Hwang zin bukanlah orang dari era ini,dia lahir di tahun 2028 dan berusia 30 tahun,dia yatim piatu,Dia bekerja keras selama hidupnya.
Dia menjadi koki , petugas pengangkutan barang, bartender,pelayan restoran dan lainnya,dia hidup dengan menghemat banyak uang saat tabungannya mencapai 100 juta dalam 15 tahun hidupnya.
Hwang zin membeli bangunan toko kecil yang lengkap penuh dengan barang-barang grosir dari barang orang tua hingga anak-anak dan makan pokok dan sejenisnya.
dia akan mulai berbisnis tapi siapa kira saat dia dalam perjalan pulang justru mobilnya tertabrak truk dan bangun disini .....bukannya mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keras kepala
Tak lama kemudian, kelompok koki kecil juga datang – mereka menangis dan merasa lega dia akhirnya bangun. Song Wen dan Hang Si yang menerima kabar dari Dokter Shen juga segera menemui anak itu.
Untuk sementara, dia tetap tinggal di kamar Paman Dong agar mudah diawasi.
"Makanlah, Dokter Shen bilang kamu hanya bisa makan bubur untuk sementara...."ucap Song Wen memberikan mangkuk bubur padanya.
"Aku tau, terimakasih..."mereka mengobrol beberapa lama sebelum pamit untuk kembali bekerja.
"Kamu istirahatlah, kami akan pergi...."Hwang Zin mengangguk. Setelah pintu tertutup, dia memutuskan untuk tidur.
Namun saat mulai tertidur, beban berat tiba-tiba mencekatnya. Hwang Zin membuka mulutnya dan melihat kepala seseorang tertanam di lehernya, disertai nafas hangat di dekat telinganya.
Entah berapa lama hingga suara itu berhenti.Hwang Zin mengangkat tangan dan menepuk-nepuk lembut kepala pria itu.
"Zin.an kamu benar-benar kejam...." kata-kata itu diucapkan penuh keluhan, marah, frustasi, dan sakit hati.
"Aku tau...." jawabnya.Hwang Zin melihat pada atap kamarnya,jadi bisakah dia pergi dengan kondisi saat ini.
"Kamu sangat tak berperasaan...."Jiang Feng mengertakkan giginya.
"Aku tau...."
"Aku marah padamu...!" tegasnya.
"Baiklah...."
"Jangan lakukan hal ini lagi..." Kali ini anak itu tak menjawab. Jiang Feng menegakkan kepalanya dan melihat Hwang Zin memejamkan matanya.
"Zin.an...!" panggilnya panik. Hwang Zin membuka matanya dengan suara sengau."...Aku tau, aku sangat mengantuk, tolong diamlah...."
Jiang Feng diam namun tak melepaskan pelukannya. Hwang Zin juga tak mendorongnya pergi.
Mereka tidur berpelukan di kamar Paman Dong – dan pria tua itu yang tahu rahasia hubungan tak biasa keduanya hanya bisa pasrah tidur di kamar kelompoknya.
Dia tak pernah mengira akan ditemukan oleh Jenderal saat berbicara dengan Dokter Shen.
Awalnya pria itu marah dengan wajah sangat gelap, matanya lebih menakutkan dari biasanya seolah akan membunuh Dokter Fei saat itu juga.Jika bukan karena Dokter Shen bilang Hwang Zin sudah sadar, mungkin akan ada tragedi besar lagi.
Jenderal yang marah meminta Dokter Fei ditahan dan mendapatkan 20 pukulan,setelah nya Dia segera pergi ke kamar Paman Dong dan melihat sosok kurus tidur dengan wajah damai di atas ranjang.
Dokter Shen menjelaskan bahwa luka anak itu dalam dan kehabisan banyak darah dan koma ditambah karena dia tak menghindar saat ditusuk.
Jiang Feng duduk di samping ranjang, tangan terangkat membuka ujung pakaian longgar Hwang Zin hingga luka itu terlihat. Dia benar-benar ditusuk dan tak sadarkan diri.
Nafas Jiang Feng terengah, dia merasa dadanya ditekan benda berat.
Keesokan paginya, Jiang Feng bangun namun tak berada di kamar Paman Dong melainkan kamarnya sendiri. Tubuhnya kaku, dia melihat langit-langit kamar dan tak mau bergerak – takut jika tahu Hwang Zin pergi.
