NovelToon NovelToon
DUDA GILA Vs PERAWAN TUA

DUDA GILA Vs PERAWAN TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Lansia / Duda / Cintamanis / Menikah Karena Anak / CEO
Popularitas:27.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.

Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.

​Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.

Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.

​Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika mobil mewah yang dikendarai Dirga terparkir di halaman luas rumah keluarga Wijaya. Suasana malam terasa hening dan dingin, hanya diterangi oleh lampu-lampu taman yang menyala lembut.

Mereka bertiga turun dari mobil. Bu Rani yang sepertinya sudah menunggu sejak tadi, segera menyambut kedatangan mereka di depan pintu utama.

"Selamat malam, Tuan," sapa Bu Rani ramah sambil menunduk hormat. Tangannya terulur untuk mengambil tas kerja dari tangan Dirga.

"Selamat malam," jawab Dirga singkat sambil menganggukkan kepala. Wajahnya selalu terlihat tegas dan berwibawa seperti biasanya, lalu masuk ke dalam rumah dengan tangan melingkar di belakang pundak Putri.

"Sudah malam, kamu cepat tidur saja, ya?" ucap Dirga sambil mengecup singkat ubun-ubun putrinya.

Putri mengangguk patuh, lalu berjinjit untuk mencium pipi ayahnya dengan sayang. "Selamat malam, Ayah. Selamat malam, Bu Manda, selamat malam, Ibu," ucapnya pelan.

Gadis itu berjalan tenang menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Namun, baru saja ia hendak membuka pintu kamarnya, gerakan tangannya terhenti ketika dari lantai bawah, terdengar suara ayahnya memanggil.

"Amanda."

Suaranya terdengar rendah namun jelas sampai ke telinga Putri. Gadis itu mengerutkan kening karena ayahnya yang biasa menyebut Amanda ‘perawan tua’, kini memanggil hanya namanya saja. Tanpa embel-embel sapaan 'Bu’. Dan… entah kenapa itu terdengar manis di telinga Putri.

Sementara itu, Amanda yang juga baru saja akan berbalik arah menuju paviliun belakang, langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.

"Ya, Tuan?" tanyanya sedikit bingung karena pria itu memanggilnya.

Dirga tidak langsung menjawab. Matanya melirik sekilas ke arah atas tangga, ia tahu putrinya pasti masih berdiri di sana menyimak. Dengan ragu yang dibuat-buat, pria itu memasukkan tangan ke dalam saku celananya.

"Eng… itu. Bisakah... besok pagi buatkan bekal lagi untukku?"

Suara itu terdengar pelan, namun terdengar sangat jelas oleh Putri yang berada di atas tangga.

Mata Putri langsung membelalak lebar. Tanpa sadar kedua tangannya terangkat menutup mulutnya rapat-rapat, menahan jeritan kegirangan yang hampir meledak.

'Ya Tuhan! Apa aku gak salah dengar? Ayah minta dibuatin bekal lagi?! Itu tandanya dia suka masakan Bu Manda, kan?* batin Putri berteriak heboh.

Di bawah, Amanda sendiri terkejut mendengar permintaan Dirga. Namun, ia melihat isyarat dari Dirga yang sedikit melirik ke arah atas, dan ia pun mengerti.

"Tentu, Tuan. Saya akan buatkan dengan senang hati," jawabnya dengan suara yang dibuat seringan mungkin. Seakan ia begitu senang dengan permintaan Dirga.

“Terima kasih. Sudah malam, istirahatlah," ujar Dirga dengan nada yang terdengar sangat lembut. "Besok pagi... aku akan mengantarkanmu ke sekolah."

Amanda mengangguk dan mengucapkan terima kasih dengan senyum lebar, mengikuti sandiwara yang sedang dimainkan oleh Dirga.

Dirga melambaikan tangan singkat pada Amanda lalu berbalik melangkah menuju tangga untuk menuju kamar tidurnya di lantai atas.

Di atas sana, Putri yang sedari tadi berdiri diam mengintip dengan napas tertahan langsung tergeragap mengetahui ayahnya mulai menaiki anak tangga. Cepat-cepat ia membuka pintu kamar, masuk dan menutup pintu rapat-rapat.

Punggung Putri bersandar pada daun pintu, kedua tangannya menekan kuat mulutnya. Nyaris saja ia berteriak keras kegirangan. Jantungnya berdebar kencang seolah baru saja berlari sejauh sepuluh kilometer.

Ayahnya yang biasanya selalu kesal jika ia minta untuk mengantarkan Bu Amanda ke sekolah, hari ini menawarkan diri dengan sukarela? “Ya Tuhan... Ayahku benar-benar berubah!”

"Bu Rani pasti harus tahu cerita hari ini!" serunya berbisik-bisik sambil melompat kecil kegirangan. “Ibu pasti juga tidak akan percaya!”

Dengan gerak cepat, gadis itu melempar tas kerja yang digendongnya dengan sembarangan ke atas permukaan kasur empuk.

Bruk!

Suara benda jatuh tak dipedulikannya. Melangkah cepat menuju kamar mandi di sudut ruangan untuk membersihkan diri setelah berkeringat seharian.

