Yun Zhu hanyalah seorang murid rendahan dari Sekte Qingyun. Tanpa orang tua, tanpa latar belakang yang berarti—ia hanya bisa masuk sekte itu secara kebetulan setelah sebuah bencana menghancurkan hidupnya.
Akar spiritualnya lemah, bakatnya pun nyaris tak terlihat. Di mata orang lain, ia tak lebih dari sampah yang tak layak diperhitungkan. Tatapan meremehkan dan hinaan telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun takdir mulai berbalik arah ketika Yun Zhu secara tak terduga memperoleh sebuah kekuatan misterius—kekuatan yang perlahan akan mengubah nasibnya… dan mengguncang dunia yang selama ini merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Tuan Putri Keluarga Yan—Yan Chu
Beberapa anggota keluarga Yan segera berlarian memasuki arena pertarungan untuk membopong tuan muda mereka yang sudah tak berdaya.
Di saat yang sama, Yan Qingchen dan Yan Chu turun dari balkon dengan langkah yang berwibawa untuk menghampiri sang pemenang.
Yun Zhu masih berdiri tegak di tengah reruntuhan arena, jemarinya meremas bahu kiri yang terasa berdenyut nyeri.
'Dia... tidak asal menyerang. Dia tahu titik lemahku,' batin Yun Zhu sambil mengatur napasnya yang masih sedikit memburu.
Yan Qingchen tiba-tiba meledakkan tawa yang menggelegar ke seluruh penjuru halaman. "Hahahaha!"
"Tidak kusangka, masih ada jenius seperti ini! Bagus! Bagus!" Ia menghampiri Yun Zhu dan menepuk-nepuk punggung pemuda itu dengan tenaga yang sedikit terlalu kuat hingga membuat Yun Zhu agak terhuyung.
Yun Zhu hanya mampu membalasnya dengan senyum masam yang dipaksakan. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Yan Chu, sang tuan putri yang kini berdiri tak jauh di hadapannya.
'Inikah wanita yang diperebutkan. Memang terlihat meyakinkan.'
Yan Chu tidak membalas tatapan itu. Ia justru memalingkan wajahnya ke arah lain dengan gerakan yang kaku, seolah-olah ia merasa ragu atau bahkan takut untuk menatap langsung ke mata pria yang baru saja mengalahkan kakaknya.
Di gerbang luar, para penantang lain yang sudah mulai pulih dari luka-luka mereka tampak berjalan gontai meninggalkan kediaman.
Beberapa dari mereka menoleh ke belakang sambil mengumpat lirih, mengutuk Yun Zhu yang dianggap telah merebut bidadari pujaan mereka.
Yan Qingchen kemudian memberikan isyarat tangan, mempersilakan Yun Zhu untuk memasuki bangunan utama.
"Silahkan."
Yun Zhu mengangguk sopan, mengikuti langkah sang kepala keluarga.
Ketiganya berjalan masuk ke dalam rumah utama yang megah. Interior di dalamnya terlihat sangat mewah dengan pilar-pilar besar berukir dan aroma kayu cendana yang menenangkan, benar-benar mencerminkan reputasi tinggi keluarga Yan di Kota Peiling.
Di dalam ruang tamu yang luas, Yun Zhu dan Yan Chu duduk bersebelahan di kursi kayu berukir, sementara Yan Qingchen mengambil posisi di kursi tunggal yang paling besar.
Yan Qingchen mulai berbicara panjang lebar dengan nada yang bersemangat. Ia menjelaskan segala hal, mulai dari alasan di balik diadakannya kompetisi ini hingga berbagai urusan keluarga lainnya yang sebenarnya terasa tidak terlalu penting bagi Yun Zhu.
Yun Zhu hanya mendengarkan dengan tenang, sesekali mengangguk tanda mengerti.
Namun bagi Yan Chu, pikirannya tidak tertuju pada ucapan ayahnya. Ia duduk dengan punggung tegak, tangan halusnya meremas kain sutra merah di atas pangkuannya. Beberapa kali ia mencuri pandang ke arah Yun Zhu, merasakan ada sesuatu yang janggal pada pemuda di sampingnya itu.
'Apa aku yang terlalu khawatir,' pikirnya dengan dahi yang sedikit berkerut.
Yan Chu menyadari setiap gerak-gerik kecil Yun Zhu. Jelas sekali terlihat bahwa Yun Zhu tetap berada dalam mode waspada tingkat tinggi, seakan-akan ia tidak sedang berada di rumah calon mertuanya, melainkan di dalam kandang binatang buas yang siap menerkam kapan saja.
Jika Yun Zhu benar-benar datang karena menginginkan dirinya, kenapa dia harus sewaspada itu? Padahal kemenangan sudah ada di tangannya dan jalan menuju pernikahan sudah terbuka lebar.
'Jangan-jangan dia... bukan menginginkanku. Tapi...'
"Kalian paham!?"
Suara lantang Yan Qingchen tiba-tiba memecah lamunan Yan Chu, membuatnya tersentak kecil di kursinya.