Suara pintu dibuka lalu ditutup, kemudian suara yang membuatnya ketakutan sepanjang malam terdengar.
"Bangunlah untuk makan...." Hwang Zin menaruh bubur yang dia buat di atas meja.
Dia baru tahu bahwa perut pria ini buruk, jadi tendangannya waktu itu membuat kondisi semakin parah.
Saat berbalik, dia bertemu dengan mata tajam pria itu yang tampak linglung. Hwang Zin berjalan ke arah ranjang dan duduk di sisinya."Apa yg kamu lihat....?"
Jiang Feng melihatnya namun tak mengatakan apa-apa. Hwang Zin mengulurkan tangan menyentuh ujung matanya saat pria itu menutup mata.
"Zin.an...." panggilnya dengan suara serak
"Ada apa?"Hwang Zin melihatnya , tenang dan tak ada ekspresi berlebihan. "...Bangun dan makan bubur mu, aku membuatnya sendiri...."
Jiang Feng terdiam lalu bergerak untuk bangun dari tempat tidurnya. Hwang Zin melihat dia berjalan seperti zombie, duduk di kursi dan melihat bubur di meja dengan linglung.
Lalu Jiang Feng mengambil sendok dan mulai makan dengan tenang – rasa manis, lembut, dan hangat membuat perutnya yang sakit di pagi hari terasa lebih nyaman.
Melihat dia makan, Hwang Zin tak mengganggunya dan tetap duduk di atas ranjang memperhatikannya.
Baru saat Jenderal selesai makan, Hwang Zin berdiri untuk membersihkan piringnya – namun sebuah tangan segera menghentikannya.
"Biarkan saja disini, orang lain akan mengambilnya nanti...." Hwang Zin menaruhnya kembali di meja, namun tangan Jiang Feng tak melepaskannya.
Sejujurnya, Hwang Zin agak takut – kondisinya mungkin memicu kondisi mental Jiang Feng yang begitu posesif dan paranoid.
Melihatnya terluka hari itu cukup untuk mengurungnya selama 2 minggu, lalu bagaimana dengan sekarang?
"Apa yg kamu pikirkan..!" bentakan itu mengejutkan Hwang Zin. Dia menunduk dan melihat dengan jelas mata gelap pria itu – penuh kecurigaan, posesif, dan ketakutan berlebihan.
Dia menarik nafas dan mencoba melepaskan diri, namun Jiang Feng mencengkram lebih kuat.Hwang Zin menunduk untuk melihatnya."Lepaskan dulu..."
Setelah koma, kondisinya tidak memungkinkan untuk bertarung dengan pria ini jadi Hwang Zin hanya bisa mengalah. "...Aku lelah terus berdiri, aku akan duduk...."
Jenderal terdiam lalu berdiri dan menyeretnya ke arah ranjang.
"......"Hwang Zin duduk di atas ranjang dan pria itu duduk di sisinya – masih memandangnya dengan tangan mereka yang saling terjalin.
"Jangan seperti ini...." Hwang Zin tak bisa tersenyum atau tertawa melihat tingkah lengketnya. "Kamu seorang Jenderal, tugasmu begitu banyak. Jangan -"
".....Tak masalah, aku bisa terus bekerja saat memang harus bekerja, tapi saat aku tak bekerja aku akan bersamamu....." jawabannya dengan nada yakin – toh dia mampu melakukannya.
Hwang Zin menyentuh keningnya, merasa pusing. ".....Berapa usia mu, kenapa kau sangat kekanak-kanakan...."
Dia mencoba melepaskan lengannya dari genggaman pria itu namun Jiang Feng hanya mengencerkannya.
"Apa kamu tak menyukainya?" tanyanya dengan pandangan khawatir, namun sebelum Hwang Zin menjawab pria itu sudah melanjutkan.
"Tapi tak masalah, aku tak membutuhkan persetujuan mu..."Dia menarik Hwang Zin lebih dekat ke tubuhnya, dagunya menyandar dibahu anak itu.
"Kamu aman jika berada dekat denganku."
"......." Hwang Zin berbalik untuk melihatnya, lengannya masih terjepit erat. "...Apa kau begitu menyukai ku?"
"Ya.." jawabannya tegas dengan mata penuh keseriusan.
Meskipun begitu, napasnya yang lebih lambat dan tangan yang sedikit gemetar menunjukkan dia sedang gugup dan tegang.