*

Di luar kamar, Dirga yang baru saja menginjakkan kaki di lantai dua tersenyum tipis dengan mata menatap pintu kamar putrinya yang tertutup rapat. Pria itu tahu persis apa yang sedang dirasakan anak gadisnya saat ini. Ia hanya berharap dengan demikian, Putri segera bisa mengambil langkah untuk hidupnya sendiri.

Namun, begitu ia masuk kamarnya dan pintu kamar tertutup rapat, raut wajah yang awalnya penuh senyum dan rasa gugup yang menyenangkan, seketika sirna. Berganti dengan wajah datar dan sorot mata yang dingin.

Pria itu melepaskan jasnya dengan gerakan kasar, melemparkannya sembarangan ke arah keranjang pakaian kotor di sudut ruangan. Berjalan ke arah ranjang dan menghempaskan seluruh berat tubuhnya ke atas kasur king size yang empuk itu. Tangannya bergerak melepas dasi yang terasa begitu mencekik lehernya seharian penuh. Membuka kancing kemeja bagian atas agar udara bisa masuk.

Dirga berbaring telentang, kakinya yang panjang menjuntai masih kenapa di atas lantai, tak sempat ia naikkan sepenuhnya. Matanya menatap kosong ke arah lampu kristal besar yang bergantung megah di langit-langit kamar.

Hahhh...

Pria itu membuang napas panjang dan kasar, seolah ingin mengeluarkan semua beban yang ada di dadanya. Ia terdiam begitu lama, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Hingga perlahan, pandangannya bergeser dan tertumbuk pada sebuah bingkai foto besar yang tergantung di dinding tepat di hadapannya.

Foto pernikahannya.

Foto dirinya bersama Susi, mendiang istrinya yang selama ini masih menjadi satu-satunya wanita di hatinya.

Dengan gerakan lambat, Dirga bangkit dari posisi berbaringnya. Duduk sejenak lalu berdiri, melangkah perlahan mendekati bingkai foto itu hingga jarak mereka hanya beberapa jengkal.

Pria itu berdiri diam mematung, menatap lekat-lekat wajah teduh istrinya yang tersenyum manis di dalam foto. Mata mereka seolah bertatapan, seolah Susi benar-benar ada di sana menatapnya balik.

"Aku akan menikah dengan wanita itu.”

Suara berat Dirga memecah keheningan malam, berbisik pelan seakan ia sedang berbicara pada istrinya.

"Aku melakukan semua ini... demi Putri kita. Kamu tidak akan menyalahkan aku, kan?” tanyanya lirih sambil menatap lekat wajah dalam bingkai. Jari-jarinya yang besar perlahan mengusap kaca pelindung foto itu tepat di wajah istrinya

Matanya yang awalnya hanya terasa panas kini berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak. Ada setitik rasa bersalah namun juga sebuah keyakinan.

“Aku tahu kamu pasti mengerti. Aku tahu kamu juga menginginkan kebahagiaan Putri kita. Percayalah… cintaku padamu tak kan pernah terhapus.”

Dirga mengusap air matanya. Air mata yang tak pernah dilihat oleh siapapun. Dan, ruangan itu kembali hening. Hanya suara napas pria itu yang terdengar berat,beradu dengan detak jarum jam dan mesin pendingin ruangan.

1
Ayuk Witanto
kalau lupa bogem aja😂
Ayuk Witanto
pak Kevin mau berbincang
Ayuk Witanto
biar aja kualat
Soraya
nex
Ayuk Witanto
ayang...palalu peyang
Ayuk Witanto
🤣🤣🤣🤣
Ayuk Witanto
Alhamdulillah Ardi selamat
Ayuk Witanto
😂😂😂🤣
Ayuk Witanto
apa mantanya Manda yNg ngulik
Ayuk Witanto
kasian banget tuh asisten
dewi rofiqoh
Bermimpilah kartini, tapi jangan berbuat yang aneh-aneh! Jika tak ingin celaka
Patrick Khan
hadir.. q br tau cerita ini msk. maafken q br baca🙏😁
Ummee
kartini... kartini... namamu spt nama pahlawan wanita Indonesia, tapi sifatmu sangat jauh dari kata pahlawan
Aditya hp/ bunda Lia
Kartini bin Kartono pede kamu tingkat khatulistiwa yah .... gak mungkinlah tuan Dirga mau Sama kamu
Dwi Anto
sebenarnya..othor sk gantung2 cerita
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: memang saran dari editor seperti itu kak. haru ada cliffhanger🤭🤭
total 1 replies
dewi rofiqoh
Apa ya jawaban bu manda?
Ummee
sebenarnya... kak author mau istirahat dulu, jadi sabar dulu ya Ayah 😅
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: aseek aseek.. ..
yuk nyakain kipasnya Umi, 🤗🤗
total 1 replies
Soraya
lanjut thor
Aditya hp/ bunda Lia
sebenarnya .... nanti ajah yah pak dikasih tau pas mama up lagi 🤭
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: wk wk wk🤣🤣🤣
total 1 replies
Ummee
dasar stres, kamu memang cinta atau mah memanfaatkan?
tapi kalo cinta kok memaksa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!