Ia segera menjawab hampir bersamaan dengan Yun Zhu, meski dengan nada yang sedikit bergetar.
"Ya. Ayah."
"Ya. Kepala Keluarga Yan."
Yan Qingchen mengalihkan pandangannya yang tegas kepada putrinya, memberikan perintah yang tak terbantahkan.
"Chu'er antarkan Yun Zhu ke kediaman yang telah disiapkan. Tapi kau juga tidak boleh pergi, kau harus melayaninya sebaik mungkin."
Yan Chu tersentak dan langsung berdiri dari kursi kayunya, tangannya meremas kain sutra di pangkuannya dengan gelisah.
"Tapi, ayah—"
"Tidak ada alasan! Pergi!"
Yan Chu tidak mampu melawan wibawa ayahnya yang keras. Ia hanya menundukkan kepala dan mengangguk pelan sebagai tanda patuh.
Ia kemudian melangkah keluar ruangan dengan gerak tubuh yang gontai, sementara Yun Zhu bangkit dan mengikutinya tepat dari belakang.
Tujuan mereka adalah sebuah kediaman yang terletak cukup jauh di pinggiran Kota Peiling, sebuah tempat terpencil yang memang sengaja disiapkan oleh Yan Qingchen bagi Yan Chu dan pria yang berhasil memenangkan kompetisi tersebut.
Mereka berdua menempuh perjalanan dengan terbang rendah di atas atap-atap kota. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di depan sebuah bangunan yang tampak sangat megah.
Kediaman itu terlihat terlalu luas jika hanya dihuni oleh dua orang. Udara di sekitarnya terasa sangat segar dan tenang, membuat Yun Zhu sempat menghirupnya dalam-dalam untuk menenangkan gejolak di dadanya.
Keduanya segera melangkah masuk melewati pintu gerbang yang besar, mulai memperhatikan setiap sudut interior kediaman yang sunyi itu.
"Ini adalah kediaman yang telah disiapkan," ucap Yan Chu dengan suara yang pelan dan ragu, seolah ia masih tidak terbiasa dengan situasi baru ini.
Yun Zhu hanya mendengarkan tanpa menyahut. Namun, tiba-tiba langkah kakinya goyah. Kepalanya terasa berdenyut hebat dan pandangannya mulai kabur secara perlahan.
"Kau kenapa?" Yan Chu menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada pria di sampingnya. Dengan refleks, ia segera mendekat dan memegangi lengan Yun Zhu yang terasa panas.
'Gawat, tidak boleh jatuh sekarang...' batin Yun Zhu sambil memaksakan seluruh sisa kekuatannya agar tetap berdiri tegak.
Dengan bantuan tangan halus Yan Chu yang menopang tubuhnya, Yun Zhu berjalan tertatih-tatih menuju sebuah kursi kayu panjang di sudut ruangan.
Begitu menyentuh kursi, ia segera memejamkan mata dan mencoba menstabilkan aliran kekuatan spiritualnya yang sedang kacau.
Yan Chu duduk di sampingnya, memperhatikan wajah Yun Zhu yang memucat dengan seksama.
'Dia... apa dia menahannya sedari tadi?' pikir Yan Chu dalam hati. 'Kalau iya, maka itu menjawab kenapa dia terlihat sangat gelisah saat di depan ayah tadi.'
Rasa iba mulai muncul di benak Yan Chu. Ia menyentuh cincin penyimpanan yang melingkar di jari manisnya. Sebuah cahaya samar berkedip sejenak, lalu sebuah botol porselen kecil muncul di telapak tangannya.
Ia membuka tutup botol itu dan mengeluarkan sebutir pil berwarna hijau pucat yang memancarkan aroma herbal yang kuat.
Ia mengulurkan tangannya, menyerahkan pil itu di depan wajah Yun Zhu.
Yun Zhu membuka kelopak matanya perlahan, menoleh sejenak dengan tatapan yang penuh keraguan dan kecurigaan.
"Tenang saja, tidak ada racun. Aku tidak akan melakukan hal seperti itu," ucap Yan Chu dengan nada yang sangat lembut, mencoba meyakinkan Yun Zhu agar tidak perlu merasa waspada padanya.
Yun Zhu mengangguk lemah. Ia meraih pil itu dari jemari lentik Yan Chu dan langsung meneguknya hingga habis.
Efek dari obat keluarga Yan itu memang luar biasa. Dalam sekejap, energi spiritual di dalam tubuh Yun Zhu yang tadinya liar perlahan-lahan mulai stabil.
Rasa sakit yang menusuk-nusuk di bahu kirinya akibat hantaman api Yan Huan juga berangsur-angsur membaik.
Yun Zhu akhirnya kembali memejamkan mata untuk meneruskan kultivasinya. Namun kali ini, ia melakukannya dengan jauh lebih tenang, ditemani oleh Yan Chu yang tetap setia duduk di sampingnya sambil memperhatikan setiap tarikan napasnya.