Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyapa
"Ah, si Sundel makin gak jelas. Baru saja nongkrong, dia udah ngilang." kuntilanak Putih tampak kesal, sebab malam ini harus sendian di pos ronda.
Ditengah kegalauannya, ia melihat sosok Wewe Gombel yang melintas di depannya, tampak berjalan kepayahan, sebab buah melonnya yang terlalu besar, bergelambiran hingga ke bagian perut.
Sosok itu menoleh ke arahnya dengan wajah sombong dan juga sinis.
"Apaan, sih!" Kuntilanak merasa dirinya sedang direndahkan, sebab saat ini masih mode menganggur.
Tetapi rasa penasaran sangat tak dapat ia tahan untuk bertanya langsung.
"Mau kemana, We? Sibuk bener keliahatannya?" Kuntilanak Putih mencoba bersikap ramah, meskipun Wewe Gombel berwajah sangat ketus.
Ia menoleh sejenak, menatap Kuntilanak yang masih stay nangkring di pagar pondok pos ronda.
"Ya kerjalah! Kalau gak kerja gak makan! Emang situ, pengangguran gak jelas!" omelnya—dengan sangat ketus.
"Sombong, amat!" sahut Kuntilanak Putih, tak kalah kesalnya, lalu mengibaskan rambut lurusnya yang berkilau.
"Biarin, daripada, Elu. Taunya cuma tebar pesona, elu fikir si Genderuwo bakal naksir—Gitu?" cibirnya, dengan memasang wajah sinis.
Kuntilanak Putih membolakan matanya, ia tak suka dengan sikap kepo si Wewe Gombel. Baginya ini penghinaan.
"Dasar! Setan gak tau diri! Udah jelek, muka dekil, dada melorot, suka Ghibah! Kau kira aku setan murahan—apa?!" Kuntilanak terbakar emosi, sebab ia nongkrong di pos ronda, dianggap sedang menarik perhatian si Genderuwo.
"Stop! Jangan Body shaming! Itu sama saja, kamu tidak menghargai ciptaan Sang Maha Kuasa. Ingat! Semua setan milik Allah!" Wewe Gombel mengingatkan.
Kuntilanak Putih melongo saat mendengar ucapan Wewe Gombel, dan ia ingin membalas ocehan dari Wewe Gombel, tetapi terhalang oleh Pocong yang tiba-tiba nongol, dan melesat di depannya.
Tak ingin menanggapi si Kuntilanak, Wewe Gombel melanjutkan pekerjaannya, menuju rumah Tejo, untuk menjemput jiwa Intan.
Ia melesat melintasi rumah Ratih. Sesaat ia berhenti sejenak, menatap dengan diam.
"Andaikan saja janin itu menjadi milikku, pasti energiku akan semakin kuat," gumamnya dengan lirih.
Ia membayangkan, betapa nikmatnya jiwa sang janin, aroma manis yang menggugah selera, membuat ia seolah ingin segera mengences.
"Siapa yang sudah menumbalkan janin itu? Pasti ada diantara warga sini." ia sangat yakin itu.
Sejujurnya, ia sangat menginginkan janin Alawiyah, tetapi belum ada yang memerintahkannya.
Di tengah rasa pensarannya, tiba-tiba saja—tubuhnya di tabrak oleh Pocong yang melintas cukup cepat.
"Bangsat! Lu ngagetin!" makinya dengan kesal. Karena peristiwa itu, sudah membuyarkan lamunannya.
"Sorry, Gue buru-buru. Lagian suruh siapa melamun ditengah jalan!" Pocong tak merasa bersalah, lalu memilih kabur, sebelum diomelin oleh Wewe Gombel.
Sosok mengerikan itu menatap kesal, lalu melanjutkan perjalanannya menuju rumah Tejo, yang berada di belakang rumah Juminten.
Ia melihat sekilas, dan menatap dengan seringai.
"Giliranmu sebentar lagi, Jum." gumamnya, lalu melesat menuju rumah Tejo yang saat ini masih rumah gedongan, tetapi belum berlantai dua.
Ia menerobos masuk, lalu melihat Intan yang sedang memasak di dapur.
"Mas Tejo ini, ada-ada saja mintanya, pengen makan soto pojok malam-malam." gerutunya, sambil mengaduk kuah soto yang tampak berminyak, dengan bumbu khas yang menggugah selera.
Sedangkan Tejo sendiri, ia sedang sibuk membalas chat dari Novita.
Tampak wajahnya sangat sumringah.
Wewe Gombel yang melihatnya, mengulas senyum sinis. "Dasar lelaki, gak bisa dipercaya. Emangnya, kalau dia sama Novita bakal hidup makmur? Dijadiin rendang baru tau, Lu!" umpatnya dengan kesal.
"Muka pas-pas'an aja banyak tingkah. Minimal ya ngaca." sungutnya lagi, lalu menyampirkan buah melonnya ke pundak, karena dianggap terlalu berat, saat ia bergerak.
