NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Dokter keluar dari ruang IGD, melepas maskernya pelan. Wajahnya terlihat lebih tenang dibanding sebelumnya.

Dimas langsung berdiri. “Dok, bagaimana kondisi istri saya?”

“Sudah lebih stabil,” jawab dokter. “Pendarahan bisa kami hentikan, kondisinya juga merespons tindakan dengan baik.”

Dimas menghela napas pelan, tapi belum benar-benar lega.

Dokter berhenti sebentar, lalu menatapnya lebih serius. “Tapi ada satu hal lagi yang perlu kami sampaikan.”

Dimas menegang.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan pasien sedang hamil muda.”

Kata itu seperti berhenti sebentar di udara.

Dimas tidak langsung bicara. Tatapannya kosong beberapa detik.

“...hamil?” suaranya pelan, hampir tidak percaya.

Dokter mengangguk. “Iya, masih tahap awal.”

Dokter masih berdiri di depan Dimas, menjaga nada suaranya tetap tenang.

Dimas langsung menyela, “Dok… itu dari mana bisa ketahuan?” matanya tajam tapi jelas masih kaget. “Istri saya belum pernah bilang apa-apa soal itu.”

Dokter mengangguk pelan, seolah sudah menduga pertanyaan itu. “Karena saat pasien masuk, kami melakukan pemeriksaan darah lengkap akibat trauma kecelakaan,” jelasnya. “Di situ terlihat kadar hormon kehamilan meningkat.”

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Kami juga lakukan USG awal untuk memastikan, dan hasilnya mengarah ke kehamilan muda.”

Dimas terdiam.

Bibirnya sedikit terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar.

“Masih sangat awal,” lanjut dokter. “Jadi kemungkinan besar memang belum sempat diketahui pasien sendiri.”

Dimas masih terpaku beberapa detik, antara tidak percaya dan sulit mencerna. Tapi setelah itu suaranya keluar lagi, lebih pelan.

“Kalau begitu… kandungannya gimana, Dok? Baik-baik saja?”

Dokter mengangguk kecil, lalu menjelaskan dengan hati-hati. “Untuk saat ini, kami belum melihat tanda kehamilan lanjut yang jelas. Masih sangat awal, baru terlihat dari peningkatan hormon dan penebalan dinding rahim yang konsisten dengan awal kehamilan.”

Ia menatap Dimas sejenak sebelum melanjutkan, “Tapi karena ada trauma dari kecelakaan, kondisi ini tetap harus kami pantau ketat. Risiko tetap ada, terutama di masa awal seperti ini.”

Dimas menghela napas pelan. Tangannya yang tadi mengepal perlahan mengendur, tapi wajahnya masih belum bisa benar-benar tenang.

Lalu Polisi datang tergesa, membawa map di tangannya.

“Pak Dimas,” panggilnya.

Dimas langsung menoleh. “Ada apa?”

Polisi itu mengatur napas sebentar. “Kami sudah dapat rekaman CCTV di sekitar lokasi.”

Dimas langsung menegakkan badan.

“Mobilnya tidak memakai plat nomor,” lanjut polisi itu. “Dan geraknya cukup rapi, tidak seperti kecelakaan biasa.”

Dimas mengernyit. “Maksudnya?”

Polisi membuka sedikit mapnya, menunjukkan beberapa cuplikan gambar cetak.

“Pelaku terlihat satu orang. Perempuan,” katanya tegas. “Pakai masker, topi, dan langsung melarikan diri setelah kejadian.”

Suasana mendadak terasa lebih dingin.

“Seperti sudah direncanakan,” tambahnya pelan.

Dimas diam.

Tatapannya mengeras, bukan hanya marah, tapi juga tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar.

Dimas menarik napas pelan, lalu menatap polisi itu dengan tegas. “Lanjutkan penyelidikannya. Saya mau pelakunya ketemu secepatnya.”

Polisi mengangguk. “Baik, Pak. Kami akan kembangkan dari CCTV lain di jalur keluar.”

Belum sempat suasana benar-benar tenang, suara langkah cepat terdengar dari arah lorong.

“Dimas!”

Seorang perempuan paruh baya datang tergesa—Bu Bertha. Wajahnya jelas cemas.

Dimas langsung menoleh. Mama…”

Bu Bertha berhenti di depannya, napasnya masih belum teratur. “Gimana keadaan istrimu? Dia kenapa bisa sampai kecelakaan begini?”

Dimas menunduk sebentar, lalu menjawab pelan, “Sudah stabil, Ma. Masih di IGD.”

