungguhnya bukan pada medali, tapi pada tawa Kai yang kembali cerah dan tidur nyenyak Bimo tanpa mimpi buruk.

Setelah upacara, pesta dansa dimulai.

Raka berdiri di tepi ruangan, memegang gelas jus buah (dia menolak alkohol), mengamati kerumunan. Dia merasa asing di sini. Dunia ini terlalu bersih, terlalu sempurna. Tidak ada debu, tidak ada teriakan, tidak ada bahaya. Rasanya seperti berada di dalam lukisan yang indah tapi mati.

"Boleh minta satu tarian?"

Suara lembut itu membuat Raka menoleh. Elara berdiri di depannya, tersenyum malu-malu. Cahaya lampu kristal memantul di matanya, membuatnya terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi.

Raka tertegun. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena adrenalin pertempuran, tapi karena sesuatu yang jauh lebih menakutkan: ketertarikan.

"Aku... aku nggak bisa menari, El," kata Raka gugup, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku cuma bisa menghajar musuh, bukan waltz."

Elara tertawa kecil, suara renyah yang mengalahkan musik orkestra di telinganya. "Aku akan memimpin. Percayalah padaku."

Dia mengulurkan tangannya. Tangan yang halus, hangat, dan stabil.

Raka menelan ludah. Dia meletakkan gelasnya di meja terdekat, lalu mengambil tangan Elara. Sentuhan kulit mereka mengirimkan arus listrik halus yang menjalar ke seluruh tubuhnya, momentarily membuat rasa dingin di jarinya hilang.

Mereka melangkah ke tengah lantai dansa. Awalnya, langkah Raka kaku. Kakinya sering salah menginjak, hampir menimpa kaki Elara. Wajahnya memerah karena malu.

"Maaf, maaf," gumamnya berulang kali.

"Jangan minta maaf," bisik Elara, matanya menatap lekat ke mata Raka. "Ikuti iramaku. Napas... satu, dua, tiga. Satu, dua, tiga."

Perlahan, seiring berputarnya musik, tubuh Raka mulai rileks. Dia mengikuti panduan Elara, melangkah mundur, berputar, mendekat. Jarak di antara mereka semakin sempit. Raka bisa mencium aroma samar bunga lavender dari rambut Elara. Dia bisa melihat detail kecil di iris mata Elara, bintik-bintik cokelat kecil yang selama ini tidak pernah dia perhatikan.

Di tengah kerumunan orang asing yang berbincang tentang politik dan saham, Raka dan Elara menciptakan dunia kecil mereka sendiri.

"Kamu cantik sekali malam ini, El," kata Raka tiba-tiba, suaranya rendah dan jujur. Kata-kata itu keluar tanpa filter, didorong oleh keindahan momen dan keberanian yang tiba-tiba muncul.

Elara tersentak sedikit, pipinya merona merah muda. Dia menunduk sebentar, lalu menatap Raka lagi dengan pandangan yang lebih dalam, lebih serius.

"Dan kamu... kamu terlihat seperti pangeran dari cerita dongeng, Ka. Bukan prajurit yang penuh luka."

"Aku tetap prajurit," jawab Raka pelan. "Tapi malam ini... aku ingin menjadi seseorang yang hanya menari denganmu."

Elara tersenyum, senyum yang paling manis yang pernah dilihat Raka. Dia menyandarkan kepalanya sedikit ke bahu Raka saat mereka berputar perlahan.

"Aku senang kamu di sini, Rak. Bersamaku."

Raka memeluk pinggang Elara lebih erat, merasakan kehangatan tubuh sahabatnya. Untuk sesaat, dia lupa pada rasa sakit di dadanya. Dia lupa pada partikel emas yang beterbangan di bawah kulitnya. Dia lupa pada takdir kelam yang mungkin sudah menunggu di ujung jalan.

Yang ada hanya musik, cahaya, dan wanita di pelukannya.

Namun, di balik kebahagiaan itu, Raka merasakan denyut nadi Elara yang cepat. Apakah itu karena dansa? Atau karena perasaan yang sama yang sedang bergolak di dadanya?

Raka tidak tahu. Tapi dia berjanji pada dirinya sendiri: Aku akan menjaga momen ini. Aku akan menjaga dia. Apapun harganya.

Tariannya berlanjut, berputar-putar di bawah lampu kristal, seolah waktu berhenti untuk mereka berdua. Di luar kubah kaca, matahari terus tenggelam, mewarnai langit dengan darah dan emas, tanda bahwa malam akan segera datang. Dan bersama malam, rahasia-rahasia yang selama ini terpendam akan mulai muncul ke permukaan.

Tapi untuk sekarang, biarkan mereka berdansa. Biarkan mereka percaya bahwa kebahagiaan adalah hal yang abadi.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!