Dia bahkan menggeser posisinya agar tubuhnya menghalangi Hwang Zin dari menghadap pintu – seolah ingin menjaga anak itu hanya dalam pandangannya sendiri.
"......" Bahkan tanpa berbelit-belit.
"Kamu...."Hwang Zin menarik nafas dan hendak berbicara namun kembali ditarik lebih dekat oleh pria itu.
"Jangan terlalu kuat, lukaku masih belum sembuh total..."tegurnya dengan tak berdaya.Jiang Feng hampir ketakutan."maaf...."
"......"Hwang Zin menghela nafas panjang.
Tak lama kemudian, suara Song Wen terdengar di balik pintu. Keduanya saling melirik sebelum Jenderal dengan enggan melepaskan peganganannya dan mengizinkan dia masuk.
"Ada apa?" tanya langsung padanya dengan nada lebih dingin.
Jiang Feng masih marah karena Song Wen salah satu alasan dia tak tahu kondisi Hwang Zin selama koma.
Dia berdiri di depan Hwang Zin dengan sikap protektif, seolah siap menghalangi setiap bahaya yang mungkin datang dari Song Wen.
"Ada rapat yg harus dibahas Jenderal...."Song Wen tak berani mengangkat kepalanya.
Wajah Jiang Feng memburuk namun tak mengatakan apapun, tangannya sudah kembali menggenggam tangan Hwang Zin dengan erat.
Melihat ini, Hwang Zin segera menengahi."...Baiklah dia akan segera pergi kesana..."
Dia menepuk tangan Jiang Feng perlahan untuk menenangkannya.Song Wen menghela nafas lega lalu berbalik pergi menuju ruang pertemuan.
Di dalam ruangan, Hwang Zin menggoyang lengannya yang masih terpegang."Pergilah..."
"Kamu ikut dengan ku..." Jiang Feng menoleh padanya dengan tegas.
Dia tak ingin meninggalkannya sendirian – takut anak itu akan lari lagi dan ditemukan dalam kondisi yang membuatnya tak tega melihatnya.
Matanya menunjukkan ketakutan yang nyata, dan dia sudah mulai meraih jaket Hwang Zin untuk memastikan anak itu bisa ikut bersamanya.
Anehnya Hwang Zin bisa dengan jelas melihat ketakutan pria itu. Sekarang dia benar-benar tak bisa memicu kondisi Jiang Feng lebih jauh.
Jadi dengan kesadaran penuh, dia menarik wajah pria itu untuk menciumnya. Jenderal berkedip, melihatnya dengan linglung – itu hanya ciuman ringan di pipinya.
Hwang Zin menjauh wajahnya, tak menghindari pandangannya dan menatap matanya dengan serius. "...Pergilah, aku akan tetap disini..."
"Kamu..." Jenderal itu dicium kembali, kali ini sedikit lebih lama. Matanya melebar dan wajahnya mulai memerah.
Hwang Zin menunduk melihat bibir merah pria itu."Pergilah..."
"Zin.an aku..." Dia kembali dicium sebelum bisa menyelesaikan kalimatnya.
Jiang Feng berkedip dengan mata penuh ketidakpercayaan,dia benar-benar kuwalahan dengan serangan tiba-tiba ini.
"Pergi oke..." bujuknya dengan nada lembut, menyentuh pipi pria itu perlahan.
"Ya...." jawabannya dengan wajah merah seperti buah delima. Hwang Zin mencium hidungnya untuk yang terakhir kalinya."...Bagus sekali.."
Jenderal Jiang keluar dari kamar dengan wajah memerah namun segera berubah menjadi wajah dingin seperti biasanya saat melangkah ke koridor.
Walaupun telinganya merah merona
Hwang Zin tahu dia akan pergi untuk waktu yang lama, jadi membawa mangkuk kotor ke dapur dan ingin membantu Paman Dong dan lainnya.
Namun mereka keras kepala menolaknya, tak ingin anak itu melakukan pekerjaan sedikitpun yang mungkin membuat luka kambuh.
Jadi Hwang Zin hanya bisa kembali ke kamar Jenderal, yang sudah dia pastikan selalu terkunci dari dalam.
2 jam kemudian.
Pria itu kembali, menarik nafas dalam sebelum membuka pintu.
Ruangan terang dengan jendela terbuka lebar – sinar matahari menyinari setiap sudut, dan Jenderal melihat anak itu duduk membelakanginya sambil melihat keluar jendela.