Setelah mencibir Tejo, ia melirik ke arah dapur, lalu melihat Intan yang sibuk memasak.
Ia berjalan menghampiri, dan menatap wanita itu dari arah belakang.
Tampak intan sangat bersemangat, memasak untuk suaminya. Sedangkan anak mereka yang berjumlah tiga orang, sedang tertidur lelap di kamar.
Seyogia—nya, Wewe Gombel lebih menyukai anak-anak, tetapi kali ini, ia tak bisa memilih pekerjaannya, demi sesuap energi, agar ia tetap dapat mempertahankan eksistensi—nya.
"Aku harus mengambil jiwa intan, ini sudah perjanjiannya." ia menghampiri wanita yang masih berdiri menatap.kuah sotonya.
"Nasibmu—lah, Ntan. Punya suami, yang rela menumbalkanmu, demi wanita lain dan juga kekayaan."
Wew Gombel berdiri tepat di belakang Intan. Ia siap membawa jiwa wanita itu, dan dikumpulkan di tempat penyegelan, bersama jiwa-jiwa yang lainnya, yang juga sama nasibnya, menjadi tumbal dari keserakahan seseorang.
"Kenapa bau anyir darah—ya?" Intan tiba-tiba merasa indera penciumannya mengendus aroma darah yang sangat kuat.
Ia merasakan bulu kuduknya meremang, dan wajahnya memucat.
Sosok Wewe Gombel menarik jiwa Intan, yang saat ini sedang memasak untuk suaminya.
Wuuuush
Wewe Gombel menariknya melalui ubun-ubunnya.
Centong yang di pegangnya, terjatuh begitu saja, menghempas lantai.
Traaaaang
Tejo yang mendengarnya bergegas menuju dapur, saat bersamaan, tubuh Intan rubuh, lalu tergeletak di lantai.
"Yes. Akhirnya meninggal juga." Tejo menghentak tangan kanannya, seolah isyarat sebuah keberhasilan yang cukup di banggakan.
Saat bersamaan, seorang bocah laki-laki berusia dua tahun yang masih menyusu, berlari menghampiri ibunya.
"Mbok, ennen," ucapnya dengan suara khas bangun tidur, sebab ia merasa haus, dan tak mendapati ibunya di kamar.
Bocah itu menyusul ke dapur, dan menemukan Intan tergeletak di lantai. Ia mengiranya sedang tiduran, dan menyingkap pakaian sang ibu, lalu berusaha menyusu, mencari pelepas dahaga, yang akan membuatnya kecewa.
Sementara itu, Wewe Gombel menyeret jiwa Intan yang tampak bersedih.
"Mengapa harus aku?" intan menangis tersedu, melihat puteranya yang menghampirinya, dan masih membutuhkannya.
Sedangkan Tejo, ia justru orang yang paling bahagia saat melihat kematiannya.
Ternyata, orang yang paling dekat dengannya, justru yang paling menyakitinya.
Wewe Gombel terus membawanya. Tak peduli dengan segala jerit tangisnya.
Saat bersamaan, Alawiyah baru saja dari teras, sebab udara sangat panas sekali malam ini.
Ketika ia sedang mengademkan diri, tiba-tiba saja, ia melihat sosok Wewe Gombel yang sedang menyeret jiwa Intan.
Ia membolakan matanya, dan mengusap kedua matanya, ingin memperjelas penglihatannya.
Wewe Gombel yang kepergok Alawiyah— sedang membawa jiwa Intan, mendadak berhenti.
Ia menatap Alawiyah dengan tatapan tajam. "Apa—Loe?!" hardiknya dengan kasar, sembari mengacungkan tinjunya ke arah wanita itu.
"Astaghfirullah!" pekik Alawiyah, lalu beringsut mundur, dan memilih masuk ke dalam rumah.
Ia melihat Ratih baru saja selesai makan malam. Kemudian menghampirinya.
"Mbok, ada yang mengerikan," lapornya, dengan wajah pucat.
"Ada apa?" tanya Ratih.
"Bibi yang pernah datang membeli terung, aku melihatnya sedang diseret Wewe Gombel." ungkapnya, dengan nafas yang tersengal.
kn JD nya gak bisa di sebut Surti Tejo ,, JD mlh Intan Tejo 🤣🤣🤣🤣
kasihan bgt nasib nya si Intan , lg masak soto mlh di cabut jiwa nya oleh si Wewe JD meninggal deh ,, mna tuh Soto nya bntr lg Mateng ,, kn JD nya gak bisa nyobain deh 🤣🤣
mana dh nongkrong di pos ronda gda yg godain lg 🤣🤣🤣🤦
sungguh Tejo lucknut 😡🤬
si Sundel kn msh magang jd kerjanya hrs bagus dan gercep biar naik pangkat , biar gak magang lg 🤣🤣👏