Bu Bertha menghela napas, lalu menggeleng kecil. “Ada-ada saja… dia ngapain jalan kaki ke situ sendirian?” katanya, lebih ke heran daripada marah.

Dimas tidak langsung menjawab. Tatapannya justru kembali kosong sesaat, memikirkan semua yang baru saja terjadi.

Dimas sempat ragu, lalu pelan-pelan membuka suara. “Ma… Valeria ternyata hamil.”

Bu Bertha terdiam sebentar. Wajahnya tidak langsung terlihat senang, hanya berubah jadi lebih tenang, lalu ada senyum kecil yang sulit dibaca.

“Begitu…” katanya pelan. “Akhirnya juga.”

Dimas menatap ibunya, masih membaca reaksinya.

Bu Bertha menghela napas kecil, lalu menatap Dimas lebih serius. “Jaga dia baik-baik, ya.”

Dimas mengangguk pelan.

“Nanti kalau anak itu lahir,” lanjut Bu Bertha, nadanya lebih terarah, “Valeria pasti akan makin sibuk sama anaknya. Perusahaannya juga nggak mungkin dia pegang sendiri terus.”

Ia berhenti sebentar, lalu menatap Dimas dalam.

“Kamu yang harus siap ambil alih semuanya.”

Dimas sempat diam sebentar, lalu menatap ibunya.

Bu Bertha menghela napas pelan. “Mama sebenarnya sempat khawatir waktu kamu cerita soal hasil pemeriksaan itu kemarin.”

Dimas tidak langsung menjawab.

“Tapi ternyata hasilnya tidak seperti yang kamu takutkan,” lanjut Bu Bertha, suaranya lebih tenang. Ia menatap Dimas. “Kamu anak mama. Mama tahu kamu pasti tidak akan mengecewakan mama.”

Dimas mengangguk pelan, masih mencerna.

Bu Bertha lalu melirik ke arah ruang IGD. “Sekarang fokus ke Valeria dulu. Kondisinya dia yang paling penting.”

Tidak lama kemudian, dokter kembali datang dari arah ruang IGD.

“Kondisi pasien sudah lebih baik," katanya pada Dimas dan Bu Bertha. “Untuk sementara akan kami pindahkan ke ruang perawatan supaya bisa dipantau lebih lanjut.”

Dimas langsung berdiri. “Apa sudah sadar, Dok?”

“Masih belum sepenuhnya sadar,Pak,” jawab dokter. “Tapi responsnya sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya.”

Bu Bertha terlihat sedikit lega mendengarnya.

Beberapa menit kemudian, ranjang Valeria mulai didorong keluar dari area IGD. Di kepalanya masih ada perban, wajahnya pucat, dan infus terpasang di tangannya.

Dimas langsung berjalan mendekat mengikuti ranjang itu tanpa banyak bicara.

...****************...

Gilang sampai di rumah saat jam sudah menunjukkan setengah sepuluh malam.

Begitu membuka pintu, ia langsung berhenti sebentar.

Lampu ruang tengah masih menyala.

Ibunya masih duduk di kursi roda dekat meja makan, sementara kedua adiknya terlihat belum tidur.

Di meja sudah ada beberapa lauk sederhana—tempe goreng, telur balado, tumis kangkung, dan sop ayam yang sekarang tinggal sedikit uapnya.

Masakan kesukaan Gilang.

Tapi semuanya sudah mulai dingin.

Sekar yang tadi menopang dagunya di meja langsung menoleh. “Kak Gilang pulang…”

Ibunya tersenyum kecil. “Ayo, Nak… makan dulu. Sekar sama Putri masak ini buat kamu.”

Sekar langsung nyengir kecil, sementara Putri terlihat malu-malu.

“Makasih ya… sudah berjuang buat kami,” lanjut ibunya pelan.

Gilang langsung menggeleng kecil sambil melepas jaketnya. “Jangan ngomong begitu, Bu.”

Ia menarik kursi lalu duduk pelan di depan meja makan.

“Ini memang udah kewajiban aku sebagai anak pertama.”

Mereka akhirnya mulai makan malam bersama.

Putri dan Wildan sesekali bercerita soal sekolahnya, sementara Sekar sibuk mengambilkan sendok untuk Gilang.

Suasana rumah yang sederhana itu perlahan terasa hangat lagi.

Sampai tiba-tiba—

BRAK! BRAK! BRAK!

Suara gedoran keras menghantam pintu depan.

Sekali.

Dua kali.

Lalu semakin kasar.

Semua orang langsung terdiam.

Sendok di tangan Putri bahkan sampai berhenti di udara.

BRAK! BRAK! BRAK!

“KELUAR LO!” terdengar suara seseorang dari luar rumah.

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!